Tulis yang kamu cari

Adv

Sharifah, Jelita Sejuba yang Mencintai Kesatria Negara


Ku selalu mencoba
Untuk menguatkan hati
Dari kamu yang belum juga kembali
(Sharifah)
Putri Marino dalam adegan pada Film Jelita Sejuba











Blogger Eksis menghadiri press screening salah satu film Indonesia berjudul Jelita Sejuba pada tanggal 3 April 2018. Suasana acara di XXI Epicentrum begitu ramai siang itu dihadiri beberapa wartawan senior, media cetak, media online, dan masyarakat lokal dari Natuna. Semua penonton tak sabar melihat film Jelita Sejuba dalam durasi 94 menit ini.

Film bercerita tentang kehidupan Sharifah (Putri Marino) sebagai istri seorang tentara. Film tidak serta merta menyorot perjuangan tentara di medan perang. Jelita Sejuba menfokuskan diri pada gejolak hati Sharifah setiap kali ditinggal suaminya, Jaka (Wafda Saifan Lubis) untuk mengabdi kepada bangsa ini.
Natuna di Kepulauan Riau menjadi tempat bermula kisah asmara dua hati muda mudi yang masih belia. Sharifah, gadis lugu asli daerah itu dipersunting oleh seorang prajurit bernama Jaka. Hubungan mereka banyak yang menentang. Ayah Sharifah (Yayu Unru) lebih setuju jika Sharifah menikah dengan anak dari saudagar kaya di kampungnya. Begitu juga adik Sharifah bernama Farhan (Aldi Maldini) sebagai preman kampung justru sering terlibat perkelahian dengan Jaka.
Sampai ada suatu tragedi yang membuat ayah Sharifah meninggal. Jaka mulai diterima oleh pihak keluarga karena sempat menolong ayahnya yang tenggelam saat sedang berlayar mencari ikan. Sejak itu, Syarifah dan Jaka mulai direstui.
Namun, tantangan berat harus dijalani kembali oleh Sharifah. Mulai dari urusan administrasi pernikahan hingga saat tugas negara harus memisahkan. Sharifah dengan Jaka seolah berpisah untuk selamanya. Sharifah pun ditinggal dalam kondisi mengandung buah hati pertama.
Ketika si buah hati lahir dan bertambah usia, Andika (Yukio) sering bertanya “Kapan Ayah pulang?”. Rupa ayah juga tak dikenali oleh anaknya yang kerapkali ditinggal pergi. Kondisi demikian terkadang sulit untuk dijawab bagai soal matematika yang juga sering ditanyakan anaknya saat sedang mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dengan ibunya.

Lihat aku sayang

Yang sudah berjuang

Menunggumu datang

Menjemputmu pulang

Ingat slalu sayang

Hati ku kau genggam

Aku tak kan pergi

Menunggu kamu di sini

Tetap di sini

Press Screening Film Jelita Sejuba

Ide cerita datang dari produser eksekutif, Krisnawati. Ia merupakan salah satu wanita yang memiliki banyak teman yang juga menjalani peran sebagai istri dari tentara dalam kehidupan sehari-hari. Ia merasakan bahwa peran istri begitu hebat saat suaminya harus mempertahankan nyawa untuk negara. Ada keutuhan keluarga yang harus tetap dipertahankan saat keresahan seorang istri prajurit terasa. Keunikan ide cerita berhasil tertuang dalam rasa gelisah melalui kisah yang terpendam.
Alur cerita yang ditulis oleh Jujur Prananto berbeda dengan film cinta dalam kehidupan rumah tangga lain. Kisah cinta klise, tapi ini memang pernah terjadi. Sudut pandang istri yang ikhlas mendoakan suaminya bertugas begitu pas diceritakan dalam film ini. Ada pengorbanan yang banyak orang tidak pernah mengetahui bahwa istri tentara memiliki konflik batin yang harus diselesaikan sendiri.
Sebagai istri tentara ada hal yang sering disembunyikan. Mereka tidak boleh menggoyahkan konsentrasi para suami. Mereka harus sadar telah memilih turut mendarmabaktikan kehidupannya demi bangsa dan negara.

Sebagai sutradara, Ray Nayoan berusaha untuk mewujudkan bahasa tulisan ke dalam bentuk visual yang estetis. Ada beberapa bagian yang memiliki sensitivitas emosi serta gaya penggarapan adegan yang baik. Seperti saat mereka mengurus administrasi pernikahan.
Ada juga adegan melamar di atas bukit yang menjadi the most original marriage proposal scenes in cinematic story. Tampak dalam adegan ini, Sharifah coba meneropong ke pantai. Dari lubang teropong itu terlihat komplek tentara maupun barak. Jaka pun menjelaskan tentang kehidupan mereka ke depan akan berada di sana. Sungguh propose scene yang inovatif, not military stiffness. 'Its an underrated rare gem'.
Hanya saja Ray masih terlalu patuh dalam adegan yang seharusnya bisa digarap lebih esensial. Kisah patriotik Jaka saat memenuhi tugas dari negara belum terungkap jelas. Tantangan berat saat sineas harus memasukkan unsur perang yang sedang terjadi. Tugas yang dilakukan Jaka tak tergambarkan latar hutannya. Saat awal diceritakan Jaka ikut misi perdamaian dunia dengan PBB, lalu ada tugas negara di Afrika. Namun, visual yang ditampilkan terakhir seperti pemberontakan atau perang yang terjadi di Indonesia. Visual ini tidak terdeskripi dengan lengkap sehingga mengaburkan cerita.
Jelang akhir tempo film dipercepat. Ada adegan yang seharusnya tidak diperlukan memenuhi esensi cerita. Seperti saat Sharifah seterika baju seragam Jaka padahal Ia sedang bertugas entah dimana.
Treatment penyutradaraan membuat film sarat makna sehingga pesan yang disampaikan belum terkemas secara maksimal. Entah ingin dibawa film ini ke ranah apa, bisa fiksi, kisah nyata, atau hanya untuk promosi pariwisata dari Natuna. Frekuensi sudut pandang pun melebar jauh dari ekspetasi yang awalnya hanya diambil pada sisi hati seorang istri yang mencintai kesatria negara.

Poster Film Jelita Sejuba
      Lebih dari itu, akting Putri Marino begitu cantik dalam film ini. Ia memerankan pergerakan karakter dalam dimensi umur yang berbeda. Babak awal Ia harus berperan sebagai gadis lugu yang sedang jatuh cinta. Setelah menikah, Ia harus menjadi ibu muda sekaligus istri tentara yang tegar. Ekspresi dan hati seolah ikut bertransformasi ke dalam karakter senatural mungkin. Dialek Melayu Ranai khas Natuna mampu ditunjukkan secara total oleh peraih Piala Citra kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI tahun 2017 lalu.
       Pemeran lain juga tampil maksimal. Tiga prajurit yang sedang bertugas di Natuna  tampak menjadi tokoh prajurit yang natural. Meski di kehidupan asli mereka bukan  prajurit. Namun, mereka sudah melalui tahap bootcamp yang lama sehingga bisa menguasai karakter-karakter militer seperti dalam kehidupan nyata. Wafda Saifan Lubis yang memerankan Jaka terlihat mempesona. Padahal di kehidupan nyata hanya dikenal sebagai vokalis dari Volume Band saja.
      Dua sahabat Sharifah yang bernama Hasnah dan Rohani yang diperankan oleh Abigail dan Mutiara Sofya juga tampil apa adanya. Mereka membawa atmosfer romansa kisah cinta gadis-gadis lugu dari Natuna. Hanya saat Sharifah sudah menikah, karakter mereka justru tenggelam begitu saja. Mereka hadir kembali saat berada di pemakaman.
       Untung saja masih ada penampilan apik dari aktris senior, Nena Rosier sebagai Ibu Sharifah. Ada juga Harlan Kasman sebagai Nazir yang memang dikenal sebagai aktor lokal dari Natuna. Ia mampu tampil jenaka dalam akting yang ceria. Departemen akting pecah!.

         Keindahan Pulau Natuna sebagai latar tempat pengambilan gambar juga begitu apik menghiasi transisi. Tak ketinggalan visual dari tarian daerah dan adat istiadat mampu menunjukkan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Pesisir Sejuba yang didominasi batu-batu besar mampu menambah eksotisme visual dan membuat siapa saja siap untuk jatuh cinta.
Sejak awal, penulis begitu suka dengan tata musik dari film Jelita Sejuba. Ada kolaborasi antara musisi nasional dan musisi lokal yang begitu mengalun merdu terdengar halus di telinga penonton. Salah satu personel White Shoes & The Couples Company, Ricky Surya Virgana mengemas musik dengan dendang Melayu. Ia juga memasukkan unsur lagu “Jikalau” dari Naif ke dalam adegan Jaka saat merayu Sharifah. Begitu juga di akhir film, Ia menempatkan lagu “Gugur Bunga” yang menambah semangat patriotisme penuh haru.
Original soundtrack berjudul “Menunggu Kamu” yang dinyanyikan oleh Anji juga berhasil mendekatkan penonton untuk larut dalam audio visual. Kerinduan dan kekhawatiran Sharifah yang menunggu suaminya pulang begitu membekas dalam telinga penonton. Lagu tentang cinta yang menyokong rasa mendalam.

         Sisi humanisme dalam film perdana karya rumah produksi Drelin Amagra Pictures layak diapresiasi. Tim produksi mampu menempatkan film ini untuk dibuat sekuel berikutnya dari salah satu hiasan yang menempel pada dinding kamar Andika yang tertulis “Ayahku, Pahlawanku!”. Dari situ, penonton akan sadar bahwa kehidupan prajurit tidak hanya untuk kepentingan negara saja, ada keluarga yang juga harus diperhatikan.

            Ada satu keyakinan
            Yang  membuatku bertahan
         Penantian ini kan terbayar pasti*
(Menunggu Kamu, Anji)
Kepulauan Natuna jadi tempat syuting film Jelita Sejuba


3 komentar: