Popular Posts

LIFE MUST GO ON

Hantu Pelakor dalam Danur 2: Maddah


Abdi teh ayeuna gaduh hiji boneka
Teu kinten saena sareng lucuna
Ku abdi di erokan, erokna sae pisan
Cing mangga tingali boneka abdi

dalam bahasa Indonesia mungkin begini artinya:

Saya sekarang punya sebuah boneka
Tak terkira bagus dan lucu
Saya pakaikan rok, roknya pun bagus
Ayo silahkan lihat boneka saya

Risa (Prilly Latuconsina) zaman now sudah beranjak dewasa. Ia menjadi mahasiswi tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi. Namun, ia masih seperti yang dahulu. Kerap melihat makhluk halus dan berkawan dengan teman-teman gaib ciliknya itu.
Risa diceritakan sebagai anak Indigo yang kesepian. Dalam sepi, Ia sering berdo’a agar diberikan teman-teman baru. Meski adiknya yang bernama Riri (Sandrinna Michelle Skornicki) selalu menemani apalagi orangtua mereka harus dinas ke luar negeri.
Meski kemampuan yang dimiliki Risa berbeda dibanding yang lain, Ia masih terasa belum siap menerima kenyataan. Riri pun sering malu dihadapan teman-temannya karena kebiasaan Risa yang suka bicara sendiri bahkan histeris saat mengantarnya latihan balet.

Suatu hari, Risa harus menolong kerabatnya agar terlepas dari jeratan makhluk halus. Ada teror yang terjadi saat Om Ahmad (Bucek Depp), Tante Tina (Sophia Latjuba), dan anaknya yang bernama Angki (Shawn Adrian) baru saja pindah ke salah satu rumah mewah di Bandung.
Awalnya, Om Ahmad tercyduque Risa saat pergi bersama seorang wanita. Om Ahmad selingkuh. Risa hampir tidak percaya dan tidak berani mengatakan hal tersebut kepada tantenya. Risa berupaya menyelidiki sendiri. Meski sahabat hantunya (Peter dkk) memperingatkan Risa untuk tidak menginap di rumah itu karena ada roh jahat yang sangat berbahaya. Panggil saja dengan nama Elizabeth yang menjadi sosok hantu pelakor karena tidak hanya merusak keluarga, tetapi juga punya niat jahat yang siap membunuh om Ahmad.
Angki sebagai anak juga terus merasakan hal janggal terjadi di rumahnya. Sikap ayahnya berubah semakin aneh. Ayah sering mengurung diri di Pavilion dan menanam bunga sedap malam di depannya. Angki pun meminta bantuan Risa untuk mengungkap misteri apa yang terjadi di rumahnya sehingga Risa mulai terusik oleh sosok hantu perempuan yang bergentayangan di rumah itu. Apalagi Risa mencium aroma Danur yang baginya sudah familiar.
Apakah Om Ahmad selingkuh? Lalu, adakah hubungannya dengan sosok hantu perempuan yang mengganggu di dalam rumah itu??


Aspek menyeramkan di mata penonton memiliki relativitas yang berbeda. Bagi Blogger Eksis tak perlu histeris untuk menonton film Danur 2: Maddah apalagi sampai membaca ayat kursi di dalam bioskop.
Tidak ada hal-hal yang membedakan antara film prekuel dan sekuelnya. Mungkin hanya jalan cerita dan pemeran pendukung yang terlihat beda. Sejak prekuel sampai sekuel, film Danur gagal menerjemahkan judul ke dalam bahasa audio visual. Danur yang berarti bau mayat tidak pernah terjelaskan secara rinci menghiasi adegan demi adegan sepanjang durasi sehingga aroma-aroma kekecewaan justru tercium dari para pencinta film Indonesia setelah menonton film ini.
Kata ‘danur’ coba ditunjukkan pada adegan saat Risa nyasar di rumah sakit dan menemukan kamar jenazah. Seorang perias mayat berkata ”ini bau danur, tapi sepertinya kamu sudah tidak asing lagi..”. Seolah adegan tersebut hanya dipaksa menempel untuk menjelaskan bahwa danur dikenal sebagai cairan yang keluar dari mayat yang membusuk. Adegan pun terlepas pada unsur cerita utama, penonton hanya dijelaskan sekilas tentang bau yang seharusnya menjadi fokus cerita. Danur 2: Maddah pun tak mampu menjadi kata yang mengandung arti sebagai lukisan perbandingan yang mengena pada unsur judul dan cerita yang sesungguhnya.
Padahal cerita dituding sebagai kisah nyata. Diangkat dari novel berjudul sama yang terbit di tahun 2012 dengan kisah pengalaman hidup seorang novelis bernama Risa Saraswati. Konon Maddah artinya “dibaca panjang” merupakan kata yang disadur dalam bahasa Arab.
Madah tidak memiliki konflik yang begitu terasa menakutkan. Saat konflik keluarga tampil, hanya Angki yang terlihat khawatir akan keutuhan keluarga. Padahal banyak peluang dari sisi naskah untuk lebih eksploitasi drama demi membangkitkan emosi penonton agar merasakan aura mistisnya. Di menit-menit pertama pun tempo terasa lambat sehingga pergantian waktu tidak terasa jelas hingga akhir cerita.
Babak awal tidak dimanfaatkan untuk preambul karakter kepada penonton agar relate ke dalam cerita. Hubungan Riri dengan kawan-kawan hantu tidak pernah diungkap secara mendalam. Tidak ada kontribusi cerita yang senada sehingga penonton sulit mengenal ikatan diantara mereka. Karakterisasi dalam film Danur 2: Maddah terasa tidak memiliki pembentukan yang layak.
Karakter dunia nyata yang hadir hanya coba diperkenalkan sebatas adegan obrolan di meja makan. Terlontar dialog-dialog yang mengalir tidak jelas. Lantas adegan terasa semakin tidak berfaedah karena hanya berfungsi sebagai turning point saat Risa melihat hantu noni Belanda, Elizabeth yang begitu akrab dengan Om Ahmad. Hantu ini layak disebut pelakor. Ia juga memiliki motif agar om Ahmad dan keluarga juga merasakan trauma dan kesakitan yang luar biasa.
Pembentukan karakter jati diri hantu juga hanya terungkap di babak akhir. Sampai muncul sosok hantu baru yang cantik menolong Risa bernama Ivanna (Elena Viktoria Holovcsak). Ia hadir sebagai adik Dimas, kekasih Elizabeth yang dibunuh oleh ayahnya sekaligus penyelamat Risa karena ada motif balas dendam dari hantu terhadap manusia. 
Akhir cerita pun dibuat kaku karena hantu hanya kalah sebagai akibat dari sobekan buku diary (catatan harian) hantu. Alangkah lucu film ini karena mengingatkanku pada film Harry Potter kedua (chamber of secret) saat Dementor menghilang dari buku harian Tom Riddle. Sungguh penyelesaian yang tidak ada tantangan sehingga membuat film semakin tidak direkomendasikan apalagi telah diklaim based on true story.

Trik menakut-nakuti (jump scare) juga terbilang receh sehingga hanya berupaya mengagetkan siapa saja saat berada di bangku penonton. Ada unsur pintu dan hal-hal sederhana seperti api kompor menyala yang mampu memberi efek ketegangan. Namun, semua itu tidak mampu terakumulasi ke dalam plot yang berisi. Penonton hanya diberi narasi yang mungkin tidak akan terngiang dalam ingatan setelah menonton film ini.
Jump scare film Danur 2: Maddah juga terlihat receh. Berupaya untuk berkiblat pada film horor The Conjuring sekelas James Wan atau Film Pengabdi Setan karya Joko Anwar namun tidak sampai pada klimaksnya. Sepertinya sineas belum belajar dari guliran kisah kesalahan prekuelnya sehingga sekuel masih tidak tersentralisasi unsur mistis yang dramatis.
Saat mengungkap kisah horor, sineas harus memperhatikan jalan cerita. Hal ini harus dilakukan karena ada beberapa penonton yang memang tidak percaya dengan makhluk gaib atau hal-hal yang bersifat takhayul. Apalagi film ini tidak ada kemajuan untuk membuat penonton peduli terhadap karakter-karakter yang ada. Menakut-nakuti penonton masih menjadi formula horor sang sutradara dalam menggarap versi sekuel yang masih berada di bawah naungan rumah produksi MD Pictures dan Pichouse Films.

Sutradara masih dipercayakan kepada Awi Suryadi. Sensitivitas pengadeganan masih tampak mengganggu unsur sinematik. Jejak langkah teror tidak terhubung dalam relevansi yang jelas. Ada adegan mimpi berulang kali dialami oleh Risa. Seharusnya adegan ini bisa membangun konstruksi menakutkan sebelum hantu itu muncul. Nyatanya atmosfer tersebut justru mengusik rasa nyaman penonton.
KZL. Ibarat menunggu jodoh yang belum tampak hilalnya. Blogger Eksis sering gagal paham karena suasana seram yang sudah dibangun justru tidak menghadirkan kemunculan hantu. Penampakan pun hadir tanpa makna. Hantu dibiarkan menunggu di pojokan dengan formula “ci luk ba” dari balik gordyn, saat pintu terbuka sendiri, dan bayangan dalam cermin seperti film-film horor lain. Itulah salah satu kelemahan film horor lokal yang membodohi penonton. Fake scene!
Dari segi pencahayaan, penata cahaya membuat nuansa Maddah lebih gelap dibanding prekuelnya. Lampu kelap-kelip menjadi pilihan untuk mengangkat nuansa horor. Hanya di beberapa bagian justru terlihat mencekam yang berlebihan sehingga penonton sudah kebal melihat latar yang sudah di set sedemikian rupa. Sebagai contoh rumah sakit diterangi dengan lampu yang tampak korslet dan nuansa lorong yang begitu sepi. Bisa jadi itu semacam kontrakan yang disewa untuk syuting film. Hal ini sangat mengganggu dan mengacaukan visual.
Musik keras juga tergolong rumusan basi dalam meracik film horor yang mengharapkan ketakutan dari penonton. Musik yang dihadirkan dalam Maddah identik dengan natural sound dan berupaya mendekati penonton untuk merasakan ada di set. Sayang musik yang berasal dari biola rusak dan piano tak punya daya untuk menghentak kuat.  Iringan musik tak peka membentuk adegan menjadi lebih seram.
Padahal lagu 'Boneka Abdi' cukup menyeramkan. Apalagi saat dimainkan melalui irama pada piano yang ditekan. Konon lagu ini dikenal dengan judul Story Of Peter yang bercerita tentang sahabat hantu pada masanya yang memang digemari oleh anak-anak Belanda yang dulu pernah tinggal di Hindia Belanda atau sekarang disebut Indonesia. Lagu ini seolah menjadi kode atau mantra yang harus dinyanyikan sebelum pertemuan dua dunia dilakukan.
Jika melihat pemeranan, bakat Prilly Latuconsina dengan performa matang justru hanya terasa dimanfaatkan. Naskah menghalanginya untuk aktualisasi akting lebih berkembang. Kegundahan hati Risa tak mampu memberi simpati kepada penonton film ini. Meski saat adegan kesurupan, Ia bisa mendapat pujian. Namun, kostum piyama yang dikenakan saat mau tidur tampak tidak sesuai realita. Seolah gaun putih panjang yang tampak bagai kostum kuntilanak itu sudah dipersiapkan oleh Angelia Florensia.
Untung saja deretan hantu yang menjelma sebagai penunggu rumah terbantu oleh tata rias dari hasil touch up Maria Margaretha Earlene. Wajah pucat dengan elemen horor yang khas memang memberi ketakutan tersendiri. Penonton pun enggan menatap mereka lebih lama.
Sayangnya, kehadiran pasangan selebritis yang pernah jatuh cinta dalam kehidupan nyata, lantas disatukan dalam frame sebagai pasangan suami istri tidak memberi esensi yang berarti. Terutama karakter Tante Tina yang mendadak stres tanpa alasan yang jelas. Begitu juga karakter Riri sebagai adik Risa yang masih bersekolah tampak dilengkapi dengan gadget iphone 6S kemanapun Ia pergi. Entah bagian dari properti atau memang sutradara lupa mengambil barang yang tidak berpengaruh ke dalam cerita. Its awkward character*

Dibalik itu semua kinerja departemen kamera dari Adrian Sugiono layak mendapat pujian. Visual mengantar penonton ke dalam nuansa “ada sesuatu yang tidak beres di sekitar”. Ada sudut kemiringan gambar yang berani ketika ada karakter memeriksa suara-suara misteri yang memberi motivasi ngeri. Kamera juga jelas menampilkan hantu di layar dengan efek mengerikan. Meski beberapa penonton mungkin akan mengira jika teknik tersebut masuk ke dalam disturbing angle.
Tidak hanya dari segi pengambilan gambar, Opay Blaze juga memberi ruang untuk latar tempat mewah dengan rasa yang mencekam. Setting rumah dibuat lebih kuno agar penonton mendapat atmosfer dan yakin akan ada penampakan di sekitar rumah. Pavilion yang misterius sebagai tempat ritual om Ahmad berhasil menyimpan misteri dari segi artistik.
Bagi Blogger Eksis yang hadir saat Gala Premiere di Studio 1 Epicentrum XXI, Kamis (22/3/2018), kesuksesan film Danur: I Can See Ghosts yang tayang pada tahun lalu menjadi indikator penonton yang masih kepo akut dengan kisah Prilly dkk. Pemutaran gala premiere pun dipenuhi sesak basis penggemar Prilly Latuconsina yang begitu banyak.  
Adegan paling memorable versiku saat Tante Tina khusyuk berdzikir dan hantu pelakor mengikuti gerakannya. Saat kamera mengarah bayangan ke kaca, Elizabeth tepat duduk di depan Tina sambil menggelengkan kepala. Coba bayangkan, saat kita sedang berdzikir ada makhluk halus yang juga mengikuti kita dengan lantunan dzikirnya. Momen ini cukup mengerikan. creepy as hell!*
Pada akhirnya, Sekuel Danur 2: Maddah memiliki tantangan tersendiri. Film prekuel akan menjadi riwayat yang menentukan apakah film sekuel lebih sukses atau tidak. Jadi, jangan menempatkan ekspetasi tinggi saat menonton film sekuel ini karena penulis lebih memilih film pertama dibanding versi terkini. ☠☠

Tidak ada komentar:

Posting Komentar