Popular Posts

LIFE MUST GO ON

Sabtu, 02 Mei 2015

Efektivitas Komunikasi

        Menurut aku, komunikasi itu bagian dari interaksi sosial. Interaksi dalam hal ini adalah saling bertukar informasi atau pesan. Contoh sederhana seorang berbicara kepada temannya mengenai sesuatu, kemudian teman yang mendengar memberikan reaksi atau komentar terhadap apa yang sedang dibicarakan itu. Aktivitas komunikasi seperti itu senantiasa disertai dengan tujuan yang ingin dicapai.

       Nah, jika suatu proses komunikasi atau pesan yang akan disampaikan komunikator dapat diterima dan dimengerti oleh komunikan, persis seperti yang dikehendaki komunikator maka komunikasi bisa dikatakan efektif. Namun, apabila tujuan yang hendak dicapai pun kemungkinan besar tidak dapat terlaksana maka komunikasi akan menjadi tidak efektif.

Efektif atau tidaknya suatu pola komunikasi bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor-faktor tertentu, diantaranya :

Isi Pesan
(ada yang menjelaskan hal-hal sifatnya spesifik atau mendetail, ada juga yang bersifat global, ada yang mampu dipertanggungjawabkan atas apa yang dikatakan atau ada yang hanya sebatas ‘kabar burung’, ada yang memiliki unsur-unsur bersifat tindakan atau mempengaruhi sikap perilaku atau ada juga yang hanya sebatas omong kosong).
Perasaan
(ada kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan yang dirasakan atau sebaliknya tidak ada, dan saling menghargai satu sama lain atau  malah saling menjatuhkan).

• Pemikiran
(mampu berpikir secara logis, secara deskriptif atau hanya bersifat evaluatif, dan mampu memiliki pemahaman atau intrepretasi secara cermat atau hanya sekedar mengamati).

• Situasi
(komunikasi bersifat satu atau dua arah, tidak ada pencelaan atau memang saling memprovokasi, tidak mendominasi atau sengaja tampil lebih menguasai, ada unsur kesenangan dan situasi yang nyaman atau hanya sebatas ikut-ikutan).




 


Di bawah ini, saya berikan contoh pola komunikasi efektif dan tidak efektif :

1. Pola komunikasi yang efektif

- Pola probing. Suatu pola komunikasi yang mengharuskan kita mengekspresikan rasa perhatian kita atas apa yang kita dengar melalui pertanyaan atau komentar lebih lanjut. Proses semacam ini mendorong orang lain akan merasa dihargai dan membuka peluang bagi upaya komunikasi yang efektif sehingga terbentuk sikap proaktif. Misalnya, penawaran saling membantu mengerjakan tugas-tugas kuliah.
- Pola reflecting. Suatu pola komunikasi yang mengharuskan kita bercermin atau mampu mengekspresikan rasa simpati yang mendalam (empati) kita dengan cara memahami situasi pembicara. Misalnya, memberi semangat kepada teman yang sakit, ucapan turut berbelasungkawa, dan sebagainya.

Dua pola komunikasi yang efektif tersebut akan menimbulkan suasana yang sinergis dan harmonis dari berbagai komponen komunikasi. Maka, komunikasi akan terkonstruksi dan terpelihara dengan optimal dan berkelanjutan.

2. Pola komunikasi yang tidak efektif

- Pola deflecting. Suatu pola komunikasi yang membelokkan pesan atau informasi yang kita dapat sehingga kabar yang kita terima simpang siur. Contoh sederhana bergosip dengan teman kampus.
- Pola advising. Suatu pola komunikasi yang cenderung untuk menggurui atau memaksakan pendapat; tanpa membuka kesempatan untuk terjadinya sebuah dialog yang sehat. Sebagai contoh dosen yang memberikan tugas atau instruksi kepada mahasiswa tanpa mendengarkan hak suara atau hak bicara mahasiswa sehingga dosen selalu merasa paling benar.

Dua pola komunikasi tersebut akan membangun proses komunikasi yang tidak kondusif antara komunikan dan komunikator.