Tulis yang kamu cari

Analytics

Adv

Modernisasi Pendidikan untuk Menjalin Kebersamaan



modernisasi pendidikan untuk menjalin kebersamaan

           Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibanding makhluk hidup lain. Kesempurnaan manusia terletak pada kemampuan-kemampuan dasar yang dimiliki, yakni akal budi (cipta) untuk mencari dan mencoba sesuatu hal, hati nurani (rasa) untuk membedakan hal yang baik dan buruk, serta kehendak bebas (karsa) untuk mendorong manusia agar melakukan sesuatu yang berguna bagi kehidupan pribadi maupun sosial.

         Tujuan kehidupan manusia yang paling asasi dan hakiki adalah mendapat kehidupan bahagia secara lahiriah (kebendaan) maupun batiniah (rohani). Setiap individu mempunyai rencana, strategi, dan arah dalam mencapai tujuan hidup. Hal ini membutuhkan suatu proses yang berkaitan dengan dimensi realitas dan dimensi masa (waktu). Kondisi demikian mengharuskan kita untuk siap dengan segala kemungkinan yang terjadi dan dapat mengembangan diri agar menjadi manusia modern yang cerdas, produktif, dan berakhlak mulia.
        Kini, istilah modernisasi telah melekat di segala aspek kehidupan. Istilah ini dipergunakan untuk menyatakan ada proses perubahan dan pergeseran sikap serta tata kehidupan masyarakat sesuai dengan tuntutan keadaan dan perkembangan zaman. Bentuk perubahan yang terjadi telah dikehendaki dan direncanakan oleh masyarakat sehingga prosesnya cenderung terlaksana secara cepat dan besar-besaran. Hal ini tentu menyadari kita untuk menyesuaikan diri dalam menghadapi dinamika yang berkembang terkait proses pembangunan nasional di negara Republik Indonesia.
            Pada dasarnya, kegiatan pembangunan nasional di Indonesia memerlukan peranan dari sumber daya manusia yang memiliki life skill (kecakapan hidup). Hal ini diperlukan agar masing-masing individu dapat berkompetisi secara positif dengan niat, motivasi, dan semangat menuju kesuksesan. Kita dapat mencapai kriteria-kriteria itu dengan melakukan long life education (proses pendidikan seumur hidup). Dapat dikatakan, sektor pendidikan diperuntukkan dari generasi ke generasi, sehingga harus dijadikan bekal bagi anak bangsa untuk menentukan masa depan dirinya dan bangsanya sendiri.

proses pendidikan seumur hidup

            Pendidikan merupakan cita-cita dari setiap anak bangsa di seluruh pelosok negeri sebagai proses pengembangan diri. Berarti, pendidikan harus selalu bertumpu pada konsep pertumbuhan, pengembangan, pembaruan, dan kelangsungan proses sehingga penyelenggaraan pendidikan dapat dikelola secara profesional. Meskipun demikian, proses pendidikan yang kita hadapi belum terlaksana secara optimal. Aspek-aspek pendidikan sering menimbulkan berbagai macam dilema yang berkembang di masyarakat sehingga bidang pendidikan memerlukan komitmen nasional sesuai amanat konstitusi.
            Membangun pendidikan Indonesia modern wajib kita tempuh. Oleh karenanya kita sebagai generasi bangsa harus mencari dan menemukan solusi yang rasional dan humanis. Berpikir dan berusaha untuk kemajuan pendidikan Indonesia modern tidak boleh berhenti. Seluruh masyarakat Indonesia untuk perkara pendidikan akan memiliki pemikiran yang sama bahwa pendidikan Indonesia modern pasti terlaksana, saat ini, dan seterusnya. Sebab jika tidak, akan menjadi tidak bermakna kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan negara Republik Indonesia akan terkucil atau sirna dari peredaran bangsa-bangsa di dunia.
          Sebenarnya pemerintah telah berupaya maksimal untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa melalui pelaksanaan “Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun”. Akan tetapi, kesadaran orangtua memberi pendidikan sekolah terhadap anak relatif rendah, khusus pada keluarga yang memiliki tingkat kesejahteraan ekonomi ke bawah. Selain itu, masyarakat beranggapan bahwa “semakin tinggi tingkat pendidikan yang dilalui, maka semakin besar biaya yang harus dikeluarkan”. Hal semacam ini hanya dijadikan alasan bagi pandangan mereka untuk tidak memprioritaskan pendidikan dalam kehidupan.
        Jika kita melihat kenyataan, proses pendidikan formal telah diperuntukkan bagi siapa saja, tanpa mengenal diskriminasi terhadap SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan). Hal ini tercermin dari Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN-OTA) yang diterapkan dari masa reformasi. Kegiatan ini membuktikan keseriusan berbagai pihak untuk menghapus kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi di dunia pendidikan. Pemerintah juga pernah memberi perhatian khusus melalui pemberian subsidi, seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Selain itu, pemberian beasiswa kepada pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan Perguruan Tinggi juga merupakan kerjasama pemerintah dan instansi terkait dalam membantu pelajar yang kurang mampu dari segi ekonomi. Dengan demikian orangtua tidak dapat mengemukakan alasan untuk mengabaikan proses pendidikan.
         Lain dahulu, lain sekarang. Bantuan pendidikan diberikan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) pada masa revolusi mental. Tapi, sepertinya kartu ini belum bisa menjadi solusi terhadap anak Indonesia yang putus sekolah. KIP justru membawa masalah baru karena distribusi belum menyeluruh. Operasional di lapangan juga mencatat bahwa alokasi dana pendidikan sebesar 20% nyatanya masih sulit dilakukan kontrol. Lantas, apa gunanya kartu sakti yang sudah dicetak itu??
Program Indonesia Pintar
tujuan Program Indonesia Pintar belum tercapai
            Hingga saat ini, sistem pendidikan nasional juga belum menemukan standar mutu dan sistem evaluasi yang tepat. Pemerintah harus melakukan inovasi dalam kerangka pengembangan paradigma baru di bidang pendidikan yang dapat dikelola secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Kita sering menilai inovasi yang dilakukan pemerintah tidak efisien dan konsisten, seperti hal perubahan kurikulum 1994 menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), lalu diubah ke kurikulum Standar Isi, hingga akhirnya menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).  Hal ini dapat mengganggu proses kegiatan belajar mengajar para guru dalam memberikan materi-materi pelajaran kepada siswa.
         Dalam menanggulangi hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai mewajibkan semua sekolah di Indonesia memakai kurikulum nasional, baik itu sekolah negeri maupun swasta. Kurikulum yang dimaksud adalah Kurikulum 2013 (K-13). Walau pada implementasinya, masih ada sekolah yang teguh dengan kurikulumnya sendiri.
kurikulum pendidikan harus diperhatikan lembaga pendidikan
            Memang kebijakan yang tercipta masih jauh dari harapan nyata. Ujian Nasional (UN) pun menjadi bagian dari kesalahan mendasar pendidikan kita. Kebijakan sistem ujian nasional hanya menitikberatkan pada penilaian kognitif (teori) saja, tanpa diimbangi penilaian psikomotorik (keterampilan) dan afektif (sikap). Oleh karena itu, kepandaian anak didik hanya diukur dari teori-teori ilmu pengetahuan yang dimiliki tanpa aplikasi penerapan teori dalam kehidupan sehari-hari.
           Pemerintah juga menetapkan standar nilai ketuntasan ujian nasional sebagai proses modernisasi pendidikan di Indonesia. Inovasi ini dilaksanakan dengan tujuan agar sektor pendidikan di Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara lain yang lebih maju tingkat pendidikannya. Namun, pihak sekolah belum beradaptasi dengan kebijakan tersebut sehingga dalam pelaksanaan ujian nasional masih ditemukan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pihak sekolah untuk meluluskan anak didiknya. Pemberian bocoran soal dan jual-beli kunci jawaban ujian nasional menjadi pelanggaran yang dilakukan sebagian besar pihak sekolah demi mempertahankan derajat atau popularitas sekolah itu. Fakta ini membuktikan bahwa kebijakan ujian nasional yang diterapkan di Indonesia belum terlaksana secara efektif.
           UN memang harus dihapuskan. Pelaksanaan UN menghabiskan dana negara yang sangat besar dan disayangkan apabila tidak diimbangi dengan manfaat dari sistemnya. Toh, fungsi UN hanya untuk memetakan kualitas sekolah dan capaian nilai siswa saja. Nilai hasil UN sudah tak lagi menjadi pertimbangan utama dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Bukankah kita harus terus meningkatkan mutu pendidikan nasional supaya bisa mencetak generasi bangsa yang lebih unggul karena mereka harus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi??
penghapusan ujian nasional
            Seiring dengan perjalanan waktu, pola hidup manusia pun ikut berubah. Sekarang kita dipengaruhi oleh life style (gaya hidup) yang lebih modern. Kecanggihan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) mengakibatkan pola hidup yang serba praktis dan cepat. Terkadang, kita mendapat sesuatu tanpa usaha dan kita hanya meyakini keberuntungan yang akan datang dalam kehidupan ini. Pola pikir tersebut akan membiasakan pola hidup manusia yang cenderung malas. Ironisnya, hal ini menimpa anak bangsa yang terbiasa dengan menyontek sehingga kesadaran untuk belajar sangat kurang. Sikap kedisiplinan akan membantu kita untuk menghindari pola hidup malas agar tercipta pola hidup yang kreatif dan terampil.
        Implikasi penerapan modernisasi pendidikan, bukan hanya terjadi melalui pendidikan formal di sekolah, tetapi juga terjadi melalui pendidikan non formal pada ruang lingkup keluarga. Kehidupan di kota besar yang dipenuhi aktivitas menyebabkan orangtua selalu mementingkan karier, sehingga seorang anak kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari mereka. Akibatnya, seorang anak cenderung melampiaskan perasaan dalam ruang lingkup pergaulan.
          Kini, pergaulan antar remaja diliputi oleh tren (mode) yang berkembang. Sebagian remaja, khususnya di kota-kota besar selalu menunjukkan identitas diri dengan perilaku menyimpang. Penggunaan narkoba, seks bebas, dan tawuran pelajar menjadi simbol remaja yang mengatasnamakan dirinya anak gaul dan keren. Mereka coba meluapkan gejolak emosi dengan hal yang merugikan masa depannya. Jadi, pendidikan formal (sekolah) dan pendidikan non formal (keluarga) yang mengaplikasikan pembinaan moral dan akhlak harus tetap dilakukan sedini mungkin, agar generasi bangsa dapat menempatkan dan mengembangkan diri melalui kegiatan-kegiatan positif  yang sesuai minat dan bakat. Hal ini akan menumbuhkan sifat percaya diri seorang anak yang mencerminkan kemandirian dan kesadaran akan hal-hal yang sesuai nilai maupun norma dalam suatu masyarakat.
       Media massa juga menjadi sarana pendidikan yang cukup berarti. Berbagai tayangan televisi harus dapat mengekspos program-program yang bersifat menghibur tetapi juga mendidik. Kenyataannya, hampir semua program sinetron atau film remaja yang diproduksi hanya menekankan pada tayangan yang mengandung budaya barat; yang sifatnya cenderung negatif. Maka, tidak tampak ciri pembelajaran hidup dari budaya timur yang absolut atau bersifat tradisi. Ada baiknya bila kita bersikap selektif dalam memilih tayangan-tayangan televisi tersebut.
pendidikan modern yang serba digital
          Sudah waktunya kita tinggalkan paradigma pendidikan Indonesia masa lalu dan kita persiapkan bangsa ini melalui modernisasi pendidikan agar generasi anak bangsa mampu menjadi leader (pemimpin), minimal untuk memimpin dirinya sendiri. Berarti bangsa Indonesia melalui pendidikan Indonesia modern harus mampu mengantar generasi yang bercirikan peka dan tanggap terhadap situasi, memimpin dirinya dalam menghadapi perubahan, mampu bertahan hidup dan memiliki jiwa kompeten yang tinggi, memiliki inovasi yang mengarah pada trend positif, memiliki kemampuan untuk bekerja sama, dan menkoordinasikan waktu dengan baik. Inilah yang harus diupayakan agar kita dapat introspeksi diri dalam menjalani kemajemukan bangsa.
          Tiada kata terlambat untuk mewujudkan solusi yang tercipta. Kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) yang telah ada dalam diri kita dapat dikembangkan untuk mewujudkan modernisasi pendidikan setiap manusia yang mengarah pada suatu kemajuan. Hal ini tentu dapat menjalin kebersamaan dalam ruang lingkup pendidikan. Oleh karena itu, modernisasi pendidikan adalah untuk kita semua tanpa kecuali, demi menyongsong masa depan yang lebih baik.
          Ilmu pengetahuan membawa kenyamanan hidup. Agama membawa kebahagiaan hidup. Tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi, kita akan selalu hidup dalam keterbelakangan. Tanpa agama, kita akan hidup dengan kecemasan dan kekhawatiran. Jadi, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan Iman dan Taqwa (IMTAQ) harus kita seimbangkan dalam nuansa modernisasi pendidikan yang berlandaskan kebersamaan.
puisi asa pendidikan karya Blogger Eksis
             
      Berikut ini, aku persembahkan sebuah puisi yang berjudul “Asa untuk Pendidikan” agar dapat kita jadikan renungan atau pegangan untuk mewujudkan modernisasi pendidikan dalam kebersamaan.

Asa untuk Pendidikan

Globalisasi sudah nyata
Ubah sistem sesuai era
Reaksi keras ancam segala
Untuk suatu edukasi

Individu mulai berontak
Alibi tlah kuasai nafsu
Luntur pendidikan kita
Ajaran hanya paksaan belaka
Hampa otak dan hati manusia

Palagan edukasi cuma kumpul biasa
Anggapan terbaik sudah tidak ada
Hanyut bersama akal konyol layaknya sang penguasa
Lancang berbuat semaunya
Angan... kan putus di tengah jalan
Wawasan... kan pudar sepanjang masa
Anak bangsa tak ubah bagai boneka
Nasib tak luput dari ratapan

Teladan guru, lahirkan sia-sia
Anak didik makin terlantar rupanya
Nilai hanya dari manipulasi data
Pendidikan pun hancur termakan waktu
Alur ini hanya kita yang bisa menjawab

Tapi, asa harus jadi realita
Alternatif masih akan tercipta
Niscaya optimis masih ada
Dari generasi untuk generasi
Ayo, Bangkit! untuk semua

Jalan ini masih panjang
Angkara dunia mampu dihadang
Sambut hari depan yang lebih cerah
Agar dunia tersenyum bahagia 


esai tentang pendidikan karya Blogger Eksis

 

 (Esai ini pernah meraih juara 2 dalam Lomba Penulisan Esai tingkat SMA tahun 2007 yang diadakan Majalah Lensa Remaja dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Blogger Eksis menulis kembali esai ini dengan beberapa tambahan data dan fakta yang sesuai situasi terkini).

12 komentar:

  1. Esai yang menarik neh. Ini tahun 2007 ya, masih sangat relevan diterapkan sekarang, soalnya masih belum berubah juga konsep pendidikannnya

    BalasHapus
  2. Esai yg menarik. Mnurutku pengajar formal perlu ditingkatkan kualitasnya agar tdk oldschool, serta sistem yg lebih membebaskan ruang bg siswa utk mengasah bakat

    BalasHapus
  3. Setuju, tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi, kehidupan kita akan terbelakang.
    Semoga pemerintah terus berusaha memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia.

    BalasHapus
  4. behh...tuisan pusaka keluar nih namanya
    Semoga pendidikan di Indonesia semakin baik dengan semakin banyaknya orang yang peduli dengna pendidikan

    BalasHapus
  5. Duuh aku tuh yang kurang menyukai segala bentuk tulisan esai, entahlah otak rasanya kemana mana gitu, jadi suka gak nyambung. Aku acung jempol buat anak muda yang masih mampu menulis esai, superb.

    Dan, aku setuju UN harus dihapus, karena anak milenial saat ini cenderung dituntut untuk kreatif, tidak sebatas teori semata.

    BalasHapus
  6. pendidikan sangat penting bagi anak anak usia dini. Permasalahan UN sih sebenarnya sih setuju tidak setuju. Negativenya UN tuh anak pelajar suka kaget atau takut jika mereka semua tidak lulus atau gimana pun

    BalasHapus
  7. Yg aku keselin kadang ganti menetei ganti kebijakan, suka gtu... Knrp gak merancang suatu kebijakan atau kurikulum standar aja yang paling baik dipakai selamanya atau minimal agak lama ya...
    Moga2 pendidikan Indonesia ke depannya lbh baik lagi aamiin

    BalasHapus
  8. Semoga pendidikan indonesia semakin maju dan mencetak para generasi penerus yang memajukan bangsa..

    BalasHapus
  9. Wah keren deh blogger eksis, esainya kece berat. Mudah²an setelah hampir 12 tahun dari pembuatan essai, semoga pendidikan kita semakin membaik yaaa

    BalasHapus
  10. Pendidikan kini harus ditingkat.
    Tapi klw UN di hapus atau tidak,ada dampak negatif dan positifnya.

    Dampak negatifnya, jika terpaku dgn nilai ujian sekolah saja kita tak tahu gimana pihak sekolahnya.

    Dampak positifnya, kini ujian nasional menjadi nilai tolak ukur sebuah prestasi selama menutut ilmu. Makanya dinyatakan lulus dari 30% dari Ujian Nasional, sedangkan 70% dari Ujian Sekolah.

    BalasHapus
  11. Keren banget singkatan Guru Ialah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
    Memang beginilah potret pendidikan di Indonesia.

    Aku rasa kita terlalu sering gonta-ganti sistem. Sehingga tiap anak berasa punya nasibnya sendiri-sendiri masalah masuk sekolah.

    BalasHapus
  12. sangat penting soal pendidikan untuk anak, tapi saya gagal fokus bacanya nih, kalau bisa jangan pake background di blognya, saran aja hehe

    BalasHapus