Tulis yang kamu cari

Adv

Eksekusi Film Horor Sabrina yang Tak Terbatas


Sesungguhnya tidak ada kekuatan melainkan dengan kekuatan Engkau.

Undangan Gala Premiere Film Sabrina


Film bergenre horor besutan Rocky Soraya sedang bergentayangan di bioskop Indonesia sejak 12 Juli 2018. Dengan sentuhan action dan audio, film bertajuk Sabrina kembali berupaya menakuti para penonton dengan metode klise yang tidak kekinian.
Mengapa Blogger Eksis katakan demikian? karena film ini hanya memanfaatkan kamera dan suara untuk menyatukan rangkaian adegan bernafas sadis nan mistis. Metode yang cukup basi apalagi hanya mempergunakan boneka Sabrina yang konon telah dirasuki iblis. Sementara disepanjang film, penonton tak pernah dijelaskan alasan Boneka Sabrina viral dan masuk menjadi esensi cerita.
Sudah bisa ditebak rumah produksi Hitmaker Studios ingin memproduksi film untuk kepentingan komersil. Sama seperti film-film horor sebelumnya yaitu The Doll, The Doll 2, dan Mata Batin. Rumah produksi ini terlihat jumawa karena film-film horor tersebut bertahan lama di layar bioskop Indonesia.

Cerita masih diawali dalam konteks lingkungan keluarga. Point of view film selalu sama seperti film-film terdahulu. Tidak ada unsur inovasi cerita yang patut dibanggakan.
Tiba-tiba boneka bernama Sabrina hadir dengan penampilan fisik mata besar dan rambut keriting. Penonton bioskop yang cerdas pasti sudah bisa mengendus bahwa boneka itu akan menghantui keluarga yang terdiri dari ayah Aiden (Christian Sugiono), Ibu Maira (Luna Maya), dan anak asuh bernama Vanya (Richelle Georgette Skornicki)
Di babak awal, Vanya yang sebenarnya keponakan dari Aiden terlihat belum bisa menerima kepergian dari orangtuanya. Meski sudah tinggal bersama Aiden dan Maira, Vanya sulit melupakan kasih ibu yang sudah berbeda alam dengannya.
Di lingkungan sekolah, Vanya mulai mengenal permainan baru yang dijuluki Pensil Charlie. Dari situ, Ia memutuskan untuk menghubungi roh ibu kandungnya. Roh Ibu mulai menemani Vanya dalam setiap kesempatan bersama boneka Sabrina.

Keluarga itu mulai terancam. Mereka berikhtiar dengan mengontak pasangan paranormal, Bu Laras (Sara Wijayanto) dan Pak Raynard (Jeremy Thomas). Paranormal mulai membuka tabir bahwa ada iblis Baghiah yang sudah merasuk boneka Sabrina. Tujuan iblis itu hanya satu yaitu menginginkan tubuh manusia satu per satu sebagai tumbal atas kejahatan yang pernah mereka lakukan.
Lama-kelamaan cerita film berkembang menjadi ajang balas dendam. Motif ambisi karena persaingan antar abang, Aiden dan adik, Arka (Rizky Hanggono) Aiden dalam keluarga mulai terkuak. Sesuatu yang mengerikan terus terjadi. Butuh paranormal untuk mendinginkan suasana. Hanya saja mereka harus bertaruh nyawa untuk menolong keluarga itu dari godaan iblis yang terkutuk.
Plot twist hadir sebagai konklusi di akhir. Tanpa tedeng aling-aling, Aiden justru ditangkap polisi karena pernah bersekutu dengan iblis untuk membunuh adiknya sendiri hingga berakibat pada teror yang menimpa keluarganya. Cerita berakhir dengan memberi ruang pada sekuel berikutnya untuk dinikmati para pencinta horor yang mudah kesurupan di bioskop tanah air.
**
Poster Film Bergenre Horor Sabrina

Overall, film Sabrina memiliki begitu banyak sudut pandang. Entah pemeran mana yang ingin dijadikan subjek dan objek utama penceritaan. Frame sengaja dijejali dengan rentetan adegan untuk sekedar memenuhi durasi panjang. Sungguh terlalu halu untuk dinikmati.
Penonton sulit memegang kendali terhadap cerita. Blogger Eksis semakin tak peduli karena peristiwa demi peristiwa dipatahkan seenak jidat si empunya cerita. Semua yang suka dengan film Sabrina pasti akan berkata #NamanyaJugaFilm.

Pengembangan cerita yang tak diikuti pembentukan karakter justru membuat kebobrokan film secara keseluruhan. Dari babak awal, penonton disuguhkan dengan penjelasan-penjelasan tentang properti apa yang akan digunakan untuk scene selanjutnya.
Misal, saat Vanya diberi hadiah berupa ipad. Disitu kita akan melihat bahwa ada adegan selanjutnya yang mengharuskan Vanya bermain aplikasi dalam ipad tersebut untuk mendeteksi keberadaan makhluk halus di sekitar rumahnya melalui ghost reader.
Logika berpikir mulai dipertanyakan. Adegan demi adegan yang disengaja mulai bermunculan. Contoh, saat Maira mencari Vanya di kamar atas yang terkesan seperti gudang. Tiba-tiba Maira malah melihat dokumen bisnis milik keluarga yang telah usang. Pencarian Vanya pun terlupakan. Dokumen itu hanya untuk menjelaskan kejadian apa yang pernah berlalu dan akan terjadi pada adegan selanjutnya. Its not make sense.
Keegoisan sineas film semakin terlihat saat adegan liburan di pantai dan menginap di cottage yang lebih mirip pulau pribadi tersebut. Cottage sengaja dikosongkan seolah tak ada penghuni lain atau penjaga meski waktu sudah menunjukkan tengah malam.
 Lebih parah, Maira lari terbirit-birit dikejar setan yang seharusnya tinggal lari lurus ke depan menuju pintu keluar. Justru sutradara malah menyuruh Luna Maya untuk berbelok masuk ke ruangan yang lebih gampang dijangkau oleh iblis  yang bergentayangan. Distraksi adegan yang sangat amat menjengkelkan.

Saat keluarga tersebut diteror iblis di pabrik juga semakin tak masuk akal. Awalnya, ada dialog yang menyatakan bahwa selama berada di dalam pabrik akan susah mendapat sinyal. Namun ketika keluarga itu butuh bantuan, sepasang paranormal seketika langsung tiba di pabrik entah mendapat informasi dari mana. Hanya eksekusi berdasarkan dugaan.
Kejar-kejaran Maira yang dirasuki hantu untuk membunuh Laras juga semakin aneh. Perpindahan lokasi berlalu begitu saja dari pabrik boneka sampai ke rumah. Adegan dalam rumah malah menyisakan kebakaran di atas meja yang sudah diantisipasi dengan keberadaan air disekitar set lokasi syuting. Sungguh semakin membodohi logika penonton yang menonton.
Kemunculan iblis terlihat semakin tidak konsisten. Kadang merangkak, lalu berjalan, atau bahkan terbang. Jelang babak akhir, saat iblis merasuki tubuh Aiden dan mengejar Bu Laras juga terlihat tak mampu menembus pintu. Pembentukan karakter iblis ini terlalu sopan. Mungkin dia lebih memilih ketuk pintu terlebih dahulu sebelum memangsa target yang akan dibunuh.
Menurut aku, iblis dalam film ini terlalu baik

     Selain iblis, pembentukan boneka Sabrina sebagai interest of title dan ikon dalam film terlihat sangat konyol. Hanya punya kekuatan mata yang bisa melirik ke kanan dan ke kiri. Sementara esensi ke dalam bobot cerita tak bisa dimasukkan lebih berarti. Jika aku jadi anak kecil, sungguh aku menyesal koleksi boneka Sabrina yang tak berani unjuk gigi.
Lebih seram lihat boneka Sabrina atau lihat aku?

         Unsur dramatis sudah pasti tak berkembang dibanding film sebelumnya. Porsi cerita yang terlalu banyak menjejali penonton terlihat digarap tidak maksimal. Kondisi demikian berimbas pada pembentukan karakter lemah para pemain lawas.
Christian Sugiono, Luna Maya, dan Jeremy Thomas tak mampu menunjukkan performa akting yang istimewa. Hanya blow up media yang membuat nama mereka digunakan untuk meningkatkan popularitas film Sabrina.
Eksposisi dialog demi dialog yang terlontar dari para pemeran menjadi semakin kaku. Saat anak-anak kecil harus berbincang dengan teman-teman di sekolahnya tentang entitas. Begitu juga dengan logat dari Christian Sugiono yang blasteran malah membuat performa akting begitu berlebihan.
Ada dialog yang terucap seperti “Tau gak, hari ini aku pergi ke luar negeri.”. Hellow, penonton nggak mau tau tentang dialog lo yang seperti itu. Untuk apa membicarakan hal yang tak memiliki relevansi terhadap esensi cerita film itu sendiri.
Luna Maya juga hanya bermain sebagai wanita yang berupaya jadi sosok ibu bagi anak angkatnya, lalu dirasuki iblis pencabut nyawa, hingga dikubur dalam kondisi hidup saat bermain di pantai. Entah seolah tak ada lagi aktris yang bisa dipakai untuk memerankan karakter tersebut atau bagaimana. Seharusnya  Luna lebih baik fokus mengurus tata kostum untuk film Sabrina saja. Tidak perlu berakting juga dalam filmnya.
Luna Maya berperan dalam film horor

Cerita memang terlihat tidak mampu membagi proporsi antar pemeran utama, pemeran pendukung, dan figuran sekalipun. Karakter yang diperankan oleh Jeremy Thomas juga tak mampu berbuat banyak. Babak awal diperkenalkan sebagai tokoh paranormal yang masih lajang. Jelang babak akhir, Jeremy Thomas hadir dalam adegan serumah dengan Sara Wijayanto dan dialog pun mengalir bahwa mereka cinta lokasi dan sudah melakukan pernikahan secara resmi.
Dengan gaya perlente khas orang kaya, Jeremy Thomas juga tampak menerima kedatangan tamu di dalam rumahnya lengkap mengenakan sepatu. Blogger Eksis tak bisa membayangkan jika ada adegan di tempat tidur, mungkin sepatu itu juga masih tetap dikenakan di atas ranjang. Sungguh adegan pada film yang justru terkesan tak berkelas, malah terasa semakin murahan.
Jeremy Thomas yang sudah berumur tampak tak berdaya dengan adegan yang harus dilakukannya. Saat kondisi lagi genting dan harus keluar dari pabrik, Ia malah menyuruh Maira kembali ke dalam pabrik untuk mengambil boneka Sabrina yang masih tertinggal. What the hell!
Setelah jatuh dan berdarah, para suami tersebut memang layak dikatakan suami siaga. Aiden dan Raynard yang secara logika seharusnya sudah mati ditusuk iblis justru terlihat masih segar dan bernafas. Mereka tampak berlarian menyelamatkan istri masing-masing. Lagi dan lagi tak bisa diterima dengan akal sehat. LOL… .
Terus udah maen bacok dan tusuk. Kok gak ada yang mati?

      Banyak hal ‘bodoh’ lain yang sulit diungkap dengan kata-kata. Penulis skenario mungkin lupa mengembangkan struktur cerita sehingga tidak fokus pada kedalaman makna setiap adegan. Sementara sutradara meramu rekonstruksi adegan tanpa batasan ingin dibawa kemana arah film Sabrina sebenarnya. Kolaborasi tanpa rasa yang membuat film layar lebar kehilangan makna. Tidak ada kejutan!
Kalangan fans film horor yang anti mainstream seperti Blogger Eksis tentu tak mau menonton film Sabrina untuk kedua kali. Stigma film horor yang tidak menakutkan akan terlihat jelas karena film ini TAK LAYAK diperhitungkan sebagai the best horor movie in Indonesia.
Untung saja, rumah produksi mengakali film yang begitu lemah dengan unsur audio maksimal. Penonton dibuat takut melalui volume suara yang lebih keras agar menghasilkan gema di dalam bioskop. Padahal metode seperti itu juga tergolong basi untuk mengelabui penonton.

Tata kamera dalam film Sabrina juga jadi khas keunggulan rumah produksi ini. Beberapa trik digunakan tapi malah terlumpuhkan karena penangkapan kamera yang terus mengalami pengulangan. Temperatur atau tone warna pada kamera juga telihat beda di awal dan akhir film. Entah kesalahan ada pada penata kamera yang menggunakan filter berbeda atau pada tahap editing untuk mensiasati perbedaan waktu. Tapi, kamera film lebih epik dan enak dipandang mata pada babak akhir.

Beberapa detail shot juga mengalami pengulangan yang membosankan seperti saat perputaran mainan pensil sakti dan zoom in pintu yang mengikuti pergerakan sudut pandang mata penonton. Hal ini meruntuhkan desain produksi dan sinematografi yang tidak terlalu mengesankan meski beberapa CGI berhasil dilakukan.

Scene stealer dalam film Sabrina hanya tersisa di babak akhir. Saat Laras dan iblis Baghiah terlihat berdarah saling melawan. Intensitas perseteruan konflik personal begitu terasa memecah suasana pekat malam.

Adegan tusuk menusuk potongan anggota badan tergolong ekstrem. Highlight darah menjadi pertahanan film untuk memuaskan penonton. Tak ingin bertahan dengan genre horor jump scare, Film Sabrina justru hadir dalam genre horor bernuansa action. Lantas, eksekusi film Sabrina dari awal hingga akhir terlihat tak terbatas.

Blogger Eksis mendapat undangan Gala Premiere Film Sabrina

“Seseramnya iblis di luar sana, 

hati kotor manusia itu lebih mengerikan… .!”

23 komentar:

  1. Luar biasa ulasannya, karena cukup sering melihat promo filmnya di instagram saya pribadi. By the way, ini kayanya jujur banget dibagian ini:

    "Pengembangan cerita yang tak diikuti pembentukan karakter justru membuat kebobrokan film secara keseluruhan."

    BalasHapus
  2. yang buat aku bingung, bonekanya kok serem amat? aku yg wes gede gini aja melipir ngeliatnya.. a little bit too much for a doll

    BalasHapus
  3. Bonekanya dimiliki oleh siapa? Kok ada yang mau melihara boneka seserem itu. Ini review-nya ampun-ampunan deh. Aku malah jadi penasaran pingin nonton. Apa iya sejelek itu? Hehe. Padahal pemain filmnya kelas kakap semua ya. Ada Rizki Hanggoro pula idolaku:)

    BalasHapus
  4. Kalau saya jelas skip aja deh nonton film horor. Baca review kayak gini aja udah takut, gimana mau nonton? Hahaha.
    Semoga review ini dibaca oleh salah satu pegiat film, biar bisa jadi masukan untuk kemajuan film-film Indonesia selanjutnya :)

    BalasHapus
  5. Aku nggak suka nonton film horor. Baca reviewnya sepertinya menarik ya, tapi tetap aku harus nonton berdua atau lebih supaya gak takut. Liat bonekanya aja udah horor sendiri.

    BalasHapus
  6. Seru juga baca ulasannya ini. Berhubung di Cianjur tidak ada bioskop jadi ulasan ini sudah lebih dari mewakili lah buat saya mah. Hehehe

    BalasHapus
  7. aku dulu ga suka nonton film action gara gara dikit dikit berantem, ga ada alasan apa apa berantem. Terus bilang namanya juga film action... jangan -jangan film ini juga gitu, asal ada tokoh yang wajahnya serem, ah namanya juga film horor... hehehe

    BalasHapus
  8. Wuih review-nya lengkap dengan sudut pandang yang menelisik ke kedalaman cerita dan penyajin sinema, kalau saya memang kurang suka film horor hehehe

    BalasHapus
  9. Hiks aku jarang banget lihat film horo selain ngga suka kadang alur dan endingnya yg bikin sebel☺ cukup baca ini dn gk mau nonton

    BalasHapus
  10. saya takut nonton film horror, tapi adik saya suka nonton film horor. wahhh kalo kubilang padanya, dia pasti nonton nih filmnya

    BalasHapus
  11. Aku udah lama banget nih gak nonton film horor. Mau jadwalin ah, seperti apa sih film Sabrina itu. :D

    BalasHapus
  12. waduuh ini dia niih boneka serem terbaru hahaha.. bakal ditonton nih ama anak gue!

    BalasHapus
  13. Aku termasuk yang ga berani nonton film kalo di bioskop. Aku peneriak orangnya. Bisa kacau nanti

    BalasHapus
  14. SAya ga pernah berani nonton film horror gini, serem apalagi di bioskop, iiih serem.

    BalasHapus
  15. Astaga, liat bonekanya aja spooky banget! Siapa la yang mau punya boneka kayak gitu? Btw, Luna Maya sekarang jadi rajin ya main film yang berbau horor.

    BalasHapus
  16. Sungguh aku jadi ngikik baca ulasannya, jujur aja aku gak pernah ke bioskop buat nonton film baru,aku selalu berpikir, paling sebentar lagi ada di TV.

    BalasHapus
  17. untung saya bukan penikmat film horo. jelas film ini tidak akan pernah masuk watchlist..

    BalasHapus
  18. Awalnya aku pikir ini film dari Hollywood setelah neliatin trailernya baru ketahuan hehehe. Mayan lag kali ye buat ngisi waktu luang ketinbang ngga ada kan ya hehehe

    BalasHapus
  19. Saya dah ga pernah nonton horor semenjak nikah dan punya anak, kalo nonton pun pasti milih yang cocok ditonton bersama keluarga.

    BalasHapus
  20. Huaaaa aku paling ga bisa nonton horor... Tapi kok ya penasaran Ama film ini...

    BalasHapus
  21. Ak nggak berani nonton film horor.. Apa lagi ada bonekanya ahh takut

    BalasHapus
  22. Hahahaha lbh serem nonton emak2 keluar dr rice cooker lhaaaaa.
    AKu dah lama gak nonton film horor. Eh tapi dr reviewmu kyknya Sabrina ini kurang oke yak? :D

    BalasHapus
  23. Duh...jadi gak menarik lagi buat di tonton nih.., emang gitu ya film horror Indonesia..kadang gak tau asal muasal asal hantu dari mana..ujug2 ada..

    BalasHapus