Popular Posts

LIFE MUST GO ON

Film Tentang Cinta dari Negeri Dongeng



‘Ketika muda-mudi dari dua negara berbeda dipertemukan di Bali, adakah cinta yang mulai tumbuh di hati? Apakah mereka siap menghadapi problematika yang terjadi dan berhadapan langsung dengan orang-orang terdekat yang ingin memisahkannya??’


Blogger Eksis mendapat kesempatan untuk menonton film Forever Holiday in Bali dari majalah Coppa Magz di Cinema XXI, Blok M Square, Jakarta. Nonton bareng dengan para pemeran film ini berlangsung di hari perdana pemutaran filmnya.
Jika musisi dari Korea menggelar konser di Indonesia sudah biasa. Hal luar biasa itu saat selebritis K-pop tampil di layar lebar dalam besutan film Indonesia. Inilah yang dilakukan mantan personil MBLAQ, Thunder. Sejak tanggal 11 Januari 2018, pencinta film Indonesia bisa menyaksikan keahlian aktingnya dalam film layar lebar berjudul Forever Holiday in Bali.
Potret Thunder sebagai seorang selebritis papan atas dibingkai melalui film ini sebagai tokoh Kay (Park Sang-Hyun). Ia sudah terlihat jenuh dengan panggung sandiwara kehidupan sebagai sosok idola di Korea. Karakter yang memang merepresentasi kehidupan nyata dirinya.
Sebelum berangkat ke Bali untuk syuting video klip, ibu Kay (Min Song A)  meninggal. Provinsi Bali menjadi tempat penuh kenangan antara Kay dan ibunya sewaktu Kay masih kecil.
Kay tampak sedih saat tiba di Bali. Ia kabur dari arahan manajernya Hwan (Kim Pyeong Won) karena masih menyimpan duka kepergian ibunya untuk selamanya. Dengan menggunakan taksi yang dikendarai oleh supir (I Ketut Dewa Jayendra), Kay melewati sebuah toko yang memajang motor antik. Ia tertarik dengan motor tersebut. Ia membeli motor itu dengan menukar jam tangan mewahnya. Ia pun langsung membawa motor itu ke luar toko, meski belum lancar mengendarai.  
Kenekatan Kay nyaris menabrak Putri (Caitlin Halderman) yang sedang menyebrang di jalan. Perdebatan dimulai hingga penjual motor (A. Rani Someng) yang melihat dari kejauhan coba melerai mereka. Dari situ Putri justru merasa iba karena mengetahui Kay sudah ditipu oleh penjual motor yang mengambil untung semata.
Pertemuan tanpa disengaja semakin menarik antara Kay dan Putri, gadis Pulau Dewata yang bercita-cita menjadi fashion designer ternama. Sejak pertemuan dari pandangan pertama, mereka pun siap untuk jatuh cinta lagi.
Sejak saat itu, adegan dimulai dengan petualangan benih-benih cinta diantara mereka. Kay ingin didampingi Putri untuk pergi mencari pantai berpohon yang memiliki pasir putih. Konon pantai tersebut merupakan tempat liburan penuh kenangan antara Ia dan ibunya.
Kedekatan Putri dengan Kay mulai dimanfaatkan oleh temannya, seorang papparazi (Reza Aditya). Putri diminta untuk berulah menjadi pacar Kay agar bisa diblow up ke media dan menjadi skandal pemberitaan yang viral. Tapi, hubungan Kay dan Putri ternyata lebih dalam dan kuat daripada framing yang coba dibentuk. Mereka punya misteri hati yang belum terpecahkan sejak masa kecilnya masing-masing.
Film Forever Holiday in Bali menjadi bentuk kolaborasi kembali antara insan perfilman Indonesia dengan Korea Selatan yang dijuluki sebagai negara ginseng. Dengan genre drama romantis, penyutradaraan digarap oleh Ody C. Harahap yang pernah mengarahkan juga dalam Film Sweet 20 dan Film Me vs Mami.
Film ini diproduseri oleh Kennt Kim bersama Kim Jeong Ho, Theo Jin, Young Jeong Hun dan Jung Keun Wook selaku produser eksekutif. Dibawah naungan rumah produksi Sonamu Cine House dan Showbox Corp sebagai distributor film.
Film Forever Holiday in Bali bertahan pada cerita tipikal drama Korea. Kisah cinta Kay dan Putri seperti cinderella story dari negeri dongeng. Banyak bumbu-bumbu asmara di masa pendekatan yang penuh hal-hal fiksi antara dua sejoli yang seolah memang ditakdirkan untuk berjodoh sejak kecil. Seperti berkiblat pada fan-fiction.
Skenario yang ditulis oleh Kennt Kim dan Titien Wattimena terlihat memaksa bak film televisi. Cerita begitu ringan dan mudah ditebak. Ada momen saat mereka merasa saling kehilangan dan sadar untuk kembali bersama.
Beberapa adegan terasa menggelikan. Apalagi dengan alibi kisah dongeng, logika terasa dikesampingkan. Film pun menjahit benang merah secara semu karena berujung pada cinta segitiga yang menstimulus emosi seperti kisah film televisi alias sinetron.
Kisah masa lalu atau adegan flashback tidak bisa mengikat kesatuan cerita. Kay cilik (Tony Woo) yang liburan bersama ibunya di salah satu pantai yang ada di Bali begitu tidak manis secara visual. Dalam adegan, Ia juga bertemu sosok Putri cilik (Ellen) diiringi musik mendayu dan efek gambar sepia yang mendramatisir suasana. Sungguh adegan percintaan anak kecil yang tak pantas dilakukan seusianya. Penonton pun akan tahu bahwa adegan tersebut menjadi pertemuan terakhir ibu dan anak sejak dari awal karena adegan ini terus berulang.
          Representasi alur tidak menyentuh. Daya kejut cerita (punching line) habis tergulung oleh durasi. Penonton menanti esensi drama yang bisa menggugah hati namun masih jauh pada ekspetasi.
Dengan dalih memadukan unsur Korea dan Indonesia, film ini beberapa kali gagal membangun unsur dramatis suatu adegan. Misalnya, saat Kay mengabaikan makanan yang telah disediakan oleh keluarga Putri. Ia lebih memilih makan kimchi dalam kemasan yang dibeli di mini market sejak siang hari. Putri pun menanggapi bahwa Kay tidak bisa makan kalau tidak makan kimchi.
Esensi adegan lalu dianalogi dengan sikap orang Indonesia yang masih curiga dengan kehadiran orang asing yang tiba-tiba datang. Keluarga Putri tampak khawatir melihat Putri jatuh cinta dengan Kay. Mereka beranggapan Putri kelak ditinggal kembali sang kekasih ke negara asalnya.
Hal lain yang tidak logis tampak pada adegan Kay yang tidak bisa mengendarai motor di awal. Semua terlihat tidak konsisten karena dalam hitungan jam Ia justru lancar mengendarai motor keliling kota Bali bersama Putri. Bahkan, penggunaan gaun merah yang dikenakan Putri untuk jalan-jalan keliling kota Bali terlalu berlebihan.
Film dengan nuansa FTV ini semakin diwarnai dengan adegan klise. Ada adegan pemeran utama yang adu pandang saat pemeran wanita nyaris jatuh di tangga, namun dengan sigap pemeran pria menahan dan wanita itu jatuh dalam pelukan pria. Apalagi adegan tersebut didramatisir dengan slow motion.
Adegan lain saat Kay dan manajernya baru saja selesai syuting di suatu pura. Manajer berupaya menasehati sang selebritis untuk kembali semangat menekuni kariernya. Namun, latar mereka berdialog memanfaatkan teknik CGI yang terlihat jelas tempelan gambar digital. Parahnya, gambar pura tersebut tampil sebagai visual dengan resolusi blur atau kabur. Mungkin ini salah satu adegan yang tertinggal karena lupa terekam saat proses produksi.
Sejatinya, sinematografi berhasil melirik penonton dan cukup menarik. Ada adegan Kay dan Putri menyanyi berdua di pinggir pantai. Momen ini bisa terekam romantis, hanya dirusak saat Kay terlihat bernyanyi lip sync sambil bermain gitar, tapi tidak memetik senar. Padahal latar musik jelas terdengar diiringi gitar akustik.
          Dari segi pemeranan, chemistry Kay dan Putri terlihat manis. Ada perkembangan karakter yang coba mereka dalami seiring cerita berjalan. Meski diluar logika karena baru kenal, mereka terlihat lebih akrab sebelumnya.
Sepanjang durasi film 1 jam 34 menit, Thunder berdialog menggunakan bahasa Inggris. Namun, saat berdialog dengan sesama orang Korea, Ia menggunakan bahasa Korea. Begitu juga dengan Caitlin. Dialog-dialog sempurna seolah mengalir dari mulut mereka. Keduanya pun tampak berinteraksi dengan pasti. Keaslian yang dipertahankan dalam penyusunan adegan yang aman.
Aura bintang K-Pop Thunder menjadi magnet tersendiri. Selain memiliki penampilan fisik yang tampan, kemampuan percakapan dalam film memiliki makna yang terpancar hakiki. Beberapa momen saat Thunder mengeluarkan dialog romantis dan mencium Putri membuat penonton yang didominasi ABG (Anak Baru Gede) menjerit histeris di dalam bioskop.
Thunder mampu menjadi sosok idola yang memikat siapa saja. Thunder dipoles menjadi Kay apa adanya. Hanya saja tidak ada sesuatu yang spesial dari penampilan aktingnya. Ia masih tampil seperti berperan di drama korea lain. Tidak ada tuntutan akting yang meyakinkan karakternya. Penonton menjadi sulit untuk bersimpati pada karakter Kay.
Thunder masih sensitif dalam meluapkan emosi maupun ekspresi. Malah cenderung terlihat norak di babak awal. Meski sudah didukung dengan kacamata yang begitu keren tampil masuk mendukung tata busana di dalam frame.
Berbanding jauh dengan akting Caitlin yang lebih natural karena sudah terbiasa dengan iklim kerja perfilman Indonesia. Sebagai aktris pendatang baru, Ia pernah bermain dalam film layar lebar seperti Ada Cinta di SMA dan Surat Cinta untuk Starla.
Di film Forever Holiday in Bali, Caitlin mampu melakoni gadis Bali dengan manis. Perlahan tapi pasti, Ia mengembangkan karakter tanpa ragu. Sejak awal, Ia tak begitu histeris melihat sosok selebritis K-Pop yang memiliki banyak idola. Ia mampu mengontrol diri untuk berperan sesuai porsi.
Fokus terhadap kedua pemeran utama tersebut membuat peran lain tidak begitu berarti. Entah pemilihan peran pendukung melalui proses casting atau tidak. Peran lain terasa gagal untuk mendukung setiap adegan.
Sebut saja, teman Putri, bernama Indra (Reza Aditya). Entah apa profesi yang dilakoni, apakah seorang citizen journalism atau memang wartawan yang selalu menguntit. Aksinya sebagai paparazzi jelas terkesan berlebihan. Terutama saat adegan di toko yang menjual pakaian dalam atau BH. Semua terasa dibuat-buat.
Pergerakan karakter Indra semakin tidak signifikan. Dalam diam, Indra juga menaruh hati pada Putri. Sebagai sosok saingan Kay, karakter Indra terlalu dibentuk untuk comic relief atau karakter yang melucu saja. Meski akting yang ditampilkan tidak mengandung lelucon sebagai bahan tertawaan.
Ada juga Mira (Sonia Alyssa) yang dibentuk sebagai peran antagonis. Ia tidak dideskripsikan sebagai seorang penggemar K-Pop, tapi suka dengan Kay dan berniat cari perhatian. Cara Mira mencuri pandang Kay pun jelas tak masuk akal, Ia malah beralih ikut serta bersama Indra dan coba menghasutnya agar bersikap jealous terhadap Putri. Setiap tampil dengan adegan naik motor sambil berdiri tidak memiliki motivasi aksi yang dilakukannya.
Lain lagi dengan sosok manajer dari Kay yang kadang hilang tanpa jejak. Namun, di beberapa momen bisa tampil lagi tanpa penuh esensi. Ketika malam hari, manajer ini sudah tidak tampak mencari Kay ke segala penjuru yang ada di Bali.
Adegan film Forever Holiday in Bali lebih kuat dengan tata musik yang disesuaikan dengan gaya bercerita. Semua dibuat mirip dengan drama korea karena menggunakan lagu sentuhan K-Pop. Wajar saja karena musik dan lagu dalam film ini diciptakan oleh MYSTIC Entertainment, sebuah label ternama di Korea. Lagunya dinyanyikan oleh pemeran utamanya, seperti Destiny (Thunder feat Caitlin Halderman), Love is Crime (Thunder), dan Cinderella (Caitlin Halderman). Hanya ada satu lagu yang berjudul Fairytale dinyanyikan oleh Pyun Young Soo.
Satu hal lagi yang patut diapresiasi dalam film Holiday Forever in Bali yaitu insert scene kehidupan budaya Bali yang lewat sesaat. Ada adegan Kay dan Putri yang berhenti untuk memberi jalan saat warga lokal setempat melaksanakan upacara adat.
Pedesaan dengan bentang alam berwana hijau juga menjadi pesona lain dari Bali yang terekam dengan cara bertutur visual yang nyaman. Selain itu, suasana Bali di malam hari memberi nuansa lokasi pengambilan gambar yang bisa dinikmati hingga akhir durasi.
Sifat orang Indonesia yang berani menipu orang asing pada adegan awal proses transaksi penjualan motor juga cukup menyentil. Melalui adegan pada babak awal tersebut nilai negatif terhadap sikap orang Indonesia coba dibingkai melalui film ini.

Secara keseluruhan, Forever Holiday in Bali hanya mengekspos fantasi seorang gadis sederhana yang bertemu dan memadu kasih dengan selebritis K-Pop. Forever Holiday in Bali terlalu keras memaksa penonton untuk melihat bentuk kolaborasi budaya Korea dan Indonesia lewat karakter Kay dan Putri.
Kegagalan dalam setiap pembentukan adegan memang sulit untuk sejajar terhadap nalar. Ambiguitas terhadap fokus entah membawa penonton melayang ke mana. Bisa saja bercerita tentang perkenalan sehari yang membawa pada candu asmara atau takdir masa lalu yang mempertemukan romansa.
Kecerahan dan keceriaan yang coba dibentuk nyatanya belum bisa terpadu dengan nuansa romantisme ala negeri dongeng. Penonton hanya diajak berkhayal demi mengikuti ilusi yang kental.
Semua penonton akan mengidamkan bertemu dengan putri cantik atau pangeran tampan yang menjadi idola. Formula ini menegaskan cerita mengarah pada kisah fiksi semata. Semua terbatasi dengan senyum yang berimajinasi untuk cerita cinta dari negeri dongeng. 

"Percaya ngga... Cerita cinta dalam dongeng bisa jadi nyata?".

Yuk. Saksikan Film Forever Holiday in Bali di bioskop kesayangan Anda*

Film Tentang Cinta yang Terbentur Adat


Blogger Eksis coba menghubungi Om Ichwan Persada selaku produser Silariang the Movie melalui direct message (DM) Instagram. Namun, kali ini aku belum berkesempatan mendapat undangan langsung menonton film ini dari produser film tersebut. Padahal kami sudah saling mengenal sebelumnya dari Forum Film Indonesia yang pernah digagas beliau beberapa tahun silam. Pernah juga terlibat kolaborasi menulis tentang perfilman Indonesia di salah satu media online.
Terlepas dari itu, Blogger Eksis pun mendapat undangan dari salah satu admin akun media sosial Gila Film yang juga merupakan anggota dari Komunitas TDB (Tau Dari Blogger). Lalu, pada tanggal 10 Januari 2018, aku pun menyempatkan diri sebagai blogger yang eksis menjadi penonton Silariang The Movie di Cinema XXI, Epicentrum, Jakarta Selatan.


Dalam pembuatan "Silariang: Cinta yang (tak) Direstui” (2018), Om Ichwan sangat serius melakukan riset yang ketat di wilayah Sulawesi Selatan. Ini bukan film perdana, sebelumnya Ia juga sukses memproduksi film Cerita Dari Tapal Batas, Hijaber in Love, dan MIRACLE: Jatuh Dari SurgaFilm Silariang pun menjadi salah satu film Indonesia dengan warna latar budaya Makassar yang kuat. Wajar saja karena memang produser film ini juga merupakan keturunan dari sana.

Film Silariang yang diproduksi oleh Inipasti Communika bekerjasama dengan Indonesia Sinema Persada bagai pintu masuk terbaik untuk lebih mengenal kearifan lokal melalui media film. Kearifan lokal itu sudah seharusnya menjadi kekuatan perfilman nasional. Untuk itu, kearifan lokal dari suku Bugis kembali diambil menjadi tema dalam industri perfilman Indonesia. Sebelum film Silariang, budaya Makassar sebenarnya sudah sempat diangkat melalui Film “Uang Panai Mahal®” dan “Molulo”. Film ini pun sempat menjadi box office di Makassar, namun tidak populer di kota lain.
Mungkin saja bagi masyarakat Makassar, mereka menganggap cinta itu rumit apalagi jika harus menuju ke gerbang pernikahan. Terutama bagi mereka yang masih memandang kasta untuk mempertahankan prestise keluarga. Ada cinta yang tak direstui.
Padahal, cinta itu sederhana. Jika memang sudah punya restu dari kedua belah pihak keluarga, maka harus segera dilaksanakan. Jangan sampai terjadi Silariang (dalam bahasa Makassar) artinya kawin lari. Meski istilah ini seolah menunjukkan cinta suci telah hadir antara dua sejoli supaya tidak terkotori oleh nafsu dan dosa.
Relevansi kisah cinta yang tak lekang oleh waktu ini jadi momok bagi kalangan anak muda. Walau sudah tidak happening di Makassar itu sendiri. Sudah jarang ditemukan baku tikam karena pola pikir mereka memandang bahwa pernikahan sesuatu yang sakral. Maka Silariang hanya wacana agar masing-masing pihak yang terlibat cinta bisa saling membentengi dirinya.
Realita kesederhanaan cinta ini coba mempersoalkan tentang mereka yang saling mencintai dan dicintai. Ini yang menjadi konflik inti dari Yusuf (Bisma Kharisma) dan Zulaikha (Andania Suri). Cinta mereka terbentur tradisi adat yang mengikat. Sejak dahulu di Makassar, keturunan bangsawan tidak boleh menikah dengan keturunan rakyat jelata. Ada diskriminasi cinta hanya karena strata.
Yusuf dikenal sebagai anak tunggal dari salah satu pengusaha. Sementara Zulaikha merupakan keturunan putri kesayangan yang berdarah bangsawan. Hidup dalam potret budaya Makassar yang kental, mereka justru bagai aib dalam keluarga. Sebab mereka memilih untuk lari dari tradisi demi mempertahankan cinta yang dibilang masih murni.
Tapi benarkah ‘silariang’ menjadi jalan terbaik untuk menyatukan cinta mereka? Ketika sebuah tindakan justru hadir sebagai masalah baru dalam hidup dua anak manusia, mampukah Yusuf dan Zulaikha mengatasinya?
Lari dari kenyataan bukan menjadi solusi untuk menghadapi kehidupan. Inilah pesan moral yang terungkap dari naskah Silariang. Eksplorasi konflik mampu membuat semua karakter semakin hidup. Permasalahan yang tidak biasa dan butuh pola pikir dewasa untuk saling mencerna mampu ditulis oleh Oka Aurora.
Tidak hanya kisah keturunan Adam dan Hawa yang melalui kehidupan sebagai pengantin baru saja. Ada tingkah yang merespons dari keluarga akibat ulah mereka. Fokus dalam konflik personal namun tidak lari dari batas koridor kenyataan yang proporsional. Salah satu keunggulan yang coba ditampilkan dalam Film Silariang yang bergenre drama.
Perspektif penonton pun akan semakin kaya dengan pergerakan karakter-karakter protagonis dan antagonis dalam film yang tayang sejak 18 Januari 2017 lalu. Masing-masing karakter bertahan dengan makna cinta yang ada di dalam sanubari mereka. Ketika cinta dan adat dipertemukan dalam adegan dramatis yang tidak berlebihan.
Meski dibintangi aktor dan aktris film asal Jakarta, para pemain dapat melebur sebagai bagian dari masyarakat Bugis, Makassar. Pembentukan karakter yang masih labil namun penuh keberanian mengambil keputusan tampak berhasil dieksekusi oleh Bisma Karisma dan Andania Suri. Keduanya mampu berdialek dengan tata bahasa Makassar. Mereka pun menunjukkan totalitas akting karena telah diarahkan melalui treatment khusus Luna Vidya sebagai pengarah peran.
Suri terlihat pandai dalam melakoni peran sebagai Zulaikha. Adegan menangis menjadi senjata pamungkas yang melapis emosinya. Bagi aku, adegan favorit itu saat Zulaikha bersembunyi di bawah tangga rumah. Ia tampak begitu menahan emosionalnya agar tidak terbunuh oleh pihak keluarga yang datang mencarinya.
Sebagai aktris yang pernah meraih Piala Citra, sosok Dewi Irawan juga sangat menjiwai sebagai ibu yang tak merestui. Hanya saja pengembangan karakter Puang Rabiah dalam tokoh tidak mendapat porsi yang begitu banyak. Tiba-tiba saja, Ia sudah tahu kalau Zulaikha akan kabur dari rumahnya. Ini terlalu mengada-ada.

Dibalik itu semua, saat menonton film Silariang, aku bisa belajar tradisi budaya yang mengakar kuat sebagai pondasi dalam setiap adegan. Semua adegan prosesi vital diceritakan secara visual. Beberapa adegan mampu menempatkan atribut kebudayaan yang cukup vokal. Seperti adegan Zulaikha membasuh kaki ibunya maupun ketika melihat badik itu berpindah tangan di depan mata.
Ketika ingin membuat film di daerah, Ichwan Persada juga masih mempercayakan pada kru atau sumber daya manusia yang berkecimpung dalam film asal Jakarta. Dengan pertimbangan belum adanya kecakapan transfer teknologi oleh SDM lokal setempat. Hal ini untuk menghindari risiko dalam penguasaan perangkat data teknologi kamera terkini. Tata kamera pun berhasil terpadu dengan colour grading yang aman. Perpaduan penyuntingan gambar yang tepat. 
Tata musik yang digarap oleh Nadya Fatira juga begitu mantap jiwa. Apalagi, ia menyanyikan lagu “Inninawa” dengan suara yang menyentuh hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Original soundtrack yang berjudul “Meski Kau Tak Ingin” juga mampu dinyanyikan oleh Musikimia dengan merdu. Lirik lagu enak didengar dan mampu menyayat hati para pendengar. Format albumnya pun telah dirilis baik secara fisik maupun dalam versi digital.
Film Silariang juga telah mensiasati strategi pemasaran dengan intellectual property product, seperti buku novel yang diterbitkan oleh Coconut Books atau Melvana Publishing dan official merchandise yang berkolaborasi dengan Tees Indonesia. Setelah melihat produknya, aku yakin kalian semakin penasaran untuk menonton filmnya atau bisa juga sebaliknya.
Semoga saja sineas lokal bisa memproduksi film-film yang memiliki nilai tradisi konvensional sehingga media film bisa lebih mendekatkan lintas generasi untuk saling mengenal tradisi. Jangan hanya berpikir tentang prospek biaya dan profit yang bisa dihasilkan. Industri perfilman nasional butuh langkah yang berani untuk membuktikan bahwa Indonesia kaya akan cerita yang bisa digali.
Seperti apakah keseruan kisah cintanya? Dan dapatkah cinta Yusuf dan Zulaikha bersatu? Temukan jawabannya dengan menonton film Silariang: Cinta yang (tak) Direstui pada bioskop kesayangan Anda.

Ayo Dukung Perfilman Indonesia!

Film Chrisye: Mengusir Rindu dengan Lagu Syahdu



‘Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia … .'


        Itulah sepenggal lirik lagu Lilin-Lilin Kecil yang diciptakan oleh James F. Sundah untuk ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors pada akhir tahun 1976. Melalui ajang ini, nama Chrisye yang memiliki suara khas mulai diperhitungkan oleh pencipta lagu muda pada masanya. Ajang tersebut dianggap menjadi salah satu wadah pencipta lagu muda untuk berkreasi.
Lalu, Mengapa sosok Chrisye diangkat ke dalam sebuah film?. Begitu salah satu pertanyaan yang muncul dalam pemikiran ku sejak awal bulan Februari 2017 lalu saat menghadiri press conference film Chrisye di Rolling Stone Café, Jakarta Selatan.
Akhirnya, pertanyaan itu terjawab ketika aku menonton film Chrisye pada tanggal 6 Desember 2017 silam di XXI Plaza Senayan, Jakarta bersama salah satu komunitas blogger. Film ini diproduksi sebagai bentuk kolaborasi dari MNC Pictures dan Vito Global Visi.

Chrisye memang pantas disebut sebagai penyanyi legendaris Indonesia. Selama 40 tahun berkarier di industri musik, Ia berhasil merilis 31 album yang laris di pasaran. Rahasia menjadi beken pun terungkap karena kesuksesan Chrisye dengan pembawaan kalem ternyata tak diraih sendiri. Banyak sosok dibalik pentas musik Chrisye yang senang hati mewarnai perjalanan kariernya. Maka, mengangkat kisah hidup Chrisye menjadi sebuah film biopik pantas dilakukan sebagai bentuk penghormatan.
Sepanjang hidup Chrisye sudah banyak meraih penghargaan. Chrisye juga dinobatkan oleh Rolling Stone Indonesia sebagai musisi dalam negeri yang paling berpengaruh setelah Koes Plus dan Iwan Fals di tahun 2011. Martabat Chrisye pun semakin terangkat.
Musik Chrisye itu pop. Sebagai seorang penikmat karya-karya lagu yang didendangkannya, aku mengenal sosok penyanyi ini melalui lirik lagu yang penuh arti. Melodi lagu begitu terasa long last sehingga masih bisa dinikmati oleh generasi terkini apalagi jika diaransemen ulang.
Aku pun merasa bahwa Chrisye tidak pernah mati. Siapapun yang mendengar lagunya pasti akan tersentuh ikut bernyanyi di tengah lampu padam. Seperti yang terjadi di dalam bioskop saat aku menonton Film Chrisye. Saru terdengar lirih saat penonton ikut bersenandung. Setidaknya ada 3 lagu hit yang diungkap dalam kisah film, seperti Aku Cinta Dia, Ketika Tangan dan Kaki Berkata, serta Lilin-Lilin Kecil.
Ini bukan film musikal. Tidak hanya kisah dibalik pembuatan lagu-lagunya, penonton akan diajak mengenal Chrisye melalui kisah hidupnya. Film Chrisye coba menceritakan ulang kisah nyata dari sudut pandang istri tercintanya, Damayanti Noor yang juga bertindak sebagai penulis skenario.
Cerita tampak dikemas mengiringi nostalgia personal dari sisi seorang istri terhadap suami. Potret kenangan Chrisye yang penuh memoar coba dibingkai oleh Yanti, begitu Ia akrab disapa oleh suaminya dahulu. Entah semua bagian kehidupan Chrisye sudah terwakilkan atau memang hanya beberapa realita saja yang bisa diproyeksikan menuju bahasa audio visual. Hanya perspektif Yanti yang tahu itu.
Begitu banyak perjuangan Chrisye yang harus diceritakan untuk menekuni profesi sebagai seorang penyanyi di Indonesia. Sosok Chrisye diungkap selalu mengikuti kata hati dan memilih jalan hidup berbeda keyakinan dari keluarganya atas nama cinta.
Film Chrisye pun menyentuh sisi personal kehidupan siapa saja dengan pasang surut gelombang kehidupan yang pernah dilalui semasa hidup almarhum. Bukan tentang Chrisye yang begitu menguasai dan mendalami setiap lirik nyanyiannya. Bukan pula sosok Chrisye yang selalu berhasil membius para pendengar dengan suara khas dengan lagu yang melegenda. Film Chrisye memulai dari titik terbawahnya.


Berawal dari sebuah pesta anak gaul Jakarta era 70an, Chrisye (Vino G. Bastian) tampil menghibur di sebuah perayaan ulang tahun bersama band Gipsy. Chrisye masih menjadi bassist di band itu. Chrisye pun bertemu dengan Yanti (Velove Vexia) di pesta itu.
Pertemuan pada pandangan pertama yang begitu unik. Ada perasaan manis dan canggung saat proses pendekatan dilakukan oleh sosok lelaki yang pemalu. Entah ini hanya dramatisasi atau memang sesuai dengan penuturan Yanti.
Hubungan yang terjalin antara Chrisye dengan Yanti memenuhi porsi film pada babak pertama. Bagian alur cerita ini sudah bisa ditebak secara umum. Bumbu kasmaran tersaji dari pertemuan lalu pacaran di taman dan berakhir dengan pernikahan hingga duduk di pelaminan. Semua adegan seolah penuh kebahagiaan namun tidak ada yang spesial.
Adegan demi adegan pun digarap secara montase sehingga berlalu cepat menuju inti cerita utama. Bagian awal dengan latar tahun 1972 menjadi kurang apik karena kisah asmaranya menutup cerita saat Chrisye ditentang oleh ayahnya (Ray Sahetapy) yang tidak mengizinkan Chrisye manggung di salah satu restoran Kota New York, Amerika selama setahun.
“Ini Indonesia! Tidak ada yang menghargai profesi sebagai musisi di sini!”. Hanya penggalan dialog tersebut mewakili dari alibi seorang ayah yang berharap terhadap masa depan anaknya kelak. Adegan ini pun memberi makna bahwa saat kita bercita-cita menjadi seorang musisi, betapa berbakat diri kita sekalipun, kemungkinan besar yang menghalangi mimpi itu ialah restu dari orang tua.
Itulah sentuhan konflik Chrisye dan ayahnya di tahun 1970-an dulu. Namun, pengulangan kata “Amerika” dalam beberapa dialog justru tak memberi penekanan terhadap adegan yang menyiratkan bahwa musik memang tujuan hidup Chrisye dari dulu. Momen ini tak bisa menjadi eksposisi yang hakiki.
Cerita semakin renggang karena dari grup band menjadi penyanyi solo hanya dijelaskan dengan periode waktu yang mudah berlalu begitu saja. Babak demi babak kehidupan terasa sulit merekam kisah panjang dalam jangka waktu 10 tahun. Dari kehidupan sang bintang panggung di tahun 1973 hingga tahun 2007.
Beberapa insert sisi yang menyentuh personal Chrisye juga terlalu dipaksakan. Seperti suara azan yang mungkin mempengaruhi pilihan Chrisye menjadi mualaf. Keping cerita film yang menyangkut cinta beda agama pun menjadi tidak terikat seutuhnya. Momentum emosional ini tampak lemah secara visual. Begitu terasa sulit jika ada kisah-kisah nyata yang ingin ditampilkan, namun potensi konflik tak bisa disatukan atau memang tidak ada konflik dalam kenyataan yang sebenarnya.
Dialog di babak pertama begitu terlihat lemah. Pemeran mengucap tanpa banyak cakap. Misalnya, bincang antara Yanti dan Chrisye di diskotik dengan ajakan “turun, yuk” justru membuat adegan tersebut membuang durasi saja.
Untung masih ada kepekaan tersisa saat penggunaan bahasa zaman dahulu kala dalam keluarga Chrisye dipopulerkan. Keluarga Chrisye yang berasal dari kalangan menengah ke atas dan keturunan Tionghoa menggunakan sapaan Mami, Papi, yey, dan eik. Kata-kata ini mungkin menjadi bahasa gaul pada zamannya.
Taktik mengurangi dialog memang terlihat sederhana. Namun, penyajian visual juga belum begitu kuat. Detail properti tidak tergarap saat adegan ijab kabul Chrisye dan Yanti, sama sekali tidak terlihat Al Qur’an atau kitab suci yang mampu menyimbolkan bahwa pernikahan itu terjadi. Hanya ada busana Minang yang dikenakan dalam prosesi perkawinan itu.

Cerita pun melompat ke periode waktu yang bisa merusak mood penonton kapan saja. Sisi cerita yang diangkat sering membuat penonton gagal fokus. Film Chrisye hampir terjebak dalam konflik-konflik standar.
Ditumpuk dengan koridor yang tidak hanya mempertahankan sosok Chrisye sebagai musikus, melainkan juga sebagai seorang manusia biasa, pria yang jatuh cinta kepada lawan jenisnya, dan ayah bagi anak-anaknya. Aspek-aspek tersebut menghiasi layar lebar sehingga penonton kurang mendapat esensi dalam setiap peran Chrisye yang telah dijalani pada kehidupan sehari-hari.
Dalam perjalanan karier, Chrisye terlalu kaku memandang hidup karena cenderung menikmati momen-momen kesendirian di dalam rumah. Film semakin cepat memotret Chrisye yang kesulitan membiayai keluarga sebelum lagu Aku Cinta Dia sukses di tahun 1985. Pada adegan ini mulai terjadi pergeseran karakter utama hingga waktu kembali berlalu dan Chrisye sudah menjadi sosok musisi yang mampu membeli rumah baru untuk keluarganya.
Harus diakui film biografi Chrisye belum bisa mengungguli kisah tragis dari biopik almarhum Ustad Jefri Al Buchori yang berjudul Hijrah Cinta. Hal ini sangat disayangkan karena film Chrisye terlalu banyak memasukkan visual yang bisa dibilang tidak vital. Puzzle kenangan hanya disusun, namun tak mampu mengalirkan cerita masa lalu secara utuh. Penonton pun akan merasa tidak terpuaskan untuk menikmati film yang seharusnya bisa menjadi inspirasi perjalanan seorang public figure.
Imbasnya hampir semua film-film karya Rizal Mantovani seperti video klip. Sebut saja Film Air Terjun Pengantin (2009), Jenglot Pantai Selatan (2011), 5 cm (2012), dan Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 (2016). Rizal masih sulit untuk bertutur dalam drama panjang dan menceritakan sebuah kompleksitas. Perpindahan cut to cut yang begitu cepat tanpa ada transisi penyambung karena hanya ditambahkan keterangan dari tahun ke tahun.
Alur yang tidak jelas juga membuat film semakin datar. Ada efek CGI dan green screen yang tampak fake memenuhi layar lebar. Apalagi saat establish lokasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan Tugu Pancoran tempo dulu. Lalu,  adegan yang seolah berada di dalam mobil terlihat tidak rapi untuk mengecoh penonton.
Film Chrisye mengelak begitu cepat atas konflik yang padat. Padahal penonton menanti benturan antara pelaku dengan konflik yang menarik. Semestinya film Chrisye mampu membentuk dramaturgi saat memperlihatkan Chrisye berjuang dalam industri musik. Sampai penonton bisa  menjadi peduli dari orang-orang disekitar Chrisye yang mewarnai perjalanan kariernya.
Untung saja pembentukan karakter Chrisye begitu terasa dengan hal-hal sederhana yang menjadi kebiasaannya. Seperti adegan Chrisye suka merapikan selimut adik atau anaknya yang sedang tertidur.
Selanjutnya tersisa juga beberapa konflik kuat yang membawa penonton merasakan adegan-adegan pas dalam penyampaiannya. Seperti adegan satu hari sebelum konser tunggal akbarnya digelar di tahun 1994, suara Chrisye malah menghilang karena kelelahan.
Bahkan, ada juga adegan saat Chrisye tak sanggup untuk merekam lagu tentang kebesaran Tuhan yang disadur oleh Taufik Ismail (Fuad Idris) dari terjemahan Al Qur’an Surat Yasin ayat 65. Momen utama film terasa begitu besar saat penciptaan lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata tersebut menguji mental Chrisye dalam proses kehidupannya yang sangat panjang. Chrisye menangis di dalam studio rekaman dan terbata melanjutkan prosesnya. Lirik lagu yang diambil dari Surat Yasin itu begitu mengena sampai lubuk hati terdalam sekitar tahun 1997.

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”

Penonton pun semakin tahu, sebagai penyanyi kondang Chrisye tak banyak membuat lagu sendiri. Ia membawakan lagu ciptaan orang lain dari berbagai dimensi. Mungkin sisi ini yang tidak banyak dimiliki penyanyi lain. Tembang-tembang hasil racikan musisi lain itu mampu menopang Chrisye untuk tetap eksis di atas pentas.
Jika ditinjau dari sisi artistik, film ini mampu membawa penonton ke era 70an. Lagu dan gaya busana begitu menonjol. Sentuhan cutbray dan warna-warna mencolok dipilih untuk pakaian. Rias rambut para pemain juga tak begitu kentara. Hanya ada wig disematkan sehingga tak menyatu dengan rambut para pemain seperti yang dikenakan Gauri Nasution (Teuku Rifnu Wikana) dan Vicky (Pasha Chrismansyah). Film Chrisye pun cukup menghibur untuk terlihat hidup di zaman dahulu.
Sebagai sebuah drama biografi, Vino G Bastian tampil meyakinkan menjadi sosok Chrisye. Penampilan fisik yang dirias dan busana yang dikenakan Vino mendukung perawakannya semakin mirip dengan sosok almarhum. Semakin cerita bertransisi dari tahun ke tahun, Vino semakin mendalami perannya sebagai Chrisye.
Rambut yang terlihat urakan mulai menyatu dengan ekspetasi penonton. Meski kemiripan wajahnya bisa merusak kenangan para penggemar Chrisye. Apalagi suara khas Vino tidak bisa menggantikan suara khas Chrisye itu sendiri. Adegan jadi semakin janggal karena suara bisa langsung bening tiba-tiba saat Vino berada di atas panggung.
Vino memang belum berani mengeluarkan suara emasnya untuk menyanyikan lagu-lagu dari mendiang Chrisye. Bisa jadi teknik lip-sync yang digunakan dalam akting Vino untuk mempertahankan bahwa suara Chrisye tidak akan pernah tergantikan, apalagi di mata seorang istrinya.
Andai saja Vino bisa sedikit berusaha untuk latihan vokal dan menggunakan suaranya sendiri. Mungkin Ia bisa menjelma menjadi sosok Chrisye masa kini. Tapi sudahlah tujuan awal film ini diproduksi juga bukan untuk meniru Chrisye secara fisik. Jadi masih bisa dimaklumi.

Ada perubahan usia dari tahun ke tahun yang tampak jelas diperhitungkan oleh tim produksi. Gaya bahasa, gerakan tubuh hingga ekspresi Vino semakin mencerminkan sosok Chrisye yang menjanjikan di usia 40 tahun. Figur Chrisye coba dijiwai Vino dengan sepenuh hati setelah sebelumnya berakting sebagai karakter Kasino dalam Warkop DKI dan tahun 2018 akan menjadi karakter Wiro Sableng dalam 212 The Movie.
Beberapa shot yang diambil oleh penata kamera berhasil menempatkan angle terbaik dari depan. Saat kepala Vino sedikit merunduk dengan mengenakan pakaian berwarna cokelat, lensa kamera mampu menghadirkan sosok Chrisye seutuhnya. Penulis sempat merinding saat melihat shot ini karena melihat kemunculan Chrisye dalam film ini. Intrepretasi visual yang menarik untuk dilirik.
Velove juga semakin terlihat matang. Ia mampu membedakan akting untuk sebuah film atau sinetron. Sebagai Yanti, Ia berusaha untuk merasuki sifat-sifat yang bisa dipelajari. Walaupun chemistry antara Velove dan Vino minim rasa.
Kejutan penampilan juga hadir dari para cameo yang memerankan tokoh-tokoh dalam industri musik tanah air. Tokoh-tokoh ini membawa kenangan tersendiri bagi penonton selama di bioskop. Barisan musisi bertalenta ternyata ada dibelakang panggung dari sosok Chrisye. Sebut saja karakter Guruh Soekarno Putra yang diperankan Dwi Sasono, Roby Tremonti sebagai Jay Subiakto, Irsyadillah sebagai Addie MS, Andi Arsyil sebagai Erwin Gutawa, Tria The Changcuters sebagai Eddy Sud, Fendy Chow sebagai Joris, Peter Taslim sebagai Hendra Priyadi dan Verdi Solaiman sebagai Aciu (direktur label rekaman Musica Studio).
Karakter-karakter tersebut tampil mirip dengan tokoh aslinya. Beberapa berhasil mengundang gelak tawa dan tampil serba bisa meniru kebiasaan dari tokoh asli yang masih hidup.
Lebih lanjut untuk sebuah film biopik, penonton sudah bisa mempelajari pribadi Chrisye dengan lengkap. Ada saat Chrisye tidak mau  mendengar lagunya sendiri atau saat Chrisye mencari alasan untuk tidak melihat penampilannya bergoyang patah-patah yang masih kaku karena pertama kali tampil di televisi. 
Proses penciptaan kreatif untuk Film Chrisye begitu komprehensif. Jati diri Chrisye yang bisa menjadi inspirasi tidak terlalu banyak digali dengan letupan emosi. Film Chrisye justru mengangkat sosok maestro yang selalu resah, gelisah, dan banyak pikiran. Chrisye diungkap dari berbagai sisi sang istri, anak-anak, orang tua, rekan dan sahabat. Memang tidak ada sosok pemujaan yang berlebihan terhadap sang idola.
Dalam durasi satu jam 50 menit, penggalan penting kisah hidup Chrisye diceritakan. Setiap manusia pada saat berkembang dan menjalani hidup pasti ada konflik diri. Ada unsur kompromi dan keterpaksaan yang dibalut oleh idealisme masing-masing.
Melompat dari tahun ke tahun dengan alur cerita yang digarap lewat arahan sutradara Rizal Mantovani. Penonton pun diajak melihat Chrisye yang pernah mengalami depresi hingga akhir film. Sampai kepada titik jenuh dalam meniti karier sebagai penyanyi solo. Sejak saat itu, Chrisye mulai kehilangan semangat untuk produktif dalam berkarya. Hingga Chrisye menutup mata dan meninggalkan para penggemar untuk selamanya pada 30 Maret 2007 lalu.


... .

Akan datang hari

Mulut dikunci
Kata tak ada lagi

Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita