Tulis yang kamu cari

Adv

Ketika Blogger Belajar Jadi Vlogger


“Med, apa kegiatan lue sekarang?” tanya salah seorang teman dalam suatu pertemuan. Dengan lantang gue jawab “Ngeblog!”. “Hah, emang masih zaman buat tulisan? Bukannya semua orang lebih suka lihat video dibanding baca tulisan ... .”.
Sejenak gue terdiam mengiyakan pernyataan tersebut. Gue juga sudah menyadari fenomena ini sejak tahun 2016 saat netizen mulai mengenal Periscope. Hingga di tahun 2017 lalu, media sosial mulai menambah fitur video streaming melalui insta story dan facebook live.
Komunitas Indonesia Social Blogpreneur mengadakan Blogger Gathering 2018
Photo by. Mas Ono
Profesi menjadi vlogger atau youtuber pun mulai diperbincangkan hingga kini. Jujur, siapa sih yang nggak mau menjadi vlogger atau youtuber?. Pasti semua mau, termasuk gue. Cukup unggah konten berupa video terus bisa terkenal dan meraih penghasilan. Tapi, gue masih belum bisa mengajak orang untuk subscribe di akun YouTube gue. Belum ketemu arah konten video gue mau dibawa ke mana. Beda hal jika gue menulis dan memprovokasi banyak orang untuk membaca karya tulisan gue.
Untung ada komunitas Indonesia Social Blogpreneur (ISB) yang bekerja sama dengan CNI mengadakan “Blogger Gathering 2018 Part 1”. Tema workshop sesuai nih tentang vlogging yang mau gue pelajari. Apalagi pembicaranya Kang Dudi Iskandar, pentolan dari Kelas Blogger yang memang sudah jago buat konten video. Acara pun berlangsung dengan meriah karena para peserta mengenakan dress code merah di Burger King, Plaza Festival, Jakarta (4/3).
Kang Dudi Iskandar hadir sebagai pembicara workshop Vlogging

Sebelum membuat kesatuan video utuh, kita harus mengenal shot, scene, dan sequence. 3 elemen dasar ini akan membuat tayangan video lebih menyentuh rasa para penonton. Apalagi jika kita akan membuat video berupa tutorial atau review terhadap sebuah produk. Apa yang disampaikan dalam video akan menimbulkan pertimbangan para penonton untuk memutuskan pembelian suatu produk.
·        Shot
Satu rangkaian gambar tanpa interupsi. Satu shot terbentuk sejak tombol “rec” dipencet hingga tombol itu dipencet lagi. Ada 5 cara shot sederhana yang bisa kita terapkan dalam merekam video, seperti close up muka, close up aktivitas, wide shot, side shot, dan over the shoulder shot. Usahakan saat merekam tidak goyang (shaking).
·        Scene
Tempat atau setting kejadian berlangsung. Dalam satu scene bisa terdiri dari beberapa shot atau gabungan beberapa shot yang disusun sesuai alur cerita.
·        Sequence
Rangkaian scene atau shot yang merupakan kesatuan utuh. Satu sequence bisa berlangsung pada satu setting atau beberapa setting.

Setelah 3 unsur itu kita kenal dengan baik, lanjut untuk konstruksi isi video. Konten video lebih terlihat nyata jika visual apa yang ditampilkan tidak dibuat-buat. Para vlogger harus mampu menangkap momen yang pas karena hal tersebut tidak dapat terulang lagi. Misal, kisah liburan dengan orang-orang kesayangan, makan bersama teman-teman, tingkah laku balita yang lucu, perilaku hewan yang aneh, hingga momen-momen yang hanya terjadi sekali saja. Spontanitas video ini bisa dengan mudah viral di media sosial karena tanpa rekayasa.

Kang Dudi Iskandar menjelaskan tentang cara membuat video
Kang Dudi mengatakan, konten video itu bisa dengan mudah direkam menggunakan smartphone yang kita genggam. Keuntungannya, lebih ringan atau ringkas, murah, selalu ada di tangan, kemampuan rekam sudah Full-HD, dan suara stereo. Dibalik itu merekam dengan smartphone juga memiliki kelemahan seperti sensor lebih kecil sehingga kualitas video tidak sebagus DSLR atau Mirrorless, fokus tidak bisa dibuat manual, bukaan diafragma lensa selalu tetap, dan noise saat direkam dalam kondisi minim cahaya.
Untuk siasati hal-hal tersebut, kita bisa langsung olah video menggunakan aplikasi-aplikasi yang tersedia di dalam smartphone yang kita punya. Begitu banyak aplikasi olah video yang bisa diunduh bagi pengguna android maupun iOs. Untuk android, kita bisa mencoba Kinemaster, Filmora Go, Power Director, Viva Movie, dan Legend. Sementara iOs bisa menggunakan iMovie dan Splice. Pelajari juga aplikasi editing foto seperti Snapseed agar bisa menambah konten foto yang kece pada video yang kita buat.

Ada yang pernah coba menggunakan aplikasi-aplikasi di atas? Kalau gue sih lebih sering menggunakan Viva Movie. Tapi, pada kesempatan ini, Kang Dudi justru mengajari peserta lebih dalam untuk menggunakan Power Director dan Legend.
Aplikasi tersebut bagai bahan utama kita untuk mengolah video. Ada juga bahan-bahan pendukung yang biasa digunakan oleh Kang Dudi agar video terlihat lebih menarik. Sebagai contoh pada gambar di bawah ini:

Bahan pendukung pembuat video

Kang Dudi juga menyarankan agar mengupload video dengan full resolution. Jika memang kapasitas file terlalu besar dan ukuran ingin diperkecil, kita bisa menggunakan aplikasi Handbrake atau Video Compress.

Pilihan ukuran dalam resolusi video

Sayangnya, banyak konten video yang beredar saat ini tidak memperhatikan penulisan naskah untuk vlog. Mereka hanya fokus pada tampilan visual saja. Padahal ada juga beberapa langkah untuk menyisipkan tulisan dalam video yang kita buat, yaitu:
1. Perlu beri penjelasan bukan deskripsi
2. Gunakan bahasa lugas dan tepat. Jangan bermakna ganda.
3. Hindari formalitas
4. Gunakan kalimat aktif dan bahasa tutur
5. KISS (Keep It Short and Simple)
6. Pilih struktur kalimat sederhana
7. Satu kalimat maksimum 20 kata
8. Hindari rujukan tempat dan waktu yang terlalu detail.

Workshop tentang vlogging disponsori oleh Gerai CNI
            Di akhir gathering, para peserta juga diperkenalkan dengan partner CNI yang sukses menggelar Blogger Gathering part 1 di tahun 2018 ini. Ternyata, CNI sudah merambah bisnis digital loh dengan membuka gerai CNI secara online. Kehebatan produknya semakin memudahkan bisnis ini berkembang secara pesat.
            Konsumen yang ingin belanja pun cukup membuka situs www.geraiCNI.com karena situs ini memberi kecepatan dan kenyaman dalam mendapatkan produk CNI. Gerai CNI ini diharapkan bisa menjangkau konsumen di seluruh Indonesia sekaligus memudahkan konsumen yang ingin bergabung menjadi pelanggan atau anggota CNI. Proses pembayaran dan pengiriman barang juga terbilang aman karena gerai CNI bekerja sama dengan pihak-pihak yang profesional. Untuk metode pembayaran bisa dilakukan melalui BCA, Mandiri, Visa, dan MasterCard. Sementara jasa kurir agar barang sampai ke tangan konsumen akan dikirim melalui JNE atau Pick Up Order.

Oia, Blogger Eksis mulai coba belanja online di Gerai CNI nih sekaligus buat video tutorial cara belanjanya melalui aplikasi yang direkomendasikan oleh Kang Dudi. Berikut video yang dibuat:


😉 Gimana menurut teman-teman? 😀

6 komentar:

  1. untuk diamnya hanya sejenak dan langsung ikut workshop vlog yg berfaedah banget ya bang.. mantap ulasan plus video- nya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Video itu seru sih, cuma edit atau olah videonya terasa berat :D

      Hapus
  2. Wihhh langsung praktek bikin video, mantap :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap ilmu yang didapat dari workshop harus segera diamalkan supaya bermanfaat ;)

      Hapus
  3. Emang sih sekarang zamannya video tapi saya masih setia dengan blog. Kalau video palingan nonton kartun sama anak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba dikolaborasikan saja konten blognya dengan menyisipkan video. Lama-kelamaan pasti suka karena sebagai Blogger kita harus bisa mengikuti tren digital yang berkembang*

      Hapus