Tulis yang kamu cari

Analytics

Adv

Tampilkan postingan dengan label Blogger Eksis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blogger Eksis. Tampilkan semua postingan

Indonesia Movie Review: Surat Cinta Untuk Kartini



R.A.Kartini adalah sosok ikonik dari kalangan priyayi yang melambangkan perjuangan wanita Indonesia. Kita semua tahu nyata sejarahnya. Bagaimana Ibu Kartini memperjuangkan kesetaraan perlakuan dan derajat kaum wanita ditengah zaman penjajahan. Bagaimana Ibu Kartini mendirikan sekolah untuk anak-anak pribumi sehingga mereka bisa mengenyam pendidikan. Semua ada di buku. Yang kita enggak tahu adalah seperti apa sih pribadi seorang Kartini. Dilihat dari foto, sepertinya beliau orang yang pendiam dan thoughtful


Alhamdulillah Ogut dapat tiket gratis lagi setelah ikutan kuis di akun twitter @BrandOutlet_ID yang juga menjadi salah satu brand clothing online shop di bawah naungan MNC Group. Kali ini ogut pun nonton film Surat Cinta Untuk Kartini pada Senin, 11 April 2016 tepatnya di Blok M Square saat ada meet n greet dengan sutradara (Azhar Kinoi Lubis), Sarwadi (Chicco Jerikho), dan Ningrum (Christabelle Grace Marbun). Ogut gak sabar mau lihat Kartini nya divisualisasikan dalam versi seperti apa. So, I was excited going into this movie.
 

Opening scene Surat Cinta Untuk Kartini dimulai dari sebuah taman kanak-kanak di dunia modern. Seorang guru perempuan dalam kostum kebaya mengajak murid-murid TK untuk menyimak ceritanya tentang Kartini. Anak didiknya ini enggan untuk menurut. Mereka protes dengan mengemukakan alasan logis, “Ngapain sih cerita tentang Ibu Kartini? Di buku-buku sejarah juga banyak!.”


Gagal menarik minat para siswa, upaya sang guru perempuan diselamatkan oleh sosok (yang diasumsikan sebagai salah satu pengajar di taman kanak-kanak itu), muncullah Chicco Jerikho dalam balutan busana modern. Lalu, Ia memutuskan untuk bercerita mengenai Kartini melalui sudut pandang tukang pos. Anak-anak tersebut pun langsung mendengarkan dengan seksama.


Maka dimulailah cerita pak guru, yang dalam film ini berfungsi sebagai flashback framing device. It was playful. Jarang sih film Indonesia mengambil langkah baru seperti ini hingga menghadirkan konsep emosional nan menyentuh. Seolah memberi warna baru dalam penceritaan sejarah. At times film ini cukup menarik untuk disimak sebagai a vibrant of characters.
 

Ternyata, Surat Cinta Untuk Kartini dibuat dari sudut pandang tokoh bebas! Tokoh utamanya yaitu seorang tukang pos di Jepara, bernama Sarwadi, berstatus sebagai duda beranak satu yang menjadi begitu tertarik dengan sosok Kartini setelah suatu hari ia mengantar surat-surat ke kediaman putri ningrat Jepara itu. 


Film ini membawa rasa penasaran penonton sebagai seorang Sarwadi yang mendadak kagum terhadap sosok Kartini sejak pandangan pertama. Hingga akhirnya, Sarwadi membawa Ningrum, putrinya yang berumur 7 tahun untuk belajar kepada Kartini. Sarwadi berhasil menjadi ‘twist’ sejarah tentang Kartini.


Beberapa kali Sarwadi ingin memberi surat cinta kepada Kartini tapi gagal. Hatinya pun hancur ketika mendengar Kartini dilamar oleh Bupati Rembang yang sudah memiliki 3 istri. Dia sempat jatuh sakit tapi akhirnya bangkit lagi. Dia pun melakukan berbagai cara untuk meyakinkan Kartini agar tidak menikah dan tidak melupakan mimpinya untuk mendidik kaum perempuan.


Premis cerita menarik dengan konsep struktur yang begitu tinggi. Kisah cinta rekaan antara Sarwadi dan Kartini mencoba menyentuh kita lewat perbedaan keadaan hidup yang mereka hadapi saat itu. Bagai punuk merindukan bulan. Formula Sarwadi terbukti ampuh sebagai emotional core dari cerita.

Inti yang bisa penonton dapatkan yaitu ada keinginan Kartini untuk membuat sekolah dan keinginan Sarwadi mencari ibu bagi Ningrum. Kartini sempat curhat dia ingin mengajar tapi tidak punya tempat, lalu semua masalah hilang berkat pilihan-pilihan Sarwadi yang jadi pusat cerita. Tantangan demi tantangan pun mereka hadapi, they were personal. Eksekusi terhadap cerita dibuat sedemikian rupa hingga penonton menjadi peduli.


Penceritaan siapa Kartini dalam film ini lebih terlihat tentang bagaimana ide dari seorang Kartini mempengaruhi banyak orang. Bagaimana orang jatuh cinta kepadanya. Bagaimana orang-orang disekitar menjadikan beliau inspirasi. 


Ada satu adegan yang cukup menarik perhatian, saat Kartini menyuruh ibunya yang bernama Ngasirah (Ayu Dyah Pasha) untuk duduk sejajar dengan dirinya dan juga ibu tiri kartini yang menjadi istri utama bupati Jepara. Kartini pun menginginkan panggilan Ibu untuk wanita yang melahirkannya, bukan sebutan lain meski Ngasirah bukanlah istri utama bupati. Kartini tetap meyakini bahwa Ngasirah merupakan ibu kandungnya dan Ia mengajukan permintaan kepada romonya agar Ngasirah berhak mendapat kamar yang lebih layak.



UNPUBLISHED
Selain itu, adegan ikonik yang menurut penulis berkesan saat Kartini berbicara dengan Sarwadi di sebuah tepi sungai di mana ia dan kedua adiknya melakukan pengajaran kepada anak-anak pribumi. Kalimat ikonik yang masih teringat yaitu kutipan pembicaraan yang berbunyi “Kita tidak bisa mengubah asal kita, tapi kita bisa mengubah cara berpikir kita” ujar Kartini kepada Sarwadi.



Pada akhirnya, R.A Kartini pun meninggal dan si tukang pos tetap melanjutkan kehidupan bersama putrinya yang sudah berdandan ala kartini. Tiba-tiba tampil sosok cameo Acha Septriasa dalam tata rias modern mengenakan kebaya tampak mengajar di tepi pantai seolah meneruskan tradisi Kartini. Ini menjadi simbol kebanggaan sosok kartini-kartini selanjutnya.


Di akhir film, penonton juga sempat digoda oleh sebuah petunjuk kecil dari buku sketsa yang dibawa oleh karakter guru yang diperankan oleh Chicco Jerikho. Mungkin saja adegan ini dimaksudkan ingin menimbulkan teori atau perdebatan, apakah Sarwadi hanyalah rekaan sang guru ataukah memang “kisah nyata” yang tidak termaktub dalam sejarah. Hal ini coba disampaikan secara blak-blakan di akhir film sehingga memberi isyarat untuk penonton bertanya-tanya?!?!??!. 😌😤😱😱🙎


PS: Review ini telah didraft dari tahun kemarin tepat bulan April 2016 karena kesibukan penulis baru bisa diselesaikan tahun 2017 ini. Untuk kritik film ini bisa dilihat tulisan selanjutnya. Terima kasih.

Pengalaman Perdana Ikut Media Development Program NetMedia



Tidak seperti biasanya, dengan penuh semangat aku bangun sekitar jam 4 subuh. Setelah mandi dan shalat subuh, taksi yang semalam sudah dipesan oleh abangku tiba di rumah. Rencananya, jam 6 memang sudah harus berangkat. Berhubung taksi sudah menunggu sebelum jam 6 justru aku sudah berangkat. 


Perjalanan lancar bebas kemacetan, namun jalan yang masih senggang justru membuat pengemudi taksi itu mengantuk. Ia pun memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan tol untuk sekedar mencuci muka dengan botol air minum yang dibawa. Setelah melanjutkan perjalanan, kami melewati beberapa gerbang tol. Kami pun sepakat untuk keluar di gerbang tol Sentul. Setelah keluar tol, justru kami kebingungan karena tidak ada yang tahu lokasi persis Sentul International Convention Center (SICC). Aku pun memutuskan untuk bertanya dengan warga sekitar. Ibarat pepatah, “Malu bertanya, sesat di jalan”.

Salah satu penduduk asli Bogor yang aku temui menyarankan untuk memutar balik taksi dan jalan lurus saja ke arah Desa Babakan. Tapi, ia bilang jalan tersebut macet jika dilalui pagi hari karena arus mobilitas kendaraan yang begitu padat. Ia pun menyarankan agar taksi kembali masuk tol dan keluar lagi di gerbang tol Sentul Selatan. Nanti dari pinggir tol bisa terlihat lebih jelas Gedung SICC. Aku pun mengikuti petunjuknya yang kedua.

Taksi melaju masuk kembali ke gerbang tol untuk mengambil tiket. Saat tiba di gerbang tol Sentul Selatan yang begitu ramai antrian kendaraan, pengemudi taksi langsung masuk ke Gerbang Tol Otomatis (GTO). Setelah dicoba membayar tol dengan menggunakan kartu e-money, transaksi pun gagal dilakukan. Aku juga sempat meminjamkan kartu e-money milikku dan transaksi masih tetap gagal. Aku langsung memanggil petugas disekitar dan Ia membantu kegagalan tersebut. Ternyata, kegagalan transaksi disebabkan karena di gerbang tol sebelumnya, kami mengambil kartu tol bukan melakukan tap dengan e-money sehingga di gerbang tol berikutnya akan mengalami kendala. Beberapa mobil juga tampak mengalami kejadian seperti kami. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi yaa karena bisa menyebabkan kemacetan panjang di gerbang tol.

Setelah keluar tol dan belok kiri mengarah ke gedung SICC, kami pun sudah disambut dengan bendera-bendera atau panji-panji yang bertuliskan NET TV. Berarti, ini tidak akan nyasar lagi dalam hatiku. Namun, kemacetan masih panjang karena semua mobil bergantian keluar masuk area parkir yang sudah disiapkan panitia. Akhirnya, argo pun sudah mencapai Rp. 300.000,- aku memutuskan untuk turun dari taksi karena gerbang utama SICC tampak sudah dekat lagi. Selain itu, aku juga sudah kebelet pipis efek cuaca dan AC yang dingin di taksi pagi hari itu. 

 Wow banget! Lokasi toilet agak jauh dari arena utama, aku pun harus berjalan tergesa-gesa kembali. Sampai toilet pun, aku harus kembali mengantri karena beberapa peserta juga bergantian keluar masuk toilet itu.

Keluar dari toilet, semua terasa ‘plong’. Di TKP sudah ada puluhan ribu generasi milenial yang datang untuk mewujudkan mimpi bekerja di NET Media. Aku pun langsung menuju panggung utama yang terdapat seorang pria dan seorang wanita berseragam Net TV (crew dari Net TV) bertindak sebagai host di hari itu untuk memandu peserta masuk dan mengantri sesuai ID masing-masing. Host hanya menyebutkan jalur antrian untuk nomor peserta 1 sampai dengan 15000 yang bisa masuk melalui gate yang sudah ditentukan. Sementara aku memiliki nomor peserta 35039.

Aku pun langsung mengambil posisi mundur dan mencari tempat duduk di pagar taman yang berdinding keramik. Sebelah kanan dan kiri yang duduk disitu juga masih menunggu instruksi karena mereka memiliki nomor peserta 30ribuan juga. Lalu, sempat terdengar desas-desus bahwa nomor peserta di atas 30ribu bisa mengikuti psikotes dengan batch 2 yang dijadwalkan pada pukul 13.00 WIB. Aku pun sempat geram karena sudah jelas tertera dalam undangan bahwa aku dijadwalkan mengikuti psikotes dalam kelompok gelombang pertama (batch 1) yang dimulai pukul 09.00 WIB.

Tak lama, aku mendengar arahan kembali dari host yang memberi instruksi untuk nomor peserta 30ribuan masuk ke dalam ruangan. Setelah masuk, ternyata para peserta harus duduk kembali lesehan sambil menunggu peserta yang sudah masuk terlebih dahulu diatur tempat duduknya di dalam ruangan. Dalam beberapa menit, seluruh peserta disuruh berdiri kembali dan mulai memasuki ruangan auditorium sambil dibagikan kertas soal test yang akan diujikan hari itu.

Aku pun langsung mendapat tempat duduk di tribun atas. Acara belum dimulai karena masih banyak para peserta yang belum masuk ke ruangan. Sementara itu, beberapa peserta diminta untuk naik ke atas panggung sambil wawancara singkat dan menunjukkan kepiawaiannya sesuai posisi yang dilamar. 

 Acara pun dimulai. Setelah pembukaan, beberapa jajaran manajemen hadir melakukan sambutan.  Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, Psikotes pun segera dimulai. Para peserta harus menyelesaikan terlebih dahulu soal hitungan penjumlahan deret angka dari atas ke bawah (tes pauli) yang dilanjutkan dengan menjawab sekitar 20-30 soal tes psikologi DISC. 

Tes Pauli atau tes koran. Bagi yang belum pernah melakukan tes ini pasti agak sedikit bingung. Untung saja, aku sudah pernah melakukan tes ini sebelumnya. Tes ini dikerjakan pada kertas segede gaban yang terdapat angka dari 0-9 dengan deret acak dari atas sampai ke bawah, yang mana harus kita jumlahkan dan dalam beberapa kesempatan sesuai instruktur tes, kita wajib memberi garis atau jeda sementara dalam penyelesaian hitungannya. Hasil dari penghitungan bisa ditulis antara dua angka yang dijumlahkan. Perlu dipahami jika hasil penghitungan itu merupakan bilangan puluhan, peserta hanya boleh menuliskan hasil angka yang satuannya saja.

Tes kedua yaitu tes DISC atau tes kepribadian. Strategi untuk mengisi pertanyaan ini cukup mudah. Kita hanya perlu menjawab jujur apa adanya karena jawaban yang kita berikan menggambarkan diri sendiri.



Seluruh tes hanya diselesaikan sekitar 2 jam. Selebihnya para peserta terlalu lama mendengar kata-kata sambutan. Setelah tes selesai, para peserta pun belum boleh keluar ruangan karena harus mendengar sambutan kembali yang disampaikan oleh Bapak Triawan Munaf selaku kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEkRaf). Dalam sambutannya, Ia menyatakan bahwa industri kreatif termasuk eksponensial karena telah menyumbangkan 800 triliun untuk pendapatan negara. Sektor perfilman, musik, dan games startup akan menjadi pengembangan BeKraf agar sektor-sektor tersebut menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Tepat pukul 14.00 WIB, para peserta batch 1 diperbolehkan keluar ruangan. Begitu keluar auditorium, aku langsung bergegas mencari mushalla untuk menjalankan perintah utama Sang Pencipta. Aku pun tak lupa berbisik kepada bumi dan berharap didengar oleh langit. 

Selesai shalat dzuhur, aku segera mencari akses transportasi online menuju Stasiun Kereta Api Bogor. Berhubung saat itu sedang ada kisruh antara transportasi online dan angkutan umum di sana, aku dan peserta tes lainnya agak kesulitan mendapat transportasi tersebut. Dari ketiga aplikasi transportasi online yang aku gunakan, aku bisa mendapat transportasi menuju stasiun dengan menggunakan UberMotor. Sepanjang perjalanan menuju stasiun, kang UberMotor juga menceritakan tragedi yang sedang terjadi di Bogor. Seram juga sih dengar ceritanya. Apalagi mereka seharusnya tidak perlu merebutkan penumpang, toh sama-sama mencari rezeki di jalan.

Sampai stasiun Bogor, perut ku terasa lapar. Aku memutuskan makan siang yang sudah kesorean dengan menyantap soto mie khas Bogor. Setelah makan siang selesai, aku menyempatkan diri kembali untuk mencari mushalla dan menunaikan shalat Ashar. Begitu selesai shalat, aku langsung naik kereta api jurusan Jakarta.

Malam itu aku tidak langsung pulang karena aku sudah memiliki agenda lain yaitu menghadiri peringatan hari ulang tahun Sapardi Djoko Damono yang ke-77 tahun di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Aku pun sempat turun naik kereta untuk sampai di stasiun kereta api Palmerah yang terdekat dari lokasi acara.
Sampai di BBJ waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Aku tidak bisa mengikuti acara dari awal yang sudah dimulai sejak pukul 18.30 WIB. Begitu banyak undangan yang menghadiri acara malam itu. Aku pun cukup menikmati acara sampai selesai, meski tidak mendapat tempat duduk.
Dari BBJ aku sampai ke rumah sekitar pukul 11 malam. Aku langsung bergegas tidur karena sudah tampak lelah dan masih berharap aku bisa bermimpi bekerja di Net Media.

Keesokan harinya, pengumuman lolos psikotes tiba dan bisa langsung dilihat pada web Net Media. Aku telah berusaha semampu yang aku bisa. Aku juga sudah mengikuti prosedur yang berlaku. Bersikap untuk selalu tenang dan optimis akan lanjut ke tahap berikutnya. Namun, terjadilah apa yang tidak diharapkan; nomor ID peserta aku tidak ada di daftar pengumuman yang lolos psikotes. Lumayan ngedrop melihat hasilnya. But, life must go on.


Tidak pernah menyerah dan selalu berusaha lebih baik akan mendapatkan hasil yang luar biasa menuju masa depan yang lebih baik. Mungkin belum rezeki*

Film Salawaku: Mengenal Lebih Dalam Maluku



       Menjelang Hari Film Nasional 2017, kebangkitan perfilman Indonesia tumbuh subur. Sineas lokal mulai membuat film dengan variasi genre yang berbeda. Menurutku, jika cerita dalam film tersebut mampu menyentuh secara personal, film itu akan menjadi bagus. Karya yang baik selama ini ialah film tentang manusia, tentang apa yang dirasakannya, karakter, kepedulian, dan juga identifikasi seseorang pada kehidupannya.


       Salah satu film Indonesia yang memiliki cerita menyentuh tersebut yaitu Film Salawaku yang diproduksi oleh Kamala Films. Tidak hanya alur cerita yang mengalir, tata artistik dan tata kamera pun menyajikan pesona kearifan lokal Indonesia yang begitu mendalam. Cerita mengikat dan memberi kesan yang kuat.
      Adegan awal luar biasa dibuka dengan langit gelap tampak seorang perempuan dengan isak tangis tergesa-gesa berada di sampan kayu melakukan perjalanan seorang diri tanpa arah pasti. Lautan luas nan biru menjadi saksi perjuangan seorang diri mengarungi bahtera kehidupan yang harus dilalui.

       Salawaku (diperankan oleh Elko Kastanya) seorang pelajar Sekolah Dasar (SD) yang lugu, naif, dan bijaksana mulai merasa sepi dan sendiri. Sejak orangtuanya meninggal, Ia hanya memiliki kakak perempuan bernama Binaiya (diperankan oleh Raihaanun) yang tiba-tiba kabur dari pemukiman adat. Salawaku pun melakukan perjalanan mencari kakak kesayangan dengan menggunakan sampan yang dicuri dari pemuka adat. 

       Di tengah perjalanan, Ia bertemu Saras, (diperankan oleh Karina Salim). Saras sedang tersesat di salah satu pulau. Perjumpaan mereka yang tampak disengaja dan klise agak sedikit mengganggu. Adegan tersebut dipaksakan begitu saja untuk menghidupkan cerita. Namun, perjalanan mereka berlanjut menjadi petualangan seru untuk mencari kepastian dalam kehidupan yang tak menentu.

      Perbedaan bahasa yang digunakan antara bahasa daerah dan bahasa gaul menjadi daya tarik dialog selama perjalanan mereka dalam film ini. Penggunaan bahasa daerah ‘seng’ yang artinya tidak atau penggunaan istilah gaul ‘gokil’ dan ‘gagal paham’ membuat cerita ini tidak begitu kaku.

    Tidak hanya disuguhi panorama kekayaan alam Indonesia bagian timur, penonton dibawa lebih dekat mengenal karakter orang Maluku beretnis Ambon yang sering dijuluki Labu Jua Ada Hati, artinya “Sekeras-kerasnya watak orang Ambon, hati tetap lembut… .”

      Perjalanan Salawaku dan Saras pun berlanjut menuju Piru, ibukota Seram Barat tempat Binaiya bekerja. Perjalanan ini dilengkapi dengan pacar dari Binaiya, bernama Kawanua (diperankan oleh Jflow Matulessy) yang bertemu Salawaku di tengah perjalanan. Kawanua khawatir terhadap menghilangnya Salawaku yang sudah dianggap adiknya sendiri. Ia pun berjanji akan mengantarkan Salawaku hingga akhir tujuan bertemu dengan Binaiya.
     Namun, Kawanua pun berubah pikiran untuk membawa Salawaku ke pemukiman asal. Kawanua belum siap mempertanggungjawabkan perbuatannya jika bertemu dengan Binaiya. Salawaku pun merajuk. Saras yang bersifat netral, mencoba mendamaikan suasana. Mereka pun memutuskan untuk tetap menemui Binaiya agar semua bisa terlihat bahagia.

   Pemeranan dalam film ini tidak begitu banyak. Masing-masing karakter saling menguatkan satu sama lain sehingga membentuk benang merah film yang mudah dimengerti dan membuat penonton seolah menjawab teka-teki. Kecemasan yang dialami oleh masing-masing karakter menjadi kata kunci untuk menjawab kehidupan tentang kisah meninggalkan dan ditinggalkan.
     Tiga dari empat sosok yang menguasai cerita memiliki penampilan fisik khas  Indonesia Timur. Elko Kastanya, Raihaanun, dan JFlows Matulessy dengan rambut keritingnya mampu mewakili wajah-wajah keturunan Ambon. Naturalitas aktingnya juga mengantarkan Elko Kastanya sebagai pemeran anak terbaik dalam Festival Film Indonesia 2016 dan Raihaanun sebagai pemeran pembantu wanita terbaik FFI 2016.
    Bertolak belakang dari mereka, ada sosok Saras dengan karakter generasi milenial ibukota yang terkoneksi dengan smartphone berteknologi internet. Hanya saja, kontinuitas make up, busana, dan properti kurang digarap lebih dalam sehingga kurang mendukung saat berakting dihadapan kamera. Meski demikian, Karina Salim tampil gemilang dan akan menjadi aktris pendatang baru yang cukup diperhitungkan dalam kancah perfilman nasional. Bakat menyanyinya ditunjukkan dalam film ini dengan lagu imaji sunyi yang menambah syahdu suasana dalam setiap adegan yang ada.
  
     Bagaimana nilai moral dan tanggung jawab menjadi urusan belakangan karena lebih takut dengan hukum adat. Apalagi hukum yang dihadapi dari orangtua kita sendiri yang juga merupakan sosok kepala suku atau orang yang dituakan.
   Sebagai seorang lelaki, Kawanua mengalami pergulatan konflik batin karena mengabaikan sikap tanggung jawabnya. Kecemasan sikap timbul karena Ia sebagai seorang anak kepala adat harus menanggung malu pada harga diri orangtuanya yang memiliki jabatan pada adat istiadat. Bahkan, Ia pun belum siap untuk diusir dari kampungnya akibat ulahnya dengan Binaiya yang menyalahi norma adat istiadat.
       Di sisi lain, Sosok Saras juga diceritakan lari dari kenyataan karena telah menggugurkan kandungannya sebagai akibat dari ulah kekasihnya yang juga tak mau bertanggung jawab. Semua beralasan belum siap menerima kenyataan, padahal mereka sendiri yang berbuat. Tak peduli reputasi dan citra diri, apapun tersaji dan akan terhakimi di kemudian hari.

        Film ini memberi filosofi tentang perjalanan hidup. Aku pun terkesima dengan adegan flashback yang begitu sempurna dan beda dari film-film lainnya. Sutradara, Pritagita Arianegara menggarapnya dengan narasi dialog yang berisi. Aku begitu menikmati film ini dari awal dengan interaksi yang menghasilkan relasi-relasi penuh makna.

      Cinta itu Beban. bicara tentang problema hamil di luar nikah yang menjadi tema menyentuh kalbu setiap penonton. Film ini mengemas tanpa harus mengungkap kesedihan yang berulang. Semua masalah hadir bukan untuk dijadikan beban, melainkan dicari solusi kepastian. 
 
     Kepulauan Seram yang berada di Maluku, bagian Indonesia timur tersajikan begitu menawan. Pesisir pantai, laut, dan diorama bawah laut tersaji begitu halus mengisi rangkaian gambar-gambar bergerak sepanjang film. Wajar saja jika Faozan Rizal mendapat piala citra untuk pengarah sinematografi terbaik tahun 2016 silam.
     Film Salawaku juga mengajak penonton melihat kuliner yang begitu menggoda dari wilayah Timur sana. Ada Sopi (minuman khas Maluku yang mengandung alkohol). Penonton juga akan mengenal Papeda (makanan unik khas Maluku yang terbuat dari tepung sagu). Semua unsur kekayaan Maluku ditampilkan begitu pas mengisi rangkaian dialog dalam adegan yang tetap mengalir.
 
        Untung saja film Salawaku yang juga meraih Piala Dewantara kategori Film Cerita Panjang Bioskop dalam Apresiasi Film Indonesia 2016 tidak ada iklan yang sering kali bermunculan dalam film dengan orientasi komersil. Film Salawaku mampu membuat promosi Indonesia secara cerdas karena tidak sedang berjualan produk. 

    Bagiku, film Salawaku bercerita tentang mempromosikan Indonesia. Aku bisa mengatakan kepada kalian yang belum nonton 'Lihatlah film ini yang diproduksi di Indonesia dan lihatlah apa makna yang terkandung didalamnya, lihatlah talenta apa yang dimiliki, dan lihatlah bagaimana Indonesia memiliki potensi pariwisata yang hebat'. Aku bangga menonton film Indonesia ini. #ApresiasiFilmIndonesia