Tulis yang kamu cari

Adv

Temukan Gadis Setelah Matahari Terbenam


Review Film Meet Me After Sunset
Film Meet Me After Sunset bercerita tentang wanita muda bernama Gadis (Agatha Chelsea) yang hanya bisa ditemui setelah matahari terbenam. Gadis bersahabat dengan sosok lelaki berkepribadian cool bernama Bagas (Billy Davidson). Tanpa disengaja, Ia juga bertemu dengan sosok lelaki yang baru pindah dari Jakarta ke Bandung bernama Vino (Maxime Bouttier).
Gadis menjadi pujaan hati Vino karena sosoknya berbeda dari Icha (Margin Wieheerm) teman sekolahnya yang juga menaruh hati pada Vino. Gadis hanya bisa beraktivitas untuk keluar rumah setelah senja. Dengan hoodie merah sambil membawa pelita, Gadis keluar rumah pada malam hari menuju bukit untuk sekedar membaca buku atau menulis catatan harian.
Suatu hari saat Gadis keluar, Vino melihat dan mengikutinya. Vino penasaran dengan sosok wanita berjubah yang sering keluar rumah setiap malam.
Sosok Gadis terungkap saat Vino bersama ibunya yang bernama Vania (Febby Febiola) berkunjung ke rumah tetangga,  Pak Sastra (Izhur Muchtar) untuk mengantar kue. Ternyata, Pak Sastra ialah salah satu guru Vino di sekolah sekaligus ayah dari Gadis.

Vino pun semakin semangat mendekati Gadis. Namun, Vino harus berhadapan dengan Bagas yang lebih protektif. Meski Bagas punya sifat introvert, Ia terlihat peduli terhadap Gadis. Memang Bagas lebih kenal terlebih dulu dengan Gadis dan paham akan penyakit Gadis yang dideritanya. Apalagi Nenek Bagas (Marini Sardi) selalu mendukung hubungan Bagas dan Gadis.
Sementara Vino terus meyakinkan Gadis bahwa Ia lebih menyayanginya. Vino berusaha membuktikan bahwa Gadis akan lebih senang untuk melakukan segala aktivitas bersamanya di siang hari. Vino bertekad mewujudkan semua mimpi yang Gadis tulis dalam buku hariannya.

Gadis dilematis. Ia terjebak pilihan sulit yang membingungkan. Ada sosok nice guy dan bad boy yang harus Ia pilih untuk menemani hari-hari selanjutnya dalam kehidupan.
Sisi introvert Gadis justru hanya membuat penyakitnya semakin kritis hingga Vino juga harus melawan penyakit yang mematikan. Lantas, Bagas semakin terganggu akan kehadiran Vino yang bisa membahayakan kesehatan Gadis kapan saja.

Karakter Gadis dalam Film Meet Me After Sunset
Blogger Eksis menonton film ini pada Kamis tanggal 22 Februari 2018 di Cinema XXI Plaza Atrium Senen. Antusiasme begitu ramai karena bioskop dipenuhi oleh golongan pelajar putih abu-abu yang penasaran dengan kisah film ini.
Cerita yang ditulis oleh Haqi Achmad dan Fatmaningsih Bustamar begitu dinamis. Perumpamaan dari alam dengan deskripsi Vino sebagai sosok bad boy seolah mencerminkan matahari yang memberi ketulusan sinar tanpa pamrih. Gadis bagai bulan yang diterangi oleh matahari. Begitu juga dengan Bagas ibarat bintang yang mengitari bulan dan membuat malam lebih indah. Magical love story pun merangkum filosofi kisah cinta diantara mereka.
Blogger Eksis sempat berpikir, mengapa tidak diberi judul “Matahari, Bulan, dan Bintang” lebih terlihat metafora dan sesuai dengan visualisasi yang ada. Simbol yang terlihat akan semakin cerdas. Meet Me After Sunset justru kurang memberi esensi terhadap cerita. Bahkan, visual sunset tidak ada yang sedap dipandang mata selama durasi 2 jam 24 menit.

Prolog terasa lambat. Adegan-adegan penasaran Bagas terhadap sosok wanita berjubah merah semakin tidak jelas. Apalagi saat Bagas mengejar dan menunggu wanita yang malah mengenakan mukena berwarna merah.
Jelang babak tengah jalinan hubungan Gadis dan Bagas juga tidak terdeskripsi jelas. Ada tarik ulur emosi, tapi tidak terasa begitu lepas.
Meski demikian, kisah cinta dalam film remaja ini tidak mengungkap kasih sayang berdasarkan kontak fisik yang terlalu banyak. Penonton tidak akan menemui drama percintaan yang saling berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman. Ungkapan cinta hanya terwakili melalui ekspresi tatapan mata.
Alur menarik sampai ke akhir karena mengalir tidak biasa. Penyakit dituding sebagai penyelesaian konflik asmara yang tidak terbata-bata. Hanya saja informasi tentang penyakit Xeroderma Pigmentosa dan penyakit jantung yang diderita oleh pemeran utama tidak terdeskripsi dengan baik. Tidak ada edukasi yang mampu menjelaskan kepada penonton secara eksposisi. Riset cerita seperti kurang mendalam untuk menunjukkan detail-detail ilmiah yang mendukung para penderita penyakit ini.

Dengan unsur kekinian, film juga mampu memasukkan dunia vlogging yang happening dan digandrungi anak zaman now. Dadang (Yudha Keling) sebagai sahabat baru Vino yang berperan menjadi vlogger bisa menghibur penonton. Ia memang sudah dikenal sebagai stand up comedian sebelumnya.
Namun, perkembangan karakter Dadang tidak terlihat signifikan. Misal ada adegan Dadang mengejek Gadis saat berpakaian astronot ke sekolah. Lalu tak ada reaksi dari Vino untuk membela pujaan hatinya. Semua karakter pun terkesan bisa menjadi baik dengan begitu cepat saat mereka berkonflik.
Di akhir cerita, Vino juga sempat terlihat membuat video untuk menjelaskan kepada penonton tentang penyakit yang dideritanya. Lantas, sejak kapan Vino juga suka merekam video seperti yang dilakukan oleh Dadang.
Begitu juga dengan kejutan yang diberikan oleh Vino kepada Gadis seperti kostum astronot yang seolah sudah dipersiapkan dan bisa dipakai kapan saja. Film kurang memperhatikan pergerakan dari adegan-adegan sebelumnya sehingga visual terkesan sia-sia dan konstruksi cerita tidak terbentuk secara pasti.
Pemeranan semakin membosankan. Pendalaman karakter tidak dilakukan berkelanjutan. Jika dilihat dari kualitas akting, Billy Davidson terlihat lebih matang sebagai petugas penjaga penangkaran rusa. Ia berupaya maksimal, meski masih ada adegan yang tidak memberi ruang baginya untuk tetap konsisten.
Sepasang pemeran utama malah tampak kaku dan hanya terlihat mengandalkan penampilan fisik semata. Agatha Chelsea, mantan idola cilik yang menjelma sebagai Gadis berusia 16 tahun hanya tampil seperti putri kecantikan yang penuh fantasi. Begitu juga Maxime Bouttier hanya menjadi bad boy yang terlalu tidak peduli terhadap sosok yang dicintai. Banyak dialog dan gerakan dari Vino yang tidak mampu memberi arti dalam setiap adegan. Chemistry mereka pun dipertanyakan.
Aktor dan aktris senior yang menjadi pendukung juga tampil biasa saja. Berperan sebagai orangtua yang memiliki anak dengan penyakit masing-masing, hanya membuat mereka khawatir. Iszur Muchtar, Ida Bagus Made Oka Sugawa, dan Febby Febiola tak terlalu memainkan ekspresi dengan penjiwaan yang membekas dalam mata penonton. Saat Febby Febiola sedang marah terlihat seperti orangtua yang lebih mengalah terhadap anaknya. Tidak ada penampilan akting memukau sehingga penonton sulit bersimpati terhadap karakter dan penyakit yang diderita oleh masing-masing pemeran utama.

Tata musik dan suara tidak terasa menghanyutkan. Original soundtrack berjudul “Sunset” yang dinyanyikan duet Maxime Bouttier dan Agatha Chelsea kehilangan unsur romansa. Ditempatkan tidak sesuai pada momen-momen dramatis penuh kasih sayang. Begitu juga ada suara yang terdengar lebih dahulu dibanding visual. Saat Dendy bilang “Maneh naksir sama Gadis?”, visual masih bertahan pada adegan sebelumnya.
Visualisasi menjadi semakin fiksi ibarat penonton melihat kisah fantasi dari negeri dongeng. Hampir 80% film Meet Me After Sunset menggunakan teknik Computer Generated Image (CGI). Hujan meteor pun terkesan seperti bintang jatuh karena tidak tergarap maksimal. Selain itu, adegan saat menangkap kunang-kunang yang kelap kelip ke dalam toples juga kurang bergairah.
Meski dalam beberapa sisi, unsur CGI mampu membangun mood penonton kembali. Latar film yang lebih banyak memanfaatkan situasi malam hari berhasil disiasati. Nuansa film dijejali dengan kisah fantasi yang tidak sekedar ilusi. Ada adegan flashback yang terlukis manis melalui filosofis animasi grafis .
Lebih dari itu, Meet Me After Sunset tidak membuat penonton terus berada dalam dunia dongeng yang penuh keajaiban. Latar tempat tersaji merepresentasi keindahan kota Bandung. Lokasi syuting di daerah Alun-Alun Kota Bandung, Ciwidey, Pangalengan, Padalarang, Ranca Upas, dan Stone Garden mampu terwakili seiring plot yang dibuat untuk mengecoh penonton demi melihat sosok Gadis setelah matahari terbenam.
Agatha Chelsea berperan sebagai Gadis dalam Film Meet Me After Sunset

Dia matahari hidupku. Mengubahku jadi sesuatu yang baru.
Matahari telah tiada, tapi dia tidak kemana.
Dari senja, kita tahu bahwa matahari akan terbenam. Tapi, Ia seolah menyampaikan kepada bintang untuk menyampaikan kepada bulan agar selalu bercahaya*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar