Tulis yang kamu cari

Adv

Film Tentang Cinta dari Negeri Dongeng



‘Ketika muda-mudi dari dua negara berbeda dipertemukan di Bali, adakah cinta yang mulai tumbuh di hati? Apakah mereka siap menghadapi problematika yang terjadi dan berhadapan langsung dengan orang-orang terdekat yang ingin memisahkannya??’


Blogger Eksis mendapat kesempatan untuk menonton film Forever Holiday in Bali dari majalah Coppa Magz di Cinema XXI, Blok M Square, Jakarta. Nonton bareng dengan para pemeran film ini berlangsung di hari perdana pemutaran filmnya.
Jika musisi dari Korea menggelar konser di Indonesia sudah biasa. Hal luar biasa itu saat selebritis K-pop tampil di layar lebar dalam besutan film Indonesia. Inilah yang dilakukan mantan personil MBLAQ, Thunder. Sejak tanggal 11 Januari 2018, pencinta film Indonesia bisa menyaksikan keahlian aktingnya dalam film layar lebar berjudul Forever Holiday in Bali.
Potret Thunder sebagai seorang selebritis papan atas dibingkai melalui film ini sebagai tokoh Kay (Park Sang-Hyun). Ia sudah terlihat jenuh dengan panggung sandiwara kehidupan sebagai sosok idola di Korea. Karakter yang memang merepresentasi kehidupan nyata dirinya.
Sebelum berangkat ke Bali untuk syuting video klip, ibu Kay (Min Song A)  meninggal. Provinsi Bali menjadi tempat penuh kenangan antara Kay dan ibunya sewaktu Kay masih kecil.
Kay tampak sedih saat tiba di Bali. Ia kabur dari arahan manajernya Hwan (Kim Pyeong Won) karena masih menyimpan duka kepergian ibunya untuk selamanya. Dengan menggunakan taksi yang dikendarai oleh supir (I Ketut Dewa Jayendra), Kay melewati sebuah toko yang memajang motor antik. Ia tertarik dengan motor tersebut. Ia membeli motor itu dengan menukar jam tangan mewahnya. Ia pun langsung membawa motor itu ke luar toko, meski belum lancar mengendarai.  
Kenekatan Kay nyaris menabrak Putri (Caitlin Halderman) yang sedang menyebrang di jalan. Perdebatan dimulai hingga penjual motor (A. Rani Someng) yang melihat dari kejauhan coba melerai mereka. Dari situ Putri justru merasa iba karena mengetahui Kay sudah ditipu oleh penjual motor yang mengambil untung semata.
Pertemuan tanpa disengaja semakin menarik antara Kay dan Putri, gadis Pulau Dewata yang bercita-cita menjadi fashion designer ternama. Sejak pertemuan dari pandangan pertama, mereka pun siap untuk jatuh cinta lagi.
Sejak saat itu, adegan dimulai dengan petualangan benih-benih cinta diantara mereka. Kay ingin didampingi Putri untuk pergi mencari pantai berpohon yang memiliki pasir putih. Konon pantai tersebut merupakan tempat liburan penuh kenangan antara Ia dan ibunya.
Kedekatan Putri dengan Kay mulai dimanfaatkan oleh temannya, seorang papparazi (Reza Aditya). Putri diminta untuk berulah menjadi pacar Kay agar bisa diblow up ke media dan menjadi skandal pemberitaan yang viral. Tapi, hubungan Kay dan Putri ternyata lebih dalam dan kuat daripada framing yang coba dibentuk. Mereka punya misteri hati yang belum terpecahkan sejak masa kecilnya masing-masing.
Film Forever Holiday in Bali menjadi bentuk kolaborasi kembali antara insan perfilman Indonesia dengan Korea Selatan yang dijuluki sebagai negara ginseng. Dengan genre drama romantis, penyutradaraan digarap oleh Ody C. Harahap yang pernah mengarahkan juga dalam Film Sweet 20 dan Film Me vs Mami.
Film ini diproduseri oleh Kennt Kim bersama Kim Jeong Ho, Theo Jin, Young Jeong Hun dan Jung Keun Wook selaku produser eksekutif. Dibawah naungan rumah produksi Sonamu Cine House dan Showbox Corp sebagai distributor film.
Film Forever Holiday in Bali bertahan pada cerita tipikal drama Korea. Kisah cinta Kay dan Putri seperti cinderella story dari negeri dongeng. Banyak bumbu-bumbu asmara di masa pendekatan yang penuh hal-hal fiksi antara dua sejoli yang seolah memang ditakdirkan untuk berjodoh sejak kecil. Seperti berkiblat pada fan-fiction.
Skenario yang ditulis oleh Kennt Kim dan Titien Wattimena terlihat memaksa bak film televisi. Cerita begitu ringan dan mudah ditebak. Ada momen saat mereka merasa saling kehilangan dan sadar untuk kembali bersama.
Beberapa adegan terasa menggelikan. Apalagi dengan alibi kisah dongeng, logika terasa dikesampingkan. Film pun menjahit benang merah secara semu karena berujung pada cinta segitiga yang menstimulus emosi seperti kisah film televisi alias sinetron.
Kisah masa lalu atau adegan flashback tidak bisa mengikat kesatuan cerita. Kay cilik (Tony Woo) yang liburan bersama ibunya di salah satu pantai yang ada di Bali begitu tidak manis secara visual. Dalam adegan, Ia juga bertemu sosok Putri cilik (Ellen) diiringi musik mendayu dan efek gambar sepia yang mendramatisir suasana. Sungguh adegan percintaan anak kecil yang tak pantas dilakukan seusianya. Penonton pun akan tahu bahwa adegan tersebut menjadi pertemuan terakhir ibu dan anak sejak dari awal karena adegan ini terus berulang.
          Representasi alur tidak menyentuh. Daya kejut cerita (punching line) habis tergulung oleh durasi. Penonton menanti esensi drama yang bisa menggugah hati namun masih jauh pada ekspetasi.
Dengan dalih memadukan unsur Korea dan Indonesia, film ini beberapa kali gagal membangun unsur dramatis suatu adegan. Misalnya, saat Kay mengabaikan makanan yang telah disediakan oleh keluarga Putri. Ia lebih memilih makan kimchi dalam kemasan yang dibeli di mini market sejak siang hari. Putri pun menanggapi bahwa Kay tidak bisa makan kalau tidak makan kimchi.
Esensi adegan lalu dianalogi dengan sikap orang Indonesia yang masih curiga dengan kehadiran orang asing yang tiba-tiba datang. Keluarga Putri tampak khawatir melihat Putri jatuh cinta dengan Kay. Mereka beranggapan Putri kelak ditinggal kembali sang kekasih ke negara asalnya.
Hal lain yang tidak logis tampak pada adegan Kay yang tidak bisa mengendarai motor di awal. Semua terlihat tidak konsisten karena dalam hitungan jam Ia justru lancar mengendarai motor keliling kota Bali bersama Putri. Bahkan, penggunaan gaun merah yang dikenakan Putri untuk jalan-jalan keliling kota Bali terlalu berlebihan.
Film dengan nuansa FTV ini semakin diwarnai dengan adegan klise. Ada adegan pemeran utama yang adu pandang saat pemeran wanita nyaris jatuh di tangga, namun dengan sigap pemeran pria menahan dan wanita itu jatuh dalam pelukan pria. Apalagi adegan tersebut didramatisir dengan slow motion.
Adegan lain saat Kay dan manajernya baru saja selesai syuting di suatu pura. Manajer berupaya menasehati sang selebritis untuk kembali semangat menekuni kariernya. Namun, latar mereka berdialog memanfaatkan teknik CGI yang terlihat jelas tempelan gambar digital. Parahnya, gambar pura tersebut tampil sebagai visual dengan resolusi blur atau kabur. Mungkin ini salah satu adegan yang tertinggal karena lupa terekam saat proses produksi.
Sejatinya, sinematografi berhasil melirik penonton dan cukup menarik. Ada adegan Kay dan Putri menyanyi berdua di pinggir pantai. Momen ini bisa terekam romantis, hanya dirusak saat Kay terlihat bernyanyi lip sync sambil bermain gitar, tapi tidak memetik senar. Padahal latar musik jelas terdengar diiringi gitar akustik.
          Dari segi pemeranan, chemistry Kay dan Putri terlihat manis. Ada perkembangan karakter yang coba mereka dalami seiring cerita berjalan. Meski diluar logika karena baru kenal, mereka terlihat lebih akrab sebelumnya.
Sepanjang durasi film 1 jam 34 menit, Thunder berdialog menggunakan bahasa Inggris. Namun, saat berdialog dengan sesama orang Korea, Ia menggunakan bahasa Korea. Begitu juga dengan Caitlin. Dialog-dialog sempurna seolah mengalir dari mulut mereka. Keduanya pun tampak berinteraksi dengan pasti. Keaslian yang dipertahankan dalam penyusunan adegan yang aman.
Aura bintang K-Pop Thunder menjadi magnet tersendiri. Selain memiliki penampilan fisik yang tampan, kemampuan percakapan dalam film memiliki makna yang terpancar hakiki. Beberapa momen saat Thunder mengeluarkan dialog romantis dan mencium Putri membuat penonton yang didominasi ABG (Anak Baru Gede) menjerit histeris di dalam bioskop.
Thunder mampu menjadi sosok idola yang memikat siapa saja. Thunder dipoles menjadi Kay apa adanya. Hanya saja tidak ada sesuatu yang spesial dari penampilan aktingnya. Ia masih tampil seperti berperan di drama korea lain. Tidak ada tuntutan akting yang meyakinkan karakternya. Penonton menjadi sulit untuk bersimpati pada karakter Kay.
Thunder masih sensitif dalam meluapkan emosi maupun ekspresi. Malah cenderung terlihat norak di babak awal. Meski sudah didukung dengan kacamata yang begitu keren tampil masuk mendukung tata busana di dalam frame.
Berbanding jauh dengan akting Caitlin yang lebih natural karena sudah terbiasa dengan iklim kerja perfilman Indonesia. Sebagai aktris pendatang baru, Ia pernah bermain dalam film layar lebar seperti Ada Cinta di SMA dan Surat Cinta untuk Starla.
Di film Forever Holiday in Bali, Caitlin mampu melakoni gadis Bali dengan manis. Perlahan tapi pasti, Ia mengembangkan karakter tanpa ragu. Sejak awal, Ia tak begitu histeris melihat sosok selebritis K-Pop yang memiliki banyak idola. Ia mampu mengontrol diri untuk berperan sesuai porsi.
Fokus terhadap kedua pemeran utama tersebut membuat peran lain tidak begitu berarti. Entah pemilihan peran pendukung melalui proses casting atau tidak. Peran lain terasa gagal untuk mendukung setiap adegan.
Sebut saja, teman Putri, bernama Indra (Reza Aditya). Entah apa profesi yang dilakoni, apakah seorang citizen journalism atau memang wartawan yang selalu menguntit. Aksinya sebagai paparazzi jelas terkesan berlebihan. Terutama saat adegan di toko yang menjual pakaian dalam atau BH. Semua terasa dibuat-buat.
Pergerakan karakter Indra semakin tidak signifikan. Dalam diam, Indra juga menaruh hati pada Putri. Sebagai sosok saingan Kay, karakter Indra terlalu dibentuk untuk comic relief atau karakter yang melucu saja. Meski akting yang ditampilkan tidak mengandung lelucon sebagai bahan tertawaan.
Ada juga Mira (Sonia Alyssa) yang dibentuk sebagai peran antagonis. Ia tidak dideskripsikan sebagai seorang penggemar K-Pop, tapi suka dengan Kay dan berniat cari perhatian. Cara Mira mencuri pandang Kay pun jelas tak masuk akal, Ia malah beralih ikut serta bersama Indra dan coba menghasutnya agar bersikap jealous terhadap Putri. Setiap tampil dengan adegan naik motor sambil berdiri tidak memiliki motivasi aksi yang dilakukannya.
Lain lagi dengan sosok manajer dari Kay yang kadang hilang tanpa jejak. Namun, di beberapa momen bisa tampil lagi tanpa penuh esensi. Ketika malam hari, manajer ini sudah tidak tampak mencari Kay ke segala penjuru yang ada di Bali.
Adegan film Forever Holiday in Bali lebih kuat dengan tata musik yang disesuaikan dengan gaya bercerita. Semua dibuat mirip dengan drama korea karena menggunakan lagu sentuhan K-Pop. Wajar saja karena musik dan lagu dalam film ini diciptakan oleh MYSTIC Entertainment, sebuah label ternama di Korea. Lagunya dinyanyikan oleh pemeran utamanya, seperti Destiny (Thunder feat Caitlin Halderman), Love is Crime (Thunder), dan Cinderella (Caitlin Halderman). Hanya ada satu lagu yang berjudul Fairytale dinyanyikan oleh Pyun Young Soo.
Satu hal lagi yang patut diapresiasi dalam film Holiday Forever in Bali yaitu insert scene kehidupan budaya Bali yang lewat sesaat. Ada adegan Kay dan Putri yang berhenti untuk memberi jalan saat warga lokal setempat melaksanakan upacara adat.
Pedesaan dengan bentang alam berwana hijau juga menjadi pesona lain dari Bali yang terekam dengan cara bertutur visual yang nyaman. Selain itu, suasana Bali di malam hari memberi nuansa lokasi pengambilan gambar yang bisa dinikmati hingga akhir durasi.
Sifat orang Indonesia yang berani menipu orang asing pada adegan awal proses transaksi penjualan motor juga cukup menyentil. Melalui adegan pada babak awal tersebut nilai negatif terhadap sikap orang Indonesia coba dibingkai melalui film ini.

Secara keseluruhan, Forever Holiday in Bali hanya mengekspos fantasi seorang gadis sederhana yang bertemu dan memadu kasih dengan selebritis K-Pop. Forever Holiday in Bali terlalu keras memaksa penonton untuk melihat bentuk kolaborasi budaya Korea dan Indonesia lewat karakter Kay dan Putri.
Kegagalan dalam setiap pembentukan adegan memang sulit untuk sejajar terhadap nalar. Ambiguitas terhadap fokus entah membawa penonton melayang ke mana. Bisa saja bercerita tentang perkenalan sehari yang membawa pada candu asmara atau takdir masa lalu yang mempertemukan romansa.
Kecerahan dan keceriaan yang coba dibentuk nyatanya belum bisa terpadu dengan nuansa romantisme ala negeri dongeng. Penonton hanya diajak berkhayal demi mengikuti ilusi yang kental.
Semua penonton akan mengidamkan bertemu dengan putri cantik atau pangeran tampan yang menjadi idola. Formula ini menegaskan cerita mengarah pada kisah fiksi semata. Semua terbatasi dengan senyum yang berimajinasi untuk cerita cinta dari negeri dongeng. 

"Percaya ngga... Cerita cinta dalam dongeng bisa jadi nyata?".

Yuk. Saksikan Film Forever Holiday in Bali di bioskop kesayangan Anda*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar