Tulis yang kamu cari

Analytics

Adv

Habibie & Ainun ; Kisah Cinta Nasionalis yang Serba Minimalis



     Film adalah urutan gerak dari gambar hidup yang membentuk seni visual baru melalui media komunikasi lengkap, ditujukan kepada mata juga pendengaran, yang berakar kepada seni ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi suatu bagian dari kehidupan modern. Kebangkitan perfilman Indonesia di era globalisasi menjadi tantangan sendiri bagi sineas perfilman untuk membuat film yang berkualitas dari sisi teknik dan teknis. Cerita yang diangkat pun beragam, ada yang berdasarkan kisah nyata, adaptasi dari novel atau buku, maupun ide kreatif dari sineas itu sendiri. Dari sekian banyak film yang diproduksi para sineas di tahun 2012-2013, Film Habibie & Ainun menjadi sebuah film yang paling fenomenal di jagat perfilman.

     Kehebohan film Habibie & Ainun membuat banyak orang penasaran ingin menonton. Alasannya, sang sutradara mengangkat tema sebuah kisah percintaan klasik yang diadaptasi dari buku Habibie dan Ainun itu sendiri. Buku tersebut sudah laris terlebih dahulu dipasaran. Kisah nyata percintaan seorang Habibie yang pernah menjadi orang nomor 1 di Republik Indonesia  menjadi daya tarik tersendiri untuk dinikmati. Alhasil, film Habibie & Ainun sama larisnya dengan penjualan buku yang sudah terbit.

     Layaknya sebuah karya tidak pernah ada kata sempurna. Semua pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Tergantung, bagaimana kita mengapresiasikannya. Mari kita bahas satu per satu untuk film Habibie & Ainun.

     Pertama, tema sebuah film. Tema film Habibie & Ainun bercerita tentang percintaan Habibie dan Ainun yang begitu romantis dan terkesan nasionalis. Sejak dari awal perkenalan hingga terpisah oleh ajal yang menjemput. Kisah cinta mereka tergolong memiliki nilai sejarah sehingga storytelling yang dihadirkan hingga akhir cerita bernuansa nasionalisme. Perjuangan dua orang anak bangsa yang mencintai negerinya dan mengorbankan dirinya sendiri.
     Namun, balutan sejarah Indonesia yang kuat dalam perjuangan cinta mereka terhadap bangsa tidak terekam dengan baik. Akibatnya, film tersebut memberikan pandangan sempit dalam suatu persoalan. Tidak ada beda dengan film-film bertema cinta yang beredar dipasaran. Hanya ada adegan-adegan kesetiaan, kasih sayang, dan pengorbanan sebagai lambang romantisme tanpa konflik  memadai. Penonton hanya terbuai dalam flashback kisah cinta mereka yang tersaji hingga akhir film ini.
     Tema percintaan pun sirna seiring dengan alur cerita yang terkesan melompat ke berbagai suasana. Ritme film terasa tak beraturan. Mungkin film ini ingin menyesuaikan cerita sesuai bukunya. Tapi, tak bisa dipungkiri bahwa filosofi buku dan film tersaji dalam masing-masing media yang beda.

     Kedua, adegan demi adegan tersaji dalam sebuah time lapse yang singkat. Film dibuka dengan Habibie dan Ainun muda yang terkenal cerdas saat masa SMA. Kemudian langsung beranjak ketika Habibie sudah menjadi insinyur mesin dan Ainun sudah lulus sebagai dokter umum. Diceritakan, Habibie tidak sengaja bertemu dengan Ainun dan dimulailah kisah pacaran singkat mereka. Adegan hanya disisipkan sebuah sentuhan konflik saat Ainun didekati banyak pria hebat, mapan, dan bermobil, tetapi Ainun malah memilih Habibie yang datang ke rumahnya menggunakan becak sampai adegan pun berlanjut pada prosesi pernikahan adat Jawa. Rangkaian adegan tersebut akan membuat tanda tanya para penonton, “Apa yang membuat Ainun tertarik dengan sosok Habibie…?”. Tak ada jawaban yang bisa menjelaskan dalam adegan singkat itu.
     Selain itu, adegan singkat juga tersentuh dengan nasionalis terbatas. Unsur-unsur nilai sejarah yang seharusnya menjadi nilai tambah film ini dibanding film percintaan lain tidak terlalu kuat ditampilkan. Nilai sejarah hanya berusaha ditampilkan pada properti-properti klasik yang melambangkan masa lalu. Adegan-adegan bernilai sejarah seperti pembangunan bangsa pasca kemerdekaan dan reformasi hanya ditampilkan pada sisipan-sisipan video terpotong. Hal ini cukup mengganggu dan tidak secara jelas menggambarkan situasi sosial, ekonomi dan politik era perjuangan reformasi 1998.
     Sosok Habibie sebagai presiden ketiga RI yang dilantik pasca gerakan reformasi 1998 pun tidak dapat ditampilkan dalam kumpulan snap shot yang lengkap. Penonton hanya dijejali dengan adegan-adegan masa pelantikan, beberapa konflik di Timur-Timur, dan adegan politis yang membuang-buang durasi. Masih banyak adegan lain yang menampilkan konflik yang menanggung tanpa ada sebab akibat yang mampu mencerdaskan penonton.
     Beberapa adegan malah diselingi dengan penempatan promosi produk sponsor yang tidak sesuai dengan tempatnya. Beberapa merk produk sponsor terbaru tampil dalam era berbeda. Penonton pun dibiarkan melihat layaknya tontonan televisi yang dipenuhi banyak iklan tanpa makna.

     Ketiga, pemeranan. Habibie diperankan oleh Reza Rahardian dan Ainun diperankan oleh Bunga Citra Lestari. Dalam pemilihan tokoh film, Reza Rahardian berusaha menjadi karakter Habibie yang begitu kuat, tapi secara postur tubuh Reza Rahardian tidak memenuhi kriteria. Mungkin casting director hanya melihat kejeniusan akting karakter yang ditampilkan seorang Reza Rahadian.
     Untuk peran Ainun, Bunga Citra Lestari juga berusaha memerankan perempuan Jawa kuno yang lembut namun make up yang digunakan kurang mendukung sehingga ekspresi  ditampilkan terlalu dipaksakan. Walaupun penghayatan dalam setiap adegannya patut diacungi jempol.
     Pemeranan memang menambah nilai positif dalam film ini. Karakter Habibie & Ainun yang ditampilkan mampu menjadi cermin bagi anak muda untuk menjalani bahtera pernikahan. Sebagai sosok individu jenius, biasanya kejeniusan identik dengan sifat kaku, tidak bisa bergaul, dan egois. Namun, Habibie ditampilkan sosok jenius berbeda. Ia tampil apa adanya, disenangi banyak orang, dan mengedepankan kepentingan bangsa. Sama halnya dengan sang istri, Ainun.
     Namun sangat disayangkan, karakter jenius yang ditampilkan sosok Habibie tidak didukung dengan teori-teori kecerdasan Habibie yang mampu menciptakan pesawat terbang. Teori-teori keilmuan hanya hadir saat Habibie bekerja untuk industri mesin kereta api di Jerman. Jika sentuhan teori ilmu pengetahuan tentang pesawat terbang dihadirkan, hal ini mampu menambah wawasan penonton dan membuat bangsa Indonesia semakin bangga dengan sosok Habibie.

      Keempat, unsur artistik tidak sesuai dengan tema film. Beberapa setting latar tempat di Jerman mengurangi nilai artistik film yang bernafaskan nasionalisme ini. Film ini seolah ikut menjual potensi negara Jerman yang begitu berkembang dibandingkan Indonesia. Latar tempat di Jerman pun sempat menghadirkan efek musim salju yang terkesan dipaksakan. Kondisi demikian hanya terlihat sebagai adegan pelengkap yang menunjukkan adanya perbedaan iklim antar dua negara tersebut.
     Untung saja, penata artistik masih bisa membuat tema film ini hidup dengan menempatkan hand property seperti cincin kawin yang menjadi simbol cinta. Cincin kawin tampak jelas menjadi detail shot yang digunakan Habibie & Ainun dalam beberapa kesempatan. Aksesoris tersebut setidaknya menunjang pesan yang tersirat bahwa cinta akan menemani masa-masa sulit sepasang suami istri dimanapun mereka berada dan dalam kondisi seperti apapun yang mereka hadapi.

     Kelima, pesan yang ingin disampaikan. Beberapa sindiran nasionalisme terungkap pada film ini. Dimulai ketika bangsa yang besar tidak dapat menghargai semangat anak bangsa yang ingin memajukan negaranya. Lalu, ada juga adegan-adegan masa pemerintahan yang diwarnai praktek suap menyuap dengan menghalalkan segala cara yang seolah menjadi budaya Indonesia. Terlalu vulgar memang, ketika sindiran nasionalis ditampilkan. Seharusnya sindiran yang mengandung pesan tersebut ditempatkan sewajarnya dan tidak terlalu diekspos agar nama baik bangsa Indonesia tetap terjaga jika film ini diputar di festival negara lain.

     Di balik itu semua, kita pasti akan menikmati film ini hingga akhir cerita. Audio dan original soundtrack mampu menghipnotis kita untuk larut dalam kisah cinta sejati Habibie & Ainun. Sentuhan-sentuhan humor ringan juga mampu meredakan suasana kaku yang terjalin dalam setiap storylines yang ditampilkan. Overall, kita harus bangga dengan film produksi anak bangsa ini. Kisah cinta nasionalis yang tulus dan luar biasa akan bisa menjadi cermin untuk kita semua, walaupun semua tersaji dalam sebuah media audio visual yang serba minimalis. #ApresiasiFilmIndonesia

Kritik Film ini ditulis untuk mengikuti Lomba Penulisan Kritik Film Piala Maya di Tahun 2013*

The Conjuring 2: The Next True Story From The Case Files of Ed and Lorraine Warren



The Conjuring 2 diakui sebagai salah satu film memedi terbaik dan terseram dalam beberapa dekade terakhir. Tapi, apakah sekuel ini bisa kembali menyandang predikat tersebut?

Sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) Mencapai 1 Dekade Dengan Istiqomah





Ibarat makan sayur kurang garam, bulan Ramadhan terasa tidak afdhol jika tidak menyaksikan tayangan Para Pencari Tuhan (PPT) yang sudah menjalani masa produksi mencapai 1 dekade. Rumah produksi PT. Demi Gisela Citra Sinema memang cerdas membubui tayangan ini menjadi lebih eksklusif karena hadir saat bulan Ramadhan saja. Dari jilid 1 sampai jilid 9, pemirsa selalu penasaran dengan cerita apa yang akan diracik setiap episodenya. Hal ini dikarenakan masing-masing jilid telah menyuguhkan pencerahan kepada penonton melalui pesan religi yang tersembunyi dalam tiap adegan yang tersaji.

Umat Islam yang sedang menjalankan ibadah sahur pasti menanti program televisi ini yang paling beda dengan program televisi lainnya. PPT Jilid 10 pun telah siap dinikmati pemirsa Surya Citra Televisi (SCTV) selama bulan ramadhan 1437 H ini. Program televisi yang termasuk ke dalam jenis sinetron ini memang selalu menjadi tayangan istimewa yang ditunggu pemirsa layar kaca. Apalagi, pemirsa juga dimanjakan dengan segment kuis yang disponsori berbagai brand terkemuka. Tak jarang program PPT juga sering disebut sinekuis (sinetron kuis). Wajar saja, tayangan ini pun meraih rating maupun share di atas rata-rata dan disaksikan oleh penonton pria atau wanita dari hampir semua kelompok umur.

Naluri pemirsa seakan terus diasah dengan berbagai gejolak kisah yang terus bergulir secara berkesinambungan disetiap jilid sinetron PPT yang selalu menjadi fenomenal. Layak jika tayangan ini menjadi andalan yang menjadi tontonan dengan penuh nuansa tuntunan Islam dan tuntutan fase-fase kehidupan sosial masyarakat sekitar. Persoalan hidup yang nyaris tak pernah diungkap tayangan lain selalu terangkum dalam sinetron ini. Kampung Kincir dan penduduk didalamnya bagaikan negara Indonesia dan warganya yang memiliki sejumlah fenomena untuk menjadi cerita yang beraneka. Tutur bercerita secara komedi dan drama terpadu dalam satu tayangan yang mendidik. Terkesan tak menggurui, alur dramaturgi dibuat mulai dari jilid 1 sampai jilid 9 dan berhasil dipertahankan.
Potret kehidupan masyarakat kelas atas, menengah, dan bawah mampu ditampilkan secara berkelanjutan disetiap jilidnya. Kejutan-kejutan yang terjadi selama kita hidup terlihat nyata dalam adegan-adegan yang memutar roda kehidupan. Ibaratnya, pemirsa sedang membaca sebuah buku yang memiliki berbagai jilid dan kita tak sabar untuk melihat lembar halaman selanjutnya untuk dibalik dan dibaca isinya.
Konflik yang terjadi dalam sinetron ini juga terasa menggigit karena memiliki struktur cerita yang tepat. Semua mampu mencapai klimaks dan sesuai dengan tatanan ajaran Islam yang pas. Nyaris semua unsur spiritual dalam tayangan ini tidak hanya sebatas ritual, tapi membuat pemirsa memahami kesalehan sosial.
Dalam sinetron PPT, dialog antar pemain juga terlontar dengan bahasa sehari-hari dan mampu mengkritisi adegan demi adegan agar menjadi lebih bermakna. Inilah kekuatan skenario yang ditulis oleh Wahyu HS. Saya pun kagum akan kejelian seorang penulis skenario yang mampu membangun dialog secara up to date dilengkapi dengan selera humor yang tak terkesan basi karena cerdas diolah pada adegan yang pasti. Penulis skenario juga mampu mengolah rangkaian kisah sederhana dan mengemas cerita melalui kekuatan akting para pemeran yang sangat menarik.

Karakter-karakter yang bermain dalam sinetron PPT memang berperan apa adanya. Semua karakter terlihat tangguh. Mereka mampu mendeskripsikan tokoh manusia secara utuh. Tak tampak ada karakter malaikat yang selalu merasa benar ataupun karakter iblis yang selalu berbuat jahat. Tak terlihat karakter yang mendominasi atau memberi nasihat yang basi. Sinetron PPT justru menghadirkan karakter protagonis, semi-antagonis, dan antagonis dengan ekspresi para pemain yang luar biasa. Tak perlu tampang blasteran apalagi harus memiliki nilai jual, Produser PPT, pak H. Deddy Mizwar dan Kiki Zakaria berusaha menampilkan aktor dan aktris berbakat yang sangat terpuji dalam kualitas aktingnya.
Pak H. Deddy Mizwar sebagai pemeran utama dengan karakter Bang Jack selalu menjadi pusat perhatian karena membawa misi kebaikan disetiap permasalahan yang terjadi di Kampung Kincir. Trio Bajaj yang terdiri dari Melky, Aden, dan Isa pun mampu memerankan Chelsea, Barong, dan Juki sesuai porsinya masing-masing dengan latar belakang masalah yang tidak sama dan dipersatukan menjadi selebritis ternama. Kehadiran karakter Aya (yang diperankan Zaskia Adya Mecca) dan Azzam (yang diperankan Agus Kuncoro) juga menjadi magnet tersendiri sebagai pasangan yang selalu memiliki kisah cinta dengan pribadi yang berbeda.
Peran pendukung lain yang juga konsisten dengan karakternya selalu menghibur dengan tawa. Ada Ustad Ferry (yang diperankan Akrie Patrio) dengan karakter yang takut dengan istrinya namun selalu berusaha menjadi imam bagi keluarga. Ada Pak Jalal (yang diperankan Jarwo Kuat) yang mengalami jatuh bangun pada kehidupannya karena merasa sebagai orang paling kaya di kampungnya. Ada Loli (yang diperankan Erma Catherina), seorang asisten rumah tangga Pak Jalal yang memiliki karakter unik dan polos. Ada dua sahabat, Asrul dan Bang Udin (yang diperankan Asrul Dahlan dan Udin Nganga) dengan peristiwa-peristiwa penuh canda dalam mengarungi pasang surut kehidupannya.  Serta ada trio pengurus RW yang sering menyentil kondisi pemerintahan di Indonesia. Dan masih banyak karakter lainnya dengan berbagai profesi yang tak pernah terbuang percuma karena selalu hadir melengkapi porsi cerita.
Beberapa aktor dan artis terkenal lain pun pernah meramaikan sinetron ini dibeberapa jilidnya. Sebut saja, Tora Sudiro (yang berperan sebagai Baha), seorang sahabat Asrul yang sempat membuat kehebohan di Kampung Kincir karena tingkahnya sebagai pemabuk. Artta Ivano (yang berperan sebagai Kalila), keponakan dari Pak Jalal yang jatuh hati dengan pribadi Azzam dan terlibat cinta segitiga. Henidar Amroe (yang berperan sebagai Widya), seorang ibu dari Azzam yang diperebutkan dua orang sepuh. Alfie Alfandy yang berperan sebagai Domino (keponakan Bang Jack), hingga aktor sekelas Slamet Raharjo yang berperan sebagai Om Wijoyo.

Hitam putih kehidupan juga tercermin dalam lagu pembuka dan penutup sinetron PPT disetiap jilidnya. Musisi terkenal yang tergabung dalam grup band Ungu dan Gigi telah berhasil menghadirkan nuansa religi yang begitu kental. Sebut saja, lagu Para Pencari Tuhan dan Dengan NafasMu yang dipopulerkan oleh Ungu mampu menyatu dengan barisan lirik yang penuh doa terhadap Allah SWT. Alunan lagu seperti itu membuat para pemirsa di rumah bisa menyimak sinetron PPT dengan nuansa lebih haru untuk selalu mengingat Sang Pencipta. Ada juga lagu Beribadah Yok, Amnesia, Pemimpin dari Surga, Aku dan Aku, Sajadah Panjang, Lailatul Qadar, Semua Milikmu, dan Tuhan yang dipopulerkan Gigi. Lirik demi lirik lagu mengalir dengan paduan nada-nada yang membentuk irama membuat sinetron PPT semakin menggema seantero Indonesia.
Pantas saja, jika sinetron PPT mendapat anugerah dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai sinetron terbaik pada tahun 2014. Blogger Eksis pun hanya bisa memuji sinetron ini dengan segala keunggulan didalamnya dan memberikan apresiasi sinetron ini sebagai yang terbaik sepanjang masa. Begitu banyak pesan moral yang disampaikan terasa menyentuh dalam sinetron ini. That’s it! Konsep religi Islam selalu dihadirkan dengan nuansa indah dan tidak radikal pada setiap jilid PPT yang sudah diproduksi
Sebagai penonton awam yang sering merasakan adegan-adegan yang ditampilkan dalam keseharian membuat aku mampu mengenal siapa Tuhan kita. Banyak refleksi diri yang bisa aku ambil untuk menjadi inspirasi agar menjadi insan yang berakhlakul karimah. Beberapa refleksi tersebut antara lain tentang kematian yang bisa datang kapan saja dan dimanapun kita berada. Tentang kepemimpinan dari segala aspek (baik dalam diri sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan kantor hingga pemerintahan) sehingga mencapai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Belajar mengenal arti perdamaian dari rasa solidaritas yang tinggi berbasis ukhuwah islamiyah. Sinetron ini juga mengajarkan pemirsa untuk selalu memiliki sikap rendah hati atau tawadhu’ saat berada diposisi atas dan sikap ikhlas saat menjalani kehidupan diposisi bawah. Pemirsa juga dituntun untuk bertaubat dan bertawakal atas dosa-dosa yang pernah diperbuat. Hingga akhirnya, pemirsa dituntut untuk selalu istiqomah dalam menyebarkan kebajikan.
Semua tentang kehidupan yang fana ini sudah lengkap terungkap dalam sinetron ini. Blogger Eksis menganggap sinetron ini sempurna karena mampu mengangkat realita pro kontra yang ada. Dari PPT jild 1-9 telah membuktikan bahwa sinetron bisa menjadi jalur dakwah untuk bertahan pada koridor religi yang istiqomah.
Fenomena-fenomena kehidupan antara masa lalu dan masa kini selalu tampak mewarnai keseluruhan isi cerita. Kaya-mati, tua-muda, sendiri-berpasangan, cinta-benci, logika-perasaan, sehat-sakit, berumah tangga-bercerai, keberhasilan-kegagalan, keberuntungan-kerugian, kebaikan-kejahatan, kebenaran-kesalahan, kesenangan-kesedihan, dan Habluminaallah-hablumminannas telah sampai pada satu titik konklusi bahwa Allah SWT sedang mengajarkan kesempurnaan agama-Nya untuk bisa menjawab semua persoalan hidup yang memiliki berbagai lawan kata atau pertentangan didalamnya. Hingga akhirnya, saya menyadari bahwa Hidup adalah Ibadah. Semoga saja kita termasuk golongan hamba yang sudah menemukan Tuhannya setelah menonton ‘Para Pencari Tuhan’ yang mencapai satu dekade dengan istiqomah*

"Something happens on the way to heaven"

Berikut ini Blogger Eksis lampirkan kisah demi kisah favorit saya dalam setiap jilidnya di sinetron Para Pencari Tuhan yang terarsip dalam video yang bersumber dari www.vidio.com, check this out*

Tunjukkan Kepada Dunia Bahwa Kita Bisa Tinju Tinja




Blogger Eksis ikut mendukung aksi nasional Tinju Tinja
   


        Lebih dari 51 juta penduduk Indonesia masih melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) - nomor 2 terbanyak di dunia menurut Laporan Gabungan WHO dan UNICEF di tahun 2015 sehingga berdampak buruk terhadap kesehatan dan lingkungan, terutama pada anak-anak. Setiap jam, ada 15 sampai 22 anak di Indonesia yang meninggal akibat diare dan pneumonia yang bisa dihindari dengan kebersihan dan sanitasi yang baik (Levels & Trends in Child Mortality – Laporan 2014. 

Berawal dari Pengangguran, Menuju pada Wirausahawan

Berawal dari penggangguran menuju wirausahawan
          Negara Republik  Indonesia telah memperoleh kemerdekaan melalui perjuangan gigih yang dilakukan oleh para pahlawan. Kita sebagai warga negara Indonesia harus mengisi kemerdekaan ini dengan melaksanakan pembangunan disegala aspek kehidupan. Gerakan roda pembangunan yang dilakukan membutuhkan tenaga kerja sebagai modal utama. Jumlah dan komposisi tenaga kerja tersebut akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsung proses demografi (kependudukan).

Fenomena Simlacrum

'Simulation is characterized by a precession of the model, of all models around the merest fact the model come first. Facts no longer have any trajectory of their own, they arise at the intersection of the models; a single fact may even be engendered by all the models at once. Simulation is no longer that of a territory, a referential being or a substance. It is the generation by models of a real without origin or reality; a hyperreal. The territory no longer precedes the map, nor survives it. Henceforth, it is the map that precedes the territory precession of simulacra it is the map that engenders the territory and if we were to revive the fable today, it would be the territory whose shreds are slowly rotting across the map. It is the real, and not the map, whose vestiges subsist here and there, in the deserts which are no longer those of the Empire, but our own. The desert of the real itself' (Baudrillard, 1983:32)


         Jean Baudrillard dalam buku Simulations (1983) yang diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris mengintrodusir sebuah karakter khas kebudayaan masyarakat barat dewasa ini. Menurutnya, kebudayaan barat dewasa ini adalah sebuah representasi dari dunia simulasi, yakni dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak, tanpa referensi relasional yang jelas. Hubungan ini melibatkan tanda real (fakta) yang tercipta melalui proses produksi, serta tanda semu (citra) yang tercipta melalui proses reproduksi.
Dalam kebudayaan simulasi, kedua tanda tersebut saling menumpuk dan terjalin untuk membentuk satu kesatuan. Tidak lagi dikenali mana yang asli, yang real, dan mana yang palsu atau yang semu. Semua menjadi bagian realitas yang dijalani dan dihidupi masyarakat barat dewasa ini. Kesatuan inilah yang disebut Baudrillard sebagai simulacra atau simulacrum, sebuah dunia yang terbangun dari serangkaian nilai, fakta, tanda, citra dan kode. Realitas tak lagi punya referensi, kecuali simulacra itu sendiri. Jadi, simulacra adalah ruang dimana mekanisme simulasi berlangsung.
Simulacra tidak memiliki acuan karena merupakan bagian duplikasi dari duplikasi, sehingga perbedaan antara duplikasi dan yang asli menjadi kabur. Dalam ruang ini tidak dapat lagi dikenali, mana hasil produksi dan mana hasil reproduksi, mana objek dan mana subjek, atau mana penanda dan mana petanda.
Menurut Baudrillard[1], terdapat tiga tingkatan simulacra. Pertama, simulacra yang berlangsung semenjak era Renaisans hingga permulaan Revolusi Industri. Simulacra pada tingkatan ini merupakan representasi dari relasi alamiah berbagai unsur kehidupan. Dalam tingkatan ini, realitas dunia dipahami berdasarkan prinsip hukum alam, dengan ciri ketertiban, keselarasan, hierarki alamiah serta bersifat transenden. Alam menjadi pendukung utama sekaligus determinan kebudayaan. Tanda-tanda yang diproduksi dalam orde ini adalah tanda-tanda yang mengutamakan integrasi antara fakta dan citra secara serasi dan seimbang. Hal ini berkaitan erat dengan kehendak manusia zaman itu untuk mempertahankan struktur dunia yang alamiah. Dengan demikian, prinsip dominan yang menjadi ciri simulacra tingkat pertama adalah prinsip representasi.
Kedua, simulacra yang berlangsung seiring dengan perkembangan era industrialisasi. Pada tingkatan ini, telah terjadi pergeseran mekanisme representasi akibat dampak negatif industrialisasi. Objek kini bukan lagi tiruan yang berjarak dari objek asli, melainkan sepenuhnya sama persis seperti yang asli. Dengan kemajuan teknologi reproduksi mekanik, prinsip komoditi dan produksi massa menjadi ciri dominan era simulacra tingkat kedua.
Ketiga, simulacra yang lahir sebagai konsekuensi berkembangnya ilmu dan teknologi informasi. Simulacra pada tingkatan ini merupakan wujud tanda, citra dan kode budaya yang tidak lagi merujuk pada representasi. Selanjutnya dalam mekanisme simulasi, manusia dijebak dalam ruang realitas yang dianggap nyata, padahal sesungguhnya semu dan penuh rekayasa. Dengan contoh yang gampang Baudrillard menggambarkan dunia simulasi dengan analogi peta. Menurutnya, bila dalam ruang nyata, sebuah peta merupakan representasi dari suatu wilayah, dalam mekanisme simulasi yang terjadi adalah sebaliknya. Peta mendahului wilayah.
Realitas sosial, budaya, bahkan politik, dibangun berlandaskan model-model yang telah dibuat sebelumnya. Dalam dunia simulasi, bukan realitas yang menjadi cermin kenyataan, melainkan model-model[2]. Boneka Barbie, tokoh Rambo, selebritis syahrini, film india, telenovela, iklan televisi, Doraemon atau Mickey Mouse adalah model-model acuan nilai dan makna sosial budaya masyarakat dewasa ini. Inilah era yang disebut Baudrillard sebagai era simulasi.
Sebagai contoh, wacana simulasi yang menjadi ruang pengetahuan telah dikonstruksikan oleh iklan televisi, di mana manusia mendiami suatu ruang realitas, di mana perbedaan antara yang nyata dan fantasi, atau yang benar dengan yang palsu, menjadi sangat tipis. Manusia hidup dalam dunia maya dan khayal. Media lebih nyata dari pengetahuan sejarah dan etika, namun sama-sama membentuk sikap manusia.
Dalam era simulasi ini, realitas tak lagi memiliki eksistensi. Realitas telah melebur menjadi satu dengan tanda, citra dan model-model reproduksi. Tidak mungkin lagi kita menemukan referensi yang real, membuat pembedaan antara representasi dan realitas, citra dan kenyataan, tanda dan ide, serta yang semu dan yang nyata. Semua yang terlihat hanyalah campur aduk diantara semuanya.
            Dalam realitas simulasi seperti ini, manusia tak lebih sebagai sekumpulan massa mayoritas yang diam, yang menerima segala apa yang diberikan padanya. Dalam bukunya In The Shadow of the Silent Majorities (1982), Baudrillard menganalogikan kumpulan massa yang diam ini sebagai lubang hitam, black hole, dimana berbagai hal informasi, sejarah, kebenaran, nilai moral, nilai agama terserap ke dalamnya tanpa meninggalkan bekas apapun juga.
            Kenyataannya, sifat simulasi dalam media televisi telah mampu menyuntikkan makna yang seolah-olah ada pada kehidupan nyata, meskipun sebenarnya hanyalah sebuah fantasi atau realisme semu. Film, berita, telenovela, video clip, iklan, tayangan olahraga, talk show ataupun tayangan kesenian tradisional ditonton sebagai tontonan yang semata untuk dinikmati tanpa harus bersusah payah berpikir kritis. 
         Dalam ruang semu televisi, penonton seolah didaulat sebagai subjek otonom yang dapat memilih atau menyeleksi suguhan apa yang akan ditontonnya. Mereka dapat memindahkan dan menciptakan realitas dari tayangan yang satu ke tayangan lain tanpa adanya referensi tunggal yang saling berkaitan. Dari berita politik tentang kenaikan BBM, ke sinetron-sinetron bernuansa Bollywood, lalu berpindah lagi ke film drama Inggris yang bersetting abad ke-18 M, kemudian menonton kembali tayangan video clip Katy Perry, lalu kembali menyaksikan berita gempa bumi di Nepal dan seterusnya. Ruang dan waktu seolah terlipat dalam sebuah kotak kaca yang bernama televisi. Sifat fragmentasi dalam dunia semu televisi inilah dunia yang terpotong-potong, durasi pendek atau panjang, berubah dan berpindah yang menjadikan para penontonnya terbuai oleh mitos tentang subjek yang otonom. Padahal, menurut Baudrillard, semua ini hanyalah mistifikasi yang dijejalkan ideologi kapitalisme demi produksi dan konsumsi. Kebenaran yang sesungguhnya, bahwa pilihan dan otonomi penonton televisi sebenarnya tak lebih dari pilihan semu. Otonomi yang dibatasi dan diatur oleh pilihan yang sudah ada[3]. Penonton, dalam wacana televisi, tak lebih dari objek mengalirnya berbagai fakta, citra, impian dan fantasi, tanpa memiliki jati diri yang hakiki, sebuah terminal dari berbagai jaringan tanda-tanda.
            Dalam wacana televisi, penonton dengan demikian tak lebih dari sekumpulan mayoritas yang diam[4]. Itulah mengapa tayangan siaran langsung sepakbola tetap ditunggu dan ditonton meskipun harus menunggu hingga tengah malam. Menurut Baudrillard, hal ini karena televisi sama sekali tidak berpretensi menawarkan makna luhur atau transenden, kecuali ecstasy dan kedangkalan ritual.
Kebudayaan industri di atas menyamarkan jarak antara fakta dan informasi, antara informasi dan entertainment, antara entertainment dan ekses-ekses politik. Masyarakat tidak sadar akan pengaruh simulasi dan tanda (signs/simulacra). Hal ini membuat kita kerap kali berani dan ingin mencoba hal yang baru yang ditawarkan oleh keadaan simulasi (membeli, memilih, bekerja dan sebagainya). Teori ekonomi Marx, yang mengandung “nilai guna” digunakan oleh Baudrillard dalam menelaah teori produksi dan didasarkan pada semiotik yang menekankan pada “nilai tanda”. Jean Baudrillard membantah bahwa kebudayaan postmodern kita adalah dunia tanda-tanda yang membuat hal yang fundamental – mengacu pada kenyataan – menjadi kabur atau tidak jelas.
            Dalam bukunya Symbolic Exchange and Death (1976) Baudrillard menyatakan bahwa sejalan dengan perubahan struktur masyarakat simulasi, telah terjadi pergeseran nilai-tanda dalam masyarakat kontemporer dewasa ini yakni dari nilai guna dan nilai tukar ke nilai tanda dan nilai simbol. Ia menyatakan bahwa dalam masyarakat konsumeristik dewasa ini, nilai guna dan nilai tukar, seperti disarankan Marx, sudah tidak lagi bisa diyakini.
            Kini, menurut Baudrillard, adalah era kejayaan nilai tanda dan nilai simbol yang ditopang oleh meledaknya citra dan makna oleh media massa dan perkembangan teknologi. Jika dikaitkan dengan pernyataan Marx, terdapat dua nilai tanda dalam sejarah kebudayaan manusia yakni, nilai guna (use value) dan nilai tukar (exchange value). Nilai guna merupakan nilai asli yang secara alamiah terdapat dalam setiap objek. Berdasarkan manfaatnya, setiap objek dipandang memiliki guna bagi kepentingan manusia. Inilah nilai yang mendasari bangunan kebudayaan masyarakat awal. Selanjutnya dengan perkembangan kapitalisme, lahir nilai baru yakni nilai tukar. Nilai tukar dalam masyarakat kapitalis memiliki kedudukan penting karena dari sanalah lahir konsep komoditi. Dengan konsep komoditi, segala sesuatu dinilai berdasarkan nilai tukarnya.
            Dalam wacana simulasi, manusia mendiami ruang realitas, dimana perbedaan antara yang nyata dan fantasi, yang asli dan palsu sangat tipis. Dunia-dunia buatan semacam Disneyland, Universal Studio, China Town, Las Vegas atau Beverlly Hills, yang menjadi model realitas semu Amerika adalah representasi paling tepat untuk menggambarkan keadaan ini. Lewat televisi, film dan iklan, dunia simulasi tampil sempurna. Inilah ruang yang tak lagi peduli dengan kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi atau reproduksi semuanya lebur menjadi satu dalam keterkaitan tanda[5].
            Simulasi akan menciptakan suatu kode, yaitu cara pengkombinasian tanda yang disepakati secara sosial, untuk memungkinkan satu pesan dapat disampaikan dari seseorang kepada orang yang lain[6]. Dalam dunia simulasi, identitas seseorang tidak lagi ditentukan oleh dan dari dalam dirinya sendiri. Identitas kini lebih ditentukan oleh konstruksi tanda, citra dan kode yang membentuk cermin bagaimana seorang individu memahami diri mereka dan hubungannya dengan orang lain. Lebih lanjut, realitas-realitas ekonomi, politik, sosial dan budaya diatur oleh logika simulasi ini, dimana kode dan model-model menentukan bagaimana seseorang harus bertindak dan memahami lingkungannya.
           Saat ini, hampir seluruh dimensi kehidupan masyarakat timur telah dipengaruhi oleh masyarakat barat yang dituntun oleh logika ekonomi kapitalis yang menawarkan keterbukaan, kebaruan, perubahan dan percepatan konstan. Dalam keadaan demikian, persoalan gaya hidup, mode dan penampilan menjadi nilai baru yang menggantikan nilai kebijaksanaan, kearifan dan kesederhanaan. Konsep Baudrillard mengenai simulasi adalah tentang penciptaan kenyataan melalui model konseptual atau sesuatu yang berhubungan dengan “mitos” yang tidak dapat dilihat kebenarannya dalam kenyataan. Model ini menjadi faktor penentu pandangan kita tentang kenyataan. Segala yang dapat menarik minat manusia seperti seni, rumah, kebutuhan rumah tangga dan lainnya ditayangkan melalui berbagai media dengan model-model yang ideal, disinilah batas antara simulasi dan kenyataan menjadi tercampur aduk sehingga menciptakan hyper reality dimana yang nyata dan yang tidak nyata menjadi tidak jelas.




[1] Jean Baudrillard. Simulations. New York: Telos Press. 1983 hal 54-56

[2] Jean Baudrillard. Cool Memories. New York: Telos Press. 1987 hal 17

[3] Ibid. 16

[4] Baudrillard, op.cit., 19.

[5] Baudrillard, op.cit., 33.


[6] Yasraf Amir Piliang. Sebuah Dunia yang Dilipat. Bandung: Mizan. 1998 hal 13

Ada Apa Dengan Cinta 2 ; Terjebak Nostalgia dalam Kisah Cinta yang Seperti Itu Saja



    Kejutan besar dari dunia perfilman Indonesia saat ini datang dari sebuah film berjudul Ada ApaDengan Cinta 2. Jarak ratusan purnama yang dinanti oleh jutaan mata tentang kisah Cinta dan Rangga yang pernah menghias layar lebar hingga layar kaca kembali menggema. 

     Dulu, saat menonton film ini, Blogger Eksis masih berseragam putih biru dengan wajah nan lugu. Sekarang, saat menonton, saya juga berseragam kantor putih biru namun sudah mampu menyimak adegan demi adegan yang penuh haru dengan nuansa rindu.