Tulis yang kamu cari

Adv

Film Chrisye: Mengusir Rindu dengan Lagu Syahdu

Poster Film Chrisye


‘Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia … .'


Tiket nonton film Chrisye
       Itulah sepenggal lirik lagu Lilin-Lilin Kecil yang diciptakan oleh James F. Sundah untuk ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors pada akhir tahun 1976. Melalui ajang ini, nama Chrisye yang memiliki suara khas mulai diperhitungkan oleh pencipta lagu muda pada masanya. Ajang tersebut dianggap menjadi salah satu wadah pencipta lagu muda untuk berkreasi.
Lalu, Mengapa sosok Chrisye diangkat ke dalam sebuah film?. Begitu salah satu pertanyaan yang muncul dalam pemikiran ku sejak awal bulan Februari 2017 lalu saat menghadiri press conference film Chrisye di Rolling Stone Café, Jakarta Selatan.
Akhirnya, pertanyaan itu terjawab ketika aku menonton film Chrisye pada tanggal 6 Desember 2017 silam di XXI Plaza Senayan, Jakarta bersama salah satu komunitas blogger. Film ini diproduksi sebagai bentuk kolaborasi dari MNC Pictures dan Vito Global Visi.

Chrisye memang pantas disebut sebagai penyanyi legendaris Indonesia. Selama 40 tahun berkarier di industri musik, Ia berhasil merilis 31 album yang laris di pasaran. Rahasia menjadi beken pun terungkap karena kesuksesan Chrisye dengan pembawaan kalem ternyata tak diraih sendiri. Banyak sosok dibalik pentas musik Chrisye yang senang hati mewarnai perjalanan kariernya. Maka, mengangkat kisah hidup Chrisye menjadi sebuah film biopik pantas dilakukan sebagai bentuk penghormatan.
Sepanjang hidup Chrisye sudah banyak meraih penghargaan. Chrisye juga dinobatkan oleh Rolling Stone Indonesia sebagai musisi dalam negeri yang paling berpengaruh setelah Koes Plus dan Iwan Fals di tahun 2011. Martabat Chrisye pun semakin terangkat.
Musik Chrisye itu pop. Sebagai seorang penikmat karya-karya lagu yang didendangkannya, aku mengenal sosok penyanyi ini melalui lirik lagu yang penuh arti. Melodi lagu begitu terasa long last sehingga masih bisa dinikmati oleh generasi terkini apalagi jika diaransemen ulang.
Aku pun merasa bahwa Chrisye tidak pernah mati. Siapapun yang mendengar lagunya pasti akan tersentuh ikut bernyanyi di tengah lampu padam. Seperti yang terjadi di dalam bioskop saat aku menonton Film Chrisye. Saru terdengar lirih saat penonton ikut bersenandung. Setidaknya ada 3 lagu hit yang diungkap dalam kisah film, seperti Aku Cinta Dia, Ketika Tangan dan Kaki Berkata, serta Lilin-Lilin Kecil.

Ini bukan film musikal. Tidak hanya kisah dibalik pembuatan lagu-lagunya, penonton akan diajak mengenal Chrisye melalui kisah hidupnya. Film Chrisye coba menceritakan ulang kisah nyata dari sudut pandang istri tercintanya, Damayanti Noor yang juga bertindak sebagai penulis skenario.
Cerita tampak dikemas mengiringi nostalgia personal dari sisi seorang istri terhadap suami. Potret kenangan Chrisye yang penuh memoar coba dibingkai oleh Yanti, begitu Ia akrab disapa oleh suaminya dahulu. Entah semua bagian kehidupan Chrisye sudah terwakilkan atau memang hanya beberapa realita saja yang bisa diproyeksikan menuju bahasa audio visual. Hanya perspektif Yanti yang tahu itu.
Begitu banyak perjuangan Chrisye yang harus diceritakan untuk menekuni profesi sebagai seorang penyanyi di Indonesia. Sosok Chrisye diungkap selalu mengikuti kata hati dan memilih jalan hidup berbeda keyakinan dari keluarganya atas nama cinta.
Film Chrisye pun menyentuh sisi personal kehidupan siapa saja dengan pasang surut gelombang kehidupan yang pernah dilalui semasa hidup almarhum. Bukan tentang Chrisye yang begitu menguasai dan mendalami setiap lirik nyanyiannya. Bukan pula sosok Chrisye yang selalu berhasil membius para pendengar dengan suara khas dengan lagu yang melegenda. Film Chrisye memulai dari titik terbawahnya.

Vino G. Bastian sebagai Chrisye

Berawal dari sebuah pesta anak gaul Jakarta era 70an, Chrisye (Vino G. Bastian) tampil menghibur di sebuah perayaan ulang tahun bersama band Gipsy. Chrisye masih menjadi bassist di band itu. Chrisye pun bertemu dengan Yanti (Velove Vexia) di pesta itu.
Pertemuan pada pandangan pertama yang begitu unik. Ada perasaan manis dan canggung saat proses pendekatan dilakukan oleh sosok lelaki yang pemalu. Entah ini hanya dramatisasi atau memang sesuai dengan penuturan Yanti.
Hubungan yang terjalin antara Chrisye dengan Yanti memenuhi porsi film pada babak pertama. Bagian alur cerita ini sudah bisa ditebak secara umum. Bumbu kasmaran tersaji dari pertemuan lalu pacaran di taman dan berakhir dengan pernikahan hingga duduk di pelaminan. Semua adegan seolah penuh kebahagiaan namun tidak ada yang spesial.
Adegan demi adegan pun digarap secara montase sehingga berlalu cepat menuju inti cerita utama. Bagian awal dengan latar tahun 1972 menjadi kurang apik karena kisah asmaranya menutup cerita saat Chrisye ditentang oleh ayahnya (Ray Sahetapy) yang tidak mengizinkan Chrisye manggung di salah satu restoran Kota New York, Amerika selama setahun.

“Ini Indonesia! Tidak ada yang menghargai profesi sebagai musisi di sini!”. Hanya penggalan dialog tersebut mewakili dari alibi seorang ayah yang berharap terhadap masa depan anaknya kelak. Adegan ini pun memberi makna bahwa saat kita bercita-cita menjadi seorang musisi, betapa berbakat diri kita sekalipun, kemungkinan besar yang menghalangi mimpi itu ialah restu dari orang tua.
Itulah sentuhan konflik Chrisye dan ayahnya di tahun 1970-an dulu. Namun, pengulangan kata “Amerika” dalam beberapa dialog justru tak memberi penekanan terhadap adegan yang menyiratkan bahwa musik memang tujuan hidup Chrisye dari dulu. Momen ini tak bisa menjadi eksposisi yang hakiki.
Cerita semakin renggang karena dari grup band menjadi penyanyi solo hanya dijelaskan dengan periode waktu yang mudah berlalu begitu saja. Babak demi babak kehidupan terasa sulit merekam kisah panjang dalam jangka waktu 10 tahun. Dari kehidupan sang bintang panggung di tahun 1973 hingga tahun 2007.

Beberapa insert sisi yang menyentuh personal Chrisye juga terlalu dipaksakan. Seperti suara azan yang mungkin mempengaruhi pilihan Chrisye menjadi mualaf. Keping cerita film yang menyangkut cinta beda agama pun menjadi tidak terikat seutuhnya. Momentum emosional ini tampak lemah secara visual. Begitu terasa sulit jika ada kisah-kisah nyata yang ingin ditampilkan, namun potensi konflik tak bisa disatukan atau memang tidak ada konflik dalam kenyataan yang sebenarnya.
Dialog di babak pertama begitu terlihat lemah. Pemeran mengucap tanpa banyak cakap. Misalnya, bincang antara Yanti dan Chrisye di diskotik dengan ajakan “turun, yuk” justru membuat adegan tersebut membuang durasi saja.
Untung masih ada kepekaan tersisa saat penggunaan bahasa zaman dahulu kala dalam keluarga Chrisye dipopulerkan. Keluarga Chrisye yang berasal dari kalangan menengah ke atas dan keturunan Tionghoa menggunakan sapaan Mami, Papi, yey, dan eik. Kata-kata ini mungkin menjadi bahasa gaul pada zamannya.
Taktik mengurangi dialog memang terlihat sederhana. Namun, penyajian visual juga belum begitu kuat. Detail properti tidak tergarap saat adegan ijab kabul Chrisye dan Yanti, sama sekali tidak terlihat Al Qur’an atau kitab suci yang mampu menyimbolkan bahwa pernikahan itu terjadi. Hanya ada busana Minang yang dikenakan dalam prosesi perkawinan itu.
Vino G. Bastian dan Velove Vexia dalam suatu adegan film Chrisye

Cerita pun melompat ke periode waktu yang bisa merusak mood penonton kapan saja. Sisi cerita yang diangkat sering membuat penonton gagal fokus. Film Chrisye hampir terjebak dalam konflik-konflik standar.
Ditumpuk dengan koridor yang tidak hanya mempertahankan sosok Chrisye sebagai musikus, melainkan juga sebagai seorang manusia biasa, pria yang jatuh cinta kepada lawan jenisnya, dan ayah bagi anak-anaknya. Aspek-aspek tersebut menghiasi layar lebar sehingga penonton kurang mendapat esensi dalam setiap peran Chrisye yang telah dijalani pada kehidupan sehari-hari.
Dalam perjalanan karier, Chrisye terlalu kaku memandang hidup karena cenderung menikmati momen-momen kesendirian di dalam rumah. Film semakin cepat memotret Chrisye yang kesulitan membiayai keluarga sebelum lagu Aku Cinta Dia sukses di tahun 1985. Pada adegan ini mulai terjadi pergeseran karakter utama hingga waktu kembali berlalu dan Chrisye sudah menjadi sosok musisi yang mampu membeli rumah baru untuk keluarganya.

Harus diakui film biografi Chrisye belum bisa mengungguli kisah tragis dari biopik almarhum Ustad Jefri Al Buchori yang berjudul Hijrah Cinta. Hal ini sangat disayangkan karena film Chrisye terlalu banyak memasukkan visual yang bisa dibilang tidak vital. Puzzle kenangan hanya disusun, namun tak mampu mengalirkan cerita masa lalu secara utuh. Penonton pun akan merasa tidak terpuaskan untuk menikmati film yang seharusnya bisa menjadi inspirasi perjalanan seorang public figure.
Imbasnya hampir semua film-film karya Rizal Mantovani seperti video klip. Sebut saja Film Air Terjun Pengantin (2009), Jenglot Pantai Selatan (2011), 5 cm (2012), dan Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 (2016). Rizal masih sulit untuk bertutur dalam drama panjang dan menceritakan sebuah kompleksitas. Perpindahan cut to cut yang begitu cepat tanpa ada transisi penyambung karena hanya ditambahkan keterangan dari tahun ke tahun.
Alur yang tidak jelas juga membuat film semakin datar. Ada efek CGI dan green screen yang tampak fake memenuhi layar lebar. Apalagi saat establish lokasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan Tugu Pancoran tempo dulu. Lalu,  adegan yang seolah berada di dalam mobil terlihat tidak rapi untuk mengecoh penonton.

Film Chrisye mengelak begitu cepat atas konflik yang padat. Padahal penonton menanti benturan antara pelaku dengan konflik yang menarik. Semestinya film Chrisye mampu membentuk dramaturgi saat memperlihatkan Chrisye berjuang dalam industri musik. Sampai penonton bisa  menjadi peduli dari orang-orang disekitar Chrisye yang mewarnai perjalanan kariernya.
Untung saja pembentukan karakter Chrisye begitu terasa dengan hal-hal sederhana yang menjadi kebiasaannya. Seperti adegan Chrisye suka merapikan selimut adik atau anaknya yang sedang tertidur.
Selanjutnya tersisa juga beberapa konflik kuat yang membawa penonton merasakan adegan-adegan pas dalam penyampaiannya. Seperti adegan satu hari sebelum konser tunggal akbarnya digelar di tahun 1994, suara Chrisye malah menghilang karena kelelahan.
Bahkan, ada juga adegan saat Chrisye tak sanggup untuk merekam lagu tentang kebesaran Tuhan yang disadur oleh Taufik Ismail (Fuad Idris) dari terjemahan Al Qur’an Surat Yasin ayat 65. Momen utama film terasa begitu besar saat penciptaan lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata tersebut menguji mental Chrisye dalam proses kehidupannya yang sangat panjang. Chrisye menangis di dalam studio rekaman dan terbata melanjutkan prosesnya. Lirik lagu yang diambil dari Surat Yasin itu begitu mengena sampai lubuk hati terdalam sekitar tahun 1997.

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”
Chrisye bernyanyi lagu-lagu syahdu

Penonton pun semakin tahu, sebagai penyanyi kondang Chrisye tak banyak membuat lagu sendiri. Ia membawakan lagu ciptaan orang lain dari berbagai dimensi. Mungkin sisi ini yang tidak banyak dimiliki penyanyi lain. Tembang-tembang hasil racikan musisi lain itu mampu menopang Chrisye untuk tetap eksis di atas pentas.
Jika ditinjau dari sisi artistik, film ini mampu membawa penonton ke era 70an. Lagu dan gaya busana begitu menonjol. Sentuhan cutbray dan warna-warna mencolok dipilih untuk pakaian. Rias rambut para pemain juga tak begitu kentara. Hanya ada wig disematkan sehingga tak menyatu dengan rambut para pemain seperti yang dikenakan Gauri Nasution (Teuku Rifnu Wikana) dan Vicky (Pasha Chrismansyah). Film Chrisye pun cukup menghibur untuk terlihat hidup di zaman dahulu.

Sebagai sebuah drama biografi, Vino G Bastian tampil meyakinkan menjadi sosok Chrisye. Penampilan fisik yang dirias dan busana yang dikenakan Vino mendukung perawakannya semakin mirip dengan sosok almarhum. Semakin cerita bertransisi dari tahun ke tahun, Vino semakin mendalami perannya sebagai Chrisye.
Rambut yang terlihat urakan mulai menyatu dengan ekspetasi penonton. Meski kemiripan wajahnya bisa merusak kenangan para penggemar Chrisye. Apalagi suara khas Vino tidak bisa menggantikan suara khas Chrisye itu sendiri. Adegan jadi semakin janggal karena suara bisa langsung bening tiba-tiba saat Vino berada di atas panggung.
Vino memang belum berani mengeluarkan suara emasnya untuk menyanyikan lagu-lagu dari mendiang Chrisye. Bisa jadi teknik lip-sync yang digunakan dalam akting Vino untuk mempertahankan bahwa suara Chrisye tidak akan pernah tergantikan, apalagi di mata seorang istrinya.
Andai saja Vino bisa sedikit berusaha untuk latihan vokal dan menggunakan suaranya sendiri. Mungkin Ia bisa menjelma menjadi sosok Chrisye masa kini. Tapi sudahlah tujuan awal film ini diproduksi juga bukan untuk meniru Chrisye secara fisik. Jadi masih bisa dimaklumi.

Sutradara Film Chrisye yaitu Rizal Mantovani
Ada perubahan usia dari tahun ke tahun yang tampak jelas diperhitungkan oleh tim produksi. Gaya bahasa, gerakan tubuh hingga ekspresi Vino semakin mencerminkan sosok Chrisye yang menjanjikan di usia 40 tahun. Figur Chrisye coba dijiwai Vino dengan sepenuh hati setelah sebelumnya berakting sebagai karakter Kasino dalam Warkop DKI dan tahun 2018 akan menjadi karakter Wiro Sableng dalam 212 The Movie.
Beberapa shot yang diambil oleh penata kamera berhasil menempatkan angle terbaik dari depan. Saat kepala Vino sedikit merunduk dengan mengenakan pakaian berwarna cokelat, lensa kamera mampu menghadirkan sosok Chrisye seutuhnya. Penulis sempat merinding saat melihat shot ini karena melihat kemunculan Chrisye dalam film ini. Intrepretasi visual yang menarik untuk dilirik.
Velove juga semakin terlihat matang. Ia mampu membedakan akting untuk sebuah film atau sinetron. Sebagai Yanti, Ia berusaha untuk merasuki sifat-sifat yang bisa dipelajari. Walaupun chemistry antara Velove dan Vino minim rasa.
Kejutan penampilan juga hadir dari para cameo yang memerankan tokoh-tokoh dalam industri musik tanah air. Tokoh-tokoh ini membawa kenangan tersendiri bagi penonton selama di bioskop. Barisan musisi bertalenta ternyata ada dibelakang panggung dari sosok Chrisye. Sebut saja karakter Guruh Soekarno Putra yang diperankan Dwi Sasono, Roby Tremonti sebagai Jay Subiakto, Irsyadillah sebagai Addie MS, Andi Arsyil sebagai Erwin Gutawa, Tria The Changcuters sebagai Eddy Sud, Fendy Chow sebagai Joris, Peter Taslim sebagai Hendra Priyadi dan Verdi Solaiman sebagai Aciu (direktur label rekaman Musica Studio).
Karakter-karakter tersebut tampil mirip dengan tokoh aslinya. Beberapa berhasil mengundang gelak tawa dan tampil serba bisa meniru kebiasaan dari tokoh asli yang masih hidup.

Lebih lanjut untuk sebuah film biopik, penonton sudah bisa mempelajari pribadi Chrisye dengan lengkap. Ada saat Chrisye tidak mau  mendengar lagunya sendiri atau saat Chrisye mencari alasan untuk tidak melihat penampilannya bergoyang patah-patah yang masih kaku karena pertama kali tampil di televisi. 
Proses penciptaan kreatif untuk Film Chrisye begitu komprehensif. Jati diri Chrisye yang bisa menjadi inspirasi tidak terlalu banyak digali dengan letupan emosi. Film Chrisye justru mengangkat sosok maestro yang selalu resah, gelisah, dan banyak pikiran. Chrisye diungkap dari berbagai sisi sang istri, anak-anak, orang tua, rekan dan sahabat. Memang tidak ada sosok pemujaan yang berlebihan terhadap sang idola.
Dalam durasi satu jam 50 menit, penggalan penting kisah hidup Chrisye diceritakan. Setiap manusia pada saat berkembang dan menjalani hidup pasti ada konflik diri. Ada unsur kompromi dan keterpaksaan yang dibalut oleh idealisme masing-masing.
Melompat dari tahun ke tahun dengan alur cerita yang digarap lewat arahan sutradara Rizal Mantovani. Penonton pun diajak melihat Chrisye yang pernah mengalami depresi hingga akhir film. Sampai kepada titik jenuh dalam meniti karier sebagai penyanyi solo. Sejak saat itu, Chrisye mulai kehilangan semangat untuk produktif dalam berkarya. Hingga Chrisye menutup mata dan meninggalkan para penggemar untuk selamanya pada 30 Maret 2007 lalu.


... .

Akan datang hari

Mulut dikunci

Kata tak ada lagi



Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita

Film Chrisye mampu mengusir rindu para penggemarnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar