Tulis yang kamu cari

Adv

Hipotesis Takut Kawin dari Sudut Pandang Pria

Keputusan untuk menikah bukanlah hal yang mudah. Keraguan kadang timbul untuk percaya bahwa kita akan selamanya bersama pasangan. Pernikahan itu hanya sekali seumur hidup, jadi harus serius menentukan agar suatu hari nanti tidak ada penyesalan.
Nyatanya lama berpacaran juga tidak akan menentukan dengan kesiapan menikah yang lebih matang. Kondisi itu yang juga sering menghantui para jojoba (dibaca: jomblo-jomblo bahagia) termasuk Blogger Eksis. Merajut pernikahan butuh pemikiran yang matang demi kehidupan rumah tangga mendatang.

Film Takut Kawin bercerita tentang Bimo (Herjunot Ali) dan Lala (Indah Permatasari) yang sudah lama berpacaran dan ingin mengakhiri masa itu. Mereka selalu dipertanyakan kapan kawin karena desakan dari orangtua dan teman-teman seangkatan yang telah menikah terlebih dahulu. Ada hal yang mengusik pikiran Bimo, meski Lala ingin segera melangsungkan pernikahannya. Kesiapan mental dan finansial terasa mengganggu prosesi yang harus disegerakan ini.
Lama-kelamaan kemantapan hati datang. Bimo memutuskan untuk menikahi Lala. Layanan katering, gedung, undangan, dan pelaminan mulai dipesan. Persiapan foto pre-wedding pun tampak dilakukan. Sampai apartemen yang akan digunakan untuk tinggal bersama sudah disetor uang mukanya.
Badai itu tiba menjelang hari H. Keraguan Bimo muncul karena kabar buruk dari sahabat yang belum lama menikah bernama Romy (Junior Liem). Romy memutuskan ingin cerai dari istrinya. Sahabat Bimo lain seperti Harris (Adjis Doaibu) dan Ganda (Babe Cabita) juga turut mempengaruhi pemikiran Bimo sebelum melangkah lebih jauh.
Selain itu, pernikahan orangtua Bimo juga mengalami pertengkaran. Mami Bimo (Asri Welas) memiliki penghasilan lebih tinggi dibanding papinya (Denny Chandra). Mami pun berkuasa dan mendominasi di lingkungan keluarga Bimo. Kondisi rumah tangga yang penuh konflik dan sulit terlihat mulus.
“Buat apa aku nikah? Kalau aku ngelihat papi sama mami ribut!”

Menikah seolah menjadi awal dari penderitaan berumah tangga. Ada penghasilan yang harus dibagi kepada pasangan. Ada tantangan yang harus dipenuhi demi kebutuhan. Ada kekurangan yang harus diterima apa adanya.
Lalu, apa yang terjadi? Bimo ingin menunda pernikahannya dengan Lala. Keputusan ini tentu membuat Lala berubah pikiran.
Seperti apa kelanjutan kisahnya? Saksikan di bioskop ya!

Film Takut Kawin yang bergenre komedi telah diproduksi Amanah Surga Production (ASPro) dibawah naungan sutradara Syaiful Drajat. Blogger Eksis hadir pada gala premiere di CGV Grand Indonesia. Ada prosesi unik karena premiere ini juga menghadirkan konsep nikah masal.
Ide cerita film begitu bagus memandang ketakutan perkawinan dari persepsi pria. Hanya eksekusi cerita tidak cerdas sehingga lebih terasa film televisi yang ditampilkan dalam bentuk layar lebar. Alim Sudio tidak berupaya cadas membungkus cerita dengan perpaduan drama antara elemen romantis dan komedi yang manis.
Pengadeganan pun berjalan tidak logis sehingga alur berlalu cepat. Seharusnya film berfokus pada konflik batin antara Bimo dan Lala. Hanya saja sutradara cenderung membangun cerita dengan terlalu banyak karakter yang tak mendapat porsi secara proporsional. Mereka hadir masing-masing sehingga energi film terkesan tidak menyatu.

Ekspetasi terhadap pemeran utama juga tak sampai. Nama besar bintang film seperti Herjunot Ali dan Indah Permatasari belum bisa memuaskan penonton. Chemistry sebagai pasangan tidak terlihat nyata bagai mimpi di siang bolong saja. Adegan Bimo dan Lala berantem di bundaran Hotel Indonesia (HI) tampak begitu kaku.
Apalagi karakter Junot seolah berada di dua sisi. Ada momen dramatis, namun bisa juga Junot hadir dalam sisi yang komedi. Ada keluguan sebagai anak rumahan yang membuatnya sulit untuk menentukan keputusan. Karakter Bimo pun terbentuk labil. Ia takut mengambil resiko. Di sisi lain, Bimo terlihat punya jaringan persahabatan yang asyik dan karir yang memadai.
Semua terasa serba tanggung. Kenapa Junot tidak hadir sebagai Bimo yang konyol saja agar bisa ikut mengocok perut penonton supaya masuk ke unsur komedi secara langsung.
Lala yang berkarakter ambisius, keras kepala, perfeksionis, dan tegas juga tidak berhasil diperankan oleh Indah Permatasari. Kegalauan hatinya belum tersampaikan dengan lugas kepada penonton.
Sebagai film komedi, hanya adegan-adegan saat stand up comedian in frame yang bisa menggelitik penonton. Komika seperti Babe Cabita dan Adjis Doa Ibu terlihat lebih menjiwai sebagai sahabat yang saling mempengaruhi. Selebihnya lelucon hadir setengah-setengah sehingga penonton sulit untuk menanggapi.
Ekletis para pemeran pendukung juga terlihat lebih dominan. Asri Welas, Deny Chandra, dan Junior Liem lebih berkarakter. Hanya saja porsi mereka untuk tampil tidak terlihat banyak.

Overall, Blogger Eksis cukup excited dengan original soundtrack yang merdu. Lagu bertajuk Kau Seputih Melati yang dinyanyikan oleh Harsya Rieuwpassa begitu menggoda. Lantunan lagu mengiringi akhir cerita yang biasa saja namun terasa lebih syahdu.


Akhirnya, Takut Kawin memberi pesan tentang pandangan pernikahan dari persepsi kaum pria. Pernikahan dituding sebagai persiapan kehidupan rumah tangga. Dibutuhkan kemampuan finansial yang mapan dan kemantapan mental yang terdepan.
Pengendalian diri atas ego diperlukan untuk menyatukan dua pemikiran berbeda. Pernikahan harus didasarkan untuk menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Meski ada hal yang bertolak belakang, kita harus siap untuk saling melengkapi.
Ikuti langkah untuk menikah. Kuasai jalan pemikiran agar tidak tersesat. Meski keputusan terasa sulit, yakinlah ada hari-hari baik yang bisa dilalui dengan mudah esok hari. rumput tetangga belum tentu lebih hijau daripada rumput sendiri.

Takut Kawin, isu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pernikahan tidak lagi menjadi hal yang didamba semua orang karena kita sering kali terlalu banyak pertimbangan. Jadi, kamu masih takut kawin?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar