Tulis yang kamu cari

Analytics

Adv

Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa Jadi Sekelumit Berkah Bagi Peternak Lokal

Blogger Eksis di Desa Cikondang

Assalamu’alaikum, para pembaca..

Bagaimana semangat hari ini?
Semoga kita senantiasa selalu dirahmati oleh Allah SWT.

Tepat hari Rabu, 10 Juli 2019, Blogger Eksis mengikuti Sociotrip Kurban Dompet Dhuafa ke Desa Cikondang, Cianjur, Jawa Barat. Pada trip hari itu, aku melihat langsung peternakan lokal yang menjadi mitra pemberdayaan Dompet Dhuafa (DD). Seperti apa pengalaman berharga ini berlangsung? simak cerita selengkapnya di bawah ini ya*


Jangan Takut Berkurban Karena Harta Tak Dibawa ke Kuburan

         Berkurban menjadi suatu ibadah yang aku kenal sejak kecil. Aku pernah menjadi panitia kurban di lingkungan masjid dekat rumah. Kebetulan aku memang aktif dalam kepengurusan organisasi masyarakat di komplek tempat tinggal. Dimulai dari penerimaan kurban, pemilihan hewan ternak, proses penyembelihan, dan pendistribusian daging kurban menjadi tugas yang harus aku jalankan. Kegiatan tersebut terasa penuh berkah karena semua yang aku lakukan diniatkan untuk ibadah.
Kegiatan yang menjadi rutinitas setiap tahun menyadarkanku bahwa aku juga harus mengamalkan ibadah kurban. Dengan modal keikhlasan hati, aku mulai berkurban sejak memiliki penghasilan sendiri. Aku punya tabungan khusus untuk kurban sampai sekarang.
Minimal, aku menyisihkan Rp 250.000/bulan. Jika penghasilanku mendapat bonus, maka nominal yang aku simpan tentu lebih besar. Alhamdulillah dengan prinsip ‘sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit’, aku bisa melaksanakan ibadah kurban setiap tahun. Kadang, aku membeli seekor kambing atau domba. Bahkan, ikut urunan bersama keluarga untuk membeli satu ekor sapi.
"Orang yang berpenghasilan bukanlah yang suka membanggakan dan mengumbarnya, melainkan mereka yang gemar memberi dan membahagiakan sesama"
      Ibadah kurban yang aku lakukan telah menjadi tradisi dalam keluarga. Kedua orangtuaku selalu mengingatkan “Kamu bisa membeli gadget yang mahal atau makan di restoran kesukaan, tapi jangan pernah menunda untuk melaksanakan ibadah kurban”. Kalimat itu selalu menamparku setiap saat sehingga tak ada lagi rasa takut jika uangku dikeluarkan hanya untuk mengharap pahala dari Sang Maha Kuasa.
      Singkat cerita, aku juga selalu ingat akan adanya kematian. Aku yakin bahwa harta yang kita punya di dunia tidak akan dibawa sampai ke liang kubur. Hanya 3 hal yang tidak terputus pahalanya setelah kita meninggal dunia, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.


Program Tebar Hewan Kurban dari Dompet Dhuafa
Sociotrip Kurban Dompet Dhuafa bersama Blogger dan Media
Sociotrip Kurban Dompet Dhuafa

            Semangat berkurban tahun ini semakin menggebu begitu aku tahu ada acara kunjungan ke peternakan domba lokal di daerah Cianjur. Aku sangat senang sekali saat ada teman blogger yang mengajak ke tempat ini. Bagiku, sociotrip menjadi program yang berfaedah karena kita bisa melihat langsung bagaimana hewan ternak yang akan dikurbankan ternyata dirawat dan diperhatikan kebersihannya.
           Sekitar pukul 06.00 WIB, aku berangkat dari Cengkareng menuju kantor Dompet Dhuafa yang terletak di Gedung Filantropi, Warung Jati, Jakarta Selatan. Aku menggunakan moda transportasi publik, bus transJakarta. Perjalanan pagi itu terbilang lancar. Aku tiba di lokasi yang menjadi meeting point tepat pukul 08.00 WIB.
           Sampai di sana, aku langsung bertemu dengan kak Finastri Annisa Nasution (Digital Content Creative DD) sebagai koordinator acara pada hari itu. Ia menyambutku dengan ramah dan mempersilakanku untuk mengisi absensi kedatangan. Setelah itu, aku diberi sekotak snack untuk dimakan dan kaos untuk dikenakan selama acara.
         Aku mulai memakai kaos lengan pendek berwarna hitam dan bertuliskan #JanganTakutBerkuban. Beberapa teman blogger lain yang datang juga tampak sudah mengenakan kaos yang dibagikan. Selang 30 menit, kloter blogger siap menuju ke Cianjur menggunakan mini bus yang sudah disediakan.
           Dalam perjalanan, aku teringat sebuah hadis "Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya” (HR. Abu Daud). Hadis ini seolah menyemangati para blogger yang hadir pada hari itu.  Banyak cerita yang kita lalui bersama dengan penuh ceria selama perjalanan.

         Mini bus pertama yang berangkat hari itu diisi oleh para blogger. Sesuai rencana, kita terlebih dahulu menjemput 3 orang blogger yang sudah menunggu di kawasan Cibubur. Saat menjemput ketiga blogger tersebut, mini bus justru terkena tilang oleh polisi lalu lintas. Sepertinya mini bus berhenti di tempat yang salah. Untung polisi masih berbaik hati karena pengemudi mini bus hanya diberi sanksi untuk berdiri layaknya orang yang terkena setrap.
         Perjalanan pun berlanjut. Sampai pukul 12.00 WIB, rombongan belum tiba di lokasi acara. Kemacetan di kawasan Cisarua, Puncak menjadi kendala utama. Aku terus bergumam “Mohon bersabar! Ini ujian..”.
          Pengemudi mulai tampak lelah dan memutuskan sejenak untuk rehat di salah satu pom bensin. Para penumpang turun untuk melaksanakan salat dzuhur. Setelah itu, beberapa blogger melihat ada gerobak yang menjual berbagai makanan seperti bakso, batagor, telor gulung, dan pempek. Untuk mengganjal perut yang mulai kelaparan, kami pun jajan bersama di siang hari itu.
         Sekitar pukul 13.00 WIB, mini bus kembali berangkat. Estimasi waktu tiba ke lokasi sekitar 1 jam lamanya. Dengan menggunakan GoogleMaps, kami berharap bisa sampai tujuan tepat waktu. Namun, lokasi yang sulit dijangkau membuat mini bus yang kami tumpangi tersasar sampai sekitar pukul 15.00 WIB.
         Aku jadi teringat sebuah firman Allah SWT dalam Al Qur’an “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfaal: 46)
Kesabaran kami kembali diuji. Mbah Google nyatanya tak mampu mengantar kami sampai lokasi. Setelah dilakukan komunikasi dengan bertanya ke warga lokal maupun koordinasi dengan rombongan lain, kami baru bisa menemukan titik lokasi yang dicari. Kloter yang berangkat pertama dari Jakarta justru harus tiba di akhir waktu.
Suasana alam desa Cikondang, Kecamatan Cibeber, Kabpuaten Cianjur, Jawa Barat
Turun dari mini bus, kami disambut dengan pemandangan alam yang begitu asri. Hamparan sawah yang hijau terasa sejuk sejauh mata memandang. Ah, aku merasa begitu tenang karena tak lagi melihat gedung-gedung pencakar langit seperti di ibukota.
       Desa yang permai itu bernama Desa Cikondang. Terletak di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Desa ini menyimpan begitu besar potensi ekonomi dari pengembangan peternakan, pertanian, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan perairan.
       Aku dan rombongan langsung menuju gazebo atau orang Sunda sering menyebut dengan istilah saung. Di saung yang berukuran sedang tampak para wartawan telah selesai menyantap makan siang. Rombongan blogger yang baru datang dipersilakan untuk mengambil posisi agar bisa segera menikmati hidangan yang tersaji.
         Jangan tanya menunya apa! Semua terasa nikmat karena ada nasi liwet yang lengkap disajikan dengan kerupuk dan lalapan. Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan??
Dompet Dhuafa memiliki tagline Jangan Takut Berkurban

            Setelah perut terasa kenyang, acara dibuka dengan membaca basmalah. Sambutan disampaikan oleh Etika Setiawanti selaku General Manager Marketing Communication Dompet Dhuafa dan Kamaladin selaku Manajer Program Pemberdayaan Ekonomi. Mereka menyampaikan:

Tahun ini Dompet Dhuafa menargetkan kurban sebanyak 30.000 ekor dan pendistribusiannya menjangkau 34 provinsi di Indonesia, termasuk juga wilayah terdampak bencana seperti Palu, Lombok, Banten, Samarinda, dan Konawe. Selain itu, Dompet Dhuafa mendistribusikan hewan kurban ke tujuh negara seperti Timor Leste, Filipina, Myanmar, Vietnam, Palestina, Thailand, dan Bangladesh. Pengadaan hewan kurban telah memenuhi standar dan mutu kualitas, termasuk juga kesehatan hewan kurban yang terseleksi oleh tim Quality Control (QC). Melalui pendekatan pemberdayaan peternak lokal yang mandiri dan sudah melewati tahapan seleksi. Kemudian para peternak dapat memastikan kualitas hewan kurbannya lantaran ada pendampingan oleh tim program Dompet Dhuafa

Tinjau Langsung Kualitas Hewan Ternak di Saung Ternak Kahadean
Saung Ternak Kahadean, Cianjur, Jawa Barat

         Sebagai lembaga filantropi Islam yang fokus dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan sosial ekonomi, Dompet Dhuafa memiliki program Karya Masyarakat Mandiri yang bertajuk Kampoeng Ternak Nusantara (KTN). Pemberdayaan masyarakat ini membuat Dompet Dhuafa menjadi lembaga yang memasarkan hewan ternak dari para peternak lokal.
        Dompet Dhuafa menghadirkan program ini untuk meningkatkan kesejahteraan peternak kecil dan membangun jaringan peternakan rakyat. Bisnis peternakan yang dibina merupakan program berkelanjutan yang membuat hasil usahanya bisa dinikmati oleh para keluarga peternak yang berasal dari kalangan dhuafa. Misi yang sungguh mulia membuktikan komitmen Dompet Dhuafa untuk menjadi garda depan penyebaran hewan kurban ke seluruh pelosok Indonesia.
           Pendistribusian hewan kurban juga akan dilakukan secara merata agar terasa manfaatnya dan daging kurban tidak menumpuk di kota-kota besar saja. Ada 3 zona yang telah ditetapkan untuk proses pendistribusian, yaitu zona barat, zona tengah, dan zona timur. Semua zona dipilih berdasar standarisasi yang telah ditetapkan.
Panitia Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa
S. Triani sebagai Ketua Panitia Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa

           Pemberdayaan peternak lokal yang mandiri begitu layak diapresiasi. Para peternak lokal ini tidak hanya mandiri secara finansial saja. Dari segi keilmuan, mereka juga mampu mengelola program ternak untuk diwariskan lintas generasi.
           Ada peternak lokal yang juga berhasil kami temui di Desa Cikondang kala itu. Panggil saja Ayi Rahmat sebagai Ketua Kelompok Ternak Al-Ikhwan yang sudah menjadi mitra pendamping Dompet Dhuafa sejak tahun 2009.
          Hal menarik dari pengembangan ternak yang dilakukan oleh Pak Ayi, Ia sempat mengalami kegagalan di awal karena marak pencurian hewan ternak. Dari 20 ekor ternak domba dan kambing, Ia tetap istiqomah mengelola peternakan. Hingga di tahun 2016, Dompet Dhuafa memberi 50 ekor hewan ternak dan berkembang sampai sekarang mencapai 300 ekor domba serta kambing.
         Berhubung aktivitas warga lokal tak hanya fokus pada peternakan saja, maka sektor pertanian juga menjadi pusat perhatian. Beberapa produk pertanian lahir dari padi yang berkualitas dan biji kopi yang unggul. Dari situ brand “Beras Sae” dan “Kopi Berlian Sae” menjadi produk lokal berbasis kemitraan yang juga dikembangkan oleh Dompet Dhuafa.


produk lokal pertanian dari hasil pemberdayaan Dompet Dhuafa

      

       Sebelum kembali ke Jakarta, kami juga melihat bagaimana hewan ternak diperlakukan selayaknya manusia. Hewan-hewan tersebut diberi makan dengan pakan hijau makanan ternak, dimandikan, dan dicukur bulunya agar terlihat bersih sampat hari raya kurban tiba. Mereka diberi tempat yang nyaman sebelum pemotongan dilakukan nanti.
hewan ternak sedang makan pakan hijau ternak

hewan ternak sedang dimandikan

hewan ternak untuk kurban sedang dicukur bulunya

domba dan kambing untuk hewan kurban

          Supaya kita semakin yakin untuk berkurban tahun ini, aku ingin memberi tips cara memilih hewan ternak yang layak untuk berkurban, seperti:
  1. Hewan ternak yang layak untuk dikurbankan berupa domba, kambing, sapi, kerbau, atau unta.
    hewan ternak yang layak dikurbankan
2. Hewan ternak yang dikurbankan memenuhi syarat umur. Minimal, kambing dan domba berusia 1 tahun. Sapi dan kerbau berusia 2 tahun. Sementara unta berusia 5 tahun.
 usia hewan ternak untuk dikurbankan 

3. Hewan ternak yang dikurbankan sudah mengalami pergantian gigi seri depan dan bawah. Diperhatikan bahwa karakter gigi susu kecil dan runcing. Sementara untuk gigi tetap dari hasil pergantian yaitu besar dan rata

kondisi gigi sehat pada hewan ternak

4. Hewan ternak yang dikurbankan dalam kondisi sehat, tidak kurus, dan cacat. Biasanya hewan kurban yang sehat terlihat dari cuping hidungnya yang basah bukan karena flu. Selain itu, hewan kurban yang dinyatakan tidak kurus harus memenuhi standar bobot mencapai 23 – 25 kg untuk domba dan kambing.


5. Hewan ternak yang dikurbankan bisa dipilih dari layanan daring kurban Dompet Dhuafa sehingga para pekurban turut membantu para peternak lokal untuk hidup mandiri. Kemudahan untuk berkurban di era digital bisa dilakukan hanya dengan sentuhan jari melalui gawai yang kita miliki. QR code, payment online, e-commerce, jemput kurban, dan layanan digital lain merupakan bentuk kolaborasi pengumpulan dan pengelolaan kurban yang efektif dari lembaga kemanusiaan yang sudah terkenal ini.


Kurban Online menjadi cara donasi dalam program Tebar Hewan Kurban

Kegiatan sore itu terasa cepat berlalu. Sebenarnya agenda kunjungan tersebut berlangsung selama 2 hari. Hanya saja, banyak blogger termasuk aku punya acara lain di keesokan hari.
Kami pun harus meninggalkan Desa Cikondang menjelang maghrib. Tapi, aku seolah tak mau beranjak dari tempat itu. Aku sudah membayangkan jika bisa live in di tempat ini tentu terasa damai sekali. Semoga ada kesempatan kembali saat aku bisa melihat pengabdian para peternak lokal dalam berbagi semangat Tebar Hewan Kurban 2019.


Berdayakan dhuafa untuk mengangkat martabat mereka
Aku berharap kualitas hewan kurban tetap terjaga sampai proses pendistribusian yang merata sehingga hal tersebut menjadi langkah hebat dalam Tebar Hewan Kurban yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa selama 26 tahun. Laporan data penyaluran dan penerima manfaat juga bisa disusun secara detail dengan pengembangan global information system (GIS). Semua akan semakin lengkap karena ada dokumentasi dalam setiap alur yang dijalani.
Tebar Hewan Kurban selalu melakukan penyembelihan hewan sesuai syariah. Pendistribusian dijamin tepat sasaran sehingga daging kurban bisa dirasakan oleh kaum dhuafa yang berhak menerimanya. Oleh karena itu, setiap melaksanakan ibadah kurban, kita harus memperhatikan mutu, kualitas, dan standar syariah hewan kurban yang telah ditetapkan.
        Dalam merayakan hari raya Idul Kurban, Dompet Dhuafa mengajak kita mendukung program Tebar Hewan Kurban. Ambil bagian dalam program ini karena siapa tahu tahun ini merupakan kurban terakhirmu*
Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)

Ayo, Tebar Hewan Kurban sekarang juga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar