Tulis yang kamu cari

Adv

Blogger Eksis Ingin Terbang Menembus Langit


“Kamu gak capek, gagal terus?”

            Pertanyaan ini terkadang menghantui siapa saja, termasuk Blogger Eksis. Tapi, aku selalu menganggap kegagalan merupakan keberhasilan yang tertunda dan aku percaya bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Untuk itu, aku selalu belajar dari proses bukan hasil yang dicapai. Semua pernyataan ku semakin tercerahkan setelah menyaksikan Film Terbang Menembus Langit pada press screening, 14 Maret 2018 lalu di XXI Plaza Indonesia.

     Blogger Eksis mulai bertanya “Siapa sebenarnya sosok Onggy Hianata? Mengapa kisah hidupnya sampai diangkat ke layar lebar”. Pertanyaan itu terus menggerutu dalam batin. Apalagi sebelumnya aku sudah sering mengikuti perkembangan film nasional ini melalui timeline media sosial twitter pada akun rumah produksi Demi Istri Production. Dari situ aku tau bahwa film mulai digarap oleh sepasang suami istri yang berprofesi sebagai sineas. Ada Fajar Nugros di kursi sutradara dan Susanti Dewi yang bertindak sebagai produser.
   Film Terbang Menembus Langit bercerita tentang keteguhan hati Onggy Hianata. Ia dikenal sebagai warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang sukses meski menjadi golongan dari minoritas. Pola pikirnya terbentuk untuk selalu kerja keras selama masih bisa produktif. Ada kegigihan untuk mencapai kebebasan dan keberhasilan.

    Film dibuka dengan pengenalan karakter Papa Ong Thui (Chew Kin Wah) dari Onggy Hianata. Ia hidup di daerah Tarakan, Kalimantan Utara dengan keterbatasan ekonomi. Sosoknya dalam keluarga selalu hadir menjadi pemimpin yang baik bagi istri dan 8 orang anaknya. Keluarga itu selalu membiasakan untuk makan malam bersama. Jika ada salah satu anak yang belum hadir, mereka rela menunggu hingga semua bisa duduk dalam satu meja. “Satu makan, semua ikut makan!”.
Lalu cerita berlanjut ke masa remaja Onggy (Dion Wiyoko). Masa depan menjadi fokus dari kehidupan Onggy untuk terus mengubah hidup. Saat ayahnya telah menghadap ke Sang Pencipta, Onggy mulai terhalang biaya melanjutkan pendidikan. Ia memutuskan untuk merantau. Terbang ke kota Surabaya menjadi pilihan untuk mengubah hidup agar lebih baik. Meski keluarganya pesimis dengan jalan hidup yang Ia pilih.
Dalam perantauan Onggy dipertemukan sosok wanita bernama Candra Dewi (Laura Basuki) yang bekerja di salon kecantikan. Pertemuan malu tapi mau membuat mereka kasmaran. Tak perlu berpikir lama, mereka memutuskan untuk menikah. Candra telah siap mendukung lahir batin apapun yang dilakukan oleh suaminya.
Kepercayaan Candra terhadap perjuangan hidup Onggy turut menemani jatuh bangun kehidupannya. Nasihat dari sang ayah untuk selalu menjaga nama baik keluarga juga selalu terngiang dalam sanubari Onggy. Dimulai dari nol menjadi titik balik Onggy saat menjalankan usaha. 
Onggy pun hidup pada masa orde baru yang menyajikan pertentangan antara kaum mayoritas dan kaum minoritas dengan paham berseberangan. Semua pihak saling menuding atas nama suku, agama, ras, dan antar golongan. Dalam kondisi diskriminasi yang terjadi di Indonesia, Onggy tetap teguh meraih keberhasilan.
Onggy memang sang pemimpi. Banyak bantuan tak terduga yang datang kepadanya. Ia mulai menata satu per satu mimpinya karena yakin akan berhasil mewujudkannya. Perjalanan hidup pun dimulai dari menjadi distributor apel untuk biaya kos dan kuliah, menjual jagung bakar dan kerupuk, menjadi buruh pabrik industri tekstil, menjual tikar di pasar tradisional sampai menjadi motivator ternama seperti sekarang ini. Kekecewaan, kegagalan, dan penipuan pernah Ia rasakan sampai akhirnya Ia berhasil terbang menembus langit.

Kisah dalam film terbagi dalam tiga babak. Ada kisah remaja Onggy saat di Tarakan, ada kisah jatuh bangun usaha mandiri saat di Surabaya, dan ada kisah hidup rumah tangga bersama Candra saat Ia memutuskan untuk tinggal di ibukota. Setiap babak yang hadir dalam visual, penonton akan melihat perjalanan usaha yang dilalui tidak begitu mudah. Pasang surut kehidupan pun terasa mengalir.
Karakter mulai terbentuk melalui adegan yang kuat. Ada kebangkrutan yang harus dihadapi, namun Ia harus bangkit. Kegagalan yang mengucurkan keringat tak perlu meminta iba terhadap karakter yang ada. Onggy selalu memutar ingatan terhadap nasihat ayahnya. Penonton pun tak akan lama dibuat terpuruk. Kita akan terus melihat nyala semangat hidup dari setiap kesedihan yang tercipta. Sutradara mampu mengajak penonton ikut terbang menembus langit meski sesekali harus jatuh.
Kisah demi kisah di babak awal sampai pertengahan masih nyaman untuk diikuti. Meski ritme bercerita terlalu cepat sehingga ada beberapa momen yang tak mendapat esensi. Namun tertutupi pada babak tengah dengan lelucon segar yang mengiringi cobaan hidup Onggy yang datang bertubi-tubi. Selingan ringan dalam kehidupan anak kost mampu hadir melalui karakter ibu kos (Dayu Wijanto) dan  teman-teman Onggy yang lucu (Indra Jegel, Mamat Alkatiri, dan Fajar Nugra).
Hanya jelang babak akhir, film seolah lupa menyampaikan klimaks terpenting dalam hidup Onggy. Tantangannya menjadi motivator sukses tidak terangkum dalam film ini. Adegan cuma berusaha memperlihatkan jumlah peserta seminar yang meningkat dari hari ke hari.
Onggy kecil juga tak terlihat banyak bicara apalagi memotivasi teman lain. Hubungan sebab akibat tak mampu relate menjadi urgensi adegan dalam film. Hal apa yang membuat Onggy bisa bertahan dan sukses? Apakah Onggy hanya seorang motivator yang menceritakan kisah-kisah kegagalan terdahulu yang pernah dilalui? Siapa Onggy Hinata sebenarnya?.
Pertanyaan itu terus menggantung para penonton setelah selesai menonton film ini. Alur cerita seolah dibiarkan hadir penuh seri. Terkadang malah ada lompatan yang begitu tinggi dalam perjalanan hidup naik turun yang harus dijalani. Entah memang cerita sengaja dibuat penuh tanda tanya untuk memunculkan sekuel atau memang keterbatasan durasi yang memaksa film harus mengakhiri kisah sukses ini.
Film tampak menggunakan formula teka-teki. Beberapa hal tidak dijelaskan secara rinci. Tampak Onggy menerima surat dengan ekspresi kecewa, tapi tak ada deskripsi yang jelas siapa pengirim, apa isinya, dan mengapa surat itu bisa ditujukan kepada Onggy.
Musik pun tak bisa berbuat banyak untuk film ini. Once yang ditunjuk sebagai pengisi original soundtrack belum mampu membuat alunan lagu yang berjudul Terbang begitu membekas di telinga penonton. Nada-nada yang indah terasa tak mengikuti kisah saat karakter utama sedang berada pada titik tertinggi atau titik terendah.
Namanya juga hidup. Kita sering bertemu banyak orang, perkenalan, dan bisa ditinggalkan kapan saja jika sudah tak saling bertukar kabar. Itulah realita pergaulan di dunia nyata yang kadang tak sesuai dengan harapan. Film ini masih menyisakan hal-hal yang layak direnungkan.
Dari segi pemeranan, hampir semua karakter dalam film Terbang Menembus Langit memberi kesan yang tinggi. Sejak Cek Toko Sebelah, Dion Wiyoko terus menunjukkan kualitas akting yang mumpuni. Ia mampu memerankan sosok Onggy dengan rentang emosi yang menjiwai. Didampingi oleh Laura Basuki yang menjadi istri dengan penampilan luar biasa. Mereka punya chemistry yang membuat penonton jatuh hati. Kekuatan Laura dalam setiap dialog mampu memainkan emosi dalam segala suasana. Laura tampak luwes menghadapi lawan mainnya sehingga mereka tampil begitu mempesona.
Comebacknya Laura ke layar lebar menjadi magnet tersendiri bagi pencinta film Indonesia. Dengan paras dan logat Cina yang telah lama menetap di Surabaya, Laura meyakinkan penonton bisa menjadi sosok paling kuat dibalik jatuh bangun Onggy. Ia bagai pembawa harapan saat Onggy menemui kesulitan, mendapatkan kekecewaan, hingga menghadapi keterpurukan rumah tangga sekalipun. Wajar jika Laura diprediksi bisa masuk ke jajaran aktris yang mampu membawa pulang Piala Citra. Apalagi Ia pernah mendapatkan Piala Citra saat berlakon di Film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta.
Penampilan pemeran pendukung lain tak ketinggalan saling mengisi karakter dengan kualitas akting yang memadai. Ayah dan Ibu Onggi, Chew Kin Wah dan Aline Aditia mampu bersinergi sebagai sosok orangtua yang saling melengkapi. Begitu juga kehadiran Melisa Karim sebagai kakak dari Onggy dan Dinda Hauw sebagai keponakan Onggy turut menemani masa-masa keterpurukan sebelum Onggy merasakan keberhasilan. Para penghuni kost’an juga meramaikan film dengan candaan-candaan yang tidak receh.
Film Terbang Menembus Langit bisa membuat penonton tertawa sekaligus merenung sejauh mana perjuangan yang telah kita lakukan dalam hidup. Ada rasa naik turun yang membawa pada pesan kehidupan bahwa hidup tak sekedar mengejar pundi-pundi rupiah. Aspek cinta, keluarga, dan wirausaha menyatu dalam perjuangan yang pasti menemui kegagalan.

Dialog dan karakter dalam film pun menyelamatkan pesan yang dekat dengan keseharian. Pesan kebhinekaan mampu dikemas sebagai desain produksi yang dinamis. Latar lokasi syuting di tiga kota, seperti Jakarta, Surabaya, dan Kalimantan merangkai adegan dalam tiap babak menjadi begitu pas. Tempat-tempat tersebut mampu menguatkan ingatan siapa saja yang mungkin pernah mengalami kejadian sama. Film Terbang Menembus Langit memang diproduksi berdasarkan kisah nyata.
Segeralah tonton film biopik yang sudah tayang sejak 19 April 2018 ini. Film ini bisa jadi refleksi bagi seluruh masyarakat Indonesia agar memiliki motivasi untuk semangat dalam bekerja dan berusaha. Tak hanya menghibur dengan lelucon, film mengajak penonton lebih peduli terhadap keberagaman sosial yang timbul ditengah masyarakat. Ada spirit persatuan dan kesatuan meski gejolak pasti ada dalam setiap kehidupan.
“Papa yakin suatu hari nanti Kamu akan menemukan jalan Kamu. Tapi ingat, apapun yang Kamu lakukan harus dengan kejujuran.”
(Pesan dari Papa Ong Thui).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar