Tulis yang kamu cari

Analytics

Adv

Jangan Bagi Asapmu pada Keluargamu

Jangan bagi Asap Rokok pada keluarga
Jangan Bagi Asap Rokokmu
(sumber: akun LeandroDeCarvalho - pixabay)

     Sejak kecil, Blogger Eksis sering bermain ke rumah teman yang juga tetangga di depan rumah. Begitu masuk ke kamar mandi, aku sering lihat banyak buku bacaan didalamnya. Aku terkejut dan penasaran.
Kok, buku-buku itu ditaruh di dalam kamar mandi sih? Memangnya gak takut basah
Kan ditaruhnya di atas pintu. Soalnya orangtuaku (babe sama mama) kalau lagi buang air besar sering baca buku sambil merokok”, jawab temanku.

       Aku tak bisa membayangkan kalau aku masuk ke dalam kamar mandi itu setelah orang tuanya buang air besar (BAB). Asap rokok pasti masih tersisa dan terhirup di sana. Bau menyengat akan sampai ke hidung.

     Lebih parah lagi, aku juga pernah melihat mama dari temanku itu terus merokok tiada henti saat dia dalam kondisi hamil anak ketiganya. Berhubung aku masih cilik, aku tak bisa berbuat apa. Cuma apa yang aku lihat itu masih terekam di kepala dan kedua anaknya juga merokok sampai dewasa.

    Kini, ketiga anaknya hidup lebih mandiri. Babenya meninggal terkena serangan jantung pada tahun 2016. Setahun setelahnya, mamanya meninggal karena kanker pada usia 54 tahun. Ketiga anaknya telah hijrah dan memutuskan untuk menerapkan pola hidup sehat.

     Beruntungnya, rumahku bebas asap rokok. Tidak ada penghuni yang merokok di rumah ku. Hanya beberapa tamu kadang membuat aku kesal dan tanpa sungkan mereka merokok di dalam kamar mandi. Belum lagi kalau ada tamu yang sering meminta secangkir kopi dan rokok sebagai suguhan di meja. Aku hanya bisa berujar “Mohon maaf, rumah kami tidak menyediakan asbak!”. Sambil melipir ke dalam dan berharap mereka tak berani buang abu rokoknya di lantai.

     Asap rokok yang memenuhi ruangan tentu akan menghasilkan bau yang menyengat. Apa jadinya bila di dalam ruangan tersebut juga ada penderita asma. Ketika mencium asap itu pasti asmanya akan kambuh. Apalagi kalau di dalam ruangan tidak ada sirkulasi udara yang memadai. Rumah dihuni bukan untuk para perokok yang tak bertanggung jawab.

       Jika melihat kondisi itu, aku hanya ingin berkata:
Hirup asapmu untukmu saja. Aku dan keluarga lainnya ingin hidup lebih lama. Dirimu tidak berhak menentukan kematian kami. Jangan bunuh kami dengan asapmu!

Meme tentang rokok buat para perokok


Rumah Bebas Asap Rokok selama Wabah Covid-19

   Fenomena rokok yang berawal dari lingkungan keluarga semakin berkembang. Faktanya, perokok pasif memiliki risiko lebih besar 3x dibanding perokok aktif. Perasaanku sedih karena masih sulit dilakukan pengendalian konsumsi terhadap rokok untuk kelompok rentan. Apalagi kita masih dalam berada pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat ini.

     Untuk mengusir kesedihanku, aku coba menonton siaran talkshow Ruang Publik KBR pada tanggal 31 Mei 2020 lalu. Hari itu tepat diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Obrolan tentang Rumah, Asap Rokok, dan Ancaman Covid-19 semakin seru karena dipandu oleh Don Brady.

   Ada dua narasumber yang dihadirkan dalam video siaran dikanal YouTube Berita KBR. Pertama, dr. Frans Abednego Barus, Sp. P sebagai dokter spesialis paru. Kedua, Nina Samidi selaku Manajer Komunikasi KomNas Pengendalian Tembakau.

      Seperti yang kita ketahui, saat masa pandemi sekarang polusi udara di jalan memang berkurang. Tetapi, polusi udara di dalam rumah bisa meningkat apabila ada penghuni rumah yang merokok. Bahaya rokok sudah sering disampaikan berulang kali, namun para perokok masih belum merasa jera dan enggan berhenti merokok. Wajar kalau kesadaran para perokok luntur dan longgar karena kedisiplinan yang lenyap.

    Faktanya, tak semua orangtua bisa mencontohkan untuk tidak merokok di depan anaknya. Memang si anak bisa saja disuruh masuk ke dalam kamar atau berpindah ke ruangan lain saat orangtuanya ingin merokok. Tapi, apakah itu efektif?

     Ironis memang saat kita lihat data perokok pada anak-anak dan remaja di Indonesia. Peningkatan terus saja terjadi setiap tahun. Peringatan bahaya pada bungkus rokok sepertinya tak dibaca lagi oleh anak zaman now.

Infografis data perokok dari Kementerian Kesehatan
Data perokok anak dan remaja dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

“Itu hak asasi dia untuk kena kanker paru (bronkitis kronis). Tetapi, kalau dia sampai merusak orang lain (seperti istri atau anak) tentu tindakannya tidak benar” ujar dr. Frans dalam sesi diskusi tersebut.

     Ia menambahkan bahwa merokok sudah menjadi kebiasaan buruk yang merugikan diri sendiri dan orang lain disekitarnya. Asap rokok bisa mengakibatkan pencemaran udara yang sudah pasti akan mengganggu orang lain. Itulah yang membuat asap rokok akan berpengaruh pada 3 hal saat asap itu berada di dalam rumah.

Pengaruh asap rokok di rumah

     Seperti keluarga tetanggaku yang tidak peduli dengan dampak asap rokok terhadap kesehatannya. Mereka seperti hidup dalam keegoisan diri. Mereka tidak peduli terhadap kesehatan orang lain karena mereka tak pernah memperhatikan kesehatan pribadinya.

     Konon kata tamu yang pernah datang ke rumahku, secangkir kopi dan rokok juga bisa membangkitkan imajinasi. Bahkan, zat-zat yang terkandung dalam rokok itu bisa membuat hidup lebih damai.

      Pernyataan tersebut memang sejalan dengan penjelasan dr. Frans yang mengakui bahwa ada ‘tar’ yang memberi kenikmatan pada rokok. Tapi, rokok reguler juga punya nikotin dan gas karbon monoksida yang mengandung zat berbahaya.

     Aku pun semakin yakin bahwa merokok bisa menyebabkan gangguan pada paru-paru. Kalau sudah ketergantungan, paru-pau bisa sakit akibat asap rokok yang terus menerus masuk ke dalamnya. Hal ini akan mengakibatkan endapan zat kimia pada asap rokok dan menempel ke paru-paru. Risiko tersebut berimbas pada penyakit kanker paru-paru yang menyerang saluran pernapasan.

     Pembahasan diskusi semakin mengerucut saat ditemukan beberapa kasus belakangan ini. Ada hubungan antara virus Covid-19 dan perilaku merokokSebenarnya perilaku merokok bisa meningkatkan infeksi penularan covid-19 dan komplikasinya.

   Walau kesadaran masyarakat sudah ada. Nyatanya, kesadaran itu harus didorong dengan aturan kawasan tanpa rokok, terutama rumah. Apalagi semua aktivitas di masa pandemi Covid-19 dilakukan dari rumah saja.

   Pemerintah mungkin sudah berupaya untuk sosialisasikan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), namun hal itu masih belum cukup. Pemerintah harus lebih ketat buat regulasi. Blokir perilaku merokok sebagai bagian dari pola hidup sehat.

    Nina Samidi menegaskan “Negara harus hadir memberi perlindungan terhadap anak-anak dari produk berbahaya seperti rokok. Aturan dibuat untuk melindungi generasi bangsa. Aturan ini diperketat bukan untuk memberatkan Pemerintah atau membuat industrinya melorot. Namun, aturan wajib melindungi anak-anak sehingga mereka tidak menjadi pecandu nikotin”

         Saling Mengingatkan dalam Kebaikan 

       Jumlah penderita kanker paru semakin banyak dan usianya makin muda. Anak-anak dianggap sebagai peniru ulung dari orangtua dan lingkungan. Dibutuhkan motivasi yang kuat agar orangtua berhenti merokok dan bisa menyelamatkan buah hati yang dicintainya.

     Lakukan pengurangan konsumsi rokok secara bertahap. Kenali waktu dan situasi untuk tidak menyebarkan asap rokok. Tunda hasrat untuk merokok dengan kegiatan-kegiatan produktif.

    Perbanyak olahraga secara teratur untuk mendapat mood serta imun tubuh yang baik. Minta dukungan anggota keluarga lainnya untuk saling mengingatkan agar tidak merokok. Jika diperlukan konsultasi lebih lanjut dengan paramedis agar terhindar dari kebiasaan merokok.

     Biar bagaimanapun orangtua akan menjadi teladan atau role model di dalam rumah. Pandemi Covid-19 telah mengancam kehidupan kita dalam keseharian. Yuk, jadikan rumah sehat bebas asap rokok dan Corona!

Jauhi Rokok dan Corona

         "Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja supaya kebijakan pengendalian tembakau makin ketat. Kamu juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur (ISB). Syaratnya, bisa dilihat di sini."

15 komentar:

  1. Hidup sehat itu memang harus bebas rokok, karena banyak penyakit ditimbulkan karena efek merokok, baik untuk perokoknya maupun bagi perokok pasif, dan sekarang ditambah covid19 , makin repot deh

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah yah Kak rumah bebas dari rokok. Aku setuju banget asap nya harusnya dihirup perokok lagi.

    Ngga kebayang anak yang tinggal serumah dengan orang dewasa yang merokok. Kasihan banget. Semoga makin banyak perokok yang paham bahaya merokok khususnya selama pandemi ini.

    BalasHapus
  3. Perlu dicontoh nih kak klo ada tamu dateng ke rumahdan minta disuguhin rokok. Tinggal bilang”maaf rumah kami tidak menyediakan asbak” dan dutambahin lagi “rumah kami selalu segar tanpa adanya asap rokoksedikitpun”. Siapa tahu bikin mereka jd lebih mikir lg klo mo merokok. ;)

    BalasHapus
  4. Rokok, permasalahan yang tidak ada habisnya dan susah untuk diputusin. Semoga kita menjadi teladan untuk anak-anak dengan tidak merokok apalagi membagi asap rokok didalam rumah

    BalasHapus
  5. Iya setuju, jangan sampai deh berbagi asap sama keluarga. Kalau sayang keluarga. Harus jadiin rumah tetap sehat ya.

    BalasHapus
  6. heuuu tetanggaku itu ada yang tetap merokok meski hamil gede. Setelah anaknya lahir ya dia merokok aja di sebelah anaknya. Semoga mereka diberi kesehatan.

    BalasHapus
  7. Wah bisa jadi bahaya ternyata yah bang stay at home kalau di rumah ada perokok aktif :(

    BalasHapus
  8. Saya suka kesel ketika bertamu rumahnya bau asap rokok, trus di rumah tersebut ada anak kecil. Hehmm .... Ternyata masih banyak orang yang belum sadar akan bahaya rokok ya .. Makanya saya salut dengan pemerintah yang gencar mengkampanyekan bebas asap rokok

    BalasHapus
  9. Sedih banget saya kalau lihat anak kecil dan remaja udah pada merokok

    BalasHapus
  10. Rokok yang mengandung Tar,Nikotin dan hasilkan CO2 ,ini bikin bunuh diri nih buat perokoknya juga membunuh perlahan orang di sekitarnya. Gak habis pikir apa yang ada di benaknya ketika masih saja merokok apalagi di masa pandemi begini.

    BalasHapus
  11. Lindungi keluarga kita supaya terhindar dari paparan asap rokok,jaga kesehatannya jgn sampai mereka kena dampak akibat ulah kita yang merokok dalam rumah.

    BalasHapus
  12. Aduh ngebayangin itu yang ngerokok dikamar mandi sebelum selesai dia hirup sendirian didalam kamar mandi. Begitu kelar menggunakan kamar mandi lalu dia bagikan lagi deh asap rokoknya. Semoga sekarang ini semakin banyak orang yang sadar akan bahaya rokok.

    BalasHapus
  13. Masa kecil aku dulu orangtuaku perokok aktif kak, baunya tuh emang nggak kuat deh. Alhamdulillah sekarang orangtua udah sadar akan pentingnya kesehatan dan berhenti merokok. Suami aku juga nggak merokok jadi rumah bebas asap. Kalau ada tamu yang mau merokok pasti kami usir dengan halus.Disuruh di teras aja dan itupun kami tutup pintunya biar asapnya nggak masuk ke dalam. Hehehehe.

    Semoga semakin banyak orang yang sadar dan berhenti merokok yaa.

    BalasHapus
  14. No smoking, alhamdulillah sudah kulakukan, dn keluarga juga bebas asap rokok, cuma kalau di masyarakat memang perlu ada keketatan dalam peraturan deh ya..

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah ayahku udah gak ngerokok lagi sejak 5 tahun lalu. Jadi rumahku udah bener2 jauh dr asap rokok. Trs klo ada tamu ke rumah juga ibuku selalu bilang ke tamu yg mau ngerokok bt ngerokok di luar rumah

    BalasHapus