Tulis yang kamu cari

Adv

Vivalova Happiness Race Penuh Tantangan yang Menyenangkan

Because I'm happy
Clap along if you feel like happiness is the truth
Because I'm happy
Clap along if you know what happiness is to you, eh hey
Because I'm happy
Clap along if you feel like that's what you wanna do, heh come on
viva dan astra mengadakan happiness race

          Sebuah WhatsApp Group komunitas blogger membuka pendaftaran untuk event yang bertajuk VIVALOVA (Viva’s Blogger on Vacation) dengan tema Happiness Race. Konsep event ini akan membawa peserta untuk menikmati kawasan Kota Tua Jakarta dan sekitarnya dalam amazing race. Kriteria blogger yang dicari dari kalangan milenial dan suka menulis tentang perjalanan. Blogger Eksis langsung mendaftar karena memang event ini cocok untuk aku yang suka beraktivitas di luar ruangan alias jalan-jalan.

        Pendaftaran tidak langsung diterima begitu saja. Blog dan akun media sosial peserta harus lolos preview dari tim viva.co.id. Harap-harap cemas aku menunggu kabar apakah aku bisa mendapat undangan untuk ikut serta dalam event ini atau tidak. Sampai akhirnya, aku dimasukkan ke dalam WhatsApp Group dan berhak mengikuti event yang diadakan pada Sabtu, 24 November 2018 lalu.

       Sebelum tiba hari H yang dinantikan, seluruh peserta diberi brief terlebih dahulu. Semua diinformasikan mengenai rundown, kewajiban, dan hak agar bisa disetujui bersama. Dari semua informasi di awal yang aku dapat, aku begitu senang karena bisa mendapat hak produk asuransi happyMe dari happyone.id. Biaya premi untuk asuransi ini ditanggung oleh Asuransi Astra selama periode 1 tahun. Kalau kamu mau tau informasi selengkapnya tentang asuransi ini, bisa baca tulisan aku tentang happyOneid yang menjamin kesenangan hidup kita.

Iwan Pranoto sebagai Head of Communication & Event Asuransi Astra
           Hari yang dinantikan itu tiba. Semua peserta sudah berkumpul sejak jam 8 pagi di Historia Café, Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Warna-warni dress code nuansa color block casual outfit yang berpadu dengan sneakers tampak membuat suasana lebih beragam. Apalagi semua peserta juga mendapat topi warna-warni sebagai pelindung kepala dan jas hujan. Aku merasa beruntung berada diantara para peserta yang terdiri dari travel blogger dan influencer.

          Sebelum berkeliling Kota Tua Jakarta, seluruh peserta bisa mencicipi snack yang telah disediakan sambil menunggu 50 peserta hadir di hari yang membahagiakan itu. Setelah semua peserta lengkap, kami mendengar sekilas pengetahuan produk tentang asuransi happyOne yang disampaikan oleh Bapak L. Iwan Pranoto sebagai Head of Communication & Event Asuransi Astra serta Ibu Lusi Liesdiani selaku Senior Vice President Digital Channel Asuransi Astra. Dalam kata sambutannya, mereka menjelaskan bahwa kehidupan penuh dengan risiko yang tak terduga. Ada kala kita mengalami sakit, kecelakaan, kebakaran, dan bencana yang tak diharap namun bisa terjadi kapan saja tanpa diprediksi. Itulah alasan kita butuh asuransi yang mampu mengubah suatu proteksi menjadi hal pasti. Untuk mengetahui detail produk secara lengkap, silakan kunjungi https://www.happyone.id
happy One id sebagai portal asuransi

Jelajah Sejarah Jakarta melalui Tantangan Happiness Race

#happyTeam3 bersama tour guide
       Sebelum beranjak dari Historia Café untuk keliling kawasan Kota Tua dan sekitarnya, aku mulai berkenalan dengan personil #happyTeam3 yang terdiri dari Hatta, Annisa, Syifa, dan Tya. Satu sama lain baru bertemu di hari itu. Kesan pertama mengenal mereka begitu terasa. Aku melihat semua memiliki karakter pendiam yang tak begitu banyak bicara. Sempat ragu, apakah aku bisa bekerja sama dengan mereka untuk menyelesaikan tantangan demi tantangan.

       Peraturan happiness race mulai dibacakan. Ada 4 challenge yang harus dilalui oleh masing-masing kelompok untuk menjadi pemenang di hari itu. Setiap zona memiliki tantangan tersendiri yang harus dipecahkan setelah clue diberikan oleh panitia.

1. First Challenge, Kawasan Kota Tua Jakarta

            Pada zona pertama, kami diajak keliling Kota Tua Jakarta sambil belajar sejarahnya. Kebetulan kami mendapat tour guide bernama Evi sebagai perwakilan dari Jakarta Good Guide. Mba Evi begitu sabar menjelaskan kepada kami tentang sejarah Jakarta termasuk beberapa bangunan-bangunan tua disekitarnya.

a. Kota Tua

museum fatahillah berada di kawasan kota tua jakarta

Siapa yang tidak mengenal Kota Tua Jakarta atau Kota Tua Batavia. Ini adalah kawasan  peninggalan sejarah yang terletak di kawasan Jakarta Barat. Kota Tua Jakarta terus berbenah. Berbagai gedung baik sisi luar maupun dalam disulap menjadi lebih menarik.
Pada abad ke-16, lokasi ini adalah pusat perdagangan di Asia. Suasana di Kota Tua merupakan kawasan peninggalan Belanda yang masih terjaga dengan baik. Kota Tua merefleksikan sejarah ibu kota negara. Pernah beberapa kali berganti nama sebelum disebut Jakarta sekarang ini.
Berawal tahun 1526 saat Fatahillah menyerang Pelabuhan Sunda Kelapa dan berhasil menguasainya. Jakarta disebut JAYAKARTA.
Selanjutnya pada tahun 1619, saat VOC di bawah JP Coen menghancurkan kerajaan Jayakarta, mereka mendirikan kota baru bernama BATAVIA. Berasal dari Batavieren yang berarti leluhur bangsa Belanda di benua Eropa. Penduduk yang tinggal di Batavia disebut Batavianen. Itulah cikal bakal suku Betawi yang terdiri dari ragam multi etnis.
Batavia menjadi kantor pusat VOC wilayah Hindia Timur. Difungsikan sebagai pusat Administrasi Hindia Timur Belanda. Bukti sejarah yang masih bisa dilihat dikawasan Kota Tua adalah Museum Fatahillah yang dulunya adalah balai kota Batavia.
Di masa pendudukan Jepang, semua berganti nama menjadi JAKARTA. Oleh pemerintah Jepang dijadikan sebagai ibukota negara. Sejarah sejak jaman Jepang masih berlanjut sampai sekarang. Maka, sejak tahun 1972, Gubernur Ali Sadikin menjadikan Kota Tua sebagai Situs Warisan Sejarah karena memiliki nilai historis.
Pasang surut penataan Kota Tua ke arah yang lebih baik dapat dirasakan sampai sekarang. Tujuannya adalah supaya generasi selanjutnya masih dapat menyaksikan sisa-sisa peningalan sejarah kejayaan masa doeloe. Selain Museum Fatahillah, kita juga bisa melihat Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Kafe Batavia, serta Meriam Si Jagur di kawasan Kota Tua.



meriam si jagur berada di kawasan Kota Tua

2. Museum Bank Indonesia
Di kawasan Kota Tua Jakarta, berdiri Museum Bank Indonesia yang megah. Sebelum menjadi museum, bangunan tersebut sempat digunakan sebagai rumah sakit bernama Binnen Hospitaal. Dengan tiket seharga Rp 5.000, kita sudah bisa melihat berbagai macam koleksi yang ada di tempat ini dari pukul 08.00-16.00 WIB.
museum bank indonesia yang berada di kawasan kota tua jakarta
sumber: sahabatkotatua.id
Di museum ini, kita bisa memperoleh informasi terkait dengan sejarah panjang perjalanan perbankan di Indonesia. Di dalam museum terdapat ruang teater, koleksi mata uang, koleksi seragam tentara Belanda, Jepang, Indonesia, ruang contoh bank pada jaman dahulu, dan masih banyak lagi.
Diresmikan pada tanggal 21 Juli 2009 oleh Presiden Republik Indonesia, museum ini semakin modern. Hal ini terlihat dengan adanya beberapa alat peraga yang sudah menggunakan LCD, layar sentuh dan parabolic speaker. Tata cahaya dan penataan koleksi juga sangat baik, sehingga pengunjung merasa nyaman saat berkeliling ke museum.

3. Kali Besar
Tempat ini mulai direvitalisasi sejak tahun 2016 lalu. Revitalisasi tersebut mulai dilakukan untuk menyelamatkan bukti sejarah. Revitalisasi Kali Besar terinspirasi Sungai Cheonggyecheon di jantung Kota Seoul, Korea. Setelah direvitalisasi, jalan di sekitar Kali Besar bisa jadi tempat tongkrongan menarik bagi wisatawan. Kondisi air kali yang jernih serta dilengkapi taman pada kedua sisi kali membuat tempat ini juga sering disinggahi untuk lokasi foto pre wedding atau buku tahunan sekolah.
Lokasi Kali Besar di Kawasan Kota Tua

Di sepanjang jalan Kali Besar juga terdapat beberapa bangunan unik yang menarik perhatian, seperti Wonderloft Hostel Jakarta dan Toko Merah.

Wonderloft Hostel Jakarta. Saat ke Kota Tua, aku tidak pernah mampir ke tempat ini. Aku baru tahu bahwa ada hotel kapsul yang didesain dari bangunan tua yang sudah usang. Tapi, di hotel ini kita bisa menginap dengan harga yang cukup terjangkau.
hotel di daerah kota tua bernama wonder loft hostel

Toko Merah. Toko ini juga sering luput dari pengelihatanku saat berkunjung ke KoTu. Meski toko ini gampang sekali dikenali karena memang warna merah pada bangunannya begitu mendominasi arsitektur terluar. Konon bangunan ini merupakan kediaman Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff pada zaman dahulu kala.
toko merah di kawasan kota tua jakarta

Dalam zona pertama, masing-masing peserta mendapat tantangan untuk menangkap momen sebanyak-banyaknya di kawasan Kota Tua, Jakarta. Setelah mendapat momen, kami diwajibkan untuk unggah ke instagram dengan tagar yang telah ditentukan. Semua momen yang diambil dari masing-masing smartphone peserta juga harus memenuhi beberapa kriteria, seperti:

1. Momen selfie atau wefie yang mendeskripsikan rasa bahagia saat berwisata di Kota tua (I found my happiness here #happyMe)
blogger eksis selfi di revitalisasi kali besar jakarta

2. Momen yang menggambarkan keceriaan anak-anak yang bermain di Kota Tua (growth with happiness #happyEdu).
happy Edu merupakan produk asuransi pendidikan dari astra

3. Momen yang menggambarkan situasi atau daya tarik wisata Kota Tua (beautiful old city #happyTrip).
sepeda santai menjadi daya tarik wisata kota tua jakarta

4. Momen arsitektural yang menangkap gedung-gedung yang berada di kota tua (unique architecture #happyHome).
jendela yang ada di bangunan tua
Dalam mengumpulkan momen-momen tersebut, kelompok 3 sempat mengalami hambatan karena salah satu dari personil kelompok, smartphonenya tiba-tiba mati. Untung, aku membawa powerbank dan meminjamkan kepada teman tersebut sehingga Ia bisa ikut unggah foto yang telah diambil dan menambah poin untuk #happyTeam3. Tantangan pertama berhasil dilalui dan berakhir di depan Stasiun Jakarta Kota (Beos).

2. Second Challenge, Kawasan Glodok – Petak Sembilan
              
happy team 3 saat mengikuti happiness race
#happyTeam3 berlari mengejar waktu
            Setelah semua postingan foto di instagram masing-masing diverifikasi oleh panitia, maka tim yang sudah selesai lanjut mendapat amplop untuk menebak clue berikutnya. Amplop dibuka dan terdapat tulisan berbahasa Inggris sebagai kata kunci. Tulisan itu berbunyi “pergilah ke kawasan perdagangan tempat pribumi dan etnis Tionghoa bertemu dan melakukan transaksi. Temukan tempat ibadahnya dan pecahkan tantangan yang ada di sana!”.
          Tanpa pikir panjang, aku langsung berpikir bahwa kita harus menuju kawasan Glodok. Dengan modal uang transportasi Rp. 100.000,- yang diberi oleh panitia, #happyTeam3 memutuskan untuk pergi dengan angkutan umum yang tersedia dari depan stasiun. Di tengah keramaian dan kemacetan di dalam angkot, aku terus membaca clue selanjutnya yaitu kita harus menuju bangunan dengan arsitektur khas China Town.
        “Klenteng!”. Kita harus menemukan bangunan itu. Aku memberi instruksi kepada salah satu anggota tim untuk mencari melalui Google Maps tentang keberadaan klenteng di Kawasan Glodok. Tak terasa waktu begitu cepat. Jarak Kota Tua dan Glodok yang dekat memaksa kita harus turun dari angkot dan melanjutkan jalan kaki.

Sampai Glodok, aku masih bertanya kepada warga sekitar di mana letak Klenteng itu berada. Beberapa warga menjawab banyak klenteng yang ada di situ. Tapi, ada warga yang mengarahkan kami untuk masuk ke Kawasan Petak Sembilan.
Di bawah terik matahari, langkah kaki kami tak gentar menyusuri kawasan tersebut. Sisi kanan dan kiri jalan terlihat ramai karena banyak orang yang lalu lalang dan berdagang. Perasaan dag dig dug juga semakin berdegup. Pikiran terus berputar, apakah kami menuju tempat yang tepat atau justru malah tersasar.

Tibalah kami di Klenteng Kim Tek Le atau yang dikenal dengan Vihara Dharma Bakti. Konon Klenteng ini menjadi klenteng tertua di Jakarta karena dibangun tahun 1650. Tempat ibadah bagi masyarakat Tionghoa ini memang terbuka bagi siapa saja. Dengan corak Budhis-Taois, klenteng ini dipercaya pernah digunakan beribadah oleh 18 dewi keturunan etnis Tionghoa.
Namun, rasa ragu tim kami kembali muncul. Sampai disana kami tidak menemukan panitia dari Viva. Pupus sudah rasanya karena telah berburu waktu. Kami berpikir bahwa kami salah tempat yang dituju. Tak lama, kami keluar dari tempat itu dan mencari klenteng lain di area sekitar.


panitia dari viva.co.id

Akhirnya, kami menemukan tim panitia di pintu utama. Maklum saja kami masuk klenteng dari pintu samping, jadi sudah putus asa terlebih dahulu. Hal yang lebih membahagiakan ialah saat #happyTeam3 dinyatakan masuk ke zona itu sebagai tim pertama yang sampai. Alhamdulillah, kami lega mendengarnya.
Tantangan di zona kedua tak begitu sulit karena kami cukup mencari informasi seputar Klenteng Kim Tek Le dan setelah itu harus menjawab beberapa pertanyaan secara tertulis yang telah disiapkan dalam waktu singkat. Saat mencari informasi, kami berbaur dengan warga Tionghoa yang sedang beribadah. Meski beberapa kali bertanya, tapi kami tidak mau mengganggu suasana ibadah mereka. Kelompok kami yang semuanya beragama Islam tetap menghormati mereka. Di tempat inilah aku sadar bahwa toleransi agama itu harus tetap tercipta karena kita wajib menghargai perbedaan.
suasana dalam klenteng kim tak lee di kawasan glodok


3. Third Challenge, Kuliner Legendaris

           Berlari dari satu tempat ke tempat lain sudah pasti harus kami lalui. Kucuran keringat tak menyurutkan semangat. Clue ketiga yang kami dapat yaitu harus menyusuri jalan Kemenangan, seberangi aliran sungai, dan rayakan dengan segelas Es Kopi Legenda.
       Sebagai tim yang pertama kali berangkat, kami mulai atur strategi. Kami memilih berputar arah di jalan Kemenangan untuk mengelabui tim lain. Di tengah perjalanan, tak lupa kami membeli manisan berupa permen yang warna warni untuk memenuhi tantangan di zona ini.
        Setelah manisan didapat kami lanjut masuk ke Gang Gloria, Glodok untuk menemukan Kedai Es Kopi Tak Kie. Beruntung, kami menjadi tim pertama yang sampai tempat ini. Rasa haru bercampur seru bersatu padu sambil melepas dahaga dengan menyeruput es kopi legendaris.
      Tim lain mulai tampak berdatangan ke tempat itu. Kami memutuskan untuk beranjak dan mendapat clue menuju tempat berikutnya yaitu “silakan jalan membelakangi arah Gang Gloria dan berjalan terus searah pukul 03.00. Lalu temukan kuliner lain untuk dimakan bersama”.
kuliner legendaris di kawasan glodok jakarta
         Kami sempat sulit untuk keluar dari arah Gang Gloria. Apalagi kami harus berpapasan dengan tim lain di gang yang sempit dan dipenuhi para pedagang itu. Tapi, tak perlu waktu lama karena kami bisa menemukan kedai makan yang menyediakan kuliner legendaris, Rujak Shanghai Encim.
        Sebelum makan, kami harus memilih berapa porsi yang harus dihabiskan di tempat itu. Untungnya kami hanya mendapat 1 porsi untuk dimakan bersama. Diantara kami memang belum pernah ada yang mencoba kuliner ini.
     Rasa Rujak Shanghai itu manis seperti aku, tapi ada asinnya kaya kamu. Hahaha. Wajarlah karena memang rujak ini terdiri dari ubur-ubur atau gurita dan sayuran segar (kangkung, lobak, dan mentimun), serta kacang tanah. Semua bahan makanan itu disiram dan diberi kuah berwarna merah (terdiri dari saus tomat yang dicampur sagu, garam, dan gula). Tenang saja kuah itu tidak pedas hanya warnanya saja yang mungkin bisa membuat siapa saja tergugah selera makannya.
         Efek kelaparan membuat sepiring Rujak Shanghai itu mampu dihabiskan berlima. Dengan begitu kami bisa melanjutkan ke tantangan berikutnya. Huh, keep happy team*

Masih tersisa 1 spot kuliner legendaris yang harus kami datangi. Pantjoran Tea House namanya. Untuk menuju ke tempat ini, kami tidak terlalu sulit. Sebelumnya kami sudah melipir ke tempat ini saat turun dari angkot di awal tadi.
        Memang di tempat ini terkenal dengan tradisi 8 teko. Jadi, di depan toko ini sudah tersedia 8 teko yang berisi teh untuk diminum secara gratis dari jam 08.00-19.00 WIB. Konon teh itu disebut teh kebersamaan karena bisa dinikmati oleh siapa saja.
            Untuk tantangan di tempat ini, kami tidak diminta berlomba menghabiskan teh yang ada didalam teko-teko tersebut. Kami disambut oleh tim Viva dengan kata-kata “Selamat datang di Zona Hoki”. Di zona ini, kami hanya diminta untuk memilih 8 amplop yang tersedia di bawah teko dan membacakannya ke arah kamera. Iyalah, perjalanan kami itu diikuti oleh kamera loh yang merekam semua keseruan pada hari itu. Kalau masih kepo, coba tonton deh dalam video Happiness Race ini.


        #happyTeam3 memilih amplop nomor 3 sesuai penentuan nama kelompok kita dari awal. Setelah dibuka amplop hoki, kami mendapat tulisan sebuah kutipan bijak. “Besar kecilnya rezeki yang didapat bersama berapapun hasilnya harus tetap disyukuri”.
          Untuk mencapai garis finish, kami diminta mengumpulkan 4 potongan puzzle yang berisi gambar instruksi selanjutnya. Sempat terkejut karena 1 potongan puzzle hilang dan kami tidak mengira bahwa itu merupakan clue yang harus dipecahkan terakhir. Aku berusaha kembali membongkar tas yang aku bawa, ternyata aku memasukkan 1 potongan gambar itu ke dalam tas tanpa sengaja.
Gambar yang kami kumpulkan dari 4 tempat yang berbeda telah lengkap. Disitu memberi petunjuk bahwa kami harus berputar arah kembali menuju titik kumpul di Historia Café, Kota Tua Jakarta. Kami langsung memberhentikan mikrolet dan sampai di garis finish dengan selamat.
Dari 10 kelompok yang ada, #happyTeam3 berhasil menginjakkan kaki di garis finish pertama kali. Rasanya begitu bahagia karena tim kami mampu menyelesaikan tantangan pada setiap zona dan selalu menjadi yang PERTAMA. Kami pun lebih leluasa untuk istirahat, salat, dan makan (Ishoma).

4. Fourth Challenge, Membuat Bir Pletok


tantangan membuat bir pletok

   Tantangan terakhir yang ada di Historia Café dengan desain resto ala tempo doeloe ini bisa menambah jumlah poin dari tantangan sebelumnya. Tapi, kerjasama tim tak begitu dibutuhkan karena masing-masing tim hanya diwakili oleh 1 orang untuk membuat minuman khas Jakarta yang bernama Bir Pletok. Tenang saja, ini bukan bir yang memabukkan tapi justru menyehatkan.
Ada chef yang melakukan demo terlebih dahulu untuk membuat minuman tanpa alkohol ini. Bahan yang sudah dipersiapkan yaitu 1 ½ liter air, 150 ml gula pasir, 1 batang kayu manis, 3 batang serai, 50 gram jahe, 1 jumput kayu secang, ½ sdt garam, dan beberapa irisan buah untuk hiasan gelas. Cara pembuatannya cukup mudah yaitu dengan merebus air hingga mendidih, lalu masukkan bahan-bahan tersebut kecuali gula pasir dan garam, serta tunggu sampai mengeluarkan aroma khas. Setelah itu, baru tambah gula pasir dan garam sambil dikecilkan api lalu rembus kembali selama 15 menit. Maka, bir pletok sudah siap dihidangkan dalam kondisi panas atau dingin.
Dalam tantangan terakhir, #happyTeam3 kurang beruntung karena hanya mendapat 10 poin. Berdasar penilaian juri, bir pletok yang berhasil dibuat masih kurang manis. Pasti dewan juri minumnya tak melihat wajah Blogger Eksis yang manis, jadi poin yang diberikan tipis. Hiks!

Tak terasa waktu sudah cepat berlalu. Tibalah kita diakhir acara dan saatnya pengumuman pemenang. Aku sempat berharap bisa menjadi the best team atau juara 1 karena dari 3 challenge pasti #happyTeam3 mendapat akumulasi banyak poin setelah menyelesaikan tantangan demi tantangan di waktu pertama.
Nyatanya, #happyTeam3 hanya mendapat juara 2 dari total poin yang berhasil dikumpulkan. Mau bagaimana lagi? Setidaknya kami sudah berusaha dan memberi yang terbaik dalam setiap tantangan Happiness Race. Terngiang kembali quote yang sudah didapat dari zona hoki.

“Besar kecilnya rezeki yang didapat bersama, berapapun hasilnya harus tetap disyukuri"
Semua peserta pulang dengan wajah senang di hari itu. Kita sudah mampu melewati tantangan demi tantangan secara bersama. Belajar sejarah Jakarta, bekerjasama kelompok menyelesaikan tantangan, dan bersikap ikhlas dengan apapun yang kita dapat. Pengalaman itu lebih berharga dan bisa menjadi guru terbaik dalam setiap langkah kehidupan.

Disini senang, disana senang
Dimana-mana hatiku senang
Disini senang, disana senang
Dimana-mana hatiku senang

Lalalalalalala, Happy Viva
Lalalalalalala, Happy Astra



1 komentar: