Tulis yang kamu cari

Analytics

Adv

Ini Baksoku! Mana Baksomu?



Blogger Eksis makan bakso
Kamu lagi di sekitar kawasan Blok M atau Melawai? Mau makan siang atau makan malam? Sekaligus cari tempat untuk nongki bareng keluarga atau teman-teman? Nah ini dia, rekomendasi dari aku. Langsung ke Dapur Blok M dan pilih Bakso BOM Mas Erwin yaa. Makanan favorit aku ini ada di Jalan Melawai Raya.
Bakso BOM Mas Erwin


   Menu favorit aku untuk makan disini terkenal dengan sebutan BOM Iga. Bakso ini rasanya enak sekali. Satu porsinya terdiri dari bakso daging dan bakso urat plus beberapa potong daging tulang iga sapi impor. Dagingnya empuk dengan tekstur yang padat dan sedikit kenyal.


Hal paling menarik yaitu kuah baksonya yang tanpa micin (vetsin MsG), jadi tidak berminyak. Santapan ini pun makin lezat dan sehat. Aku jamin kamu tambah lahap menyantapnya.


Meski ada yang bilang tanpa micin itu terasa hambar, namun rasanya akan tetap enak kok. Gurih dan nikmat terasa pas di lidah, makanya Bakso BOM Mas Erwin aman dikonsumsi siapa saja. Satu porsi BOM Iga harganya Rp. 41.000 yaa, bisa pakai mie atau tanpa mie tergantung permintaan saja. 


Oia, jangan khawatir kalau kamu suka Micin (vetsin MSG), bisa langsung request ke penjual. Tidak perlu malu atau sungkan karena pelayanan di tempat ini terbilang ramah. Para pekerja juga cepat meramu racikan untuk semangkok bakso agar tersaji dan siap dinikmati.



 
Menu andalan di tempat ini cukup ekstrem, yaitu BOM Beranak. Dengan ukuran bakso jumbo yang kenyal, kamu bisa dapatkan 2 bakso urat mini didalam bakso yang berukuran besar tadi. Menu ini bisa dinikmati dengan harga Rp. 35.000,- saja.


Kalau mau makan bakso jenis lain juga bisa, ada BOM Urat, BOM Granat, BOM Telor, BOM Pedas, dan BOM Keju. Pilihan aroma bisa kamu sesuaikan dengan keinginan kamu. Seporsi baksonya hanya cukup membayar Rp. 26.000,-. Bahkan akan segera hadir menu baru, Bakso Selimut Tetangga. Seperti judul lagu aja yaa.. haha...


Selain menu bakso, kamu juga bisa order Mie Ayam Ceker dan Mie Yamin. Cita rasanya dijamin top deh dengan harga sekitar Rp. 26.000 per porsi.


Mas Erwin punya tempat makan bernama Bakso BOM Mas Erwin


Banyak orang bilang, harga itu akan sesuai dengan cita rasa produk yang dihasilkan. Terkadang banyak pedagang bakso yang mencampur daging sapi dengan daging lain yang murah sehingga menekan biaya produksi demi keuntungan semata. Beberapa tahun lalu, publik juga sempat heboh dengan adanya bakso tikus. Namun, Bakso BOM Mas Erwin mampu menunjukkan kualitas di atas segalanya.


Yup, ini hidangan bakso yang cukup unik. Beda dari yang lain. Bakso BOM Mas Erwin tanpa bahan pengawet. Sudah dipastikan kalau adonannya tidak menggunakan borax, formalin, dan bahan-bahan berbahaya lainnya. Komposisi adonan pun terdiri dari 10 kilogram daging dan 1 kilogram tepung. Orisinalitas bahannya begitu teruji.




Bakso BOM Mas Erwin juga termasuk dari jaringan franchise yang berkembang. Melalui Sentra Waralaba Indonesia (SWI), Anke Dwi Saputro, seorang pria kelahiran Solo, 4 Juli 1979 sebagai pemilik yang dikenal juga sebagai penulis buku The Death of Franchise Tentang Penyebab Matinya Waralaba dan Solusinya, mulai bertemu dengan Mas Erwin. Sementara itu, Mas Erwin sendiri asli Wonogiri dan berprofesi sebagai pedagang Mie Ayam dan Bakso di kawasan Perumnas 2 Bekasi sejak tahun 1989 yang berhasil meramu cita rasa bakso seperti apa yang diinginkan masyarakat.

Bekal pengalaman masing-masing, membuat mereka menjadi tim kerja yang membesarkan nama Bakso Bom Mas Erwin dengan berbagi peran. Mas Anke sebagai pemilik atau franchisor sekaligus menangani pemasaran. Mas Erwin bertugas memproduksi dan menjaga kualitas bakso dengan sentuhan rasa. Komitmen mereka membuat Bakso Bom Mas Erwin pun semakin diketahui banyak orang.

Kata ‘BOM’ yang dilekatkan pada merk produk bakso ini bukan karena bom yang sering kita lihat itu bulat mirip seperti bakso. Kata ‘BOM’ justru diadaptasi dari kasus Bom Sarinah yang membuat heboh Jakarta beberapa tahun lalu. Mulai dari situ timbul ide untuk membuat label produk bakso dengan nama Bakso Bom. Katanya sih supaya Baksonya itu bisa terkenal seperti kasus bom yang pernah viral.




Bakso BOM Mas Erwin memang semakin membuat orang penasaran, termasuk aku. Informasi di atas begitu banyak aku dapatkan sejak tanggal 8 April 2017 saat mengunjungi Bakso Bom Mas Erwin cabang Dapur Blok M. Ternyata, cabang ini merupakan gerai ke 17 yang sudah dibuka.


          Dapur Blok M ini sederhana tapi berkelas. Dekorasi dindingnya dibuat dengan konsep klasik melalui material batu bata yang menghadirkan nuansa retro. Tempat ini semacam food court, jadi ada beberapa pilihan makanan yang bisa kamu pilih. Tapi, saran aku sih kamu langsung saja pesan di outlet paling dalam arah menuju tangga ke lantai atas. Nah, disanalah tempat Bakso BOM Mas Erwin diolah.


Kursi dan meja di Dapur Blok M dari kayu namun terasa nyaman. Dilengkapi juga colokan untuk mencharger smartphone kamu yang kehabisan daya baterai di pinggir setiap meja yang bebas kamu pilih.

Selain itu, AC begitu sejuk. Kamu pun tidak perlu khawatir kepanasan. Apalagi tata cahaya tempat ini terbilang redup dengan beberapa penempatan spot light di beberapa titik. Tempat makan yang seperti lorong panjang ini semakin asyik membuat pengunjung betah berlama-lama karena tersedia jaringan wifi gratis. Parkirnya juga memadai jadi kamu bisa bawa mobil atau motor untuk menjangkau lokasi ini.


Sudah makin lapar ya? Oke, fine. Begini caranya menuju ke Bakso BOM Mas Erwin cabang Dapur Blok M. Letaknya di Jalan Melawai Raya No. 42 dengan jam buka dari pukul 11.00 – 21.00. Lokasi persis di depan Hotel Melawai atau Amoz.

Jangan sampai nyasar atau bingung. Untuk info lebih lanjut, ikuti petunjuk di Google Maps berikut yaa: klik disini !





Jika kamu merasa jauh menjangkau kawasan Blok M. Bakso BOM Mas Erwin yang fokus dengan selera masyarakat dan konsistensi cita rasa ini juga membuka cabang dibeberapa tempat. Berikut cabang-cabang lainnya:


  1. Cabang Jakarta Selatan

Jl. Tebet Barat Dalam Raya (sejajar Pasar Tebet Barat Raya samping Dapur Coklat).

Contact: (021) 22983391.


  1. Cabang Jakarta Pusat

Lapatra Cafe, Lobby Kantor Pusat Pertamina. Jalan Merdeka Timur 1A, Gambir.
           Contact Person: Imron (0811-734 666).


  1. Cabang Jakarta Timur

-  Jalan Pegambiran no. 43, Terminal Rawamangun (seberang Bank Mandiri).
              Contact Person: Andri (0811-7521 883).
-  Blockbooster Foodcourt Jalan Raya Transyogi Cibubur 
   (depan Pom Bensin, dekat Save Max).


  1. Cabang Tangerang Selatan

-  Jalan Pemuda No. 2, Cipadu-Kreo, Ciledug.
              Contact Person: Yusuf (0811-9621 355).
-  Ruko blok K Paris Residence. Jalan WR. Supratman No. 100, Kampung Utan, 
   Ciputat (depan SuperIndo).
              Contact Person: Dedep (0811-1009 707).
 
  1. Cabang Bekasi

- Jalan Taman Galaxy blok H5 (seberang Pegadaian) Pekayon Jaya Bekasi Selatan.
             Contact Person: Edi (0859-2502 2200)
- Jalan Pengasinan Raya, Rawa Lumbu, Kota Bekasi (dekat Alexandria School).
             Contact Person: Selena (0812-8033 2368).
- Ruko Marakash B05/05 Pondok Ungu Permai (sejajar Superindo).
             Contact Person: Iwan (0812-9331 2374).
 
  1. Cabang Depok
         ASA Foodcourt. Jalan Raya Kartini RT. 1 / RW. 9, Pancoran Mas, Jawa Barat 16431.
        Contact Person: Edi (0859-2502 2200).
 
  1. Cabang Bogor
         Citra Indah Ruko Shopping Street SS10, Jonggol (samping Masjid Raya).  
         Contact Person: Jaja (0816-4617 570).
 
  1. Cabang Cilegon

         Jalan Cibeber Raya, Kavling, Cilegon (dekat Kejaksaan Negeri).

         Contact Person: Hananto (0898-9621 645).


Jadi, jangan ragu untuk makan di tempat ini yaa. Jika kamu tidak segera maka bakso yang kamu incar bisa keburu habis karena restoran ini memang laris manis. Worth it kan rekomendasi bakso versi aku. Info lebih lanjut, kamu bisa kepoin juga via media sosial Facebook: BaksoBom, Instagram: @baksobom, dan Twitter: @BaksoBom.



Setelah kamu berkunjung ke tempat ini, jangan lupa tinggalkan komentar di halaman ini dan bagikan pengalaman kamu di media sosial tentang sensasi merasakan Bakso BOM Mas Erwin. Ini Baksoku! Mana Baksomu?

Kartini, Putri Bangsawan yang Jadi Kebanggaan dalam Film Kartini



Ketertarikan Blogger Eksis dengan film Kartini muncul sudah sangat lama. Hal ini dimulai sejak wacana produksi film tersebut digaungkan tahun lalu bertepatan dengan tayang film Surat Cinta Untuk Kartini. Blogger Eksis pun tidak sabar untuk segera menontonnya. Akhirnya, Blogger Eksis terpilih menjadi salah satu yang beruntung bisa menyaksikan film Kartini sejak awal tahap special screening pada hari Rabu, tanggal 5 April 2017 silam bersama rekan-rekan KoMiK (Kompasianer Only Movie enthusIast Klub) di Plaza Indonesia.

Surat Cinta Untuk Kartini; Film Fiksi yang Dijejali Eksekusi

Film Surat Cinta Untuk Kartini menjadi kisah fiksi yang diadaptasi dari sejarah. Ada pelepasan diri dari tradisi dan adat istiadat. Ada perjuangan terhadap kelas sosial. Namun, semua itu dijejali dengan eksekusi yang basa-basi.


Keputusan kreatif yang dibuat oleh rumah produksi MNC Picture untuk film Surat Cinta Untuk Kartini menjadi pertanyaan dari awal bagi Blogger Eksis. Apakah mereka akan membawa pada penceritaan sejarah atau penceritaan fiksi?. Aku coba menjawab bahwa penceritaan film ini terbawa ke arah fiksi sehingga kemasan terlalu ringan untuk dicerna.

Indonesia Movie Review: Surat Cinta Untuk Kartini



R.A.Kartini adalah sosok ikonik dari kalangan priyayi yang melambangkan perjuangan wanita Indonesia. Kita semua tahu nyata sejarahnya. Bagaimana Ibu Kartini memperjuangkan kesetaraan perlakuan dan derajat kaum wanita ditengah zaman penjajahan. Bagaimana Ibu Kartini mendirikan sekolah untuk anak-anak pribumi sehingga mereka bisa mengenyam pendidikan. Semua ada di buku. Yang kita enggak tahu adalah seperti apa sih pribadi seorang Kartini. Dilihat dari foto, sepertinya beliau orang yang pendiam dan thoughtful


Alhamdulillah Ogut dapat tiket gratis lagi setelah ikutan kuis di akun twitter @BrandOutlet_ID yang juga menjadi salah satu brand clothing online shop di bawah naungan MNC Group. Kali ini ogut pun nonton film Surat Cinta Untuk Kartini pada Senin, 11 April 2016 tepatnya di Blok M Square saat ada meet n greet dengan sutradara (Azhar Kinoi Lubis), Sarwadi (Chicco Jerikho), dan Ningrum (Christabelle Grace Marbun). Ogut gak sabar mau lihat Kartini nya divisualisasikan dalam versi seperti apa. So, I was excited going into this movie.
 

Opening scene Surat Cinta Untuk Kartini dimulai dari sebuah taman kanak-kanak di dunia modern. Seorang guru perempuan dalam kostum kebaya mengajak murid-murid TK untuk menyimak ceritanya tentang Kartini. Anak didiknya ini enggan untuk menurut. Mereka protes dengan mengemukakan alasan logis, “Ngapain sih cerita tentang Ibu Kartini? Di buku-buku sejarah juga banyak!.”


Gagal menarik minat para siswa, upaya sang guru perempuan diselamatkan oleh sosok (yang diasumsikan sebagai salah satu pengajar di taman kanak-kanak itu), muncullah Chicco Jerikho dalam balutan busana modern. Lalu, Ia memutuskan untuk bercerita mengenai Kartini melalui sudut pandang tukang pos. Anak-anak tersebut pun langsung mendengarkan dengan seksama.


Maka dimulailah cerita pak guru, yang dalam film ini berfungsi sebagai flashback framing device. It was playful. Jarang sih film Indonesia mengambil langkah baru seperti ini hingga menghadirkan konsep emosional nan menyentuh. Seolah memberi warna baru dalam penceritaan sejarah. At times film ini cukup menarik untuk disimak sebagai a vibrant of characters.
 

Ternyata, Surat Cinta Untuk Kartini dibuat dari sudut pandang tokoh bebas! Tokoh utamanya yaitu seorang tukang pos di Jepara, bernama Sarwadi, berstatus sebagai duda beranak satu yang menjadi begitu tertarik dengan sosok Kartini setelah suatu hari ia mengantar surat-surat ke kediaman putri ningrat Jepara itu. 


Film ini membawa rasa penasaran penonton sebagai seorang Sarwadi yang mendadak kagum terhadap sosok Kartini sejak pandangan pertama. Hingga akhirnya, Sarwadi membawa Ningrum, putrinya yang berumur 7 tahun untuk belajar kepada Kartini. Sarwadi berhasil menjadi ‘twist’ sejarah tentang Kartini.


Beberapa kali Sarwadi ingin memberi surat cinta kepada Kartini tapi gagal. Hatinya pun hancur ketika mendengar Kartini dilamar oleh Bupati Rembang yang sudah memiliki 3 istri. Dia sempat jatuh sakit tapi akhirnya bangkit lagi. Dia pun melakukan berbagai cara untuk meyakinkan Kartini agar tidak menikah dan tidak melupakan mimpinya untuk mendidik kaum perempuan.


Premis cerita menarik dengan konsep struktur yang begitu tinggi. Kisah cinta rekaan antara Sarwadi dan Kartini mencoba menyentuh kita lewat perbedaan keadaan hidup yang mereka hadapi saat itu. Bagai punuk merindukan bulan. Formula Sarwadi terbukti ampuh sebagai emotional core dari cerita.

Inti yang bisa penonton dapatkan yaitu ada keinginan Kartini untuk membuat sekolah dan keinginan Sarwadi mencari ibu bagi Ningrum. Kartini sempat curhat dia ingin mengajar tapi tidak punya tempat, lalu semua masalah hilang berkat pilihan-pilihan Sarwadi yang jadi pusat cerita. Tantangan demi tantangan pun mereka hadapi, they were personal. Eksekusi terhadap cerita dibuat sedemikian rupa hingga penonton menjadi peduli.


Penceritaan siapa Kartini dalam film ini lebih terlihat tentang bagaimana ide dari seorang Kartini mempengaruhi banyak orang. Bagaimana orang jatuh cinta kepadanya. Bagaimana orang-orang disekitar menjadikan beliau inspirasi. 


Ada satu adegan yang cukup menarik perhatian, saat Kartini menyuruh ibunya yang bernama Ngasirah (Ayu Dyah Pasha) untuk duduk sejajar dengan dirinya dan juga ibu tiri kartini yang menjadi istri utama bupati Jepara. Kartini pun menginginkan panggilan Ibu untuk wanita yang melahirkannya, bukan sebutan lain meski Ngasirah bukanlah istri utama bupati. Kartini tetap meyakini bahwa Ngasirah merupakan ibu kandungnya dan Ia mengajukan permintaan kepada romonya agar Ngasirah berhak mendapat kamar yang lebih layak.



UNPUBLISHED
Selain itu, adegan ikonik yang menurut penulis berkesan saat Kartini berbicara dengan Sarwadi di sebuah tepi sungai di mana ia dan kedua adiknya melakukan pengajaran kepada anak-anak pribumi. Kalimat ikonik yang masih teringat yaitu kutipan pembicaraan yang berbunyi “Kita tidak bisa mengubah asal kita, tapi kita bisa mengubah cara berpikir kita” ujar Kartini kepada Sarwadi.



Pada akhirnya, R.A Kartini pun meninggal dan si tukang pos tetap melanjutkan kehidupan bersama putrinya yang sudah berdandan ala kartini. Tiba-tiba tampil sosok cameo Acha Septriasa dalam tata rias modern mengenakan kebaya tampak mengajar di tepi pantai seolah meneruskan tradisi Kartini. Ini menjadi simbol kebanggaan sosok kartini-kartini selanjutnya.


Di akhir film, penonton juga sempat digoda oleh sebuah petunjuk kecil dari buku sketsa yang dibawa oleh karakter guru yang diperankan oleh Chicco Jerikho. Mungkin saja adegan ini dimaksudkan ingin menimbulkan teori atau perdebatan, apakah Sarwadi hanyalah rekaan sang guru ataukah memang “kisah nyata” yang tidak termaktub dalam sejarah. Hal ini coba disampaikan secara blak-blakan di akhir film sehingga memberi isyarat untuk penonton bertanya-tanya?!?!??!. 😌😤😱😱🙎


PS: Review ini telah didraft dari tahun kemarin tepat bulan April 2016 karena kesibukan penulis baru bisa diselesaikan tahun 2017 ini. Untuk kritik film ini bisa dilihat tulisan selanjutnya. Terima kasih.