Tulis yang kamu cari

Adv

Pengendalian Konsumsi terhadap Rokok untuk Kelompok Rentan


Kalau mau keren tanpa rokok berarti Rokok Harus Mahal

        Blogger Eksis suka mendengar radio sejak kecil. Apalagi saat media mainstream seperti media online dan media televisi mulai meninggalkan independensi. Sebagai publik awam, aku selalu butuh pemberitaan yang mempertahankan kode etik jurnalisme sehingga informasi yang diberikan bisa menjadi inspirasi dan lebih terpercaya.
    Dari semua radio yang ada di Indonesia, aku teringat ada penyedia konten berita berbasis jurnalisme independen yang telah beroperasi sejak 1999. Penyedia konten berita tersebut dikenal dengan Kantor Berita Radio (KBR). Lebih dari 600 radio dari Aceh sampai Papua, serta radio di Asia dan Australia telah terintegrasi dalam peta jaringan yang menyiarkan program-program berita dan informasi dari KBR.
    Salah satu program yang menarik perhatianku yaitu Ruang Publik KBR. Program yang berlangsung dari Senin sampai Jumat setiap pagi ini begitu interaktif karena menghadirkan tentang ragam hal isu penting bagi publik dan dibahas bersama narasumber yang kredibel dalam setiap temanya. Sebagai pendengar, kita bisa langsung bertanya kepada para narasumber serta berinteraksi melalui nomor telepon bebas pulsa, media sosial, serta layanan SMS dan WA. Pendengar bisa terakomodir rasa keingintahuannya.
        Untuk wilayah Jakarta, siaran program Ruang Publik KBR bisa didengar melalui Power Fm 89.2. Bahkan para pendengar juga bisa mengikuti program siaran pada 104 radio jaringan KBR di Nusantara, melalui streaming portal KBR.id, dan melalui aplikasi KBR yang diunduh untuk gawai pada Google Play Store atau App Store. Pada kesempatan Selasa 14 Agustus 2018 lalu,aku  mendengar sekaligus menonton program tersebut melalui fitur Facebook Live.
Program radio Ruang Publik KBR
www.kbr.id

           
Obrolan hari itu, dipandu oleh Don Brady yang disiarkan langsung dari Grand Cemara, Menteng, Jakarta Pusat. Program yang memasuki episode ke-8 ini mengambil tema “Jauhkan Kelompok Rentan dari Rokok”. Dalam obrolan telah hadir narasumber yang kompeten dibidangnya, seperti Dr. Arum Atmawikarta, MPH selaku manager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs BAPPENAS dan Dr. Abdillah Ahsan sebagai Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI.
            Obrolan dibuka dengan mengenal siapa saja kelompok rentan terhadap bahaya rokok itu. Dr. Arum telah melakukan pengecekan terhadap data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut bahwa data belanja kelompok miskin mampu mengonsumsi 11 batang rokok per hari. Data ini terangkum dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang konsisten dilakukan dari 2004 hingga 2018. Selain golongan miskin, kaum marjinal, ibu hamil dan menyusui, serta anak-anak berusia di bawah 15 tahun juga termasuk dalam kelompok rentan.

“Kenapa sih rokok harus diperhitungkan dalam menghitung kemiskinan?... “

Jika ada yang bertanya seperti ini, maka kita bisa berkaca pada fenomena yang terjadi di Indonesia bahwa keluarga yang tergolong miskin selalu menjadikan rokok sebagai kebutuhan sekunder setelah beras (kebutuhan primer). Setelah itu mereka baru memikirkan untuk anggaran pendidikan dan kesehatan. Sungguh fenomena yang miris karena ternyata #RokokMemiskinkan.
Aku jadi berpikir kehidupan modern justru membawa pada kapitalisme yang menjelma bagai jejaring yang mengepung segala tindakan dan perilaku manusia. Konsumsi terhadap rokok menjadi pemuasan unsur-unsur simbolik manusia yang menjadi suatu tanda untuk memelintir gaya hidup agar terlihat lebih keren. Nyatanya, konsumsi rokok justru terlihat absurd karena menyedot arena sosial dan kesehatan yang melampiaskan pada kebutuhan singkat saja dengan efek yang berkepanjangan.
Hal lebih ironis diungkap pula oleh Dr. Abdillah “program-program bantuan dana dari Pemerintah juga sering dimanfaatkan oleh golongan miskin untuk membeli rokok.” Padahal dalam sebatang rokok itu mengandung nikotin dan tar. Nikotin membuat para perokok menjadi kecanduan sedangkan tar jauh lebih berbahaya karena berbahan aspal yang mengandung zat-zat karsinogenik dari hasil pembakaran rokok.

Uang yang kita bakar, mendapat apa? Paru-paru justru rusak. Asapnya pun bisa mengganggu kesehatan orang lain. Jika ditelisik lebih dalam alasan rokok membuat kemiskinan karena memang harga rokok itu tergolong murah. Bahkan rokok itu terlalu murah dengan hitungan Rp 15 ribu per bungkus dalam sehari sama dengan Rp 450 ribu sebulan. Dalam setahun pengeluaran pribadi terhadap rokok mencapai Rp 5 juta. 
Dr. Abdillah Ahsan kembali menegaskan bahwa “membeli rokok itu membeli penyakit. Itu kan tidak logis!” Padahal kita bisa menggunakan uang tersebut untuk hal-hal bermanfaat lain seperti bersedekah dan beramal membantu korban gempa dan orang-orang lain yang lebih membutuhkan. Apa para perokok rela, jika uangnya justru menambah harta orang-orang paling kaya di Indonesia!
Ingat, merokok itu hanya mengurangi stres dan mengurangi kejenuhan beban pikiran sesaat saja. Tapi, komposisi di dalam rokok itu justru menjadi hal-hal yang lebih menakutkan. Jangan sok dilematis. Para perokok harus lebih menyadari bahwa dengan membeli rokok bukan berarti mereka ikut serta menyumbang pajak ke negara. Jika ingin memberi pendapatan lebih ke negara, maka sumbanglah dengan cara yang sehat seperti membayar pajak dari alokasi lain. Bukankah lebih baik kita mencegah daripada mengobati.

“Lalu, bagaimana cara melindungi kelompok rentan yang telah disebutkan agar tidak mendapat kemudahan akses rokok?... .”

Merokok itu bersifat adiksi. Tidak mengenal usia, jabatan, dan jenis kelamin. Biar bagaimanapun kita harus menurunkan proporsi anak-anak di bawah umur yang sudah merokok karena perilaku kebiasaan merokok akan terus terbawa sampai nanti mereka tua. Dibutuhkan peran keluarga untuk mengawasi anak-anaknya dari pengaruh teman-teman yang merokok.
          Dr. Arum Atmawikarta dalam studinya pernah menyebutkan “keluarga yang didalamnya terdapat orangtua yang berperan sebagai perokok itu akan membawa anak mengalami kondisi kesehatan yang lebih rendah. Maka, hal yang lebih bagus adalah orangtua berhenti merokok atau paling tidak jangan merokok di dalam rumah.
Aku sangat sependapat dengan pernyataan Bapak Arum, sebagai imam dan kepala keluarga sudah selayaknya seorang ayah tidak mencontohkan anaknya untuk merokok. Mereka harus mengorbankan diri untuk tidak merokok sama sekali. Hal ini dilakukan supaya keluarga sehat, taraf ekonomi meningkat, dan hubungan keluarga semakin erat.
Bapak Abdillah bahkan memberi contoh nyata, seorang mantan Gubernur DKI Jakarta yang bernama Sutiyoso rela berhenti merokok karena permintaan anaknya saat ulang tahun ke-17. Dari situ, Ia langsung memberitahu kepada ajudannya untuk tidak mempersiapkan rokok di meja kerjanya. Awalnya tersiksa, tapi setelah bisa bertahan justru kemudian menjadi kebiasaan yang membuat beliau sehat sampai sekarang dan bisa bermain dengan riang gembira bersama cucu-cucunya.
Begitu juga ada contoh dari KH. Mustofa Bisri yang kerap disapa Gus Mus. Awalnya, para tamu yang sowan kepada beliau yang sudah berusia 74 tahun lebih sering membawakan rokok untuknya. Namun, peran dari sang istri yang mengingatkan suami akan bahaya rokok membuat Ia terbuka mata hatinya. Ia sadar bahwa jika ada anggota keluarga yang merokok di dalam rumah maka bisa mengganggu kelompok rentan lain yang ada disekitar seperti bayi, balita, dan ibu hamil. Jika mereka terkena asap terus menerus, bisa dipastikan kematian akan segera datang.

Selain pengalaman kisah nyata di atas, Dr. Arum menambahkan “hal yang juga harus dihentikan adalah kebiasaan orangtua menyuruh anak-anaknya membeli rokok untuk mereka. Mending anak-anak tersebut disuruh beli pisang atau susu saja.”. Pada kenyataan, orangtua sering menginginkan anak-anaknya untuk tidak merokok. Tapi, orangtua tersebut ternyata justru perokok berat. Melihat fenomena ini bukan tidak mungkin si anak turut mencontoh kebiasaan orangtuanya. Jika tidak mencontoh, si anak akan menjadi bagian dari perokok pasif karena orangtuanya yang merokok disembarang tempat bisa menimbulkan pencemaran udara.
        Itulah yang menyebabkan semua bisa adiktif dengan rokok. Produk rokok dapat ditemukan dimana saja dan diperjualbelikan bagi siapa saja. Maka, akses untuk membeli rokok harus dibatasi. Kalau bisa tidak ada yang menjual rokok lagi di dekat lingkungan sekolah. Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa masih banyak oknum pedagang yang juga membiarkan pembeli rokok di bawah umur.

Sebenarnya masyarakat Indonesia sudah mengetahui bahwa rokok itu berbahaya. Apalagi pada kemasan rokok juga sudah diperingatkan rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan serta janin. Tapi, industri rokok masih gencar dalam strategi pemasarannya.
Proses pemasaran melalui iklan yang tidak pernah menampilkan kemasan memang sudah dibatasi jam tayangnya di atas jam 21.00 WIB tapi tetap saja hal itu tak membendung publik untuk terus mengonsumsi rokok. Ada baiknya iklan rokok pun harus dilarang karena spot-spot tersebut bisa digantikan dengan produk lain yang lebih bermanfaat untuk kesehatan masyarakat. “Banyak kota sudah melarang iklan rokok dan Pendapatan Asli Daerah (PAD)nya baik-baik saja. Jangan khawatir pendapatan berkurang,” kata Abdillah Ahsan.

“Bisakah harga rokok dibuat menjadi mahal?... .”

Jika kita melihat fakta harga rokok di Indonesia yang terlalu murah dibanding negara-negara lain. Tentu saja kita harus menjawab, Indonesia harus bisa. Dibeberapa negara sudah dilakukan pengendalian harga. Seharusnya Indonesia meningkatkan harga setiap 10% karena akan menurunkan persentase 16% dari perokok itu sendiri.
Apalagi konstitusi RI telah memberi amanat supaya ada pengendalian konsumsi rokok. Dari amanat tersebut konsumsi rokok harus dikurangi. Semua telah tertulis jelas dalam konstitusi. Pemerintah harus menjalankan fungsi sebagai mandataris rakyat atau mengemban keputusan rakyat.
Abdillah Hasan mengatakan “Mulai dari UUD 1945, sudah terlihat bahwa setiap warga negara berhak mendapat hak sehat, terutama untuk udara sehat. Kemudian UU Cukai menyebutkan agar ada pengendalian tarif cukai untuk membatasi konsumsi. Ada juga UU Kesehatan yang menyebutkan bahwa rokok itu adalah barang yang adiktif dan harus dikurangi untuk konsumsinya.” Tiga pijakan konstitusi ini bisa dijadikan acuan oleh Pemerintah sebagai pihak yang menjalankan amanah undang-undang.
Manfaat dari pengendalian harga rokok akan terasa lebih jauh besar dibanding dari perkembangan industri rokok dalam negeri. Penjualan minuman beralkohol saja bisa dibatasi kenapa penjualan rokok tidak bisa? Jangan sampai perekonomian nasional menggantungkan pada perusahaan rokok yang ada. Justru pertumbuhan ekonomi akan lebih maju jika produktivitas dan kesehatan masyarakat lebih berkualitas.
          Meski harus kita sadari memang belum ada larangan untuk memproduksi rokok karena industri rokok sudah terlanjur berkembang luas. Tapi, Pemerintah masih bisa mengendalikan dengan kebijakan. Sebagai contoh industri rokok harus membuat rokok dengan bantuan tangan bukan melalui mesin. Pelarangan produksi rokok dengan mesin dilakukan agar jumlah produksi semakin menurun sehingga tingkat pembelian terhadap produk bisa dibatasi.
        Selain dengan edukasi seperti itu, diharapkan pengendalian konsumsi juga bisa dibarengi dengan regulasi. Dr. Abdillah menjelaskan sebuah teori uang jajan berdasar pada pengalaman realistis di lapangan. Jika setiap hari, seorang anak diberi uang jajan sebesar Rp 5.000, maka 1 batang rokok minimal harganya Rp 10.000 atau 1 batang rokok minimal Rp 5.000. Jadi, 1 bungkus bisa dibeli dengan harga antara Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu. Tergantung dari kebijakan cukai rokok masing-masing industri.
       Idealnya, tarif rokok naik, tarif cukainya menjadi tinggi, konsumsinya turun, tapi penerimaan negara terus meningkat. Jangan sampai ada pihak yang masih melindungi industri rokok dalam negeri sehingga akan mengaburkan fokus kebijakan. Semua harus bahu membahu agar terus menyuarakan bahwa #RokokHarusMahal.
        Demi mendukung hal itu, masyarakat juga bisa mendukung melalui petisi yang bisa disebarkan kepada publik. Melalui penandatanganan pada link Rokok harus Mahal kita bisa bergabung dan menyatakan bahwa aspirasi ini layak didukung. Petisi tersebut dinilai sebagai kekuatan publik agar turut mengendalikan kesadaran supaya banyak pihak yang membantu menyuarakan kebaikan demi harga #Rokok50ribu.
Program siaran radion dari Kantor Berita Radion (KBR) dalam serial Rokok Harus Mahal

          Jika contoh sederhana yang telah diuraikan di atas bisa bergulir secara berkelanjutan diharapkan Pemerintah turut serta membantu para petani tembakau dengan memanfaatkan tembakau untuk potensi produk lain yang lebih berfaedah. Keuntungan lebih besar juga bisa didapat karena bangsanya lebih sehat, keluarga lebih hemat dalam alokasi dana ke hal-hal yang bermanfaat, dan individu lebih kuat karena tidak ada lagi unsur ketagihan yang merusak adat istiadat. Hal ini juga sejalan dengan program Pemerintah dalam rencana 5 tahun mendatang yang memiliki indikator untuk mengurangi persentase anak berusia di bawah 15 tahun untuk tidak merokok.

“Merokok bisa menghancurkan imanmu!”

Di akhir segmen program siaran hari itu, ada kesaksian langsung yang terungkap dari seorang perokok pasif. Ia berkata:
Saya korban, saya itu perokok pasif. Orangtua saya perokok berat. 24 tahun lalu saya divonis oleh dokter karena ada kanker tumor di tenggorokan saya. Saya tidak bisa lagi bicara dengan pita suara dan kesulitan bernapas. Sekarang saya bicara dengan berat sekali dan masih dalam tahap rehabilitasi.”
“Orangtua saya supir dan saya setiap hari bercengkerama dengan beliau. Sejak dari saya lahir, saya sudah terbiasa dengan lingkungan seperti itu. Dampak saat orangtua saya merokok di depan saya memang tidak langsung terasa saat itu juga. Lama kelamaan saat tahun berganti tahun kekebalan tubuh saya menurun. Asap rokok dan ribuan zat yang telah mengumpul dalam tubuh saya membentuk kanker tumor tersebut. Ini bukti nyata dan sangat rentan karena leher saya sudah berlubang.”

            Aku merinding saat mendengar kesaksian hidup bapak tersebut. Saat dahulu aku mendapat tugas dari kantor untuk melayani orang-orang yang menderita kanker tumor itu, aku pernah berhadapan langsung dengan mereka. Sulit memang untuk berbicara, sesekali mereka hanya bertanya kepadaku apakah keluargaku ada yang menjadi perokok berat? Untung saja aku bisa menjawab tegas ' tidak'. Mereka hanya bisa berpetuah agar aku jangan coba memulai untuk merokok karena dampaknya jelas sekali nyata. Say no to Smoke!

Ayo jauhkan kelompok rentan terhadap rokok


14 komentar:

  1. Semoga soon harga rokok emang bener - bener mahal ya jadi engga keliaran lagi tuh yang menebar asap rokok beracun

    BalasHapus
  2. Setuju sekali, ayo dukung rokok harus mahal agar kelompok rentan bisa bebas dari rokokk

    BalasHapus
  3. Kalau uangnya ditabung bakal lumayan banget nih. bisa beli macem macem. daripada merokok mending bayar asuransi kesehatan buat anak istri hehehe

    BalasHapus
  4. Suka bingung kalau lihat fenomena di Indonesia. Di sekolah anak2 disuruh dilarang merokok. Lah di rumah, ayah si anak perokok berat... Gimana aturan mau nempel ke anak? Kalau ortu malah jadi "contoh" terkuat...

    Yup! Rokok harus mahal!

    BalasHapus
  5. Yap setuju bngt cowok keren itu yg gk ngebunuh diri sendiri dn nyakitin org lain dng merokok ya...

    BalasHapus
  6. Halo,
    Ini adalah untuk menginformasikan kepada masyarakat umum bahwa Nyonya Jane Alison, pemberi pinjaman swasta telah membuka peluang keuangan bagi semua orang yang membutuhkan bantuan keuangan. Kami memberikan pinjaman dengan bunga 2% kepada individu, perusahaan dan perusahaan dengan syarat dan ketentuan yang jelas dan dapat dimengerti. hubungi kami hari ini melalui e-mail sehingga kami dapat memberikan syarat dan ketentuan pinjaman kami di: (saintloanss@gmail.com)

    BalasHapus
  7. Yang masih merokok artinya ngga sayang sama diri sendiri yang lingkungan ya ka, padahal dampak buruk merokok sudah jelas terpampang nyata pada pembungkusnya dan banyak orang meninggal akibat penjadi perokok aktif maupun pasif, semoga dengan harga rokok yang relatif mahal menjadi efek jera

    BalasHapus
  8. Aku sepakat dgn rokok hrs mahal. Udah ga bagus utk kshatan merugikan orglain pulak

    BalasHapus
  9. Setuju sekali,.kalau rokok mau dimasakin,.hehehe.
    Pastinya akan banyak keuntungannya

    BalasHapus
  10. Setuju bangat klo harga rokok dimahalin, supaya orang-orang itu mikir bahwa salah satu hal yang bikin mereka makin miskin itu karena rokok.

    BalasHapus
  11. Ironis bgt memang, saat kemiskinan masih membelengu,saat untuk kebutuhan panganpun masih butuh bantuan pemerintah,ironisnya rokok masih sanggup dibeli :(

    Ku tak ngerti lagi daah... Emang rokok harus mahal kayaknya.

    BalasHapus
  12. Sebetulnya sudah ada fatwa haram dari MUI tentang merokok ini karena memang ga ada manfaatnya sama sekali yg ada malah ngerusak diri dan orang di dekatnya..tapi kalau sudah adict fatwa haramnya ga didengar tuh..makanya setuju hrs mahal :D

    BalasHapus
  13. Paling sebel sana orang yg merokok sembarangan..egois banget orangnya heu..

    BalasHapus
  14. iyah dong, orang keren itu ga merokok dan hemat, untuk masa depan yang lebih baik,,,perlu juga dihindari untuk tidak jadi perokok pasif

    BalasHapus