LIFE MUST GO ON

Sekala Niskala; Filosofi Tradisi dari Bali


“Kematian itu adalah merayakan kehidupan”


Apresiasi Film Indonesia

       Setelah Film Athirah dan Marlina Si Pembunuh Empat Babak, salah satu film Indonesia yang berjaya di ajang penghargaan Internasional yaitu Sekala Niskala atau dalam bahasa asing diberi judul The Seen and Unseen. Film ini diproduksi oleh Treewater Productions dan Fourcolours Films.
    Kamila Andini selaku produser, sutradara, dan penulis skenario film Sekala Niskala berhasil meraih piala kemenangan di Berlin International Film Festival ke-68. Film ini menang dalam sesi kompetisi Generation Kplus lewat penghargaan yang diberikan juri internasional pada Sabtu, 24 Februari 2018. Keikutsertaan film ini di Berlin juga didukung oleh Bekraf dan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.
    Generation Kinderplus merupakan salah satu sesi pemutaran dalam Berlinale yang dibuat khusus untuk anak-anak sejak tahun 1978. Sekala Niskala menerima penghargaan Grand Prix dari tiga juri dewasa untuk kategori Generation Kplus. Film panjang ini menang bersama film pendek asal Nepal berjudul Jaalgedi (A Curious Girl) garapan Rajesh Prasad Khatri.
     Kabarnya, film ini diberikan karena teruji keaslian cerita dan dipenuhi unsur gaib yang tidak terjamah dalam akal pikiran secara biasa dari visual film yang dipenuhi dengan tarian. Ada perjalanan emosional sebagai bentuk serah terima antara marah dan sedih yang penuh dinamika. Sinematik eksklusif juga tercermin dalam film yang mengandung keseimbangan dongeng puitik secara visual. Sekala Niskala pun berhasil mengguncang dunia dengan keunikan yang membuka jendela budaya Indonesia, khususnya tradisi dari Bali.
       Sebelumnya, Sekala Niskala meraih anugerah film remaja terbaik (Best Youth Feature Film) dalam Asia Pacific Screen Awards (APSA) ke-11 di Brisbane, Australia pada November 2017. Film ini mengalahkan empat film lain, seperti Big Big World  (Turki), Jasper Jones  (Australia), The Skier  (Iran), serta The Summer is Gone  (Tiongkok). Bersama Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, film ini juga meraih hadiah utama (grand prize) dari juri dalam Tokyo FILMeX ke-18. Selain itu, film ini pernah masuk dalam program pemutaran dan nominasi kompetisi Singapore International Film Festival dan terlebih dahulu tayang di festival film Toronto International Film Festival (TIFF) 2017 serta Busan maupun Dubai.
       Apresiasi di dalam negeri mulai didapat sejak diputar dan didaulat sebagai film terbaik dalam gelaran Jogja-Netpac Asian Film Festival ke 12 melalui Golden Hanoman Award. Sekala Niskala pun mendominasi penghargaan karena mampu menyampaikan visualisasi dengan rasa yang berbeda.

Tradisi Cerita dalam Visual Budaya

Durasi 86 menit film tayang membungkus sensitivitas masa anak-anak. Imajinasi visual yang sederhana bertutur pada konteks magis yang seadanya.
Sekala Niskala menjadi film kedua karya Kamila Andini setelah The Mirror Never Lies. Film ini bercerita tentang kekerabatan erat antara Tantri (Ni Kadek Thaly Titi Kasih) dan Tantra (Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena) yang berusia 10 tahun. Kembar buncing yang lahir dan tinggal di sebuah pedesaan yang ada di wilayah Bali.
Cerita diawali dengan Tantra yang mengambil telur di tempat persembahan yang seharusnya diperuntukkan bagi dewa. Telur yang diambil oleh Tantra diberikan kepada Tantri untuk digoreng sebagai lauk pauk. Keadaan ekonomi keluarga mereka memang tergolong miskin dan  sangat sederhana. Telur yang mereka goreng pun selalu dibagi dua untuk makan bersama. Sebelum menggoreng telur tersebut, Tantri sudah menanyakan dari mana asal telur itu, tetapi Tantra malah berbohong dan menyuruh Tantri untuk menggoreng telur itu saja.
Tidak lama setelah makan telur, Tantra menghilang. Tantri yang pertama menyadari hal tersebut segera mencari Tantra. Singkat cerita, Tantra ditemukan dalam keadaan koma dan terpaksa harus dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama.
         Tantri pun kehilangan dan selalu ingin berada di samping Tantra. Meski di rumah sakit, mereka terkadang mencuri waktu untuk sekedar bermain musik sambil bernyanyi, menari, dan menanam sebatang padi. Keceriaan diperlukan untuk menghibur saudara kembarnya.
      Lama-kelamaan kondisi kesehatan Tantra semakin melemah. Tantri pun mengalami kejadian magis yang relate dengan kekuatan batin saudara kembarnya. Melalui ekspresi dan gerakan tubuh, Ia selalu berada pada garis batas kenyataan dan khayalan.                 
         Hubungan emosional kembar buncing juga tervisualkan dengan bulan dan telur. Bulan purnama menjadi tempat curhat Tantri yang riang saat malam hari. Ia sering bermain dan menari ditemani oleh anak-anak kecil berpakaian putih yang mengepak dan berguling layaknya janin. Seperti ada hal mistik yang ingin disampaikan melalui rombongan tak kasat mata itu. Jika siang tiba, Tantri harus menghadapi kenyataan saat melihat Tantra yang masih lemah tak berdaya di atas bangsal rumah sakit.
      Selain bulan, telur juga menjadi saksi yang membawa penonton memutar imajinasi dalam batas yang logis. Tantri hanya suka makan putih telur, sementara kuning telur sering diberikan kepada Tantra. Suatu ketika, saat Tantri makan telur rebus, Ia tidak menemukan bagian kuning telur. Tantri pun tampak gelisah dan terlihat bahwa Ia telah kehilangan sebagian diri seorang Tantra. Kedukaan terus dialami Tantri hingga Ia merasakan kehilangan sejati.

Proses penciptaan karya kreatif yang begitu panjang

Film Sekala Niskala membutuhkan waktu pembuatan hingga lima tahun untuk melewati tahap pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Berawal dari kerangka berpikir yang relate terhadap eksplorasi karakter anak, Sekala Niskala menawarkan konsep berbeda. Ada kehilangan dan bayangan tentang kematian dalam kelam malam yang begitu syahdu di sepanjang penayangan.
Isu sudut pandang anak-anak juga mengerucut pada konteks kembar buncing yang deep connection terhadap hal-hal nyata dan tak kasat mata. Waktu penciptaan karya kreatif yang panjang tidak dilalui dengan mudah untuk mendapat hasil maksimal.Terkendala finansial membuat film ini cukup tersendat untuk melaju pesat. Butuh banyak diskusi juga untuk menggali tradisi di Bali yang begitu kental sehingga layak ditonton sebagai bahan renungan.
Dalam tradisi Bali, pantang bagi siapa saja untuk mengambil sesuatu tanpa permisi apalagi hal itu persembahan yang sudah disuguhkan bagi Dewa. Jika siapapun melanggar, pasti akan ada akibatnya.Sebagai tokoh protagonis, Thaly terlihat lebih menghayati setiap gerak yang dilakukan. Ia begitu menawan hadir sebagai aktris pendatang baru yang memukau. Kelenturan koreografi yang diajarkan oleh seniman, Ida Ayu Wayan Arya Satyani membuat Thaly terhanyut berperan sebagai Tantri yang menyentuh relung rasa dan menggetarkan jiwa. 
Meski harus diakui, kedua pemeran utama yang masih anak-anak memang tampak lihai mendalami peran karena sudah terbiasa belajar seni tari. Mereka berhasil membangun simpati penonton untuk tetap duduk di kursi bioskopnya masing-masing menyaksikan visual dengan konsep teaterikal yang megikat hubungan emosional dan spiritual.

In My Humble Opinion (IMHO) ada beberapa adegan yang masih kurang berfaedah. Mungkin eksekusi terlihat membosankan seperti adegan sabung ayam yang terlihat berlebihan. Selain itu, kekurangan esensi sewajarnya juga tampak pada properti latar gorden yang tidak ditutup saat semua sudah terlelap dalam tidur di malam hari. Unsur-unsur nyata yang mengarah pada ketidaklogisan semata nyatanya tak mampu dibangun seiring bergulir kisah fiksi yang penuh ilusi.

   Di balik itu, Blogger Eksis bagai terkena sihir saat menyaksikan film Sekala Niskala usai pemutaran di XXI Plaza Indonesia, dalam rangkaian Plaza Indonesia Film Festival 26 Februari 2018 lalu. Adegan paling menarik menurutku yaitu saat Tantra mendongeng melalui sosok bayangan. Ia menyiratkan dirinya sebagai rembulan yang bisa kapan saja sirna sinarnya. Kepiluan begitu terdeskripsi dalam tingkah kepolosan para pemerannya.


Secara keseluruhan, semua detail tersampaikan melalui keindahan visual yang dikenal dengan poetic. Relate kembar buncing juga jelas terukir dramatis. Akhir film menutup dengan sangat emosional tanpa unsur melankolis yang menggurui.
Setelah keliling dunia mengikuti festival bergengsi internasional di akhir tahun 2017, Film Sekala Niskala yang mengisahkan tradisi lokal Bali masih tayang di bioskop tanah air dan sudah bisa ditonton para pencinta film Indonesia sejak Kamis 8 Maret 2018. DUKUNG TERUS KIPRAH SINEAS-SINEAS TANAH AIR!

4 komentar:

  1. makasih reviewnya, penasaran jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih telah membaca reviewnya*

      Hapus
  2. ah penasaran...pingin nonton filmnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih telah berkunjung. Salam kenal*

      Hapus