Popular Posts

LIFE MUST GO ON

Senin, 06 Maret 2017

The Chocolate Chance: Menonton Film Ini Ibarat Konsumsi Cokelat Ada Pahit Manis Menggigit



"Waktu adalah hal paling kejam yang bisa mengombang-ambingkan seseorang. Detik ini kau bisa tertawa, tidak menutup kemungkinan bisa saja kau menangis beberapa menit kemudian karena pada dasarnya manusia itu hidup dalam ketidakpastian. Manusia hidup dalam sekumpulan kejutan yang tidak tentu, layaknya terpidana mati yang belum tahu kapan akan dieksekusi." 

(Novel Chocolate Chance hal. 24)


Nama Orvala Theobroma (Pamela Bowie) diambil dari suatu jenis nama ilmiah tanaman cokelat. Perempuan ini memang pecinta cokelat seperti ayahnya. Orvala memiliki masa lalu yang berat. Ibunya (Karina Suwandi) hanya seorang ibu rumah tangga yang memiliki hobi masak dan ayahnya (Ferry Salim) tak memiliki penghasilan yang begitu mumpuni untuk menghidupkan keluarganya. Orvala pun seakan tak bisa melanjutkan jenjang pendidikannya hingga bangku kuliah karena kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya.

    Untuk mengatasi situasi tersebut, Orvala membantu ibunya dengan membawa roti mini untuk dititipkan di kantin sekolah. Awalnya, Orvala sempat malu dengan teman-temannya. Sampai akhirnya, kelompok jurnalis sekolah yang diketuai oleh Juno Aswanda (Ricky Harun) langsung membuat pemberitaan online tentang sosok wanita cantik yang sering diantar menggunakan jasa ojek sambil membawa barang dagangan ke sekolahnya.

      Berita tersebut pun menjadi viral di sekolah itu. Hingga akhirnya, sahabat Orvala memberitahu tentang berita yang menjadi trending topic di sekolahnya. Orvala kaget dan langsung menemui Juno untuk klarifikasi berita tersebut. Orvala merasa bahwa Juno tidak pernah melakukan konfirmasi terlebih dahulu untuk memuat berita tentang dirinya. Apalagi, Orvala juga begitu kesal karena ojek yang ditulis dalam berita itu adalah ayahnya sendiri.

     Juno pun merasa bersalah. Dengan berbagai cara, Ia berusaha meminta maaf kepada Orvala dibantu dua sahabat baiknya. Cara yang mereka lakukan tidak berhasil. Juno memutuskan untuk menemui langsung Orvala ke rumahnya. Kebetulan saja Juno juga telah berhasil menolong ayah Orvala saat terjatuh di pasar.

     Lama-kelamaan hati Orvala luluh terhadap rayuan Juno. Lagipula Juno sudah menunjukkan itikad baiknya dihadapan sang ayah. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena Orvala kembali kecewa saat mendengar Juno akan melanjutkan studi pendidikannya ke Jerman. Orvala mendengar langsung pernyataan itu, dari sahabat wanita Juno yang bernama Fidela (Sheila Dara Aisya) saat pesta ulang tahun Juno berlangsung.

   Orvala meninggalkan pesta itu. Kecewanya menjadi kesedihan karena setibanya di rumah, Ia disambut oleh bendera kuning. Ayahnya dinyatakan meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya. Orvala pun semakin terpuruk menghadapi kondisi itu.

   Time lapse pun berlanjut 3 bulan kemudian. Orvala sudah tampak bangkit dari keterpurukan. Ia mendapat informasi ada sebuah kompetisi untuk membuat minuman cokelat yang paling nikmat. Dengan dukungan ibu dan sahabatnya, Orvala memberanikan diri mengikuti kontes itu dan keluar sebagai pemenang utama.

   Berawal dari kontes tersebut, Orvala dilirik oleh salah satu dewan juri bernama Aruna Handrian (Miqdad Addausy), seorang pemilik café ternama, Fedde Velten Café. Orvala pun diterima bekerja di café tersebut dan mereka mulai menjalin kisah asmara.

   Tapi, nasib malang kembali menimpa Orvala. Ibunya pun meninggal dunia karena terlalu lelah membuat pesanan-pesanan kue sebagai ladang usahanya untuk membiayai keluarga. Ibunya meninggal tepat di hari ulang tahunnya. Orvala yang sudah membeli kue ulang tahun untuk ibunya hanya bisa meniupkan lilin di kue itu saat ibunya masih dalam kondisi kritis atau koma.

   3 tahun berikutnya. Setelah ditinggal kedua orang tuanya, Orvala tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan lebih tabah. Apalagi, ia didampingi pasangan hidup yang nyaris sempurna, Aruna Handrian. Orvala pun senang bekerja di tempat yang dia impikan karena café tersebut menyajikan segala sesuatu dengan cita rasa cokelat.

    Kehidupannya yang mulai sempurna diganggu lagi oleh masa lalu cintanya yang kembali datang. Siapa lagi kalau bukan Juno Aswanda. Mereka dipertemukan di Fedde Velten Café, tempat Orvala bekerja. Nyatanya, Juno itu sepupu dari Aruna. Setelah studinya selesai, Juno diajak Aruna untuk gabung bersama mengelola café coklat tersebut.


“Ternyata waktu memang berputar – berlalu. Manusia tidak pernah berada di tempat yang sama dalam satu jeda. Apa pun pasti berubah. Namun, satu-satunya hal yang tidak pernah berubah sampai kapan pun adalah hal kecil yang kau anggap penting dalam hidupmu –orang yang berharga bagimu.” 

(novel Chocolate Chance hal. 88)

      Juno menginginkan Orvala kembali menjalin cinta dengannya. Orvala pun sebenarnya masih ada rasa terhadap Juno. Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK) mulai dirasakan Juno dan Orvala. Di lain sisi, Aruna pun telah hadir diantara mereka. Cinta segitiga pun mulai muncul. Konflik cinta yang dialami dalam batin Orvala semakin seru dilengkapi dengan kehadiran Fidela sebagai sosok cinta Aruna di masa lalu yang menambah permasalahan semakin rumit.


“Cinta itu rumit. Dalam hidup pasti kau hanya akan bertemu sekali dengan orang yang benar-benar kau sukai. Pada saat itu terjadi, jangan kau lepaskan. Satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan adalah meraihnya…” 

(Novel Chocolate Chance hal. 340)

Bagaimanakah kisah cinta mereka?
Orvala harus bisa memutuskan kepada siapakah hatinya akan dipertaruhkan, Aruna atau Juno?
Apakah Orvala akan merasakan pahit atau manis diending akhir cerita?! 

Aku telah menemukan jawabannya di bioskop kala itu.

        Dari poster film yang dibuat, penonton diajak menebak ada kisah cinta segitiga dibalik semua cerita tentang cokelat. Rasa coklat selalu menjadi menu utama yang menjadi perhatian tokoh-tokohnya, sehingga coklat juga seolah menjadi aroma dari kehidupan peran utamanya, Orvala. Ia merasakan pahit manis kehidupan yang berputar sesuai tema film yang digarap oleh Jay Sukmo ini.

Overall, aku suka dengan film ini. Sudut pandang cerita seolah menuangkan filosofi coklat dan berusaha menempatkan ‘roh’ film ini dengan unsur coklat meskipun tak begitu banyak deskripsi coklat yang membuat penonton meleleh di setiap adegannya. Kata-kata yang jleb ke hati tidak begitu banyak ditampilkan sehingga rasa cokelat kurang melekat. Padahal, di novelnya banyak mengandung kalimat quotable, sedangkan di filmnya hanya ada beberapa adegan yang bisa menjadi memorable.

Ada satu dialog yang seolah bernafaskan coklat, ketika Orvala berkata kepada Juno; “Ayah pernah bilang kepadaku bahwa hidup itu seperti cokelat. Saat ku tanya ‘mengapa’ sambil mengerutkan kening karena bingung, beliau mengatakan bahwa di dalam sebuah minuman coklat pasti ada rasa manis dan pahit yang menyatu. Namun, rasa yang menyatu itulah yang membuat ketagihan, yang membuat kita tidak bisa berhenti menyesap cokelat. Hidup juga seperti itu. Ada pahit-manis yang dilalui … “ 

Rumah produksi Darihati Film membangun alur cerita maju mundur sehingga mengatur ketegangan penonton meskipun banyak penonton kecewa karena semua dibiarkan pergi meninggal begitu saja. Alur ini terbilang unik karena perpindahan alur gampang dimengerti oleh penonton. Meskipun, potongan-potongan adegan seolah dirajut sambung menyambung dan terkesan dipaksakan hanya ada hentakan kematian yang mengulang seperti itu saja. 

Pamela Bowie sebagai Orvala Thebroma hadir cukup tegar menghiasi cerita film ini meskipun tantangan hidup yang berat Ia rasakan karena kesenjangan finansial keluarga. Orangtuanya selalu mengajarkan kesederhanaan kepada Vala. Lebih baik memandang ke bawah daripada memandang ke atas karena memandang ke atas hanya akan membuat manusia sombong dan tak pernah puas. Namun, pikiran Vala selalu memberontak. Hidup sederhana bukan berarti harus susah makan saat kebutuhan yang dipenuhi tumpah ruah menjadi saling berdesakan.

Chemistry Vala dengan keluarga masih kurang tergarap. Terutama ayahnya yang menurunkan kecintaan coklat kepada Vala. Sebagian besar hanya diceritakan momen-momen ketika orang tuanya bicara tentang makna kehidupan pada Orvala. Ini pun masih belum tereksekusi dengan baik.

Ricky Harun justru menyedot perhatian para penggemarnya tampil berubah dari karakter-karakter film lainnya. Parasnya yang masih unyu alias awet muda mampu menyembunyikan usia yang sudah berkepala tiga dengan berperan sebagai pelajar SMA. Walaupun sudah berkeluarga, fans Kirun pun tetap menggila. Aku sempat kaget karena saat premiere film ini, Kirun mampu membuat histeris ratusan pasang mata.

         Selamat kepada tim produksi yang memberi rasa kembali terhadap film Indonesia terkini. Cerita The Chocolate Chance yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Yona Danika, telah berhasil meraih puluhan ribu penonton. Semua tim sudah berhasil eksekusi cerita novel ini dengan baik. Aku yakin penulis skenario film ini butuh riset yang mendalam untuk menuliskan naskah dan meracik kisah dalam bahasa visual seperti sedang menggigit coklat. (ˆڡˆ)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar