Popular Posts

LIFE MUST GO ON

Selasa, 12 September 2017

Qwords ; Pilihan Tepat untuk Pelayanan Koneksi yang Lebih Cepat



Aku masih ingat di akhir tahun 2011, tepatnya tanggal 25/12/2011, tiba-tiba aku ingin memiliki sebuah blog. Atas dasar ingin mengikuti sebuah lomba blog tentang pemerintahan, aku pun mulai membuat blog dengan belajar secara otodidak. 


Lama-kelamaan ketika aku ingin menekuni profesi sebagai blogger, terlintas dalam benakku untuk memiliki top level domain di awal tahun 2017. Memang di tahun yang masuk dalam era digital ini, perkembangan blog dan internet semakin intens sehingga aku harus berani move on dari domain blog gratisan ke domain blog berbayar.


Setiap website membutuhkan nama domain agar bisa diakses secara online. Kita bisa mendapatkan dengan cara membeli domain baru yang belum terdaftar atau membeli domain yang sudah terdaftar (pernah digunakan sebelumnya). Nama domain baru membutuhkan biaya sekitar seratus ribu rupiah, dengan pembayaran tahunan (1 tahun, 3 tahun, 5 tahun, dan seterusnya). Harga nama domain bervariasi dipasaran (tergantung jenisnya). Domain yang paling umum digunakan adalah TLD (Top Level Domain) seperti, .com, .org, .net dan sebagainya. Selain jenis domain tersebut, ada pula domain seperti .id dan .co.id.


Dahulu, mindset para blogger yang memiliki nama domain sendiri itu terkesan eksklusif dan menghabiskan biaya mahal. Website yang menggunakan top level domain pun seakan hanya cocok untuk perusahaan atau pengusaha yang bergerak di industri e-commerce. Hingga akhirnya waktu untuk hijrah ke domain berbayar selalu saja tidak pas.

Orang awam seperti aku yang begitu tabu terhadap bahasa pemprograman semakin ragu untuk membeli domain yang berbayar.  Aku pun hanya bisa membuat blog gratisan di Blogspot yang memang sulit mendapat traffic tinggi.

Teknologi yang semakin berkembang membuat penggunaan domain gratis atau berbayar memiliki pengaruh pada fokus dan konsistensi dalam mendapat pekerjaan sebagai blogger. Beberapa perusahaan tidak mau menempatkan iklan pada blogger yang menggunakan blog gratisan.

Suatu ketika aku datang ke suatu pameran di daerah Senayan City, Jakarta. Dalam pameran tersebut ada suatu stan yang menarik perhatian yaitu Qwords. Dengan tagline web hosting terbaik di Indonesia dengan teknologi Cloud, aku mulai bertanya tentang segala hal dalam pembuatan blog untuk domain berbayar. Hanya saja, ketika itu aku pun masih belum tertarik.


Namun, untuk mengetahui lebih lanjut tentang layanan Qwords, aku tetap mengikuti media sosial yang dimilikinya. Beberapa kali aku melihat iklan promo Qwords yang menawarkan domain dan hosting murah. Tapi, tetap saja hatiku belum tergugah. 


Qwords menyediakan layanan paling murah didukung tim support terbaik. Kata ‘murah’ menjadi kata sakti atau magic word yang tentu saja dicari banyak netizen. Lama-kelamaan aku tergoda akan promo yang ditawarkan untuk membeli domain berbayar, namun waktu sering terlambat untuk mendapatkan paket promo tersebut.


Aku hampir putus asa dan mencari layanan dari penyedia paket domain dan hosting lainnya. Tetap saja hasilnya nihil. Aku mulai kehabisan akal dan mencari referensi dari teman-teman blogger lain, hingga mereka tetap merekomendasikan Qwords sebagai penyedia layanan Cloud Web Hosting terbaik di Indonesia.


Aku mulai browsing menjelajah laman Qwords yang menawarkan beragam layanan paket domain dan hosting. Sampai aku pun memantapkan diri menggunakan nama domain www.blogger-eksis.my.id. Mulai dari proses pemesanan domain hingga pembayaran cukup mudah. Aktivasi domain pun tergolong cepat.


Setelah proses aktivasi berjalan, ada beberapa setting yang harus aku atur melalui blog dan akun Qwords. Aku yang tidak begitu paham dengan proses tersebut langsung meminta bantuan melalui fitur live chat yang tersedia di laman Qwords. Responsif dari admin begitu cepat dan sabar dalam memandu. Sambil dipandu melalui percakapan, aku juga diberi petunjuk untuk mencari tahu pada manual knowledge base atau tutorial panduan dasar yang tersedia di laman Qwords. Tidak begitu sulit  mempelajari kode pemrograman web yang terlihat rumit. Panduan yang diberikan begitu jelas sehingga membantu aku dalam proses pembuatan domain tersebut.


Ke depannya, aku semakin yakin menggunakan layanan Qwords dalam memfasilitasi hobi ngeblog aku. Layanan bantuan 24 jam dari Qwords juga menjadi nilai tambah yang begitu banyak disukai oleh para pelanggan. Qwords membuktikan bahwa karyawannya mampu bekerja secara profesional. Responsif karyawan tak hanya sebatas sibuk mengurus server. Prioritas pelayanan selalu diutamakan tanpa memandang klien lama atau baru. Karyawan dan klien selalu terlibat aktif di forum sehingga interaksi tetap terjaga.


Paket domain dan hosting yang disediakan Qwords juga sangat beragam mulai dari jenis domain yang lengkap, paket hosting yang komplit untuk personal hingga bisnis, tersedianya control panel untuk memaksimalkan blog atau website, Cloud Service, penggunaan server yang handal, keamanan data terjamin, dan ada program Affiliate Qwords.

Program Affiliate Qwords merupakan program kerja sama bagi setiap pelanggan dalam bentuk afiliasi. Pelanggan hanya diminta untuk merekomendasikan orang lain untuk membeli dan mengaktifkan layanan Qwords sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Ada komisi afiliasi yang bisa didapat oleh pelanggan jika memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.


Dari program-program yang ditawarkan, Qwords membuktikan menjadi provider hosting terbesar di Indonesia yang memiliki klien cukup fantastis sekitar 95.000 domain. Didirikan sejak tahun 2005 hingga sekarang bisa dikatakan bahwa Qwords merupakan  perusahaan hosting yang memiliki pertumbuhan cepat. Dengan usia yang dimiliki, pengalaman yang dirasakan dan pelayanan yang diberikan kepada pelanggan Qwords pantas dinobatkan sebagai Best Seller.


Teman aku juga berkata : “Hal terpenting dalam memilih hoster yaitu pilih yang mau berkomunikasi dengan klien meski tiba-tiba server mengalami gangguan atau kendala. Qwords menjadi pilihan karena memiliki keunggulan dari segi pelayanan yang bagus, experience yang terkontrol, dan perbandingan space dengan harga cukup murah. 

Sampai aku pada suatu konklusi, memiliki blog itu ibarat memiliki rumah. Blog dengan nama domain dan hosting personal bisa membuat kita sebagai content creator lebih nyaman untuk berselancar di dunia maya.

Jadi tak perlu ragu lagi, Qwords memiliki domain dan hosting yang berkualitas dilengkapi fitur berkelas sehingga menjadi dambaan setiap orang dalam menunjang aktivitas ngeblog, bisnis online, atau kebutuhan perusahaan. Qwords Cloud Web Hosting telah menjamin semua itu. Aku dan teman-temanku sudah membuktikan. Kini, giliran Anda! 

#QwordsSALEbration


Senin, 04 September 2017

Ev Hive Bukan Sekedar Coworking Space Biasa



Industri ekonomi kreatif digital di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami kemajuan yang pesat. Indikator atau‘bahan bakarnya’ terlihat dari mulai banyak para pelaku kreatif yang tersebar di seluruh Indonesia. Seperti para pekerja mobile untuk pengembang aplikasi, desainer, programmer, arsitek, seniman, penulis, hingga kalangan entrepreneur itu sendiri. Perkembangan tersebut juga diikuti dengan mulai bermunculan bisnis coworking space yang semakin menjanjikan.

Tempat kerja bersama ataucoworking spacesudah muncul di kota-kota besar. Fenomena ini terkait dengan semakin bertambah pekerja lepas atau freelancer yang biasa menjadikan rumah atau kafe sebagai tempat kerja mereka dalam pembuatan konsep. Itu juga sekelumit pengalaman hidup yang aku alami.

Tak ada yang lebih mengerikan daripada terkurung di ruangan bertembok setiap hari dalam kurun waktu 4 tahun. Aku pun pernah merasakan saat menjadi bangsawan (bangsa karyawan).

Aku telah mencicipi asam garam bekerja di perusahaan perbankan berlabel BUMN selama 4 tahun. Dengan jabatan dan ruang kantor yang monoton, aku menyerah di akhir tahun 2016 silam. Aku bebas dari “kurungan” ruang berdinding itu setiap hari meski konon berada dalam zona nyaman.

Di awal tahun 2017, aku memberanikan diri untuk menjadi seorang freelance writer. Sebagai pekerja independen, aku memantapkan diri dengan prinsip bahwa bekerja tidak harus di kantor. Maksudnya, para pekerja seperti penulis lepas terbiasa mencari ide dimana saja dan tak selalu harus berada di dalam kantor. Kebosanan memutar otak untuk bekerja dan mencari uang bisa dilakukan di rumah, kedai kopi, bahkan coworking space sekalipun. Ini yang akan menjadi tren ala generasi milenial selama 10 tahun ke depan saat layanan internet dan perangkat komputer terus berevolusi.

Awalnya aku bekerja dari rumah untuk membuat konten dan tulisan digital. Lalu, aku pun mencari suasana tempat kerja yang baru dan bergeser ke kafe atau kedai kopi. Hingga akhirnya, aku membutuhkan ruang kerja yang bisa memberikan fasilitas untuk menumbuhkan konsentrasi terhadap pekerjaanku. Minimal untuk duduk di meja, membuka komputer jinjing dan tersambung dengan layanan internet. Akhirnya, aku memilih coworking space untuk memulai hari demi hari dalam menekuni pekerjaanku saat ini.

Coworking space merupakan tempat atau ruang bekerja lengkap dengan fasilitas yang mendukung para pelaku industri ekonomi kreatif yang inovatif. Di coworking space fasilitas kerja lebih memadai seperti ruangan, kursi, meja, listrik, dan internet. Tempat ini biasa digunakan untuk berkolaborasi satu sama lain antar kalangan independen maupun profesional khususnya di dunia digital. Kita berkumpul, menyatukan ide dan gagasan baru dalam sebuah tempat kerja yang lebih fleksibel.

Coworking space mengedepankan konsep sharing atau berbagi. Dalam satu ruangan terdapat berbagai individu, komunitas, maupun perusahaan, khususnya startup. Biasanya terdapat satu ruangan terbuka untuk digunakan bersama dan ruangan-ruangan kecil yang dapat disewa per individu atau per komunitas maupun perusahaan. 

Konsep kerja yang dinamis menjadi salah satu budaya yang tumbuh di masyarakat kekinian, utamanya kita yang dekat dengan kehidupan digital. Suasana kerja berbeda, dengan ruang dan fasilitas yang tersedia membuat kita bisa mengembangkan jaringan kerja yang lebih luas. Maka, coworking space menyimpan potensi yang besar untuk kesempatan berkolaborasi.

Aku sempat berpindah-pindah coworking space, mulai dari yang di mal, dekat rumah, hingga aku menemukan kenyamanan saat aku berkunjung ke Ev Hive The Maja. Ev Hive sebagai penyedia coworking space hadir dengan desain tempat yang menarik, nyaman, dan lengkap dengan fasilitas ruang kerja maupun internet guna mendukung produktivitas. Coworking space ini mencoba menonjolkan suasana cozy dan homey bagi para pengguna di dalamnya.

EV Hive merupakan co-working space milik perusahaan East Ventures yang baru beroperasi sejak awal Juni 2015. Ruang kerja bersama ini memiliki luas 250 meter persegi dan menyediakan dua tipe ruang kerja, yakni private space dan shared space.

Salah satu dari lokasi Ev Hive yang aku kunjungi yaitu Ev Hive The Maja. Coworking space ini memberi banyak keuntungan karena dari sisi lokasi tergolong strategis dekat dengan alternatif pusat bisnis kawasan Blok M. Tepatnya, di Jl. Kyai Maja No. 39, Jakarta Selatan. Berada tepat di sebelah kantor pos, gedung ini juga dekat dengan akses perbankan dan makanan. Ada ATM BRI, BCA, dan Bank Mandiri di sekitar lokasi. Lalu, pilihan makanan seperti Rumah Makan Padang ‘Sederhana’dan Blenger Burger juga cocok mengisi perut yang mulai keroncongan saat menyelesaikan pekerjaan. Hanya saja, halaman parkir yang cukup aman selama 24 jam baru bisa diakses oleh kendaraan pribadi, seperti mobil karena dikelola oleh valley parking

 Dari luar, bangunan Ev Hive yang terletak di Lantai 2, Gedung The Maja tampak seperti restoran. Maklum saja, lantai 1 Gedung The Maja ini disewa oleh Blue Jasmine Restaurant. Saat kita beranjak ke lantai 2, kita baru akan menemukan konsep tempat ruang kerja berbasis komunitas untuk kolaborasi kerja bersama yang bisa menampung kapasitas 50-100 orang. Sementara itu, di lantai 3 gedung ini belum digunakan untuk apapun.

Jika dilihat dari dalam, luas ruangan Ev Hive The Maja memiliki luas yang pas dan sesuai sehingga tidak terlalu besar maupun terlihat sempit. Kapasitas ruangan yang bisa digunakan oleh sekitar 35 orang sekaligus juga sudah seimbang dalam konsep tata ruang. Dalam ruangan tersebut menggunakan sumber cahaya atau penerangan tidak langsung sehingga menggunakan beberapa lampu untuk menerangi ruangan ini. 

Konsep interior dan material yang digunakan begitu serasi dengan nuansa young, energitic and warm. Ruang kantor ini didesain ala-ala San Fransisco. Untuk melengkapi interior yang nyaman, furnitur juga dikreasikan dengan konsep feel like at home. Hasilnya memang terasa membuat aku betah di tempat ini.

Secara umum, pengunjung Ev Hive bisa memilih 4 layanan untuk menggunakan tempat ini. Mulai dari Flexi Desk, Small & Large Private Office, Event Space, dan Meeting Room. Rate price juga cukup kompetitif dan lebih hemat untuk penggunaan bulanan dibandingkan dengan menyewa ruko atau rental office space tradisional. Apalagi Layanan ini juga berlaku di lima lokasi ekspansi yang tersebar pada:
  1. Ev Hive Tower @IFC 1 Lt.11, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan.
  2. Ev Hive JSC Hive Karet Kuningan, Jakarta Selatan.
  3. Ev Hive D.Lab Menteng, Jakarta Pusat.
  4. Ev Hive The Maja Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
  5. Ev Hive The Breeze BSD City, Tangerang.
       Layanan pertama, Flexi Desk terdiri dari daily, monthly, dan dedicated space. Untuk mendapat layanan internet, listrik, meja, dan free flow drinks dalam 12 jam, pengunjung hanya perlu membayar biaya seharga Rp 50.000 per hari. Sedangkan untuk bisa bekerja sepuasnya tanpa dibatasi waktu, pengunjung bisa membayar sewa seharga Rp. 1.000.000 per bulan atau Rp. 1.500.000 jika ingin mendapat dedicated space yang lebih spesial. Pengunjung juga bisa memilih shared space ini untuk indoor ataupun outdoor.
 
Layanan kedua, small & large private office yang bisa digunakan dari jam 5 pagi hingga 4 sore disewakan dengan harga mulai dari Rp 4 juta. Dengan kapasitas 6-10 orang, harga sudah termasuk locker pribadi, office printers, faxing, scanning, dan absensi finger prints yang bisa digunakan oleh para pekerja di perusahaan bersangkutan.

Ev Hive tidak hanya menyediakan ruangan di luar kantor, tapi juga aktivitas yang menggugah kreativitas pengunjungnya. Hal ini berhubungan dengan layanan ketiga, event space yang bisa dimanfaatkan untuk menggelar presentasi atau seminar setelah pukul 6 sore dengan tarif Rp. 1.000.000-Rp. 1.500.000 (tergantung lokasi dan hari pemakaian). Untuk JSC Hive, event space juga bisa digunakan pada pagi dan siang hari. Apalagi di tempat ini juga tersedia Rooftop sebagai pilihan meet up para startup. Sudah dipastikan hampir setiap minggu digelar diskusi menarik di Ev Hive ini. Pembahasannya beragam, mulai dari pembangunan bisnis startup sampai mendulang untung dari pengembangan teknologi digital skala internasional. 

Selain ruang kerja, Ev Hive juga dilengkapi dengan ruang rapat yang bisa digunakan untuk berkoordinasi dan berkolaborasi bersama. Layanan keempat, meeting room dikenakan tarif Rp 200.000 per jam pada hari kerja dan Rp 300.000 per jam pada akhir pekan. Dengan kapasitas maksimal delapan orang, ruangan ini disediakan untuk memenuhi keperluan diskusi tertutup atau conference call. 

Ev Hive juga memperhatikan supporting needs atau office amenities yang menunjang para pengunjung, seperti stop kontak listrik yang disetting di meja dan lantai hingga fasilitas presentasi yang mendukung kebutuhan kegiatan di kantor pada umumnya.

Namun, Ev Hive The Maja terbukti bukan sekedar menyewakan tempat kerja saja. Fasilitas ruang yang spesial disini yaitu ada mini cafe atau mini bar alias pantry. Pengunjung bebas minum kopi dan teh berapapun porsinya dan kapanpun waktunya selama berada disini. Alat dan bahan tersedia pada tempatnya. Jadi, semua pengunjung bebas minum tanpa batas. Tersedia juga cemilan berupa healthy snack yang bisa dibeli dengan harga terjangkau.

Salah satu spot di Ev Hive The Maja yang menarik perhatian yaitu mood-boosting gaming & recreation rooms. Ini merupakan pilihan tempat santai untuk relax dengan konsep chill-out lounges.

Ev Hive juga sering mengadakan pesta kecil yang meriah. Hal ini terjadi saat aku berkunjung ke Ev Hive The Maja yang mengadakan farewell party saat beberapa member lama akan meninggalkan coworking space ini karena telah mendapat gedung kantor yang baru. It hope they can make the most out of their membership.

Untuk bekerja di tempat ini, pengunjung juga tidak diharuskan berpakaian formal. Cukup berpakaian sopan saja, kita bisa bekerja disini. Jadi, jangan kaget saat melihat ada sandal jepit yang juga tersedia di Ev Hive The Maja untuk dipergunakan para pengunjung sebagaimana mestinya.

Selain itu, pelayanan dan keamanan di coworking space Ev Hive The Maja tergolong relatif lebih bagus. Ada CCTV yang mengontrol sistem keamanan dan mobilisasi orang-orang didalamnya. Kita pun tidak perlu khawatir kehilangan barang-barang bawaan.

Jika ditinjau dari aspek lingkungan fisik, Ev Hive The Maja juga telah memenuhi unsur kebersihan, baik di ruang kerja maupun di toilet. Ada petugas cleaning service yang membuat ruangan bebas debu di setiap sudutnya dan tercium aroma wangi yang memungkinkan pengunjung betah bekerja dan terasa semakin menyenangkan selama berada di ruangan ini.

Suhu udara didalam ruangan Ev Hive The Maja pun sudah baik dimana terdapat AC untuk setiap sudut ruangan. Jika pengunjung ingin merasakan bekerja di luar ruangan tanpa AC juga tersedia 4 meja dengan latar alami yang siap merelaksasi ketegangan dalam menyelesaikan pekerjaan. Area beranda ini semakin sempurna, karena pengunjung tetap tidak diperkenankan untuk merokok.

Sesuatu yang paling berharga selama aku bekerja menggunakan layanan Ev Hive yaitu aku juga bisa berbincang, bertukar ide atau berbagi informasi dengan pengunjung lain dari latar belakang pekerjaan berbeda. Aku pun mendapat konklusi bahwa bekerja di coworking space tidak hanya mendapat tempat kerja, ruang pertemuan, tetapi juga jaringan yang bisa membuat bisnis semakin berkembang. Maka, budaya kerja itu yang harus disebarkan pada pengembangancoworking space di Indonesia seperti yang telah dilakukan oleh Ev Hive. Untuk lebih lengkapnya silakan kunjungi situs EV Hive di www.evhive.co

Ev Hive to do impactful work and contribute to the society. The purpose is bigger than the place*

Sabtu, 29 Juli 2017

Filosofi Kopi 2: Tentang Duka, Luka, dan Wanita yang Bertemu Dengan Ego Para Pria



     Berawal dari sebuah buku laris karya Dewi Lestari, cerita Filosofi Kopi divisualisasikan ke dalam bentuk film sejak tahun 2015. Berlanjut dari hal itu, karya ini menjadi inisiasi sebuah kedai kopi yang juga dinamakan Filosofi Kopi. Tak berhenti sampai situ, Web Series Filosofi Kopi pun tayang melalui YouTube hingga akhirnya di tahun 2017 ini hadir kembali tayangan audio visual layar lebar berjudul Filosofi Kopi 2: “Ben & Jody”.


Perjalanan 2 tahun setelah Ben (Chicco Jericho) dan Jody (Rio Dewanto) memutuskan untuk menjual kedai kopi mereka dan berkeliling Indonesia demi membagikan “kopi terbaik’ menemui jalan buntu. Perjalanan mereka merintis usaha seolah tak memiliki akhir dan tujuan hidup. Puncaknya, terjadi suatu malam di Bali, saat para karyawannya yang bernama Aga, Aldi, dan Nana memutuskan untuk mengundurkan diri dengan alasan masing-masing. Filosofi Kopi pun seakan hanya mitos.

Ben dan Jody kini harus mulai mimpi baru dan pulang ke Jakarta. Ben membujuk Jody untuk kembali membuka kedai lama di daerah Melawai yang sudah tampak usang. Mimpi Ben yang idealis tidak begitu mudah ditempuh karena Jody sudah terlalu jemu untuk menghidupkan lagi kedai Filosofi Kopi yang pernah dibangunnya itu. Jody pun sadar selalu berada di bawah bayang-bayang Ben. Konflik persahabatan mereka mulai teruji.

Dalam usaha mereka mencari suntikan dana dari investor baru, Ben dan Jody dipertemukan dengan seorang wanita dewasa bernama Tarra (Luna Maya). Ia muncul untuk memberi harapan baru agar kedai Filosofi Kopi bisa buka seperti sediakala. Tanpa berpikir panjang, Ben yang terpincut dengan Tarra sejak awal langsung menandatangani surat kesepakatan kerja sama yang salah satu pointnya mengatakan bahwa syarat kepemilikan kedai akan dikuasai 49% oleh Tarra dan Ia mampu mempersiapkan dana 2,5 milyar untuk membangun kembali Filosofi Kopi.

Awalnya, Jody yang penuh perhitungan menolak permintaan Tarra. Namun, Ben memaksa Jody untuk menyanggupi permintaan Tarra apapun itu alasannya. Sulit memang mencari investor seperti Tarra yang begitu berani.

Lets the journey begin. Kedai pun dibuka. Lama-kelamaan kedai Filosofi Kopi bangkit dengan pengembangan sayap cabang di Jogja yang juga menghadirkan barista baru dengan karakter geek bernama Brie (Nadine Alexandra). Tokoh Brie hadir atas referensi dari Jody yang telah merekrut karyawan tersebut. Namun, Ben tidak suka akan kehadiran Brie karena dianggap masih terlalu junior untuk menjadi seorang barista di kedai Filosofi Kopi yang sudah punya nama.

Pertemuan terhadap Tara dan Brie tersebut membawa Ben dan Jody bertaruh akan persahabatan mereka. Kehadiran mereka justru membuat Ben dan Jody memulai kisah-kisah baru yang saling berpengaruh akan keberlangsungan bisnis kedai kopi itu sendiri. Ada problematika yang memacu mereka untuk tetap merenungi tentang apa yang mereka cari selama ini.

Dari awal hingga akhir cerita, mereka berusaha melengkapi agar tidak berdiri sendiri di atas egosentris yang dipertaruhkan. Bayang-bayang Tarra dan Brie memberi percikan konflik untuk refleksi yang dilakukan oleh Ben dan Jody. Keberanian wanita-wanita tersebut berhasil menyembuhkan luka dan duka yang telah dialami para pria.

Tarra dibentuk sebagai sosok perempuan mandiri. Brie hadir sebagai karakter perempuan cerdas. Tak sekedar berperan sebagai pemanis, tokoh ini hadir memberi warna tersendiri yang mumpuni untuk mengokohkan cerita tentang hal-hal yang bersifat pribadi. Fantasi kisah cinta segi empat pun berhasil diracik namun tidak mampu mengelabui penonton karena tak terbalut dalam nuansa penuh teka-teki.
Unsur percintaan hadir sebagaimana film-film lainnya. Berawal dari benci, benih-benih cinta seolah menguatkan untuk berkata bahwa pada akhirnya pasangan itu sudah memiliki takdirnya. Kombinasi dramatik yang mengantar penonton untuk larut dalam setiap adegan.

Cerita pun mengalir ringan namun tak berisi. Masa lalu kembali menghantui narasi yang dijejali pada kedalaman karakterisasi bukan konflik yang pasti. Gaya tutur yang bertele-tele memaksa penonton untuk masuk dalam suasana film yang penuh dramatisir.
Belum lama setelah Filosofi Kopi di Jogja resmi dibuka, Ben mendapat kabar dari Lampung bahwa ayahnya telah tiada. Dibalik kisah duka tersimpan cerita luka. Ayah Tarra yang merupakan pengusaha sawit memberi karangan bunga untuk ayah Ben yang telah tiada dan karangan bunga juga dikirimkan saat pembukaan kedai Filosofi Kopi di Jogja. Dari situ Ben mengetahui bahwa ayah Tarra merupakan salah satu direktur perusahaan sawit yang juga berperan dalam alih fungsi lahan kopi ke sawit hingga menyebabkan konflik agraria di Lampung. Konflik lahan tersebut menelan korban jiwa, salah satunya ibu dari Ben.
Ben tidak terima dengan realita bahwa Tarra merupakan putri dari pengusaha yang menggusur ladang kopi milik orang tuanya. Tidak hanya itu, Ben juga terjebak dalam emosi yang kuat antara dendam dan ketertarikan hatinya pada Tarra. Penonton bisa menebak dengan mudah kerumitan kisah ini.
Dalam situasi tersebut, Jody mengajak Tarra ke Makasar untuk urusan pengembangan usaha Filosofi Kopi. Berkali-kali Tarra mencoba menghubungi Ben tapi tak berhasil. Hingga Jody menceritakan kisah sebenarnya pada Tarra, bahwa Ben punya masalah dengan ayah Tarra. Mereka bercerita di sebuah pendopo kebun kopi di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan.
Beralih dari Tanah Toraja. Di Jakarta, Ben sangat fustrasi dengan persoalan yang dialaminya. Hingga akhirnya, ia berhasil menumpahkan curahan hatinya pada Brie, sosok perempuan yang awalnya tidak disukai oleh Ben. Ia bercerita tentang lahan kopi orang tuanya, alih fungsi lahan dan penggusuran yang dilakukan perusahaan ayah Tarra.
Ben memutuskan untuk meninggalkan Filosofi Kopi. Ben dan Brie yang merajut perasaan satu sama lain, akhirnya pergi ke Lampung untuk mengurus bibit kopi warisan ayah Ben, sementara Jody dan Tarra tetap di Jakarta untuk meneruskan usaha kedai Filosofi Kopi.
* * *  


Filosofi Kopi 2 hadir sebagai tayangan audio visual yang dekat dengan keseharian. Menonton film ini bagai meneguk secangkir kopi. Entah rasa apa yang terkecap lidah saat merasakan seruputan kopi tersebut. Namun, sebagai penonton, penulis menganggap bahwa Filosofi Kopi 2 menjadi tanpa rasa alias hambar.

Sekuel kedua kisah Ben dan Jody masih sama dengan yang pertama. Hanya saja filosofi cerita tidak sekuat dari kisah yang awal. Seolah tak ada benang merah atau tujuan untuk membawa pesan film ini ke mana. Entah tentang persahabatan, percintaan, atau filosofi kopi itu sendiri yang masih menerawang.

Berdasarkan sub judul Filosofi Kopi 2: Ben & Jody memang menyentak untuk fokus terhadap tema utama yang lebih menyentuh sisi pribadi. Mereka terlahir untuk menemukan persepsi kembali agar kedai Filosofi Kopi tidak pernah berhenti menjangkau pecinta kopi itu sendiri.

Lama-kelamaan alur cerita dibalut sedemikian rupa hingga tampak luntur filosofi dari setiap adegan. Sebagai penonton, penulis pun seolah melihat tayangan sinetron yang diputar di bioskop. Gaya bercerita semakin monoton karena adegan selanjutnya dapat dengan mudah ditebak oleh penonton. Tutur cerita yang berbelit-belit seakan menyajikan kopi tanpa susu atau gula kepada penikmat setia tayangan layar lebar.

Wajar saja ketika cerita tidak bisa fokus bertutur. Kisah lanjutan Filosofi Kopi 2 memang ditulis oleh pemenang kompetisi ide naskah terpilih. Terlihat sensibilitas terhadap esensi cerita pertama begitu beda. Sentuhan cerita pun tak mampu berkontribusi untuk membangun kisah ini dengan ekspetasi tinggi.

Its too much drama. Terlalu banyak unsur ‘kebetulan’ yang sengaja ditampilkan. Saat adegan ayah Ben meninggal, suasana duka dibalut dengan kondisi cuaca hujan. Entah hujan alami atau buatan, namun terkesan dipaksakan. Selain itu, tampak letupan kembang api dan petasan yang disuguhkan saat Ben dan Brie saling berbagi kisah dari hati ke hati. Tapi, tidak jelas apakah atmosfer tersebut dideskripsikan dalam nuansa tahun baru atau diciptakan sebatas dramatisir suasana. Adegan lain beberapa motor juga sengaja ditata tengah malam terparkir rapi di depan kedai Filosofi Kopi yang sudah tutup.

Kepadatan adegan juga membuat durasi dalam setiap moment berkurang. Adegan membersihkan kedai kopi yang begitu kotor, sekejap langsung selesai begitu saja. Hanya menyisakan tikus-tikus kecil sebagai animal property tambahan. Cerita pun semakin fiksi layaknya sinetron-sinetron di televisi. 

Setiap pengambilan gambar tampak tidak ada motivasi yang jelas dan fokus. Dengan dalih ingin memperlihatkan kekhasan 6 kota di Indonesia dengan ciri khas masing-masing justru tidak mampu tersampaikan secara visual. Ada insert scene yang menyorot peninjauan tempat untuk membuka cabang kedai kopi baru di Yogyakarta dan Makassar, namun itu hanya selintas saja. Kemunculan transisi lokasi-lokasi film seperti Toraja dan Lampung juga ditampilkan dalam konteks visual yang cukup mengganggu. Jika menghilangkan transisi ini rasanya tidak akan meninggalkan esensi cerita. 

Dibalik kehilangan cita rasa yang kuat, color tone tampak memanjakan penonton dan dilengkapi dengan tata suara yang menghentak suasana. Setiap adegan hubungan emosional bromance atau chemistry antara Ben dan Jody juga menjadi daya tarik dalam film ini. Mereka mengalami konflik, namun hidup damai penuh toleransi antar sahabat begitu kental. Penonton diajak mengenal lebih dalam sosok Ben dan Jody dalam keseharian dengan penggunaan bahasa sehari-hari. 
Tak perlu menyakiti satu sama lain karena Ben dan Jody akhirnya memilih jalan hidup dengan sendirinya. Pengembangan karakter untuk transformasi filosofi hidup coba dibawa hingga akhir cerita. Ben dan Jody tetap hadir memberi nyawa.
Nadine Alexandra juga sanggup memberi nyawa segar sebagai Brie. Seorang wanita sarjana pertanian lulusan Melbourne, ternyata bukan orang baru dalam dunia kopi. Awalnya diremehkan untuk menjadi barista handal karena hanya mengenal kopi sejak kuliah. Dengan semangat pembuktiannya sebagai proses belajar dari penelitian lebih dalam yang pernah dilakukan terhadap seluk beluk kopi sejak dari benih, Ia pun tampil menyentuh halus kecongkakan Ben secara mulus hingga akhir cerita. Kecerdasan sebagai aktris pendatang baru dalam menerjemahkan tokoh begitu bagus. 

Namun, dramatisasi karakter justru terjadi. Figuran-figuran mengajak selfie bersama barista (Ben) dalam adegan menjadi distorsi. Ditambah penokohan Tarra yang sudah memilih Luna Maya sebagai pemerannya malah tidak bisa dihayati dengan baik. Sensualitas Luna mulai berkurang sebagai wanita cantik dewasa yang memikat pemuda sekelilingnya sejak awal in frame. Kerutan (keriput) di wajah justru tampak dan tak ada alasan logis dari sosok Ben yang tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Tarra. Akting Luna Maya saat sedih pun tak membuat penonton iba karena hanya terlihat sebagai ‘air mata buaya’ ketika menangis di kedai Kopi Ujung, Makasar.
Ada unsur karakterisasi juga yang bertolak belakang dengan Jody. Seorang lulusan luar negeri yang berpikir penuh pertimbangan, pragmatis, dan tenang, malah tidak mampu menjaga perkataan yang disampaikan. Dialog satire yang terucap dari Jody menyiratkan kehidupan keras seperti di jalanan. Apakah pecinta kopi berpendidikan identik mengucapkan kata-kata ‘Tai’, ‘Anjing’, ‘Babi’, dan sebagainya?.. Rasanya tidak. 


Konsistensi membangun bisnis dari nol mengalami jalur berliku yang harus dihadapi. Jatuh bangun sahabat sejati yang memutuskan untuk bewira usaha dengan membuka kedai kopi tampak teruji. Afiliasi Ben dan Jody pun mempertemukan pada suatu penyuguhan instropeksi dalam hidup. Ada duka, luka, dan wanita yang menyelimuti renungan hingga menyentuh relung-relung ideologi pribadi.

Intrepretasi terhadap pengalaman hidup yang telah dilalui Ben dan Jody pun tak bisa menjadi referensi mendalam untuk introspeksi. Kekuatan dialog maupun kontemplasi kata tak terbentuk menjadi point of view yang bisa dibawa oleh penonton. Kebersamaan yang tercipta atas nama persahabatan pun cukup tanggung jika diejawantahkan sebagai film bertema persahabatan.

Oleh sebab itu, happy ending dibuat untuk memaksakan ada kebahagiaan masing-masing dari karakter yang tercipta. Klise dan masih sama seperti film-film layar lebar lainnya. Overall, aku terganggu dengan cerita yang masih membelenggu dan kaku karena tak bisa memberi impresi seperti debut filosofi kopi tahun lalu. 


Inilah dinamika filosofi kopi 2 sebagai sajian duka, luka, dan wanita yang difilosofikan sebagai rasa yang bertemu dengan nyawa atau ego dari para pria. Walaupun dikomandoi oleh Angga Dwimas Sasongko dan Ben maupun Jody diperankan oleh aktor yang sama dengan sekuel pertama. Filosofi Kopi 2 menjadi penyesalan tersendiri dalam batinku karena memang tak mampu bersaing dengan sekuel sebelumnya.

Bagiku, ada hal yang lebih penting daripada menyeduh kopi, yaitu minum kopi. Sebagai sajian audio visual, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody hanya layak untuk diseduh, tidak untuk diminum. Hingga akhir cerita terselip sedikit pesan tentang kebutuhan budidaya penanaman kopi lokal, khususnya di daerah yang sedang membangun kembali dari bencana alam, seperti daerah sekitar Gunung Merapi. Tapi, porsi tersebut hanya selintas dan disosialisasikan hanya melalui pembelian tiket bioskop itu sendiri. 


Jangan buang sobekan tiketmu karena kamu bisa mendapat diskon untuk menyeruput kopi di kedai Filosofi Kopi. Selain itu, setiap pembelian tiket bioskop berarti kamu juga turut memberi donasi lebih jauh bagi orang-orang yang masih menanam kopi. Petani itu pemulia benih. Para petani kopi di desa juga punya nyawa untuk hidup layak karena kehidupan memiliki banyak rasa.


Akankah kejayaan film filosofi kopi terdahulu bisa dipertahankan saat ini? Penonton lah yang akan menilainya.



“Sesempurna apa pun kopi yang dibuat, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin disembunyikan.” ‒Filosofi Kopi