LIFE MUST GO ON

Nini Thowok yang Menghantui Bioskop


“Keluarga adalah bagian tak terpisahkan dalam hidup kita.”

Layar bioskop tanah air kembali dihantui film bergenre horor. Film  tersebut adalah 'Nini Thowok' yang digarap rumah produksi TBS Films. Konon film ini diadaptasi legenda urban yang dikenal sejak dulu di wilayah Jawa. Nini Thowok merupakan boneka perempuan alias jelangkung.
Blogger Eksis hadir pada Gala Premiere Film Nini Thowok di Plaza Senayan pada malam Jum’at tanggal 22 Februari 2018 lalu. Banyak produser, sutradara, aktor, dan aktris yang juga hadir ikut menonton bersama undangan lain. Lokasi (venue) acara dihiasi berbagai atribut mistis yang terdapat dalam film.

Film Nini Thowok diawali dengan cerita adik perempuan yang masih cilik, Naya (Nicole Rossi). Tak lama sejak pindah ke tempat itu, Nadine mulai bingung dan kejadian mistis muncul satu per satu. Situasi mencekam saat Nadine membuka sebuah kamar yang sudah lama tergembok.
Setelah berhasil terbuka, kamar berisi benda-benda peninggalan pemilik hotel lama seperti lukisan dan boneka Nini Thowok. Menurut cerita rakyat, Nini Thowok itu boneka raksasa atau jelangkung perempuan yang digunakan sebagai media untuk berhubungan dengan roh halus. Nadine pun berani membuang boneka itu karena dianggap tidak perlu berada dalam hotelnya.
Sejak saat itu, kehidupan Nadine mulai tidak tenang. Ia selalu dihantui oleh makhluk halus yang mengganggunya sebelum tidur. Ia mencari tahu peristiwa apa yang pernah terjadi di hotel yang Ia tinggali kini. Mbok Ghirah (Ingrid Widjanarko) dan Pak Rahmat (Slamet Ambari) mulai menceritakan sosok pemilik awal hotel terseut yang bernama Nyonya Oey (Gesata Stella). Nyonya Oey dianggap masih gentayangan karena  mencari jasad anaknya yang sudah meninggal namun menghilang.
Hingga akhirnya, Pak Rahmat mengakui bahwa Ia tanpa sengaja menjadi penyebab kematian anak dari Nyonya Oey. Lalu, bagaimana kronologis tragedi kematian itu pernah terjadi di hotel Mekar Jiwo?


Film Nini Thowok dikomandoi atas arahan tangan dingin seorang Erwin Arnada. Cerita film diharapkan bisa me-recall ingatan penonton supaya sadar bahwa Indonesia banyak memiliki cerita legenda yang bermuatan unsur lokal.
Babak awal mengajak penonton untuk masuk ke dalam kamar terlarang penuh misteri. Tempo visualisasi yang lambat menyapa penonton untuk tetap sabar melihat kematian eyang yang misterius. Banyak simbol yang digunakan hanya tak bisa bertahan dalam koridor menakutkan.
Jelang tengah dan akhir, cerita semakin tidak konsisten membuka misteri yang mudah saja ditebak melalui narasi. Adegan-adegan kilas balik mulai membungkus cerita melalui hantu-hantu yang gentayangan dan mudah ditaklukkan oleh manusia. Fokus cerita pun semakin berkutat pada hal-hal gangguan mistis yang itu-itu saja. Tak ada ketegangan yang berarti apalagi saat adegan manusia bertemu dengan hantu-hantu di sekitarnya.
Beberapa adegan horor coba dieksekusi sutradara dengan gaya bercerita yang beda dari film-film horor biasa. Hanya penempatan suguhan pesan tidak mampu tersampaikan karena banyak adegan janggal atau terlihat disengaja. Ada adegan Nadine yang justru terlihat berlari ke arah hantu yang menggentayanginya bukan kabur ke arah lain.
Lama-kelamaan kisah misteri diungkap terbatas dengan durasi begitu cepat. Alur cerita mengalir sederhana sehingga tidak mencapai titik klimaks. Fokus alur hanya terlihat pada upaya mengungkap rahasia pemilik losmen tua tanpa efek ketegangan yang menakutkan. Hantu yang bergantayangan juga tampak mudah tunduk terhadap manusia sehingga tidak ada tarik ulur yang dinamis .
 Jump scare tidak akan membuat penonton kaget. Eksplorasi penampakan sosok hantu malah membuat penonton bingung. Losmen dipenuhi dengan sosok hantu nenek, hantu anak kecil, dan hantu Nyonya Oei. Hantu-hantu itu sengaja tampil untuk menakut-nakuti dan tidak berhasil masuk demi menjaga konsistensi cerita.

Akting para pemeran juga terlihat kaku untuk membuat penonton peduli dalam setiap tingkah laku yang diperankan. Gangguan mistis yang mereka alami tidak membuat penonton menjerit ketakutan.
Sebagai pemeran utama, Natasha Wilona tidak berakting maksimal. Ia hanya jadi magnet untuk menarik jumlah penonton datang ke bioskop. Selebihnya, adegan hanya menyisakan perputaran waktu dari pagi ke malam dengan transisi diri terhadap cerita ketakutan Nadine yang tidak berkembang.
Tunangan Nadine, Amec Aris (mantan drummer Band Lyla) juga terlalu kaku untuk berperan sebagai lelaki yang menjaga kekasihnya dari serangan hantu. Ada adegan saat Ia mencari Pak Rahmat ke dalam kamar yang gelap, namun Ia hanya membuka pintu sambil memanggil Pak Rahmat saja. Ia tidak masuk ke dalam kamar dan menyalakan lampu kamar itu. Sungguh adegan yang tidak terkonstruksi dengan layak.
Pak Rahmat dan Mbok Ghirah pun tak mampu menunjukkan posisi perannya hingga akhir cerita. Porsi Slamet Ambari dan Ingrid Widjanarko tidak mendapat adegan yang bisa mengukuhkan bahwa mereka justru menjadi tokoh sentral yang seharusnya berperan vital.
Mungkin hanya Jajang C. Noer dan pemeran anak-anak seperti Nicole Rossi dan Rasyid Al Buqhori yang memiliki akting apa adanya. Namun, mereka juga tidak mendapat porsi besar dalam cerita sehingga karakter tak berpengaruh untuk masuk sebagai pelaku dalam kisah film ini.

Komoditas film horor yang selalu dilabeli dengan unsur ketakutan pun tidak bisa ditemui dalam film Nini Thowok. Ide cerita yang terbilang fresh dibanding film-film yang beredar tak mampu diolah untuk membuat bulu kuduk penonton semakin merinding. Film ini bisa ditonton sebagai media hiburan, bukan untuk membangkitkan ketakutan.

Siapkah kalian dihantui boneka Nini Thowok?... .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar