Tulis yang kamu cari

Analytics

Adv

Tampilkan postingan dengan label Blogger Eksis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blogger Eksis. Tampilkan semua postingan

Pengalaman Perdana Ikut Media Development Program NetMedia



Tidak seperti biasanya, dengan penuh semangat aku bangun sekitar jam 4 subuh. Setelah mandi dan shalat subuh, taksi yang semalam sudah dipesan oleh abangku tiba di rumah. Rencananya, jam 6 memang sudah harus berangkat. Berhubung taksi sudah menunggu sebelum jam 6 justru aku sudah berangkat. 


Perjalanan lancar bebas kemacetan, namun jalan yang masih senggang justru membuat pengemudi taksi itu mengantuk. Ia pun memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan tol untuk sekedar mencuci muka dengan botol air minum yang dibawa. Setelah melanjutkan perjalanan, kami melewati beberapa gerbang tol. Kami pun sepakat untuk keluar di gerbang tol Sentul. Setelah keluar tol, justru kami kebingungan karena tidak ada yang tahu lokasi persis Sentul International Convention Center (SICC). Aku pun memutuskan untuk bertanya dengan warga sekitar. Ibarat pepatah, “Malu bertanya, sesat di jalan”.

Salah satu penduduk asli Bogor yang aku temui menyarankan untuk memutar balik taksi dan jalan lurus saja ke arah Desa Babakan. Tapi, ia bilang jalan tersebut macet jika dilalui pagi hari karena arus mobilitas kendaraan yang begitu padat. Ia pun menyarankan agar taksi kembali masuk tol dan keluar lagi di gerbang tol Sentul Selatan. Nanti dari pinggir tol bisa terlihat lebih jelas Gedung SICC. Aku pun mengikuti petunjuknya yang kedua.

Taksi melaju masuk kembali ke gerbang tol untuk mengambil tiket. Saat tiba di gerbang tol Sentul Selatan yang begitu ramai antrian kendaraan, pengemudi taksi langsung masuk ke Gerbang Tol Otomatis (GTO). Setelah dicoba membayar tol dengan menggunakan kartu e-money, transaksi pun gagal dilakukan. Aku juga sempat meminjamkan kartu e-money milikku dan transaksi masih tetap gagal. Aku langsung memanggil petugas disekitar dan Ia membantu kegagalan tersebut. Ternyata, kegagalan transaksi disebabkan karena di gerbang tol sebelumnya, kami mengambil kartu tol bukan melakukan tap dengan e-money sehingga di gerbang tol berikutnya akan mengalami kendala. Beberapa mobil juga tampak mengalami kejadian seperti kami. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi yaa karena bisa menyebabkan kemacetan panjang di gerbang tol.

Setelah keluar tol dan belok kiri mengarah ke gedung SICC, kami pun sudah disambut dengan bendera-bendera atau panji-panji yang bertuliskan NET TV. Berarti, ini tidak akan nyasar lagi dalam hatiku. Namun, kemacetan masih panjang karena semua mobil bergantian keluar masuk area parkir yang sudah disiapkan panitia. Akhirnya, argo pun sudah mencapai Rp. 300.000,- aku memutuskan untuk turun dari taksi karena gerbang utama SICC tampak sudah dekat lagi. Selain itu, aku juga sudah kebelet pipis efek cuaca dan AC yang dingin di taksi pagi hari itu. 

 Wow banget! Lokasi toilet agak jauh dari arena utama, aku pun harus berjalan tergesa-gesa kembali. Sampai toilet pun, aku harus kembali mengantri karena beberapa peserta juga bergantian keluar masuk toilet itu.

Keluar dari toilet, semua terasa ‘plong’. Di TKP sudah ada puluhan ribu generasi milenial yang datang untuk mewujudkan mimpi bekerja di NET Media. Aku pun langsung menuju panggung utama yang terdapat seorang pria dan seorang wanita berseragam Net TV (crew dari Net TV) bertindak sebagai host di hari itu untuk memandu peserta masuk dan mengantri sesuai ID masing-masing. Host hanya menyebutkan jalur antrian untuk nomor peserta 1 sampai dengan 15000 yang bisa masuk melalui gate yang sudah ditentukan. Sementara aku memiliki nomor peserta 35039.

Aku pun langsung mengambil posisi mundur dan mencari tempat duduk di pagar taman yang berdinding keramik. Sebelah kanan dan kiri yang duduk disitu juga masih menunggu instruksi karena mereka memiliki nomor peserta 30ribuan juga. Lalu, sempat terdengar desas-desus bahwa nomor peserta di atas 30ribu bisa mengikuti psikotes dengan batch 2 yang dijadwalkan pada pukul 13.00 WIB. Aku pun sempat geram karena sudah jelas tertera dalam undangan bahwa aku dijadwalkan mengikuti psikotes dalam kelompok gelombang pertama (batch 1) yang dimulai pukul 09.00 WIB.

Tak lama, aku mendengar arahan kembali dari host yang memberi instruksi untuk nomor peserta 30ribuan masuk ke dalam ruangan. Setelah masuk, ternyata para peserta harus duduk kembali lesehan sambil menunggu peserta yang sudah masuk terlebih dahulu diatur tempat duduknya di dalam ruangan. Dalam beberapa menit, seluruh peserta disuruh berdiri kembali dan mulai memasuki ruangan auditorium sambil dibagikan kertas soal test yang akan diujikan hari itu.

Aku pun langsung mendapat tempat duduk di tribun atas. Acara belum dimulai karena masih banyak para peserta yang belum masuk ke ruangan. Sementara itu, beberapa peserta diminta untuk naik ke atas panggung sambil wawancara singkat dan menunjukkan kepiawaiannya sesuai posisi yang dilamar. 

 Acara pun dimulai. Setelah pembukaan, beberapa jajaran manajemen hadir melakukan sambutan.  Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, Psikotes pun segera dimulai. Para peserta harus menyelesaikan terlebih dahulu soal hitungan penjumlahan deret angka dari atas ke bawah (tes pauli) yang dilanjutkan dengan menjawab sekitar 20-30 soal tes psikologi DISC. 

Tes Pauli atau tes koran. Bagi yang belum pernah melakukan tes ini pasti agak sedikit bingung. Untung saja, aku sudah pernah melakukan tes ini sebelumnya. Tes ini dikerjakan pada kertas segede gaban yang terdapat angka dari 0-9 dengan deret acak dari atas sampai ke bawah, yang mana harus kita jumlahkan dan dalam beberapa kesempatan sesuai instruktur tes, kita wajib memberi garis atau jeda sementara dalam penyelesaian hitungannya. Hasil dari penghitungan bisa ditulis antara dua angka yang dijumlahkan. Perlu dipahami jika hasil penghitungan itu merupakan bilangan puluhan, peserta hanya boleh menuliskan hasil angka yang satuannya saja.

Tes kedua yaitu tes DISC atau tes kepribadian. Strategi untuk mengisi pertanyaan ini cukup mudah. Kita hanya perlu menjawab jujur apa adanya karena jawaban yang kita berikan menggambarkan diri sendiri.



Seluruh tes hanya diselesaikan sekitar 2 jam. Selebihnya para peserta terlalu lama mendengar kata-kata sambutan. Setelah tes selesai, para peserta pun belum boleh keluar ruangan karena harus mendengar sambutan kembali yang disampaikan oleh Bapak Triawan Munaf selaku kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEkRaf). Dalam sambutannya, Ia menyatakan bahwa industri kreatif termasuk eksponensial karena telah menyumbangkan 800 triliun untuk pendapatan negara. Sektor perfilman, musik, dan games startup akan menjadi pengembangan BeKraf agar sektor-sektor tersebut menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Tepat pukul 14.00 WIB, para peserta batch 1 diperbolehkan keluar ruangan. Begitu keluar auditorium, aku langsung bergegas mencari mushalla untuk menjalankan perintah utama Sang Pencipta. Aku pun tak lupa berbisik kepada bumi dan berharap didengar oleh langit. 

Selesai shalat dzuhur, aku segera mencari akses transportasi online menuju Stasiun Kereta Api Bogor. Berhubung saat itu sedang ada kisruh antara transportasi online dan angkutan umum di sana, aku dan peserta tes lainnya agak kesulitan mendapat transportasi tersebut. Dari ketiga aplikasi transportasi online yang aku gunakan, aku bisa mendapat transportasi menuju stasiun dengan menggunakan UberMotor. Sepanjang perjalanan menuju stasiun, kang UberMotor juga menceritakan tragedi yang sedang terjadi di Bogor. Seram juga sih dengar ceritanya. Apalagi mereka seharusnya tidak perlu merebutkan penumpang, toh sama-sama mencari rezeki di jalan.

Sampai stasiun Bogor, perut ku terasa lapar. Aku memutuskan makan siang yang sudah kesorean dengan menyantap soto mie khas Bogor. Setelah makan siang selesai, aku menyempatkan diri kembali untuk mencari mushalla dan menunaikan shalat Ashar. Begitu selesai shalat, aku langsung naik kereta api jurusan Jakarta.

Malam itu aku tidak langsung pulang karena aku sudah memiliki agenda lain yaitu menghadiri peringatan hari ulang tahun Sapardi Djoko Damono yang ke-77 tahun di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Aku pun sempat turun naik kereta untuk sampai di stasiun kereta api Palmerah yang terdekat dari lokasi acara.
Sampai di BBJ waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Aku tidak bisa mengikuti acara dari awal yang sudah dimulai sejak pukul 18.30 WIB. Begitu banyak undangan yang menghadiri acara malam itu. Aku pun cukup menikmati acara sampai selesai, meski tidak mendapat tempat duduk.
Dari BBJ aku sampai ke rumah sekitar pukul 11 malam. Aku langsung bergegas tidur karena sudah tampak lelah dan masih berharap aku bisa bermimpi bekerja di Net Media.

Keesokan harinya, pengumuman lolos psikotes tiba dan bisa langsung dilihat pada web Net Media. Aku telah berusaha semampu yang aku bisa. Aku juga sudah mengikuti prosedur yang berlaku. Bersikap untuk selalu tenang dan optimis akan lanjut ke tahap berikutnya. Namun, terjadilah apa yang tidak diharapkan; nomor ID peserta aku tidak ada di daftar pengumuman yang lolos psikotes. Lumayan ngedrop melihat hasilnya. But, life must go on.


Tidak pernah menyerah dan selalu berusaha lebih baik akan mendapatkan hasil yang luar biasa menuju masa depan yang lebih baik. Mungkin belum rezeki*

Press Release: BNI Java Jazz Festival 2017





Jakarta International Java Jazz Festival diadakan untuk ketiga belas kalinya. Event ini digagas pertama kali oleh PT. Java Festival Production yang telah berhasil mengorganisir festival musik di Indonesia setiap tahunnya. Bank Negara Indonesia (BNI) juga masih menjadi sponsor utama untuk kedua kali secara berturut-turut demi mendukung terselenggaranya acara ini. Event festival musik tahunan ini diadakan pada akhir pekan di minggu pertama awal bulan Maret. Untuk tahun ini, event akan dilaksanakan selama tiga hari, pada tanggal 3, 4, dan 5 Maret 2017 dengan tetap membawa misi mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia. Hal ini yang menjadi dasar digelar event JJF dan menjadi wujud nyata dedikasi Java Festival Production sebagai perusahaan industri kreatif di Indonesia yang dikelola secara profesional untuk menyajikan hiburan berkualitas Internasional.


Tahun ini JJF tertantang untuk kembali memperkenalkan seni Indonesia kepada dunia dengan membuat ondel-ondel dan batik betawi bermotif Monas sebagai tema untuk desain konsep acara ini. Setelah sebelumnya berhasil mempromosikan batik dan wayang sebagai ikon festival musik ini menjadi bentuk kebudayaan yang membanggakan Indonesia di mata dunia. Kini, JJF akan mengembangkan kebudayaan khas Jakarta yang siap menyemarakkan perhelatan festival musik di tahun 2017 ini.

Area JIExpo Kemayoran dipilih untuk menjadi lokasi digelarnya event tahunan ini karena lokasi yang strategis dan mampu menampung pengunjung dalam jumlah banyak. Adapun JJF tahun ini masih diramaikan dengan penampilan musisi internasional dan dalam negeri. Beberapa musisi internasional yang akan hadir, Elliott Yamin (Juara American Idol 3), Incognito, Ne-Yo, Michal Martyniuk Quartet Cristina Morrison, Sergio Mendes, The Lao Tizer Band feat Chieli Minucci & Eric Marienthal, Naughty by Nature, Mezzoforte, Nik West, The Chick Corea Elektric Band, Bebel Gilberto, Arturo Sandoval, Anthony Strong, Wojtek Pilichowski, Renegade Brass Band, Nicholas Payton Afro, Caribbean Mixtape, Leonardo Amuedo, Christina Morrison, Kinga & Irek Glyk. Sedangkan untuk deretan musisi nasional yang sudah dipastikan tampil, diantaranya ada Afgan, Glenn Fredly, Tulus, Barasuara, Andien, Monita Tahalea, Dira Sugandi, HiVi, Endah n Rhesa, The Groove dan masih banyak lagi. 😀😃

Selama festival berlangsung, beberapa musisi akan mempersembahkan penampilan khusus dan siap menghipnotis penonton dengan suara merdu hasil kolaborasi antara musisi luar dan dalam negeri yang hanya ada di JFF 2017. Mereka akan tampil di 14 panggung yang terdiri dari 10 panggung indoor dan empat panggung outdoor. Arena panggung tahun ini terhitung lebih banyak dari perhelatan 2016 lalu yang hanya terdapat 10 panggung secara keseluruhan.

Untuk menyaksikan penampilan para musisi berbakat tersebut. Saat ini, Java Festival Production juga masih menjual tiket reguler seharga Rp. 300.000,- untuk mengikuti acara selama 1 hari dan tiket untuk mengikuti acara selama 3 hari dijual seharga Rp. 750.000 (dengan kuota terbatas). Tiket JJF 2017 bisa langsung dibeli melalui situs resmi www.javajazzfestival.com

Untuk info lebih lanjut, silakan update di sosial media, Twitter (@javajazzfest), Instagram (@javafestpro), Facebook (@Java Jazz Festival), Line (@JavaFestPro) dan YouTube (JavaJazzFest).

Sampai jumpai di BNI Java Jazz Festival 2017 ke-13

Jadilah ! bagian dari festival musik terbesar tahun ini*



(Tulisan ini ditulis sebagai portfolio saat Blogger Eksis melamar sebagai Social Media & Media Relations di Java Festival Production tahun 2016)

Sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) Mencapai 1 Dekade Dengan Istiqomah





Ibarat makan sayur kurang garam, bulan Ramadhan terasa tidak afdhol jika tidak menyaksikan tayangan Para Pencari Tuhan (PPT) yang sudah menjalani masa produksi mencapai 1 dekade. Rumah produksi PT. Demi Gisela Citra Sinema memang cerdas membubui tayangan ini menjadi lebih eksklusif karena hadir saat bulan Ramadhan saja. Dari jilid 1 sampai jilid 9, pemirsa selalu penasaran dengan cerita apa yang akan diracik setiap episodenya. Hal ini dikarenakan masing-masing jilid telah menyuguhkan pencerahan kepada penonton melalui pesan religi yang tersembunyi dalam tiap adegan yang tersaji.

Umat Islam yang sedang menjalankan ibadah sahur pasti menanti program televisi ini yang paling beda dengan program televisi lainnya. PPT Jilid 10 pun telah siap dinikmati pemirsa Surya Citra Televisi (SCTV) selama bulan ramadhan 1437 H ini. Program televisi yang termasuk ke dalam jenis sinetron ini memang selalu menjadi tayangan istimewa yang ditunggu pemirsa layar kaca. Apalagi, pemirsa juga dimanjakan dengan segment kuis yang disponsori berbagai brand terkemuka. Tak jarang program PPT juga sering disebut sinekuis (sinetron kuis). Wajar saja, tayangan ini pun meraih rating maupun share di atas rata-rata dan disaksikan oleh penonton pria atau wanita dari hampir semua kelompok umur.

Naluri pemirsa seakan terus diasah dengan berbagai gejolak kisah yang terus bergulir secara berkesinambungan disetiap jilid sinetron PPT yang selalu menjadi fenomenal. Layak jika tayangan ini menjadi andalan yang menjadi tontonan dengan penuh nuansa tuntunan Islam dan tuntutan fase-fase kehidupan sosial masyarakat sekitar. Persoalan hidup yang nyaris tak pernah diungkap tayangan lain selalu terangkum dalam sinetron ini. Kampung Kincir dan penduduk didalamnya bagaikan negara Indonesia dan warganya yang memiliki sejumlah fenomena untuk menjadi cerita yang beraneka. Tutur bercerita secara komedi dan drama terpadu dalam satu tayangan yang mendidik. Terkesan tak menggurui, alur dramaturgi dibuat mulai dari jilid 1 sampai jilid 9 dan berhasil dipertahankan.
Potret kehidupan masyarakat kelas atas, menengah, dan bawah mampu ditampilkan secara berkelanjutan disetiap jilidnya. Kejutan-kejutan yang terjadi selama kita hidup terlihat nyata dalam adegan-adegan yang memutar roda kehidupan. Ibaratnya, pemirsa sedang membaca sebuah buku yang memiliki berbagai jilid dan kita tak sabar untuk melihat lembar halaman selanjutnya untuk dibalik dan dibaca isinya.
Konflik yang terjadi dalam sinetron ini juga terasa menggigit karena memiliki struktur cerita yang tepat. Semua mampu mencapai klimaks dan sesuai dengan tatanan ajaran Islam yang pas. Nyaris semua unsur spiritual dalam tayangan ini tidak hanya sebatas ritual, tapi membuat pemirsa memahami kesalehan sosial.
Dalam sinetron PPT, dialog antar pemain juga terlontar dengan bahasa sehari-hari dan mampu mengkritisi adegan demi adegan agar menjadi lebih bermakna. Inilah kekuatan skenario yang ditulis oleh Wahyu HS. Saya pun kagum akan kejelian seorang penulis skenario yang mampu membangun dialog secara up to date dilengkapi dengan selera humor yang tak terkesan basi karena cerdas diolah pada adegan yang pasti. Penulis skenario juga mampu mengolah rangkaian kisah sederhana dan mengemas cerita melalui kekuatan akting para pemeran yang sangat menarik.

Karakter-karakter yang bermain dalam sinetron PPT memang berperan apa adanya. Semua karakter terlihat tangguh. Mereka mampu mendeskripsikan tokoh manusia secara utuh. Tak tampak ada karakter malaikat yang selalu merasa benar ataupun karakter iblis yang selalu berbuat jahat. Tak terlihat karakter yang mendominasi atau memberi nasihat yang basi. Sinetron PPT justru menghadirkan karakter protagonis, semi-antagonis, dan antagonis dengan ekspresi para pemain yang luar biasa. Tak perlu tampang blasteran apalagi harus memiliki nilai jual, Produser PPT, pak H. Deddy Mizwar dan Kiki Zakaria berusaha menampilkan aktor dan aktris berbakat yang sangat terpuji dalam kualitas aktingnya.
Pak H. Deddy Mizwar sebagai pemeran utama dengan karakter Bang Jack selalu menjadi pusat perhatian karena membawa misi kebaikan disetiap permasalahan yang terjadi di Kampung Kincir. Trio Bajaj yang terdiri dari Melky, Aden, dan Isa pun mampu memerankan Chelsea, Barong, dan Juki sesuai porsinya masing-masing dengan latar belakang masalah yang tidak sama dan dipersatukan menjadi selebritis ternama. Kehadiran karakter Aya (yang diperankan Zaskia Adya Mecca) dan Azzam (yang diperankan Agus Kuncoro) juga menjadi magnet tersendiri sebagai pasangan yang selalu memiliki kisah cinta dengan pribadi yang berbeda.
Peran pendukung lain yang juga konsisten dengan karakternya selalu menghibur dengan tawa. Ada Ustad Ferry (yang diperankan Akrie Patrio) dengan karakter yang takut dengan istrinya namun selalu berusaha menjadi imam bagi keluarga. Ada Pak Jalal (yang diperankan Jarwo Kuat) yang mengalami jatuh bangun pada kehidupannya karena merasa sebagai orang paling kaya di kampungnya. Ada Loli (yang diperankan Erma Catherina), seorang asisten rumah tangga Pak Jalal yang memiliki karakter unik dan polos. Ada dua sahabat, Asrul dan Bang Udin (yang diperankan Asrul Dahlan dan Udin Nganga) dengan peristiwa-peristiwa penuh canda dalam mengarungi pasang surut kehidupannya.  Serta ada trio pengurus RW yang sering menyentil kondisi pemerintahan di Indonesia. Dan masih banyak karakter lainnya dengan berbagai profesi yang tak pernah terbuang percuma karena selalu hadir melengkapi porsi cerita.
Beberapa aktor dan artis terkenal lain pun pernah meramaikan sinetron ini dibeberapa jilidnya. Sebut saja, Tora Sudiro (yang berperan sebagai Baha), seorang sahabat Asrul yang sempat membuat kehebohan di Kampung Kincir karena tingkahnya sebagai pemabuk. Artta Ivano (yang berperan sebagai Kalila), keponakan dari Pak Jalal yang jatuh hati dengan pribadi Azzam dan terlibat cinta segitiga. Henidar Amroe (yang berperan sebagai Widya), seorang ibu dari Azzam yang diperebutkan dua orang sepuh. Alfie Alfandy yang berperan sebagai Domino (keponakan Bang Jack), hingga aktor sekelas Slamet Raharjo yang berperan sebagai Om Wijoyo.

Hitam putih kehidupan juga tercermin dalam lagu pembuka dan penutup sinetron PPT disetiap jilidnya. Musisi terkenal yang tergabung dalam grup band Ungu dan Gigi telah berhasil menghadirkan nuansa religi yang begitu kental. Sebut saja, lagu Para Pencari Tuhan dan Dengan NafasMu yang dipopulerkan oleh Ungu mampu menyatu dengan barisan lirik yang penuh doa terhadap Allah SWT. Alunan lagu seperti itu membuat para pemirsa di rumah bisa menyimak sinetron PPT dengan nuansa lebih haru untuk selalu mengingat Sang Pencipta. Ada juga lagu Beribadah Yok, Amnesia, Pemimpin dari Surga, Aku dan Aku, Sajadah Panjang, Lailatul Qadar, Semua Milikmu, dan Tuhan yang dipopulerkan Gigi. Lirik demi lirik lagu mengalir dengan paduan nada-nada yang membentuk irama membuat sinetron PPT semakin menggema seantero Indonesia.
Pantas saja, jika sinetron PPT mendapat anugerah dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai sinetron terbaik pada tahun 2014. Blogger Eksis pun hanya bisa memuji sinetron ini dengan segala keunggulan didalamnya dan memberikan apresiasi sinetron ini sebagai yang terbaik sepanjang masa. Begitu banyak pesan moral yang disampaikan terasa menyentuh dalam sinetron ini. That’s it! Konsep religi Islam selalu dihadirkan dengan nuansa indah dan tidak radikal pada setiap jilid PPT yang sudah diproduksi
Sebagai penonton awam yang sering merasakan adegan-adegan yang ditampilkan dalam keseharian membuat aku mampu mengenal siapa Tuhan kita. Banyak refleksi diri yang bisa aku ambil untuk menjadi inspirasi agar menjadi insan yang berakhlakul karimah. Beberapa refleksi tersebut antara lain tentang kematian yang bisa datang kapan saja dan dimanapun kita berada. Tentang kepemimpinan dari segala aspek (baik dalam diri sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan kantor hingga pemerintahan) sehingga mencapai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Belajar mengenal arti perdamaian dari rasa solidaritas yang tinggi berbasis ukhuwah islamiyah. Sinetron ini juga mengajarkan pemirsa untuk selalu memiliki sikap rendah hati atau tawadhu’ saat berada diposisi atas dan sikap ikhlas saat menjalani kehidupan diposisi bawah. Pemirsa juga dituntun untuk bertaubat dan bertawakal atas dosa-dosa yang pernah diperbuat. Hingga akhirnya, pemirsa dituntut untuk selalu istiqomah dalam menyebarkan kebajikan.
Semua tentang kehidupan yang fana ini sudah lengkap terungkap dalam sinetron ini. Blogger Eksis menganggap sinetron ini sempurna karena mampu mengangkat realita pro kontra yang ada. Dari PPT jild 1-9 telah membuktikan bahwa sinetron bisa menjadi jalur dakwah untuk bertahan pada koridor religi yang istiqomah.
Fenomena-fenomena kehidupan antara masa lalu dan masa kini selalu tampak mewarnai keseluruhan isi cerita. Kaya-mati, tua-muda, sendiri-berpasangan, cinta-benci, logika-perasaan, sehat-sakit, berumah tangga-bercerai, keberhasilan-kegagalan, keberuntungan-kerugian, kebaikan-kejahatan, kebenaran-kesalahan, kesenangan-kesedihan, dan Habluminaallah-hablumminannas telah sampai pada satu titik konklusi bahwa Allah SWT sedang mengajarkan kesempurnaan agama-Nya untuk bisa menjawab semua persoalan hidup yang memiliki berbagai lawan kata atau pertentangan didalamnya. Hingga akhirnya, saya menyadari bahwa Hidup adalah Ibadah. Semoga saja kita termasuk golongan hamba yang sudah menemukan Tuhannya setelah menonton ‘Para Pencari Tuhan’ yang mencapai satu dekade dengan istiqomah*

"Something happens on the way to heaven"

Berikut ini Blogger Eksis lampirkan kisah demi kisah favorit saya dalam setiap jilidnya di sinetron Para Pencari Tuhan yang terarsip dalam video yang bersumber dari www.vidio.com, check this out*

Optimalisasi Sinergi Perwakilan DPD Mengatasi Ketertinggalan




     Banyak masyarakat berusaha mencalonkan diri menjadi wakil rakyat. Para elite politik pun berlomba menjadi anggota DPD-RI dengan rayuan gombal janji-janji manis yang tidak sesuai porsi. Janji memberikan perubahan terhadap kehidupan rakyat agar hidup layak, hal itu memang sepertinya masuk akal, karena rakyat memiliki harapan yang sangat besar terhadap perubahan nasibnya.

Namun, apa yang terjadi, hari demi hari hanya kita lewati dengan tontonan anggota dewan yang mahir bersandiwara dalam lakon pionir kepentingan negara. Semua rakyat tersihir hingga enggan berpikir kedaulatan suatu negara. Di negeri budaya timur yang semakin luntur, semuanya terkesan bisa diatur. Keanehan sekeji apapun bisa membaur. Kebijakan pun bisa terbentur jungkir balik sesuai keinginan yang mengatur.

Ketidakpedulian wakil rakyat terhadap mimpi rakyatnya, disinyalir atas kurangnya integritas yang dimiliki dalam menerjemahkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mereka tidak mampu berperan sebagai sosok teladan, melainkan hanya mampu berperan sebagai subjek candaan. Hal ini dikarenakan, ucapan dan tingkah mereka hanya sebatas wacana belaka tanpa realitas semata. Padahal, tiap-tiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak, maka menjadi wakil rakyat yang selayaknya di pemerintahan tidak hanya sekedar formalitas.

Untuk menghindari opini-opini negatif tersebut, seorang wakil rakyat harus bersemangat dalam menunaikan tugas sebaik-baiknya dengan tetap menjaga mutu dan kualitas kerja tanpa harus main suap-suapan, namun harus tepat janji. Jika ada kesempatan, Blogger Eksis pun tertarik mencalonkan diri menjadi wakil rakyat untuk membuktikan bahwa janji yang sudah tercipta bukan hanya menjadi bagian tanggung jawab aku tetapi juga tanggung jawab bersama.

 Seandainya saya menjadi anggota DPD, saya akan merekomendasikan KonSoLiDaSi :

1.      KONtrol aspirasi masyarakat dan daerah melalui kewajiban anggota DPD yang menyerap, menampung, dan menindaklanjuti opini umum dan tanggap atas permasalahan melalui metode yang disebut rekonstrukturisasi dan reaktualisasi yang responsif. Selain itu, aku juga akan melakukan kontrol pengawasan fungsi dan kewenangan anggota DPR melalui metode investigation reporting untuk menghasilkan kinerja DPR yang produktif, komitmen kuat, dan pengambil keputusan yang bijak. Diharapkan dengan metode kontrol aspirasi dan pengawasan ini, masyarakat akan terlibat aktif mengawasi kebijakan pemerintah untuk publik sehingga tercipta iklim trust and respect; sebuah budaya yang saling percaya dengan adanya keterbukaan dan kejujuran.

2.      SOsialisasi kesadaran hukum untuk publik.
Hal ini diperlukan dalam mengatasi korupsi dan intervensi dari pihak lain melalui rehabilitasi regulasi untuk mewujudkan reintegrasi terhadap sense of belonging & sense of responsibility untuk kepentingan masyarakat luas berasaskan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

3. LIsensi kelayakan transportasi umum dan pihak-pihak pelayanan terkait yang mengutamakan keramahan lingkungan dalam reformasi birokrasi lingkungan hidup. Semoga program ini mampu mengatasi krisis lingkungan, kriminal, kemacetan, dan kerusakan jalan yang mendominasi kepentingan umum.

4. DArmabakti upaya peningkatan kesejahteraan rakyat melalui jaminan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan dengan metode target yang tepat guna untuk perbaikan ekonomi yang signifikan.

5. SIaga akan situasi dan kondisi keamanan yang mengancam NKRI terutama di wilayah perbatasan demi mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

     Itulah KonSoLiDaSi yang akan Blogger Eksis lakukan sebagai optimalisasi sinergi perwakilan DPD untuk mengatasi ketertinggalan. Ingatlah kalimat bijak, Hiduplah seperti hidupmu akan berakhir hari ini dan berkaryalah seperti kita akan hidup selamanya”.