Tulis yang kamu cari

Analytics

Adv

Pecandu Gawai harus Lawan Neuropati demi Kesehatan Saraf Tepi

Blogger Eksis merupakan pecandu gawai
    Gaya hidup digital sudah mengakar dalam kehidupan modernisasi seperti sekarang. Mulai dari kita membuka mata saat bangun tidur, gawai menjadi hal yang paling dicari. Internet sudah menjadi bagian dari sisi hidup kita hampir sepanjang hari. Bukan hanya sekadar ponsel cerdas (smartphone), gawai (gadget) yang lebih wearable dekat dengan keseharian menyebabkan kita semakin tak lepas dari teknologi. Fenomena ini bagai candu karena intensitas yang mempengaruhi produktivitas.


Penetrasi internet yang merasuk dalam kehidupan sehari-hari tentu berpengaruh secara psikologis. Sebut saja nomofobia, gejala atau sindrom penggunaan gawai yang mengganggu kesehatan. Nomofobia bisa membuat pengguna gawai cemas saat Ia menyadari tidak ada gawai dalam genggamannya. Pecandu gawai tersebut akan merasa ketinggalan informasi yang didapat akibat dari tidak terhubung jaringan internet yang cepat.
Lebih lanjut, para pecandu gawai akan merasa resah saat tidak bisa memeriksa ponsel cerdas selang waktu beberapa menit. Mereka juga lebih gelisah ketika gawai yang dipunya justru ketinggalan di rumah. Banyak juga yang mati gaya karena daya baterai gawai habis tak tersisa.

    Gaya hidup digital yang dialami oleh para pecandu gawai menghasilkan generasi menunduk. Mereka lebih dominan mengikuti kegiatan secara daring dibanding luring. Bahkan saat berjumpa dengan teman-temannya di kafe, mereka tampak tak asyik bercerita karena sibuk dengan gawai masing-masing.
    Pemuda-pemudi yang candu gawai tersebut didominasi oleh kalangan milenial. Mereka terbiasa mengerjakan semua hal hanya dengan menggerakkan jempol. Riset Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2017 menyatakan hampir 50% pengguna internet di Indonesia berusia 19-34 tahun.  Dengan memanfaatkan gawai yang mereka punya, mereka akses internet untuk membuka media sosial, menjelajah search engine, bermain game, menonton video, mencari informasi tentang sebuah produk, dan mengunggah swafoto mereka. Data APJII juga mencatat kepemilikan gawai di Indonesia berdasar populasi lebih didominasi setengahnya dengan kepemilikan smartphone atau tablet yang mudah dibawa kemana saja.


data kepemilikan gawai berdasar jenis perangkat

     Fleksibilitas gawai membuat kita lupa waktu saat menggunakannya. Mau sambil duduk atau berdiri seolah kita tak peduli karena hal terpenting gawai selalu ada dalam genggaman tangan. Jika kita menghitung berapa lama waktu yang kita habiskan untuk memegangnya, rasanya tak terhingga.
      Sadar atau tidak sadar, kebiasaan seperti itu yang dilakukan berulang-ulang setiap hari dapat memperluas risiko gejala neuropati. Kerusakan saraf tepi ini dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani segera dengan optimal. Informasi tersebut Blogger Eksis dapat saat menghadiri acara media briefing “Love Your Nerve with Neurobion” pada 27 Maret 2019 di Courtyard CafĂ©, The Hermitage Hotel, Menteng. Acara tersebut diadakan oleh PT. P&G PHCI Indonesia bekerja sama dengan Inke Maris & Associates.

Lawan Neuropati untuk Gaya Hidup yang Lebih Sehat

acara media briefing Love your Nerve

Neuropati merupakan kondisi gangguan dan kerusakan saraf ditandai dengan gejala seperti kesemutan, kebas, dan kram. Risiko Neuropati bisa menghantui para pecandu gawai yang gaya hidupnya serba digital. Kerusakan saraf tepi ini akan mempengaruhi kualitas hidup dan menyebabkan gangguan sensorik maupun motorik.

Kamu sudah tau belum urgensi atau kinerja dari saraf tepi itu seperti apa?
Saraf tepi itu merupakan sistem yang terbagi 2. Pertama, saraf otonom yang terangkai dari otot-otot jantung. Kedua, somatik yang merangkai otot-otot rangka tubuh. Saraf tepi menjadi penghubung saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dengan seluruh organ tubuh (organ dalam atau sistem kardiovaskular yang terdiri dari jantung/kardio dan pembuluh darah/vaskular, sistem panca indera, sistem ekskresi seperti kelenjar keringat, kulit, dan sebagainya). Ketika saraf tepi mengalami kerusakan maka akan muncul gejala-gejala yang dikenal dengan istilah neuropati. Untuk lebih jelas, gejala apa saja yang timbul bisa langsung cek gambar.

infografis gejala neuropati
Menurut dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K) dari Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat mengatakan aktivitas dengan gerakan berulang dapat menjadi faktor risiko neuropati, termasuk penggunaan gawai terlalu lama. Bagian tubuh pengguna gawai yang berisiko terkena neuropati adalah tangan karena dapat menyerang saraf tangan dan menyebabkan kesemutan atau kebas hingga rasa nyeri yang menetap. Pencegahan dan pengobatan dini neuropati sangat penting untuk dilakukan mengingat kerusakan saraf akan bersifat ireversible apabila kehilangan serabut saraf di atas 50%.
Manfaluthy Hakim sebagai pembicara dari Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi
Terus dampak dari neuropati apa saja yaa?
1.    Luka
2.    Penurunan berat badan
3.    Penurunan kekuatan motorik
4.    Penurunan sensasi rasa sehingga mudah terluka
5.    Impotensi
6.    Depresi

Wah, bahaya juga yaa efeknya. Melihat kondisi tersebut, Neurobion berkomitmen untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan dapat menjalani hidup berkualitas melalui kampanye terintegrasi bertajuk Total Solution yang mengajak masyarakat untuk merawat sarafnya. Adapun kegiatan yang dilakukan seperti:

1.    Deteksi dini 
  Serabut saraf bisa melakukan regenerasi jika neuropati didiagnosis lebih awal. Melalui kegiatan ini, Neurobion berkomunikasi terhadap publik untuk melakukan edukasi terhadap gejala, dampak, dan pencegahan dari Neuropati itu sendiri. Pemeriksaan dini bisa dilakukan oleh siapa saja melalui Neuropathy Check Point dan Neuromobi yang biasa diadakan di kota-kota besar. Pelayanan ini diperlukan untuk mengetahui gejala yang masih ringan sehingga bisa diatasi setelah konsultasi dengan tenaga medis yang ditunjuk.
tahapan neuropati dalam deteksi dini
2.    Olahraga secara teratur 
  Senam kesehatan saraf yang disebut NeuroMove harus dilakukan secara aktif. Gerakan senam ini begitu menyenangkan dan sederhana. Kita bisa mencobanya dari rumah. Hanya butuh 10-15 menit saja setiap hari untuk membuat kondisi saraf lebih sehat.

3. Konsumsi asupan vitamin neurotropik (vitamin B1, B6, dan B12)   
  Jenis vitamin yang bisa dikonsumsi yaitu Neurobion Forte. Multivitamin ini memiliki kombinasi vitamin B1 sebagai sumber energi saraf, vitamin B6 untuk meningkatkan transmisi nadi saraf, dan vitamin B12 demi memulihkan dan menjaga sel saraf dari kerusakan. Vitamin ini terbilang aman untuk dikonsumsi jangka panjang.
Produk Neurobion ahlinya vitamin neurotropik
Neurobion biru untuk cegah dan atasi gejala ringan. Sementara Neurobion pink untuk atasi kebutuhan vitamin tinggi pada penderita diabetes serta usia lanjut.



    Setelah aku mengenal Neuropati, rasanya aku tak mau jadi candu gawai lagi. Gejala kesemutan sudah sering terasa saat aku terlalu lama senam jempol dengan gawai ketika menjadi buzzer. Jari tangan dan lengan kadang terasa kram. Kadang kala, aku juga merasa kesemutan di kaki setelah duduk berlama-lama menatap layar laptop. Sungguh mengerikan ketika neuropati mulai menghantui kehidupan sehari-hari.
    Kalau begitu, aku harus lebih rajin untuk stretching setiap 2 jam bekerja. Minimal 22 menit lah yaa dalam sehari. Dilengkapi dengan konsumsi Neurobion untuk perbaikan kualitas hidup secara signifikan agar selalu bugar.
    Disiplin gaya hidup sehat yang lebih baik akan menjadi cara ampuh demi menyayangi saraf kita. Kesehatan kita bergantung pada saraf kita. Mari cintai saraf kita seperti kita mencintai si dia!

Neurobion hadir sebagai produk vitamin neurotropik
 

3 komentar:

  1. Nahh kayaknya aku mulai ngerasain nih syaraf agak nyut2an mungkin kebanyakan megang HP ya.

    BalasHapus
  2. Wah, betul. Kalau udah pegang hape lama nggak enak di jari-jari. Akhirnya bikin kerjaan terbengkalai kalau terus-terusan gini.

    BalasHapus
  3. Bener-bener harus dibatasi nih penggunaan gawai biar tidak semakin merusak tubuh kita,apalagi radiasinya yang sangat berbahaya

    BalasHapus