Tulis yang kamu cari

Adv

Film Tentang Cinta yang Terbentur Adat

Film Silariang bercerita tentang cinta yang terbentur adat

Blogger Eksis coba menghubungi Om Ichwan Persada selaku produser Silariang the Movie melalui direct message (DM) Instagram. Namun, kali ini aku belum berkesempatan mendapat undangan langsung menonton film ini dari produser film tersebut. Padahal kami sudah saling mengenal sebelumnya dari Forum Film Indonesia yang pernah digagas beliau beberapa tahun silam. Pernah juga terlibat kolaborasi menulis tentang perfilman Indonesia di salah satu media online.
Terlepas dari itu, Blogger Eksis pun mendapat undangan dari salah satu admin akun media sosial Gila Film yang juga merupakan anggota dari Komunitas TDB (Tau Dari Blogger). Lalu, pada tanggal 10 Januari 2018, aku pun menyempatkan diri sebagai blogger yang eksis menjadi penonton Silariang The Movie di Cinema XXI, Epicentrum, Jakarta Selatan.


Gala Premiere Film Silariang

Dalam pembuatan "Silariang: Cinta yang (tak) Direstui” (2018), Om Ichwan sangat serius melakukan riset yang ketat di wilayah Sulawesi Selatan. Ini bukan film perdana, sebelumnya Ia juga sukses memproduksi film Cerita Dari Tapal Batas, Hijaber in Love, dan MIRACLE: Jatuh Dari SurgaFilm Silariang pun menjadi salah satu film Indonesia dengan warna latar budaya Makassar yang kuat. Wajar saja karena memang produser film ini juga merupakan keturunan dari sana.

Film Silariang yang diproduksi oleh Inipasti Communika bekerjasama dengan Indonesia Sinema Persada bagai pintu masuk terbaik untuk lebih mengenal kearifan lokal melalui media film. Kearifan lokal itu sudah seharusnya menjadi kekuatan perfilman nasional. Untuk itu, kearifan lokal dari suku Bugis kembali diambil menjadi tema dalam industri perfilman Indonesia. Sebelum film Silariang, budaya Makassar sebenarnya sudah sempat diangkat melalui Film “Uang Panai Mahal®” dan “Molulo”. Film ini pun sempat menjadi box office di Makassar, namun tidak populer di kota lain.
Mungkin saja bagi masyarakat Makassar, mereka menganggap cinta itu rumit apalagi jika harus menuju ke gerbang pernikahan. Terutama bagi mereka yang masih memandang kasta untuk mempertahankan prestise keluarga. Ada cinta yang tak direstui.
Padahal, cinta itu sederhana. Jika memang sudah punya restu dari kedua belah pihak keluarga, maka harus segera dilaksanakan. Jangan sampai terjadi Silariang (dalam bahasa Makassar) artinya kawin lari. Meski istilah ini seolah menunjukkan cinta suci telah hadir antara dua sejoli supaya tidak terkotori oleh nafsu dan dosa.

Relevansi kisah cinta yang tak lekang oleh waktu ini jadi momok bagi kalangan anak muda. Walau sudah tidak happening di Makassar itu sendiri. Sudah jarang ditemukan baku tikam karena pola pikir mereka memandang bahwa pernikahan sesuatu yang sakral. Maka Silariang hanya wacana agar masing-masing pihak yang terlibat cinta bisa saling membentengi dirinya.
Realita kesederhanaan cinta ini coba mempersoalkan tentang mereka yang saling mencintai dan dicintai. Ini yang menjadi konflik inti dari Yusuf (Bisma Kharisma) dan Zulaikha (Andania Suri). Cinta mereka terbentur tradisi adat yang mengikat. Sejak dahulu di Makassar, keturunan bangsawan tidak boleh menikah dengan keturunan rakyat jelata. Ada diskriminasi cinta hanya karena strata.
Yusuf dikenal sebagai anak tunggal dari salah satu pengusaha. Sementara Zulaikha merupakan keturunan putri kesayangan yang berdarah bangsawan. Hidup dalam potret budaya Makassar yang kental, mereka justru bagai aib dalam keluarga. Sebab mereka memilih untuk lari dari tradisi demi mempertahankan cinta yang dibilang masih murni.

Tapi benarkah ‘silariang’ menjadi jalan terbaik untuk menyatukan cinta mereka? Ketika sebuah tindakan justru hadir sebagai masalah baru dalam hidup dua anak manusia, mampukah Yusuf dan Zulaikha mengatasinya?
Lari dari kenyataan bukan menjadi solusi untuk menghadapi kehidupan. Inilah pesan moral yang terungkap dari naskah Silariang. Eksplorasi konflik mampu membuat semua karakter semakin hidup. Permasalahan yang tidak biasa dan butuh pola pikir dewasa untuk saling mencerna mampu ditulis oleh Oka Aurora.
Tidak hanya kisah keturunan Adam dan Hawa yang melalui kehidupan sebagai pengantin baru saja. Ada tingkah yang merespons dari keluarga akibat ulah mereka. Fokus dalam konflik personal namun tidak lari dari batas koridor kenyataan yang proporsional. Salah satu keunggulan yang coba ditampilkan dalam Film Silariang yang bergenre drama.
Perspektif penonton pun akan semakin kaya dengan pergerakan karakter-karakter protagonis dan antagonis dalam film yang tayang sejak 18 Januari 2017 lalu. Masing-masing karakter bertahan dengan makna cinta yang ada di dalam sanubari mereka. Ketika cinta dan adat dipertemukan dalam adegan dramatis yang tidak berlebihan.
Meski dibintangi aktor dan aktris film asal Jakarta, para pemain dapat melebur sebagai bagian dari masyarakat Bugis, Makassar. Pembentukan karakter yang masih labil namun penuh keberanian mengambil keputusan tampak berhasil dieksekusi oleh Bisma Karisma dan Andania Suri. Keduanya mampu berdialek dengan tata bahasa Makassar. Mereka pun menunjukkan totalitas akting karena telah diarahkan melalui treatment khusus Luna Vidya sebagai pengarah peran.
Suri terlihat pandai dalam melakoni peran sebagai Zulaikha. Adegan menangis menjadi senjata pamungkas yang melapis emosinya. Bagi aku, adegan favorit itu saat Zulaikha bersembunyi di bawah tangga rumah. Ia tampak begitu menahan emosionalnya agar tidak terbunuh oleh pihak keluarga yang datang mencarinya.
Sebagai aktris yang pernah meraih Piala Citra, sosok Dewi Irawan juga sangat menjiwai sebagai ibu yang tak merestui. Hanya saja pengembangan karakter Puang Rabiah dalam tokoh tidak mendapat porsi yang begitu banyak. Tiba-tiba saja, Ia sudah tahu kalau Zulaikha akan kabur dari rumahnya. Ini terlalu mengada-ada.
Pemeran Film Silariang Cinta yang Tak Direstui

Dibalik itu semua, saat menonton film Silariang, aku bisa belajar tradisi budaya yang mengakar kuat sebagai pondasi dalam setiap adegan. Semua adegan prosesi vital diceritakan secara visual. Beberapa adegan mampu menempatkan atribut kebudayaan yang cukup vokal. Seperti adegan Zulaikha membasuh kaki ibunya maupun ketika melihat badik itu berpindah tangan di depan mata.
Ketika ingin membuat film di daerah, Ichwan Persada juga masih mempercayakan pada kru atau sumber daya manusia yang berkecimpung dalam film asal Jakarta. Dengan pertimbangan belum adanya kecakapan transfer teknologi oleh SDM lokal setempat. Hal ini untuk menghindari risiko dalam penguasaan perangkat data teknologi kamera terkini. Tata kamera pun berhasil terpadu dengan colour grading yang aman. Perpaduan penyuntingan gambar yang tepat. 

Tata musik yang digarap oleh Nadya Fatira juga begitu mantap jiwa. Apalagi, ia menyanyikan lagu “Inninawa” dengan suara yang menyentuh hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Original soundtrack yang berjudul “Meski Kau Tak Ingin” juga mampu dinyanyikan oleh Musikimia dengan merdu. Lirik lagu enak didengar dan mampu menyayat hati para pendengar. Format albumnya pun telah dirilis baik secara fisik maupun dalam versi digital.
Film Silariang juga telah mensiasati strategi pemasaran dengan intellectual property product, seperti buku novel yang diterbitkan oleh Coconut Books atau Melvana Publishing dan official merchandise yang berkolaborasi dengan Tees Indonesia. Setelah melihat produknya, aku yakin kalian semakin penasaran untuk menonton filmnya atau bisa juga sebaliknya.
Semoga saja sineas lokal bisa memproduksi film-film yang memiliki nilai tradisi konvensional sehingga media film bisa lebih mendekatkan lintas generasi untuk saling mengenal tradisi. Jangan hanya berpikir tentang prospek biaya dan profit yang bisa dihasilkan. Industri perfilman nasional butuh langkah yang berani untuk membuktikan bahwa Indonesia kaya akan cerita yang bisa digali.
Seperti apakah keseruan kisah cintanya? Dan dapatkah cinta Yusuf dan Zulaikha bersatu? Temukan jawabannya dengan menonton film Silariang: Cinta yang (tak) Direstui pada bioskop kesayangan Anda.

Perfilman Indonesia diwarnai dengan unsur cerita lokal

Ayo Dukung Perfilman Indonesia!

2 komentar:

  1. Dukung karya anak bangsa. Apalagi mengangkat tema lokal. Semoga bisa menjadi tontonan yg mendidik untuk masyarakat luas ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin yaa robbal alamin*

      Maju terus perfilman Indonesia!

      Hapus