Popular Posts

LIFE MUST GO ON

Bukan Film Super Hero: Ini Film Rasis

Film Black Panther diadaptasi dari karya komik dunia berjudul Fantastic Four #52 besutan Marvel di tahun 1966. Tokoh ini tampil sebagai peran antagonis yang diciptakan oleh Stan Lee dan Jack Kirby. Tokoh semakin kuat karena memang dideskripsikan sebagai pahlawan kulit hitam pertama yang memiliki kehebatan luar biasa.

Konon, Black Panther hidup di Wakanda. Salah satu negara fiktif yang kaya akan kecanggihan teknologinya. Namun, Wakanda berhasil menyamar sebagai salah satu negara yang justru terlihat miskin. Hal ini dilakukan oleh mereka agar perangkat teknologi tersebut tidak ada yang berani menyalahgunakan.
Sumber daya vibranium menjadi unsur vital yang mengandung mineral karena memiliki banyak khasiat. Sumber daya alam ini begitu dirahasiakan oleh Wakanda agar tak tercium negara lain. Vibranium pun mulai diperebutkan karena sangat bermanfaat bagi semesta.
Lama-kelamaan semua rahasia Wakanda terbongkar terutama saat Raja T’Challa (Chadwick Boseman) menggantikan ayahnya, T’Chaka (John Kani) merebut tahta kerajaan. T’Chaka telah meninggal saat terjadi ledakan bom di Vienna, Austria. Penonton bisa melihat momen tewas ayahnya melalui film produksi Marvel sebelumnya yang berjudul Captain America: Civil War.
Posisi kepemimpinan T’Challa terancam saat artefak kebudayaan Wakanda berhasil dicuri oleh komplotan misterius. Permulaan ini bertujuan untuk membongkar kekayaan yang dimiliki Wakanda. Sebagai negara yang sedang mendapat sorotan dunia, Wakanda mengalami konflik internal dan eksternal.
T’Challa mulai menjalankan misi untuk meringkus Ulysses Klaue (Andy Serkis) di Busan, Korea. Dibalik kejahatan Klaue, masih ada sosok Erik Killmonger (Michael B. Jordan) yang biasa dikenal dengan sebutan Golden Jaguar. Mereka yang akan menjadi musuh untuk Wakanda. Apalagi sosok Killmonger begitu berbahaya karena ingin merebut peradaban teknologi Wakanda demi menaklukkan dunia sekaligus membuktikan bahwa kulit hitam tak pantas ditindas. Bentuk perlawanan Erik juga dilakukan sebagai ajang balas dendam karena ayahnya pernah dibunuh oleh Black Panther versi lampau.
Keadaan semakin hectic, T’Challa merancang strategi. Ia dibantu oleh adiknya, Shuri (Letitia Wright). Kecerdasan adiknya memegang kendali teknologi di Wakanda. Mulai dari menciptakan kostum Black Panther yang lengkap dengan sepatu hingga kendaraan yang bisa digerakkan melalui pengaturan sensorik dari jarak jauh.
Nakia (Lupita Nyong’o) juga hadir sebagai mantan kekasih T’Challa. Dalam menjalankan tugas sebagai intel di Wakanda, wanita ini harus memilih untuk terus berjuang menyelamatkan kekasih yang masih dicintai atau mempertahankan negeri yang telah dikuasai oleh Raja baru.
Pro kontra pun terjadi di Wakanda. Ada konflik antar pribadi hingga konflik kepentingan yang bisa menggeser kehancuran suatu negeri jika tidak ada yang saling melindungi satu sama lain.

Mungkin penonton akan banyak bertanya karena sulit mencerna arah cerita mau dibawa kemana di babak awal. Tidak ada konflik yang menjelaskan secara personal. Cerita berupaya membangun karakter Killmonger dan beberapa adegan yang tidak signifikan untuk menuju cerita utama. Setelah motif kejahatan terungkap, cerita mulai berjalan dengan baik.
Karakter super hero dan musuh dibentuk memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Nobody perfect in life. Konflik pun tumbuh tidak hanya sebatas karakter protagonis dan antagonis. Ada sekat yang mampu menjadi penghubung bahwa perdamaian di dunia masih bisa diusahakan jika bisa saling mengakui kelebihan dan melengkapi kekurangan satu sama lain. Penokohan semakin hidup karena menyentuh introspeksi diri untuk saling menyelami keberpihakan akan situasi dan kondisi.

Cerita Black Panther terindikasi mengandung unsur rasis yang menyindir warna kulit. Namun, cerita mampu diramu hingga keragaman dipandang sebagai kesatuan yang saling membutuhkan. Eksploitasi terhadap isu rasisme tersampaikan tanpa harus melakukan justifikasi satu sama lain. Sebagai contoh adegan Martin Freeman yang berkulit putih mampu disembuhkan luka tembak di sumsum tulang belakang dengan ramuan obat berbahan dasar vibranium yang diracik di Wakanda. Beberapa dialog juga terselip ejekan bernuansa rasis, tapi sindiran halus terlihat berisi alias tidak receh.

Sutradara, Ryan Coogler tampak trengginas mengemas cerita semakin panas. Unsur konlik kepentingan antar golongan menyusup relung-relung pribadi manusia. Tema film semakin relate dengan fenomena yang terjadi diberbagai belahan negara sekarang. Pengemasan adegan-adegan flashback terhadap tradisi raja baru juga tersampaikan dalam visual verbal yang kontekstual.
Kebiasaan dalam suatu tatanan masyarakat pun berhasil terbangun dalam setiap adegan. Semua pergerakan terasa kompleks. Film Black Panther secara eksplisit menghadirkan apa saja potensi dari etnis Afrika yang bisa digali. Pantas saja, film ini disebut sebagai film Marvel pertama yang diproduksi oleh penulis naskah, sutradara, pemeran utama, dan musisi berkulit hitam.

Latar tempat begitu menakjubkan bagi ku. Gedung pencakar langit sampai jalur kereta api ekspres menambah unsur futuristik film yang semakin eksotik. Apalagi saat adegan kematian bunuh diri yang dilakukan oleh Killmonger di pemandangan sun set yang indah terlihat begitu megah. Arsitektur tempat-tempat syuting film ini mengingatkanku saat berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia tahun lalu.
Tata kostum juga kece. T’Challa menggunakan pakaian seperti baju koko yang bisa menginspirasi perkembangan fashion muslim dunia. Pemeran utama wanita juga terlihat modis bagai berada di atas panggung mode dunia. Semarak kostum yang berwarna terlihat dari para penduduk Wakanda dengan motif dan aksesoris khas Afrika. Didukung tingkah para penduduk dengan salam khas menyilangkan kedua tangan terhadap Raja. Potensi lokal tereksekusi dengan viral.
Dilengkapi penggunaan efek Computer-Generated Imagery (CGI) dengan  penggabungan unsur laga yang tidak hanya berperang secara modern, melainkan ada juga adegan perang kolosal yang konvensional. Perpaduan cahaya biru dan ungu membentuk grafis beresolusi tinggi.
Hanya saja masih tampak efek sinar tembakan yang tidak diperhalus saat penyuntingan gambar. Animasi terlihat keteteran karena penonton masih ada yang merasakan hasil editan dari adegan dengan visual effect tersebut.
Beberapa adegan dalam Black Panther masih ada yang basi. Sosok super hero yang keluar dari kepulan asap pesawat jet yang terbakar membuat adegan ini seperti film-film lain. Eksekusi terhadap kekuatan dari Black Panther pun tidak banyak tergarap dalam adegan film. Padahal Black Panther dikenal sebagai super hero yang paling jago di seantero negeri.
Tokoh Ibu dari Black Panther juga hilang begitu saja di akhir cerita. Padahal tokoh ini punya peran penting karena telah membuat ramuan dari Vibranium hingga T’Challa bisa hidup lagi.
Begitu juga dengan vibranium di dalam mulut Killmonger yang tak memberi arti. Seolah hanya menjadi identitas keturunan Wakanda seharusnya bisa jadi senjata rahasia yang dimilikinya.

Meski Blogger Eksis tidak begitu suka dengan film asing. Namun, aku harus mengakui bahwa film ini bagus dari sisi penceritaan. Aku sampai menonton film ini sebanyak 2 kali karena gratis. Pertama, aku mendapat undangan dari Kaskus di Cinema XXI Kuningan City dan dilanjutkan dengan undangan dari Kompasiana di CGV Grand Indonesia untuk menonton versi Screen X. Sungguh pengalaman menonton yang menarik karena dari sisi layar yang berbeda.

The best scene versi Blogger Eksis itu saat T’Challa duel mempertahankan tahta kerajaan di air terjun. Sungguh indah air terjun ini. Entah memang mereka melakukan syuting nyata di air terjun tersebut atau hanya menggunakan teknik green screen. Bagiku, adegan pada momen ini berhasil. Cukup membuat ku ingin wisata ke air terjun itu. 

Jika kalian berekspetasi bahwa menonton Black Panther untuk memuja perjuangan super hero. Lebih baik jangan menonton film ini karena tidak banyak jagoan yang bertarung dalam ledakan yang berapi-api. Tidak ada pertarungan epik dan adegan laga yang bisa menghebohkan seisi bioskop. Film hanya ingin menyampaikan bahwa banyak hal yang harus dikoreksi dalam diri sebelum bertindak lebih baik untuk negeri.

THIS MOVIE NOT YOUR USUAL MARVEL MOVIE!

Pertaruhan Kehidupan Keluarga Atas Nama Cinta Dua Kodi

Harapan kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Namun, ketika ada hal yang sesuai dengan apa yang kita inginkan, terkadang hal itu justru tidak bisa membuat kehidupan lebih bahagia.


      Tika Kartika (Acha Septriasa), sosok bunda yang terlalu cinta terhadap usahanya harus rela kehilangan keluarga karena Ia lalai menjadi istri dan ibu bagi kedua anaknya. Sekuat apapun ketegaran Tika, Ia bisa rapuh saat mengembangkan usaha dan menjalani hidup yang tak seindah mimpinya.
         Pengunduran diri dari perusahaan ternama membuat Tika harus menghadapi berbagai persoalan di depan mata. Mulai dari suami yang bernama Fahrul Farid (Ario Bayu) belum mendapat pekerjaan, anak-anak Shaquilla Nugraha dan Arina Mindhisya) yang harus tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dan kehidupan sehari-hari yang harus tetap berjalan meski pasang surut kehidupan kapan saja bisa datang.   

      Babak awal mengisahkan bahwa Tika tidak diizinkan keluar dari perusahaan oleh bosnya, Ibu Ria (Wulan Guritno). Tika pun menjelaskan alasan logis karena Ia ingin agar bisnis dan hubungan dengan keluarga dapat jalan berdampingan tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Keputusan diambil saat Tika mulai membuka usaha Keke Collection dan mempopulerkan brand busana muslim khusus anak-anak ke publik. Tika mulai berjualan di Pasar Tanah Abang sejak tahun 1998. Ia selalu bertekad agar barang dagangan yang dijual bisa laku meski harus pulang larut malam sekalipun. Sampai ada adegan lucu saat Tika juga berani berjualan di dalam commuter line hingga diciduk oleh petugas.
Lama-kelamaan kesuksesan berhasil dicapai sebagai akibat dari kekuatan dalam mengembangkan industri rumahan. Tika mampu membuktikan bahwa wanita juga bisa menjadi mandiri dalam menjalani bisnisnya. Menjadi woman entrepreneur mengharuskan Tika bersaing dengan para kompetitor baik pria maupun wanita. Tapi, selama ada kemauan, disitu akan ada jalan. Pola pikir ini yang terus terpatri dalam diri karena Tika menjadi bagian dari wanita yang ingin mandiri secara finansial.
Hingga pada suatu titik sukses yang diraih membuat Ia lupa dengan keluarganya. Padahal Ia pernah sadar bahwa tidak seharusnya pekerjaan menganggu kedekatannya dengan keluarga. Ada kenyataan pahit yang juga harus dihadapi Tika saat suami yang menjadi tulang punggung keluarga memutuskan untuk bekerja di luar kota.
Farid bertemu dengan Alina (Sheila Dara) saat mengerjakan proyeknya. Alina tidak hanya hadir sebagai rekan kerja, tetapi juga sebagai wanita pilihan Ibu Farid atas wasiat sebelum Ibunya meninggal dunia. Anak-anak Farid kabur dari rumah dan ikut ayahnya ke luar kota. 


Tika murka saat mengetahui prestasi anak-anak yang menurun drastis di sekolah. Anak-anak pun kurang mendapat perhatian dari Farid dan Tika sebagai orangtua yang sibuk dengan urusannya masing-masing. 

Kesuksesan Tika justru membuat hidupnya sebatang kara. Ia mulai merenungi apa saja yang telah terjadi selama ini. Hanya pembantu yang bernama Ncus (Inggrid Widjanarko) setia menemani. Perjuangan Tika terus berlanjut tak hanya mempertahankan kelangsungan hidup keluarga, tapi juga mengembalikan cinta keluarga kepadanya.
Lantas seperti apa kisahnya? Temukan inspirasi dari Tika Kartika di bioskop kesayangan Anda.

Kamis, 25 Januari 2018 lalu Blogger Eksis hadir di acara screening film “Bunda Kisah Cinta 2 Kodi” di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. Sebagai sosok yang memang suka dengan film Indonesia berdasarkan kisah nyata, film ini mampu memberi inspirasi bagi siapa saja yang menontonnya. 
Apalagi aku suka dengan sosok wanita mandiri. Mereka tidak terkungkung pada pribadi yang hanya mengharap dari orang lain. Dengan kemandirian yang dimiliki oleh setiap wanita, mereka bisa ikut serta mendidik generasi bangsa yang berkarakter hakiki.


Soundtrack film yang dinyanyikan oleh Hanin Dhiya dengan lagu berjudul Yang Terbaik mampu menyayat hati. Nilai-nilai woman empowerment dari Tika Kartika juga menjadi daya tarik selama durasi 1 jam 37 menit. Seorang pejuang mimpi, istri, sekaligus ibu harus menghadapi problematika keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Sekelumit kisah tentang hiburan bagi keluarga muda untuk saling menjaga dan menata kembali komunikasi di rumah. Impresi pesan yang layak dipertahankan.

                                     “Tidak ada hasil yang mengkhianati usahanya”

Blogger Eksis Ikut Kelas Blogger di Kaskus

Halo, Reader!

‘Pada Hari Minggu, ku turut ayah ke kota
Naik delman istimewa ku duduk di muka … .’

Begitulah sepenggal lirik lagu yang pernah menghiasi masa kecilku. Berhubung Blogger Eksis sudah dewasa, hari minggu pun harus diisi dengan kegiatan-kegiatan produktif. Sebagai contoh, Blogger Eksis ikut Kelas Blogger ke-19 pada hari Minggu, 21 Januari 2018 lalu.

Sebenarnya, pertama kali mengenal Kelas Blogger itu dari tahun 2017. Namun, saat itu aku belum pernah masuk kelas. Aku justru langsung terlibat menjadi buzzer untuk menonton live streaming youtube tanpa kuota yang disponsori oleh operator selular zona biru. Begitu aku tahu ada kesempatan untuk masuk kelas blogger di awal tahun ini, aku tak mau melewatkan peluang itu.

Kelas Blogger yang diadakan di Kaskus Playground, Menara Palma Annex Building P11, Jl. HR. Rasuna Said X2 Kav-6, Jakarta Selatan mengajarkan materi tentang Photoshop. Dengan peserta kelas terdaftar sekitar 52 orang, tapi hanya setengah yang tampak terlihat antusias untuk belajar aplikasi edit foto ini.

Edit foto bukan sesuatu yang baru bagiku. Sebelumnya, aku sudah pernah mendapat materi ini saat kuliah. Beberapa kali aku juga belajar otodidak untuk memanipulasi gambar yang telah kita ambil menggunakan kamera. Apalagi era digital, aku bisa belajar dari mbah google atau tutorial-tutorial yang disajikan para youtuber.

Tapi, aku tetap nekat untuk masuk kelas ini karena memang menghadirkan narasumber kredibel, panggil saja Hafiez Ahmad Agam dari Komunitas Tukang Foto Indonesia. Beberapa pertanyaan besar mulai menghantuiku, apakah Photoshop masih digunakan di zaman now?. Sementara aplikasi-aplikasi dari para pengembang teknologi sudah semakin praktis digunakan seperti VSCO, PhotoGrid, InstaSize, Camera 360, B1612, dan masih banyak lagi. Aku pun justru sedang mencoba belajar edit foto dengan menggunakan Adobe LightRoom yang konon sering digunakan kalangan profesional untuk menyulap foto semakin tajam maksimal.
Langkah kakiku tak gentar, sebagai blogger eksis, aku juga punya prinsip untuk menggunakan foto dokumentasi pribadi sebagai konten tulisan. Hal ini aku lakukan agar karya tulisan yang aku buat memiliki nilai kebanggaan tersendiri dan tulisan akan mengalir lebih rapi. Selain itu, aku bisa pamer foto lebih kece kan di feed instagram.
koleksi foto admin fanpage Kelas Blogger

         Sekitar jam 10.00 WIB, aku baru masuk kelas. Padahal jam 08.00 pagi kelas dimulai sesuai jadwal. Untung saja, aku tidak disetrap oleh guru kelas atau dibully peserta lain.
Sempat nyasar sih mencari lokasi apalagi ojol (ojek online) yang aku naiki juga belum tahu tempat ini. Maklum saja aku juga baru pertama kali main ke kantor Kaskus. Setelah kesana kemari mencari alamat, tibalah aku di auditorium yang cukup besar itu.

Blogger Eksis langsung menempati posisi duduk dekat dengan teman-teman blogger yang sudah aku kenal sebelumnya. Ruangan nyaman dan tempat duduk seperti balkon pun asyik karena banyak colokan yang tersedia. Hal yang membuat sedih itu saat aku belum sempat berfoto ria di sana. Ah, sudahlah. Suatu saat Aku Pasti Kembali 😆
Aku pun mulai menyalakan laptop dan membuka aplikasi Adobe Photoshop CS3. Beberapa materi sudah tertinggal dan aku tidak sempat meminta aplikasi photoshop portable yang bisa diinstall. Aku tidak patah semangat. Aku segera menyesuaikan diri secepat mungkin agar tidak ada materi yang terlewat.

Materi yang diberikan selama 3 jam begitu dikupas tuntas oleh pembicara. Layaknya seorang guru di dalam kelas, Hafiez Agam begitu sabar mengulang materi sampai para blogger merasa puas.
Makanya, bagi teman-teman blogger yang tidak sempat datang, aku mau berbaik hati nih berbagi trik menarik agar foto yang kita jepret bisa menjadi nilai plus untuk tulisan yang kita buat. Siapa tahu para pembaca bisa betah stalking di blog kita. Mari kita pelajari teknik masking.

Teknik masking itu menggabungkan dua layer berbeda dalam satu foto sehingga menghasilkan kondisi yang berbeda antar latar dengan obyek. Seperti hal bokeh effect yang ada di smartphone Samsung Galaxy J7 Pro terbaru (ups, bukan iklan). 😋
Salah satu teknik masking yang diajarkan dalam kelas ini yaitu dengan perpaduan warna black and white (BW) terhadap warna asli pada objek atau sebaliknya. Sempat bingung sih untuk mengikuti instruksi, tapi jika dicoba perlahan bisa segera dipraktekkan. Berikut langkahnya:

  1. Pilih foto yang akan diolah lalu beri warna sesuka hati kita, tapi tetap mempertahankan naturalitas yaa.
  2. Foto yang sudah diberi warna dibuatkan layer baru. Dengan cara tekan Ctrl+Alt+Shift+E pada keyboard atau tuts laptop/notebook.
  3. Duplicate layer dengan klik kanan dan pastikan muncul layer baru dengan nama background copy.
  4. Ubah layer background copy tersebut menjadi warna hitam putih dengan teknik pewarnaan yang tepat.
  5. Lakukan add masking antara layer hitam putih dan layer baru dengan menggunakan icon yang berbentuk seperti kamera bertuliskan add layer mask. Posisi icon, ada di kanan bawah layar photoshop.
  6. Setelah layer bersatu. Atur foreground color ke warna hitam dan putih. Untuk mengatur, coba lihat di layar photoshop sebelah kiri bawah yang tampak lambang persegi bertumpuk dengan dua warna).
  7. Pilih brush tool dan arahkan ke area yang ingin dijadikan warna tampak beda. Ukuran brush tool bisa disesuaikan kebutuhan. Usahakan foto dizoom saat mengarahkan brush tool agar lebih terlihat rapi.
Segera lihat hasilnya. Pasti akan ada perbedaan antara warna hitam putih dengan warna asli pada foto yang kamu olah. Cukup dengan 7 langkah. Pasti kamu bisa!. 
Hasil olah foto teknik add masking
 
      Setelah materi tentang Photoshop selesai. Peserta kelas juga mendapat sosialisasi dari tim KasKus. Jadi, peserta yang hadir bisa langsung mendaftar untuk bergabung sebagai Kaskus Creator. Cocok nih untuk kamu yang bisa merangkai kata menjadi karya.

Ceritanya platform Kaskus yang sudah eksis sejak tahun 1999 memberi kesempatan untuk para Blogger yang hobi menulis untuk membuat thread disana. Wah bisa dipanggil agan (sebutan para penghuni kaskus). Jika thread yang kita buat banyak pembaca atau bisa jadi viral, agan akan mendapat poin dan bisa menukar dengan saldo KasPay. Kalau saldo KasPay sudah banyak, bisa ditransfer juga nih ke rekening pribadi.
Sebenarnya Blogger Eksis sudah bergabung dari KasKus beberapa tahun lalu. Awal bergabung karena aku ingin apresiasi bahwa platform ini dibuat oleh salah satu anak negeri yang berprestasi.
Tapi dari lubuk hati terdalam, aku belum begitu tertarik untuk aktif menjadi kaskuser. Wajar saja karena di Kaskus lebih terkenal dengan forum jual beli dan kaskuser yang interaksi di dunia maya pun lebih banyak menggunakan akun anonim. Terus fitur-fitur yang dihadirkan juga kurang bersahabat. Aku jadi belum peka deh untuk berjejaring via platform tersebut. 😌

Sejak aku tahu ada Kaskus Creator, aku mulai tertarik untuk eksis di forum KasKus. Lumayan kan bisa memonetisasi tulisan menjadi penghasilan. Semoga aja setelah wara wiri ada yang ngasih cendol juga. Kalau kamu tertarik, bisa klik disini.

Di akhir acara, para peserta kelas yang mulai tampak lapar segera bergegas menuju pantry. Potluck yang melimpah sudah tersaji di atas meja. ‘Wah, seru!’, ujarku dalam hati. (Potluck itu makanan atau cemilan apapun yang harus dibawa tanpa ada syarat khusus, namun bisa dinikmati bersama). Sambil kita ngemil, para peserta kelas saling bercengkerama agar silaturahmi terjaga erat.


Sampai jumpa di Kelas Blogger berikutnya!. Semoga ilmu yang didapat bisa langsung diterapkan untuk mengolah foto agar menyempurnakan konten blog. Salam Kreatif*

KiSs For Eat and Eat

          Halo, guys!


     Di awal tahun 2018 ini, Blogger Eksis sedang ada program penggemukan berat badan. Haha (tapi, dusta 😄). Sebenarnya aku mah selalu bersyukur dengan kondisi tubuhku yang proporsional. Soalnya jika dihitung berdasarkan Indeks Massa Tubuh, aku ini termasuk punya berat tubuh ideal = berat badan (kg) : tinggi badan x tinggi badan (m). (Begitu sih kata rangorang rumus untuk hitung BMI-Body Mass Index atau kamu bisa coba disini).

Namun, karena wajah aku tirus, jadi perawakanku mungkin terlihat kurus. So, awal tahun ini aku punya niat saat hangout ke mall harus sekalian wisata kuliner. Semoga saja berhasil menimbun lemak.

Sudah ada 3 mall yang aku kunjungi di awal tahun ini, yaitu Epicentrum, Plaza Indonesia, dan Kota Kasablanka. Sebenarnya tujuan ke mall tersebut waktu itu pas ada job liputan. Namun, sekali melangkah dua tiga pulau terlampaui atau ibarat pepatah sambil menyelam minum air. Langsung deh, Blogger Eksis mulai eksekusi untuk wisata kuliner.

Blogger Eksis pun menemukan 1 kesamaan dari 3 mall tersebut, yaitu memiliki food market atau food court. Hal yang membedakan dibanding restoran lain, tempat makan ini lebih terkonsep secara KISs (Keren, Istimewa, dan Sensasional). Tempat makan ini sering dikenal dengan nama, Eat and Eat.

Dari namanya aja udah bikin laper kan? karena ketika menjejakkan kaki disini kita pasti ingin makan dan makan. Gak lupa minum juga yaa* (celeguk) 🍴🍶.


Kenapa aku bilang keren? Jelas lah. Pengunjung yang makan disini pasti keren kaya aku. 😃 Hahaha 😃. Abaikan itu subjektif. 

Tempat makan ini memang keren karena konsep interior di setiap outlet berani beda. Masing-masing outlet yang sudah tersebar di 14 lokasi strategis punya spot instagramable. Meski demikian, secara keseluruhan Eat and Eat tetap mempertahankan suasana classy dengan dekorasi yang menggunakan tekstur kayu sehingga pengunjung nyaman untuk menikmati hidangan dengan lebih bersahabat.

Fasilitas di Eat & Eat juga lengkap. Mulai dari colokan, jaringan wifi, toilet, musholla, smoking area, coffee corner, dan photo booth. Didukung juga dengan petugas kebersihan yang selalu sigap membereskan piring dan gelas yang sudah selesai digunakan.

Saran aku sih, sebelum pesan makanan silakan pilih tempat duduk terlebih dahulu. Apalagi tempat ini selalu ramai dikunjungi setiap akhir pekan. Lagipula, food market ini menggunakan sistem self service. Kita harus ambil makanan sendiri berikut pelengkapnya dan bawa langsung ke meja yang sudah kita pilih. Tidak ada pelayan yang akan mengantar, pengunjung pun dilatih untuk mandiri. Jangan manja!


Terus kok bisa yaa, Eat and Eat itu istimewa? Untuk makan disini, kita harus punya kartu Eat and Eat supaya bisa transaksi. Bukan hanya kartu biasa, kita juga bisa daftar langsung jadi member. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menyetujui untuk jadi member. Kalau kamu tertarik jadi member, langsung klik disini yaa untuk informasi lebih lanjut.

Hal yang menggembirakan saat jadi member itu, aku bisa menggunakan kartu ini sepuasnya. Bisa digunakan di outlet Eat & Eat manapun. Tinggal isi ulang aja deh sebelum makan. Sering ada promo juga loh saat kita top up. Semakin tergiurkan untuk jadi member supaya eksklusif.

Lalu, apa yang membuat tempat ini sensasional? Apalagi kalau bukan makanan beragam yang bisa dipesan. Mau yang tradisional ala jajanan khas kaki lima seperti bakso, bakmi kepiting, batagor, bubur ayam, cakwe, kerak telor, kue cubit, pempek, sate, siomay, nasi goreng, atau tahu gejrot? Disini ada.
Eat and Eat juga terkenal dengan pilihan kuliner nusantara. Ada beberapa hidangan dari berbagai kota seperti Gado-Gado Jakarta, Mie Kocok Bandung, Nasi Ayam Betutu Bali, Nasi Bogana Tegal, Nasi Lemak Medan, Soto Kudus, Sop Konro Makassar dan Iga Bakar Karebosi.
Mau juga yang western food semisal steak dan sejenisnya? atau mau order makanan luar seperti japanese food dan Yong Tau Fu Singapore? Bisa kok.
Apalagi ada pilihan minuman yang menyegarkan seperti Es Cendol, Es Doger, Es Selendang Mayang, Es Pisang Ijo, Es Potong Singapore, dan masih banyak es lain. Ditambah dengan pilihan dessert (makanan penutup) lezat misalnya buah segar, asinan, dan rujak.
Di Eat and Eat semua serba ada!. Variasi menu yang begitu lengkap. Harga yang ditawarkan juga masih affordable. Komplit kan sensasionalnya.

Tempat makan ini jadi terintegrasi sama selera makan kita. Tinggal kita aja yang dijamin kebingungan mau pilih menu yang mana supaya pas di lidah. Tapi tenang aja, makan di Eat and Eat itu paling asyik jika bersama orang tersayang, sahabat, dan keluarga.
Konsep tempatnya ok, sistem pembayaran so good, dan taste food makanannya the best. So, Blogger Eksis KISs for Eat & Eat 😙