Popular Posts

LIFE MUST GO ON

Rabu, 14 Desember 2016

Film Cinta Tapi Beda, Tema Klasik dengan Intrik Tak Menarik



Tema dalam sebuah film merupakan gagasan utama yang direpresentasikan ke dalam sebuah cerita mengenai makna hidup atau kondisi manusia. Gagasan tersebut dibangun seiring dengan perkembangan kejiwaan si tokoh yang nilai kehidupannya menjadi harus diuji dan dipertahankan. Penentuan tema dapat dianggap sebagai permulaan sekaligus akhir dari sebuah pendekatan apresiasi dalam menonton film. Setelah menonton film tersebut kita harus coba membuat sebuah identifikasi sementara dari tema film itu. Dengan demikian kita melengkapi diri kita dengan suatu rasa yang jelas dari arah yang akan ditempuh oleh analisa kita selanjutnya tentang sebuah tema. Maka, tema akan dianggap sebagai jumlah menyeluruh dari semua unsur yang berfungsi sebagai faktor dasar pemersatu dalam sebuah film.
Banyak sineas muda mengambil sebuah tema dari realita di masyarakat yang mengandung pro kontra. Entah hal itu bagian dari strategi pasar agar filmnya laku dijual atau pekerja seni memang berusaha menjadi penengah akan kontroversi pada setiap pola hidup masyarakat majemuk. Kenyataan ini menarik untuk ditelisik.
Suatu hal yang dianggap tabu menjadi wacana di layar lebar. Perbedaan beragam di Indonesia menjadi tantangan tersendiri para sineas muda untuk memproduksi sebuah karya dalam bentuk media audio visual. Dari sekian banyak hal tersebut, cinta beda agama selalu menjadi perbincangan hangat dalam setiap film yang beredar. Kondisi demikian terlihat jelas pada layar-layar bioskop setiap tahun yang menyajikan tema film tentang cinta beda agama.
Sebenarnya cinta beda agama terbilang suatu keniscayaan. Kita hidup berdampingan dengan individu agama lain dalam pergaulan sehari-hari. Tidak mungkin rasanya jika tidak pernah terjadi kisah cinta dengan latar agama yang beda. Kita mungkin pernah mengalami atau mengenal orang-orang disekitar kita yang merasakan hal demikian.
Cinta beda agama bisa terjadi dibelahan mana saja di dunia. Namun, dalam pola pergaulan hidup negara-negara Barat hal semacam ini tidak menjadi masalah. Jauh berbeda dengan negara Indonesia yang nilai religi dan nilai kekeluargaan masih erat dianut masyarakatnya sehingga persoalan cinta beda agama menjadi pelik.
Di negara-negara barat yang masyarakatnya tergolong individualis, orangtua membiarkan anaknya memadu kasih dengan penganut agama lain karena hal itu dianggap sebagai hak asasi. Tapi, di negara Indonesia yang masyarakatnya menjunjung tinggi budaya timur, percintaan bahkan pernikahan beda agama tidak hanya menjadi  urusan dua pribadi yang jatuh cinta, melainkan urusan dua keluarga yang siap mengucilkan dan menentang takdir cinta.
Hubungan cinta beda agama merupakan bahan baku cemerlang untuk sebuah kisah dramatis khas Indonesia. Dalam hubungan cinta beda agama ada konflik yang menggelitik penuh dilema. Cinta seolah dipertentangkan dengan keyakinan agama masing-masing. Ada pula tradisi dan nilai keluarga yang berusaha menentang.
Film Cinta Tapi Beda berusaha mencoba menggarisbawahi akan hal-hal yang sifatnya bisa dilarang atau justru diperbolehkan dalam tatanan kehidupan masyarakat. Para penonton film ini harus bisa berpikir cerdas. Hal ini dimaksudkan agar para penonton dapat merenungkan nilai-nilai yang bisa diambil dari rangkaian visual film ini.
Kisah percintaan dua manusia dalam film ini tergolong biasa saja. Konflik hubungan yang ditolak kedua orang tua pun hanya masalah klasik. Dari film Indonesia di tahun 70 dan 80-an hingga era millennium saat ini, masalah tersebut seringkali menjadi tema sebuah film. Garapan salah satu film berjudul 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta memang menjadi satu film yang paling sukses dengan tema sejenisnya. Seharusnya film Cinta Tapi Beda mampu mengungguli kesuksesan film tersebut. Walaupun tema sama, harusnya mampu memberi warna berbeda.
Dalam Film Cinta Tapi Beda masih terdengar dialog mengenai persoalan nikah beda agama yang menimbulkan beban psikologis pada pelaku, keluarga, bahkan anak yang mereka lahirkan kelak. Karakter-karakter yang ada seolah mewakili rasa keingintahuan penonton yang pastinya akan terus bertanya saat menonton film ini. Jawabannya pun memang terkadang tidak dapat ditampilkan dengan dialog-dialog yang bijak. Para sineas hanya bisa memberikan jawaban kepada penonton dengan adegan tawa, diam sejenak, senyuman atau bahkan tangisan. Kondisi demikian mengurangi unsur penciptaan kreatif sebuah karya dan penonton awam pun menanggap sebagai adegan tanpa makna.
Lalu ada juga dialog yang menampilkan sosok karakter dari sudut pandang agama Islam, seperti pendapat ulama yang mengatakan nikah beda agama boleh asal prianya Islam. Memang dialog ini terlihat wajar, tetapi akan mengurangi sisi netralitas sebuah film yang mengangkat tema perbedaan. Walaupun pada adegan-adegan berikutnya, film ini berusaha dengan bijak untuk tidak mengikuti pendapat ulama. Penonton diajak untuk menaati agama dengan baik terlebih dahulu, baru memahami dengan seksama sebelum akhirnya memilih pendapat yang akan diikuti. Lagi-lagi penonton harus bisa memutar otak.
Penokohan dalam film Cinta Tapi Beda juga tidak etis. Sosok seorang wanita minang bernama Diana Fransisca (yang diperankan Agni Pratistha) ditampilkan sebagai penganut Katolik. Padahal mayoritas masyarakat minang di Indonesia ialah kaum muslim. Hal ini seakan menyalahi akar budaya Minang yang bersendikan kitab suci Al Qur’an. Lunturlah nilai logis dalam film ini.
Kondisi demikian menimbulkan kontroversi tersendiri dikalangan orang Minang. Mereka melihat film ini sebagai pelecehan dan penghinaan terhadap budaya Minang. Kita memang tak pernah tahu, apakah memang karakter tersebut sengaja ditampilkan sebagai sensasi atau proses riset dalam produksi film ini tidak berjalan dengan baik. Tergantung bagaimana penonton menafsirkannya.
Tapi yang menarik buat kita selain latar budaya adalah bagaimana dominasi orang tua terhadap anak yang sudah bisa mengambil keputusan dan bertanggung jawab akan keputusan itu sendiri. Film Cinta Tapi Beda memberikan sentuhan terhadap dua budaya mayoritas dan minoritas sekaligus dalam sebuah tata masyarakat formal yang bernama negara. Di film itu, Bapaknya Cahyo dan Mamanya Diana terlihat dominan dalam keputusan domestik rumah tangga masing-masing. Mama Diana semakin kaku memproteksi Diana karena selain menjadi single parent, ia juga merasa telah kehilangan anak-anaknya yang lain. Sementara Bapaknya Cahyo begitu dominan karena patron budaya patrilineal dari adat Jawa yang menempatkan dominasi laki-laki dalam masyarakat. 

Kritik lain yang disampaikan adalah keberanian Ibunya Cahyo, sosok perempuan yang berasal dari Jawa saat beradu argumen akan keputusan suaminya. Pada umumnya, perempuan Jawa memiliki stigma tersendiri dalam rumah tangga. Maka, ketika Ibu Munawaroh mendebat keputusan Pak Fadholli, terlihat ada sisi perempuan yang bangkit dari sub-ordinat laki-laki, di sisi lain ada perempuan yang juga mendominasi. Logika berpikir penonton pun dipertaruhkan dan dibutuhkan pemahaman yang mendalam untuk melihat makna tersirat di setiap adegan.

Film ini juga seolah mengajarkan seorang anak untuk melawan dan durhaka terhadap orang tua sehingga meninggalkan kesan adegan-adegan kaku dan bernilai negatif. Adegan ini tampak saat Cahyo kabur dari rumah karena dilarang menjalin hubungan dengan penganut agama yang tidak sesuai keyakinannya. Seharusnya film ini mampu mengisyaratkan agar orangtua bisa duduk sejajar mendengarkan apa yang menjadi keinginan anaknya.
Penyelesaian cerita dalam Film Cinta Tapi Beda juga dibuat dalam zona aman. Penonton dibiarkan berpikir sendiri untuk menentukan tujuan akhir cerita film ini. Suatu ending yang dianggap basi, tidak bisa menghasilkan solusi pasti. Padahal jika para sineas berani berpikir kreatif, mereka bisa menyajikan resolusi pasangan beda agama yang tetap bertahan dibahtera pernikahan. Hal tersebut bisa menjadi keunikan tersendiri untuk film ini dibandingkan film lainnya yang bertema sejenis. Film ini pun bisa unggul dalam sisi dramaturgi yang lebih menarik.
Kita harus yakin dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, pasti ada individu-individu yang berpikiran terbuka dan bebas. Mereka tergolong individu yang yakin bahwa Tuhan telah memberikan anugerah berupa cinta untuk layak diperjuangkan. Alasan Tuhan menciptakan cinta dalam jiwa manusia salah satunya ialah agar segala perbedaan yang ada bisa tetap bersama.
Itulah hal-hal yang selayaknya dikembangkan dalam proses kerja kreatif para sineas. Sebagai sineas, kita harus mampu mencari keseimbangan antara keinginan idealisme dan kebutuhan komersial. Seharusnya Film Cinta Tapi Beda menarik lebih dalam untuk dikaji dan dibahas dalam kerangka kritik film dan budaya agar tak hanya sebagai tontonan yang penuh intrik tak menarik, melainkan sebuah hasil karya seni bernilai tinggi. Film ini memiliki pro dan kontra, sama seperti hasil karya seni lain. Namun sayang, banyak kalangan menutup pintu tafsir terhadap sebuah karya sehingga film ini hanya menjadi sebuah ladang bisnis. Kontroversi pun terungkap sebagai bagian dari formula daya tarik imajinasi yang komersil. Tinggal, bagaimana kita menikmatinya*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar