Popular Posts

LIFE MUST GO ON

Sabtu, 12 November 2016

The Doll Mencoba Beradaptasi Dengan Film Horor Sekelas The Conjuring



Aku termasuk salah satu blogger yang menjadi Indonesia movie freak. Segala jenis film Indonesia aku coba kulik untuk dikritik demi membangkitkan semangat para sineas lokal menuju kancah persaingan industri perfilman Hollywood.

Para penggemar film asing, pasti tak asing dengan ikon film bergenre horor, seperti boneka Annabelle yang beberapa tahun terakhir menghantui beberapa dunia menjadi box office di bioskop negaranya masing-masing. Selain itu, muncul juga sosok Valak dalam film The Conjuring 1 dan 2. Akhirnya, genre mistis pun mulai mencuri perhatian sineas negara-negara berkembang seperti Film Munafik yang dirilis Malaysia dan terakhir Film The Doll yang dirilis oleh para sineas Indonesia yang tergabung dalam rumah produksi HitMaker Studio.

Film The Doll memilih boneka Gawiyah (artinya yang jahat) sebagai adaptasi dari karakter Anabelle. Hanya saja, Gawiyah tak mampu tampil menyeramkan karena tak ada aura mistik yang dikembangkan secara visual melalui film ini. Gawiyah hanya hadir dengan make up lusuh dan bisa berpindah sendiri dari satu tempat ke tempat lain.

Banyak netizen mulai nyinyir karena film Indonesia ini terasa begitu mencontek film horror berskala dunia. Walaupun selama seminggu penayangan, film ini sudah berhasil menembus angka 400.000 penonton. Nah, bagaimana dengan jalan ceritanya . . .

Prolog film tampak dua orang gadis dan seorang anak laki-laki yang memiliki hubungan saudara kandung sedang bercerita kepada pasangan yang berprofesi seperti paranormal. Mereka menceritakan kejadian menyeramkan yang pernah dialami saat ada sebuah boneka tiba-tiba hadir di depan rumah mereka. Adegan ini sekilas juga mirip dengan adegan awal pada film The Conjuring 2.

Film garapan sutradara dan produer Rocky Soraya ini berdurasi kurang lebih 104 menit dengan pemeran utama Shandy Aulia dan Deny Sumargo. Pasangan ini memang sudah teruji dalam film-film horror sebelumnya sehingga chemistry pun mudah didapatkan. Hanya saja, totalitas berakting masing-masing sebagai seorang aktor dan aktris masih belum bisa ditonjolkan. Beberapa adegan berbahaya sangat jelas terlihat digantikan oleh stuntman yang terpoles make up character.

Cerita pun dimulai tentang kehidupan baru pasangan suami istri Anya (Shandy Aulia) dan Daniel (Deny Sumargo) yang pindah rumah ke salah satu komplek elit. Profesi Daniel yang bekerja dibidang konstruksi membuatnya terlibat dengan proyek lapangan. Salah satunya yaitu proyek pembuatan ruko di Jalan Siliwangi.

Di daerah tersebut, terdapat pohon besar yang tidak boleh ditebang karena dipercaya angker oleh warga setempat. Hal ini diyakini karena disalah satu dahan pohon, duduk sebuah boneka yang telah dirasuki oleh arwah anak kecil, bernama Uci yang telah tewas dalam kasus pembunuhan. Dengan keberaniannya, Daniel menebang pohon tersebut yang dianggap menganggu proyeknya. Seharusnya, adegan penembangan pohon tersebut tak perlu ditempatkan pada babak awal untuk bisa mengelabui penonton ke adegan selanjutnya.

Lalu, penonton diajak melihat adegan-adegan kebetulan yang timbul secara tiba-tiba. Seperti, boneka Gawiyah yang ada di pohon dan sudah berpindah ke dalam bagasi mobil Daniel. Keanehan pun mulai terjadi di dalam rumah saat boneka tersebut ditempatkan dalam jajaran koleksi boneka Anya lainnya di sebuah ruangan atas dan mulai menghantui penghuni rumah mewah itu.

Awalnya, Anya dan Daniel hanya diganggu oleh aroma busuk seperti bau kentut dan suara-suara aneh disetiap ruangan yang terdapat dalam rumahnya. Beberapa kali, mereka pun mulai mencari tahu sumber keanehan tersebut. Tak ada yang spesial dalam adegan ini. Bahkan, adegan dirusak dengan satu part tata cahaya yang terlihat jumping, contohnya saat adegan mereka masuk ke pintu kamar di lantai 2 rumahnya yang tiba-tiba terbuka dan seolah terkena tiupan angin. Adegan tersebut memiliki latar waktu malam hari, namun ada tata cahaya yang begitu terang tampak seperti pagi hari.

Setelah itu, penonton pun diajak menemani kesendirian Anya saat Daniel bekerja hingga larut malam. Anya mulai dipermainkan oleh Uci yang merasa ingin balas dendam karena kehilangan tempat bermain di pohon besar yang telah ditebang oleh Daniel. Niken, tetangga depan rumahnya yang melihat ada boneka Ghawiyah di rumah Anya juga menyuruh Anya membuang boneka itu. Anak Niken, yang bernama Chilla juga mulai melihat keberadaan Uci di rumah Anya yang sering mengajaknya bermain bersama. Niken pun memanggil seorang paranormal perempuan (Sara Wijayanto) yang dulu juga pernah menangani boneka Ghawiyah ini. Bahkan, sosok pemuka agama seperti karakter ustad juga dihadirkan untuk mengusir arwah-arwah tersebut.

Tetapi, usaha mereka mengusir arwah jahat tak tampak unggul dalam film. Adegan malah dijejali dengan visual effect kelelawar dalam jumlah banyak dan sangat mengganggu. Sosok paranormal perempuan juga tampak clean & clear tanpa noda darah yang berlumuran disekitar. Tak ada gunanya, karakter itu ditampilkan dalam film. Adegan pun masih jauh untuk beradaptasi seperti film The Conjuring 2 saat Ed dan Lorraine Warren diminta sang pemilik rumah untuk menghentikan teror dari sosok arwah jahat di rumah clientnya.

Lama-kelamaan, sosok Uci mulai menampakkan diri dihadapan Anya dengan teror-teror menegangkan. Film pun mulai dijejali dengan adegan kerasukan arwah jahat yang siap saling membunuh dan menghancurkan segalanya. Arwah tersebut merasuki korban dengan mengeluarkan cairan aneh seperti darah dari mulut hantu ke mulut korbannya. Adegan semacam ini juga mengingatkan saya kembali dalam kisah film The Conjuring.

Tulisan-tulisan terror pun hadir terlalu banyak dalam film The Doll. Coretan dinding dan kaca, tulisan di langit-langit ruangan, atau memo pada selembar kertas pun coba menakut-nakuti pemeran. Namun, tulisan semacam ini justru bisa membodohi penonton karena ada beberapa tulisan yang tidak bisa terbaca jelas. Entah karena memang tulisannya ditulis samar atau terlalu cepat juga ditampilkan menjadi insert shotnya.

Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara. Misalnya, saat adegan gali kubur untuk boneka hanya dilakukan oleh 2 orang wanita, sementara ustad hanya berdiri tegang memegang payung ditengah hujan. Selesai menggali tanah pun, mereka tak tampak kotor sama sekali. Setelah itu, pakaian para pemeran nyaris kering, padahal kondisi cuaca hujan meski mereka mengenakan jas hujan masing-masing.

Penulis skenario juga tidak mampu menghadirkan cerita secara utuh. Prolog awal tak pernah dibahas kembali hingga akhir cerita. Profesi Anya sebagai kolektor atau pembuat boneka pun tidak diceritakan secara jelasnya. Chilla, anak dari Niken tiba-tiba menghilang dari cerita dan penonton dibiarkan bertanya, mengapa Chilla harus membunyikan lonceng untuk mengajak bermain.

Terlepas dari sadar atau tidaknya bahwa film ini dituding plagiat, The Doll telah memberikan aroma baru untuk perfilman horor Indonesia karena tidak mengandalkan hantu untuk menakut-nakuti penonton yang ada. Tata suara yang ok sudah mampu mengagetkan beberapa penonton bioskop selama penayangan. Walaupun beberapa part dubbing kurang sempurna terdengar dari layar sinema,  beberapa adegan thriller sudah dikelola secara sadis dengan dukungan make up character yang pas. It’s really creepy.

Akhirnya, setelah menonton film ini, saya hanya berusaha menyadari bahwa Dunia Lain sama dengan dunia kita, ada yang baik dan ada yang jahat*


2 komentar:

  1. agak agak mirip counjuring ya :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup*

      Makanya perolehan penontonnya juga begitu banyak. Kita lihat aja The Doll 2 seperti apa..

      Hapus