Tulis yang kamu cari

Adv

3 Gerakan Kebaikan Menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital

Maskot dari Konsumen Cerdas
Maskot dari Konsumen Cerdas

Berdasarkan artikel yang Blogger Eksis baca pada perpustakaan digital bernama Wikipedia Bahasa Indonesia atau yang biasa disingkat WBI, konsumen merupakan setiap orang pemakai barang atau jasa yang tersedia, baik untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Maka ketika aku membeli barang dan jasa lalu memakainya dalam kehidupan sehari-hari, aku disebut sebagai konsumen.

Menjadi konsumen itu harus cerdas. Kata cerdas ini memiliki makna pandai memilih dan menyesuaikan antara kebutuhan dan keinginan. Konsumen cerdas juga harus mampu menilai dan mengkritisi produk mana yang lebih layak untuk digunakan. Banyak manfaat yang bisa diperoleh jika kita bisa berhasil menjadi konsumen cerdas.

Apalagi tahun 2018 disebut sebagai era digital. Banyak ragam barang atau jasa yang ditawarkan secara online. Biasanya para produsen menjual melalui web dan aplikasi (start up) lalu memanfaatkan media sosial dan instant messaging sebagai sarana pemasaran. Blogger Eksis dan teman-teman blogger lain juga punya banyak pengalaman sebagai konsumen cerdas yang memanfaatkan platform digital demi pelayanan kepuasan konsumen.

Belanja Online di Era Digital
Belanja melalui aplikasi menjadi pilihan terkini para konsumen dengan menggunakan gadget
(source: mediakonsumen.com)

      Begini ceritanya, sebut saja dia, Sam. Ia menggunakan aplikasi transportasi online buatan anak bangsa. Beberapa hari lalu ketika dia pergi, Ia melakukan pemesanan menggunakan layanan mobil online tersebut. Setelah layanan terpenuhi, ada power bank yang tertinggal dalam mobil. Ia sudah menghubungi pengemudi mobil, namun tidak mendapat tindak lanjut. Akhirnya melalui aplikasi layanan transportasi online tersebut, Ia memberi laporan bahwa ada barang yang tertinggal. Penyedia jasa layanan transportasi online langsung merespon dan mengirim power bank yang masih baru kepada Sam yang memang telah lama menggunakan jasa layanan tersebut.


Cerita kedua, panggil saja dia dengan Noval. Ia pernah membeli sebuah pulpen di salah satu toko buku. Sampai di rumah, Ia langsung mencoba pulpen itu dan hasilnya terlihat tidak terang. Untuk mengobati kekecewaannya, Ia mengirimkan direct message (DM) melalui media sosial, twitter. Setelah memberi informasi yang benar, jelas, dan jujur hingga mengirimkan bukti dan kondisi pulpen yang dibeli, admin twitter merespon dan meminta alamat lengkap dari Noval. Beberapa hari kemudian, Noval langsung menerima kiriman paket pulpen yang jumlahnya satu pak. Kompensasi yang begitu menyenangkan dari pihak perusahaan.

Ketiga yaitu pengalaman Blogger Eksis sendiri. Aku pernah makan di restoran cepat saji yang tidak memberi pelayanan prima. Ceritanya, aku makan di salah satu restoran asing saat akhir pekan. Ketika itu ada promo menggunakan kartu kredit jika memesan salah satu menu. Aku pun langsung melihat peluang dan saat melakukan pembayaran aku konfirmasi kembali dengan kasir. Dengan nada ketus, Ia menyatakan bahwa promo tidak berlaku karena mesin EDC sedang rusak. Sampai aku disuruh membetulkan mesin EDC tersebut jika tidak mempercayai ucapannya. Penyampaian kepada konsumen, bagiku cukup mengganggu saat itu. Apalagi pengalaman tidak mengenakan juga terjadi terhadap konsumen lain yang komplain terhadap pegawai tersebut dengan berbagai masalah (case).
Antrian semakin panjang. Aku masih mencoba untuk bersabar. Meski aku tak berhasil menemui manajer restoran di siang itu. Aku pun menyampaikan keluhan terhadap pelayanan dari restoran melalui web yang tertera pada struk pembayaran. Disana ada keterangan layanan feedback online yang bisa kita gunakan. Aku pun memanfaatkan link tersebut untuk menyampaikan keluhan. Beberapa hari kemudian, pihak restoran menghubungiku dan terjadi proses komunikasi dua arah yang menyelesaikan pengalaman tidak menyenangkan yang pernah aku alami. Case closed.
Selain itu, Blogger Eksis juga pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat makan di salah satu restoran lokal. Restoran ini identik dengan metode pembayaran menggunakan kartu yang telah diisi saldo. Mungkin konsepnya ingin membiasakan konsumen dengan implementasi cashless payment. Kita harus membayar terlebih dahulu baru mengambil makanan yang dibeli dengan menukar struk pembayaran. Hal ini memang mendukung gerakan masyarakat tanpa uang tunai (cashless society).
Tapi, kondisi demikian membuat aku semakin jeli. Aku memang orang yang selalu melihat struk pembayaran dengan teliti. Cuma hari itu, aku baru melihat kembali struk setelah selesai makan. Sampai aku menemukan angka ‘0’ atau nihil di dalam jumlah saldo kartu yang aku punya. Aku mencocokkan langsung dengan struk-struk transaksi sebelumnya pada kartu itu. Setelah dihitung harusnya masih tersisa saldo sekitar Rp50.000 yang ada di dalam kartu. Aku langsung konfirmasi kepada kasir dan mereka melakukan pengecekan kembali di hari itu.
Setelah diperiksa dengan sistem komputerisasi, mereka baru minta maaf karena melakukan penggesekkan kartu sebanyak 2x. Kejadian ini sungguh mengkhawatirkan karena sebelum makan di tempat ini, aku banyak membaca keluhan dari teman-teman blogger lain yang saldonya juga sering berkurang drastis tidak sesuai dengan jumlah pembayaran semestinya. Kondisi tersebut memberi kesadaran (awareness) untuk waspada dengan proses transaksi yang konsumen lakukan dimanapun.

Ketiga pengalaman di atas memberi deskripsi singkat tentang hak dan kewajiban sebagai konsumen. Ada itikad baik antara produsen dan konsumen dalam melakukan sinergi untuk mencapai kenyamanan dan kepuasan ketika mengkonsumsi barang atau jasa. Kebenaran dan keadilan pasti akan berpihak jika masing-masing mau menerima dengan terbuka dan jujur apa adanya. Penggunaan teknologi informasi pun semakin memudahkan siapa saja untuk mendapat perlindungan konsumen secara hakiki.
Paham perlindungan konsumen itu vital. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kecurangan-kecurangan yang sering dilakukan oleh produsen nakal. Selain itu, tindakan tersebut juga dinilai sebagai gerakan kebaikan untuk saling mengingatkan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berakhir di pengadilan.

Menjadi Konsumen Cerdas dalam Online Shopping
Belanja online menjadi tren digital yang memudahkan konsumen
(source: liputan6.com)

     
Pergeseran gaya hidup digital yang sedang berlangsung juga harus disikapi dengan bijak. Konsumen cerdas harus mampu memanfaatkan tren kekinian di ranah digital untuk menyampaikan kritik dan saran. Berbagi pengalaman melalui blog, web review, dan media sosial juga bisa dilakukan setelah kita mengkonsumsi suatu barang atau jasa. Sebarkan kebaikan dengan nilai-nilai positif didalamnya. Jika ada hal yang kurang berkenan coba lakukan komunikasi langsung terlebih dahulu seperti yang pernah Blogger Eksis lakukan. Saat solusi yang didapat belum memuaskan, baru bisa mengambil langkah selanjutnya. Jadi, konsumen cerdas tetap menyampaikan keluhan dengan suasana yang  sopan.

        Pendekatan digital juga dinilai semakin memanjakan konsumen. Begitu banyak barang atau jasa yang ditawarkan dengan ketetapan harga yang murah. Namun, kita harus yakini bahwa harga murah belum tentu memiliki kualitas barang atau jasa yang mumpuni.
      Jangan mudah tergoda dengan potongan harga atau diskon. Kita harus cek kembali harga di platform e-commerce lain atau di pasar, minimarket, supermarket, dan sejenisnya. Salah satu strategi yaitu buat kelebihan dan kekurangan dari barang atau jasa tersebut. Bisa dengan melihat garansi, multifungsi, atau komposisi barang dan jasa yang ingin dibeli. Jika tidak perlu, maka bisa ditunda sampai mendapat barang atau jasa yang berkualitas. Dengan begitu penghematan bisa dilakukan sesuai perencanaan keuangan yang penuh pertimbangan.

Nah, setelah Blogger Eksis menjelajah di http://harkonas.id maka pada tanggal 20 April 2018 nanti akan diperingati sebagai Hari Konsumen Nasional. Untuk itu, Blogger Eksis ingin memberikan 3 simpulan sebagai gerakan kebaikan agar kita bisa menjadi konsumen yang cerdas di era digital, seperti:

1. Sebagai konsumen cerdas, utamakan konsumsi produk lokal.
       Kemajuan perangkat siber membuat produk lokal dan produk asing terus bersaing di pasar global. Jika kita tidak memilih produk lokal, maka lama-kelamaan identitas bangsa akan semakin memudar. Kita harus menciptakan perubahan bahwa produk “made in Indonesia” bisa dikenal pada pasar internasional. Jika ragam produk lokal menjamur di pasaran dan mulai digunakan, secara otomatis harga yang ekonomis pun bisa semakin ditekan.

2. Sebagai konsumen cerdas, perhatikan pola konsumsi yang begitu tinggi.
     Jangan berlebihan dalam menghaburkan uang. Ingat, masih ada hari esok yang membutuhkan tabungan masa depan. Atur skala prioritas dengan menempatkan barang dan jasa sesuai keinginan atau kebutuhan. Niscaya kita bisa lebih bijak mengatur anggaran keuangan.

3. Sebagai konsumen cerdas, amati barang atau jasa yang ingin dibeli dengan saksama.
      Hal ini berlaku saat kita melakukan pembelian di dunia maya maupun dunia nyata. Visual yang ditampilkan dalam bentuk digital belum tentu sesuai dengan kenyataan. Cari tahu informasi tentang pengalaman-pengalaman konsumen lain yang pernah membeli atau menggunakan barang dan jasa tersebut.
        Lihat juga masa kadaluarsa produk, tanda Standar Nasional Indonesia (SNI), dan label manfaat maupun aturan pakai. Beberapa produk bahkan sudah menerapkan konsep scan bar code. Jika pengguna melakukan scan terlebih dahulu, maka akan diarahkan ke dalam web penyedia produk tersebut sehingga bisa diamati informasi tentang produk lebih lanjut.

Tunggu apalagi, Pemerintah telah berupaya melindungi konsumen di Indonesia melalui penetapan Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Sebagai konsumen cerdas saatnya kita bergerak bersama. Kita akan menjauh dari paham sekularisasi yang berkembang karena konsumen cerdas akan turut menjadi agen perubahan yang menyongsong perekonomian nasional dalam batas proporsional.

Wujudkan stabilitas perekonomian Indonesia yang semakin terarah. Segera bertransformasi menjadi konsumen cerdas dengan memulai dari diri sendiri sehingga akan berdampak menjadi gerakan kebaikan berbasis pendekatan digital. Selamat menjadi konsumen cerdas!.

Jika Kamu membutuhkan pos layanan informasi dan pengaduan konsumen, bisa langsung menghubungi:

Hotline                      : (021) 3441839
Website                    : http://siswaspk.kemendag.go.id
E-mail                       : pengaduan.konsumen@kemendag.go.id
Whatsapp                 : 0853 1111 1010
Google Play Store    : Pengaduan Konsumen


Ayo Jadi Konsumen Cerdas
Selamat Hari Konsumen Nasional 2018

10 komentar:

  1. Waw... mendalam banget ka penjelasannya...sebagai konsumen aku terkadang juga pernah mendapat perlakuan kurang ramah..pernah juga mengalami kesalahan harga di struk tinggi karena salah input...makasi ka blogger eksis atas penjelasannya ..selamat Hari konsumen Nasional :)

    BalasHapus
  2. Nah, sebagai konsumen cerdas kita harus paham kewajiban dan hak kita. Jangan takut untuk menerapkannya*

    Selamat menjadi konsumen cerdas...

    BalasHapus
  3. Kalau kata (alm.) Bang Napi, "Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya, melainkan karena adanya kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!" Penjual memang harus jujur dan profesional dalam memberikan pelayanan kepada para konsumennya. Tapi tetep saja, pada akhirnya konsumen harus lebih cerdas karena yang namanya oknum ada dimana-mana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Oknum itu bisa kapan saja berlaku jahat. Makanya gerakan kebaikan ini bisa mensiasati hal-hal yang tidak diinginkan oleh konsumen*

      Hapus
  4. Setuju!

    Kejujuran itu mahal harganya. Tak ternilai dari apapun. Niatkan diri untuk jadi Konsumen Cerdas deh mulai dari sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terus sebarkan kebaikan untuk edukasi dan sosialisasi agar banyak konsumen yang sadar dan mulai berpikir cerdas.

      Hidup kejujuran!

      Hapus
  5. Kayaknya yg cepat saji itu dari awal dia udah gak nyentuh2 mesin. nyuruh lu sendiri buat cek mesin itu. nanya pun gak digubris. parah sih itu menurut gue. dan sedikit mengganggu menurut gue diliatnya. si pelayan sibuk bikin pesanan.

    pengalaman belanja terburuk adalah, gue ditipu sama salah satu toko. ditipunya bukan lagi kecil. tapi mark up harga jutaan. gila sih ini. sampe gue trauma waktu itu mau ke tempat itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, lue lihat sendiri kan kondisi waktu itu hectic kaya gimana. Gue kan udah 2x kerja dibagian pelayanan, jadi udah paham standar-standar pelayanan itu seperti apa yang sesuai dengan budaya kerja.

      Wah, kalo ada case kaya gitu langsung lapor ke layanan pengaduan konsumen. Di akhir artikel ada informasi yang mungkin bisa membantu 👌🏼

      Hapus
  6. Setuju. Selain pihak produsen yang harus waspada dari konsumen nakal, kita yang konsumen juga harus waspada terhadap keteledoran pihak produsen. Yang penting semuanya harus dikomunikasikan dengan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Produsen dan konsumen harus jujur supaya menciptakan iklim keterbukaan yang terarah.

      Terima kasih telah berkunjung 😊

      Hapus